Totem, Kunci, Thi Nyi ke Miang: Sebuah Pandu Menuju Saya

oleh Chindy Tan

Jika Orang Bali memiliki tradisi panggur gigi sebagai penanda gerbang kedewasaan, orang Indian memiliki ritual penganugerahan Totem sebagai pembuka gerbang jalur pemaknaan hidup.  Totem merupakan sumber pandu hidup seseorang menuju kedewasaan hidup. Kelak jika tutup usia, totemlah yang akan menjadi satu-satunya harta yang tertinggi sebagai ujud martabat hidup yang telah dibentuk seseorang selama dia hidup. Totem juga satu-satunya penghubung spirit antara mereka yang masih hidup dengan almarhum. Totem adalah simbol karakter, simbol ’siapa diri’ seseorang.

Kemarin, A suang berbagi tentang tradisi suku Hokkian yang secara simbolik memberikan kunci pada anak yang menginjak usia 17 tahun. Kearifan yang senada bergema di sana, kepercayaan yang diberikan orang tua kepada sang anak untuk belajar berdiri dari kedua kakinya sendiri, belajar memaknai perjalanan tiap napas yang mewarnai hidupnya. Terakhir, namun bukan penutup, tradisi orang Khe atau Hakka untuk memberi nama kedua setelah seseorang tutup usia. Nama kedua atau Thi Nyi ke Miang adalah gambaran dari karakter yang dominan dalam diri almarhum/ah selama hidup mereka. Titian sepanjang hidup adalah titian memberi bentuk pada nama kedua. Almarhum Papa oleh Paman kedua diberi  nama kedua,”Yang tidak memihak”. Netral adalah karakter yang kuat dalam diri Papa selama beliau hidup. Netral inilah yang menjadi warisan paling berharga dari Papa untuk kami anak-anaknya.

           Sahabat, ketika kita mencoba hening, menutup pintu-pintu interaksi dengan dunia luar, sekelebatan kepingan-kepingan catatan hidup yang telah tergurat mencuat. Keinginan untuk napak tilas tiap jejak yang telah terprasasti, menyejarah selalu ada. Hati masih saja dipenuhi tanya, siapakah saya? Jika hidup adalah permainan, permainan macam apa yang sedang saya lakoni? Jika hidup adalah perjuangan, apa yang sebenar-benarnya sedang saya perjuangkan?

       Sungguh, mencari jawab atas semua ini telah menjadi candu dalam hidup saya. Detik-detik sebelum Papa berpulang, tanggal 4 Maret 2008 pukul 1.25 dini hari sesaat sebelumnya saya sangat gelisah, tidak bisa tidur dan akhirnya bangun melihat keadaan Papa. Rasa takut amat sangat menguasai diri melihat perubahan ritme napas Papa, saya berusaha menghubungi paramedis namun takdir tak keburu lagi, jodoh Papa dengan hidup selesai. Sahabat, melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana hidup orang yang kita cintai berlalu, entah rasa apa yang lahir, dada saya hangat, hangaat sekali. Ikhlas menggantung ditenggorokan, sulit untuk ditelan. Butuh sebulan lebih untuk berdamai dengan rasa sesal dalam hati, ternyata begitu banyak kesempatan yang tersiasiakan. Detik itu saya langsung berpikir, tidak akan ada satu suara pun dari Papa yang dapat sampai ke telinga saya lagi. Tidak ada satu senyuman pun yang dapat   terukir dari bibir Papa untuk saya lagi.  Namun ada satu kelegaan tiap mengingat satu momen ketika Papa sakit, sesaat sebelum turun dari pesawat, saya merapikan rambut Papa yang terlihat berantakan dan detik itu senyum Papa, sorot mata Papa seolah hendak berterima kasih. Saya sempat membuat Papa tersenyum Sahabat. Momen itulah hati saya benar-benar menyapa hati Papa. Meski satu hal yang akhirnya hanya bisa disesali adalah keinginan untuk mencium jidat Papa tidak pernah bisa saya lakukan semasa Papa hidup yang akhirnya hanya bisa saya lakukan setelah beliau meninggal. Koko Ni tidak pernah sungkan untuk mencium jidat Papa tiap menghibur  Papa kala Papa bertanya-tanya tentang penyakitnya. Saya kesal sekali pada diri sendiri, mengapa sungkan saya lebih besar dari rasa sayang pada Papa.  Sahabat, satu detik pun waktu tak terbeli. Satu detik pun tak mungkin balik. Kesempatan telah berlalu. Semasa hidup adalah kesempatan terbesar untuk meniupkan gelembung-gelembung balon cinta dan balon sayang kami anak-anaknya ke ruang hati Papa. Balon kenangan rasa yang bisa dibawanya kapan pun, lintas dimensi waktu dan ruang. Namun kini, semua sudah selesai. Buku bersama Papa telah tertutup.

     Sahabat, sebelum napas terakhir berhembus, hidup memberi ruang yang tanpa batas untuk digali, dimaknai, diberi warna dan untuk dipahami. Rasanya perjalanan mengeja kata   p a h a m adalah perjalanan membuka mata menyusun puzzle evolusi eksistensi laksa entitas yang tidak lain evolusi diri saya sendiri. Terlalu banyak yang tidak dimengerti. Saya mencoba memulainya dengan yang paling dekat, degup rasa dan letup pikiran yang setiap detik saya hembuskan dalam gelembung-gelembung balon realitas  pembentuk  s a y a. Adakah gelembung-gelembung balon itu hanya saya hembus terbang dan berlalu lalu pecah tanpa jejak? Adakah pecah tanpa jejak satu-satunya keniscayaan bagi gelembung tersebut. Atau mungkin saya tak pernah tahu, atau tak mau tahu jika ternyata gelembung balon tersebut dapat ditangkap, dikoleksi utuh, dicermati, dinegosiasikan dan dapat diuraikan jadi satu kesatuan cerita tentang saya. Ada yang rapuh ada yang kuat hingga tidak akan pecah.  Balon yang tak akan pecah, adalah balon yang dihembuskan dengan napas cinta, tulus dan jujur. JSemoga tidak terlalu naif untuk memfinalkan rute perjalanan saya, adalah perjalanan belajar menghembuskan napas cinta, tulus dan jujur dalam tiap tarikan dan hembusannya. Jika kesadaran dan upaya itu ada dan terus terjaga maka jalan menuju saya terbuka saat itu juga.  Pandu dan Totem pembuka gerbang menuju saya detik itu tersemat dalam diri.

Mari Sahabat, mari melangkah bersama menuju diri. Saya jadi teringat dengan lirik lagu yang diajarkan pada anak-anak korban gempa di Bantul Mei 2006 lalu..

“Kawan, hei kawan duduklah sebentar,

lepaskan lelah dan debu perjalanan..

Mari bersama kita renungkan pengembaraan dan pencarian..

Apa yang kau cari, Mengapa kau cari

Apa yang terjadi dalam perjalananmu ini

tercatat di mobile phone saya: 05 Juni 2006 pukul 20:21:47

Refleksi ini saya persembahkan untuk Sahabat, Guru dan Kakak Saya…Chai Yen dan Eddy Rianto, serta untuk seseorang yang dipanggil A Cing alias Chindy…

Hari itu datang lagi, orang-orang menyebutnya…..Hari Jadi…

Selamat Hari Jadi dan semoga ada hari dimana kita benar-benar paham menjadi manusia. Manusia utuh. Utuh rasa cintanya, utuh rasa tulusnya dan utuh kejujurannya. Amin

(maaf maju sehari, sisan untuk awak’e dhewe;)

Jogja, 30 Sept 2008 01:54 dini hari