You are currently browsing the category archive for the ‘Veggie-Health’ category.

Richard bertanya: yang diriku maksud itu terkait pengaruh makanan pada pertumbuhan spiritual, fisik, mental, dan sosial dari individu atau komunitas

Pengaruh pola vegetarian terhadap berbagai aspek sebenarnya sudah tercermin dari asal kata vegetarian itu sendiri yakni vegetus yang artinya lincah, segar, penuh daya semangat hidup (lively, fresh, vigorous). Meminjam frase Vegetus Libertas yang dipopulerkan Dewi ‘Dee’ Lestari, lebih utuh memberikan gambaran apa vegetarian itu sebenarnya. Hidup yang menguatkan budi. Vegetarian adalah makanan yang menguatkan budi. Makanan yang memerdekakan. Pilihan makan yang mengantar manusia untuk terus berevolusi menuju ke jati dirinya.
Mari kita simak satu persatu pengaruh makanan terhadap:

FISIK
Dalam tes daya tahan tubuh yang dilakukan Universitas Yale oleh Dr. Irving Fisher, terhadap para atlet di Yale,para instruktur, para dokter dan perawat ditemukan bahwa kelompok VEGETARIAN memiliki stamina DUA KALI LEBIH KUAT dibanding kelompok PEMAKAN DAGING. Tes yang sama dilakukan oleh J.H. Kellog di BAttle Creek sanitarium di Michigan dan hasilnya mengukuhkan Dr. Fisher

MENTAL DAN SOSIAL

–Kelompok vegetarian lebih stabil emosinya daripada kelompoknon vegetarian (Armina, Wismanto, Y.B & Yudiati, E.A. 2000-Kestabilan emosi antara vegetarian dan non vegetarian. Psikodimensia. 1:66-70

–Mahasiswa yang berkomitmen sebagai vegetarian memiliki kendali emosi yang lebih tinggi daripada yang tidak berkomitmen sebagai vegetarian (Cahyana, V.A. 2003. Perbedaan Kendali Emosi Pada Mahasiswa Vegetarian dan Non Vegetarian. Skripsi. Tidak diterbitkan. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM)

–Penelitian Stein dan Nemeroft (Rozin, Markwith & Stoess, 1997) menunjukkan bahwa murid-murid dengan pola makan vegetarian digambarkan lebih baik hati dan menyenangkan daripada yang mempunyai pola makan yang tidak sehat dan berkadar lemak tinggi.

–Pola makan vegetarian meningkatkan jumlah Sex Hormone Binding Globulin (SHBG) dalam darah. SHBG adalah molekul protein yang berperan sebagai ‘pesawat pengangkut’ yang menahan hormon-hormon seks sampai mereka dibutuhkan. SHBG ini menjaga hormon seks tetap terkontrol (Izotop, 2001) Hasilnya adalah intensitas agresi yang rendah, lebih baik hati dan juga menajdi lebih sabar (dapat mengontrol dirinya lebih baik)

–Individu yang menjalani pola makan vegetarian secara tidak langsung telah dapat mengendalikan haw nafsu atau emosinya untuk tidak mencicipi makanan yang beraroma merangsang. Seseorang yang dapat mengekang diri dalam soal makanan, maka dengan sendirinya individu tersebut memiliki kapasitas untuk dapat mengekang hal-hal lain temasuk mengekang emosi dan kemarahannya (Armina, Psikodimensia-2000)

Masalah apakah apa yang dimakan dapat mempengaruhi perilaku atau tidak, menurut Rozin, P, Markwith, M&Stoess, C 1997. dalam Moralization and Becoming a Vegetarian: The Transformation of Preferences Into Values and the Recruitment of Disgust. Pshycological sciences. 8, menjelaskan bahwa dalam masyarakat moderen maupun tradisional pandangan “you are what you eat” telah menjadi manifestasi berlakunya Sympathetic magical law of contangion,”yaitu manusia ingin membedakan dirinya dengan binatang, namun dengan tetap mengonsumsi, manusia akan memiliki sifat-sifat binatang tersebut. Penelitian Stein dan Nemeroft tahun 1995 (Rozin, 1997) dengan menggunakan teknik impresi Asch pada murid-murid sekolah di Amerika, menunjukkan bahwa murid-murid yang mempunyai pola makan vegetarian digambarkan lebih baik hati dan menyenangkan dibandingkan yang menganut pola makan yang tidak sehat dan berkadar lemak tinggi. (skripsi: Kontrol Diri Antara Pola Makan Vegetarian dan Non Vegetarian pada Mahasiswa di DIY, Uyun Racmawati, 2008, Universitas Ahmad Dahlan)

—Kaitan makanan dengan perilaku juga dibuktikan korelasinya di Central Alternative High School yaitu sekolah tinggi anak-anak yang memiliki perilaku bermasalah. “Kami menyajikan sayur-sayuran dan buah-buahan tanpa bahan pengawet. Semua makanan kami buat tanpa proses pemanggangan dan penggorengan. Di sini kami juga TIDAK MENGENAL DAGING. “Greg Bretthauer-Dekan Applleton Wiscosin-Central High School. “Kami meniadakan mesin soft drink dan junk food. Kami melihat, hal ini MEMBUAT PERUBAHAN YANG BESAR PADA SISWA.” Debra Larson-School Social Worker (Film Dokumenter Supersize Me, 2004)

Bang untuk pengaruh makanan terhadap aspek spiritual sedang menunggu ijin dari Dee ya, akan saya poskan segera setelah ijin turun;)
Demikian Richard, semoga informasi ini dapat memberi masukan ya..
terima kasih

Advertisements

Tanya: Mbak Chindy, kmrn temenku ada yg nanya, para veggie ada yg punya masalah dgn asam urat nggak ya? bisa bantu referensi? (Dyah Pratitasari)

Jawab: untuk asam urat, pada prinsipnya resiko pada vegetaris lebih kecil. saya sendiri sudah 14 tahun vege dan hasil cek terakhir asam urat saya 3.4mg/dL, nilai rujuk normal <6.0 mg/dL(per tgl 13 okt 2008). Jadi masuk range normal;)
Salah satu indikator tinggi rendahnya asam urat sso dilihat dari formasi kristal atau batu asam urat. Resiko ini diteliti pada 15 subjek, selama 12 hari mengonsumsi tinggi protein nabati dibandingkan dengan konsumsi tinggi protein hewani , hasilnya: Breslau menemukan adanya peningkatan ekskresi asam urat dan peningkatan resiko formasi batu asam urat pada kelompok yang konsumsi protein hewani.Uji yang berbeda dilakukan pada tahun 2002, parameter urin setelah 5 hari konsumsi diet vegetarian dibandingkan dengan konsumsi ala western plus omnivora. Hasilnya, ekskresi asam urat menurun secara signifikan setelah diet vegetarian bahkan bisa mereduksi resiko kristalisasi asam urat hingga 93% dibandingkan dengan diet ala western.

Sebagai tambahan info mari simak penelitian berikut:
In a 12-year study that followed eating habits and gout incidence in large number of men it was found that eating food rich in purine, such as meat and seafood, was associated with high risk of gout, whereas a higher level of consumption of dairy products was associated with a reduced risk. Moderate intake of purine-rich vegetables or protein was not associated with an elevated risk of gout.
Demikian infonya Mba, semoga bermanfaat ya…
ref bisa baca lebih lanjut di buku Food and Nutrients in Disease Management
Oleh Ingrid Kohlstadt, alamat situsnya

World-renowned figures as diverse as philosophers Plato and Nietzsche, political leaders Benjamin Franklin and Gandhi, and pop icons Paul McCartney and Bob Marley have all advocated a vegetarian diet. Science is also on the side of vegetarianism. Multitudes of studies have demonstrated the remarkable health benefits of a vegetarian diet.

“Vegetarian” is defined as avoiding all animal flesh, including fish and poultry. Vegetarians who avoid flesh, but do eat animal products such as cheese, milk, and eggs, are ovo-lacto-vegetarians (ovo = egg; lacto = milk, cheese, etc.). The ranks of those who abstain from all animal products are rapidly growing; these people are referred to as pure vegetarians or vegans. Scientific research shows that health benefits increase as the amount of food from animal sources in the diet decreases, so vegan diets are the healthiest overall.
Preventing Cancer

Vegetarian diets—naturally low in saturated fat, high in fiber, and replete with cancer-protective phytochemicals—help to prevent cancer. Large studies in England and Germany have shown that vegetarians are about 40 percent less likely to develop cancer compared to meat-eaters.1-3 In the United States, studies of Seventh-Day Adventists have shown significant reductions in cancer risk among those who avoided meat.4,5 Similarly, breast cancer rates are dramatically lower in nations, such as China, that follow plant-based diets.6 Interestingly, Japanese women who follow Western-style, meat-based diets are eight times more likely to develop breast cancer than women who follow a more traditional plant-based diet.7 Meat and dairy products contribute to many forms of cancer, including cancer of the colon, breast, ovaries, and prostate.

Harvard studies that included tens of thousands of women and men have shown that regular meat consumption increases colon cancer risk by roughly 300 percent.8,9 High-fat diets also encourage the body’s production of estrogens, in particular, estradiol. Increased levels of this sex hormone have been linked to breast cancer. A recent report noted that the rate of breast cancer among premenopausal women who ate the most animal (but not vegetable) fat was one-third higher than that of women who ate the least animal fat.10 A separate study from Cambridge University also linked diets high in saturated fat to breast cancer.11 One study linked dairy products to an increased risk of ovarian cancer. The process of breaking down the lactose (milk sugar) into galactose evidently damages the ovaries.12 Daily meat consumption triples the risk of prostate enlargement. Regular milk consumption doubles the risk and failure to consume vegetables regularly nearly quadruples the risk.13

Vegetarians avoid the animal fat linked to cancer and get abundant fiber, vitamins, and phytochemicals that help to prevent cancer. In addition, blood analysis of vegetarians reveals a higher level of “natural killer cells,” specialized white blood cells that attack cancer cells.14
Beating Heart Disease

Vegetarian diets also help prevent heart disease. Animal products are the main source of saturated fat and the only source of cholesterol in the diet. Vegetarians avoid these risky products. Additionally, fiber helps reduce cholesterol levels15 and animal products contain no fiber. When individuals switch to a high-fiber, low-fat diet their serum cholesterol levels often drop dramatically.16,17 Studies have demonstrated that a low-fat, high-fiber, vegetarian or vegan diet combined with stress reduction techniques, smoking cessation, and exercise, or combined with prudent drug intervention, could actually reverse atherosclerosis—hardening of the arteries.18,19 Heart diets that include lean meat, dairy products, and chicken are much less effective, usually only slowing the process of atherosclerosis.
Lowering Blood Pressure

In the early 1900s, nutritionists noted that people who ate no meat had lower blood pressure.20 They also discovered that vegetarian diets could, within two weeks, significantly reduce a person’s blood pressure.21 These results were evident regardless of the sodium levels in the vegetarian diets. People who follow vegetarian diets typically have lower blood pressure.22-24 No one knows exactly why vegetarian diets work so well, but probably cutting out meat, dairy products, and added fats reduces the blood’s viscosity (or “thickness”) which, in turn, brings down blood pressure.25 Plant products are generally lower in fat and sodium and have no cholesterol at all. Vegetables and fruits are also rich in potassium, which helps lower blood pressure.
Preventing and Reversing Diabetes

Non-insulin-dependent (adult-onset) diabetes can be better controlled and sometimes even eliminated through a low-fat, vegetarian diet along with regular exercise.26 Such a diet, low in fat and high in fiber and complex carbohydrates, allows insulin to work more effectively. The diabetic person can more easily regulate glucose levels. While a vegetarian diet cannot eliminate the need for insulin in people with type 1 (insulin-dependent) diabetes, it can often reduce the amounts of insulin used. Some scientists believe that insulin-dependent diabetes may be caused by an auto-immune reaction to dairy proteins.27,28
Gallstones, Kidney Stones, and Osteoporosis

Vegetarian diets have been shown to reduce one’s chances of forming kidney stones and gallstones. Diets that are high in protein, especially animal protein, tend to cause the body to excrete more calcium, oxalate, and uric acid. These three substances are the main components of urinary tract stones. British researchers have advised that persons with a tendency to form kidney stones should follow a vegetarian diet.29 The American Academy of Family Physicians notes that high animal protein intake is largely responsible for the high prevalence of kidney stones in the United States and other developed countries and recommends protein restriction for the prevention of recurrent kidney stones.30

Similarly, high-cholesterol, high-fat diets—the typical meat-based diet—are implicated in the formation of gallstones. The consumption of meaty diets, compared to vegetarian diets, has been shown to nearly double the risk of gallstones in women.31

For many of the same reasons, vegetarians are at a lower risk for osteoporosis. Since animal products force calcium out of the body, eating meat can promote bone loss. In nations with mainly vegetable diets (and without dairy product consumption), osteoporosis is less common than in the U.S.,even when calcium intake is also less than in the U.S.32 Calcium is important, but there is no need to get calcium from dairy products. For more information on protecting your bones, contact PCRM for additional reference materials or visit http://www.strongbones.org.
Asthma

A 1985 Swedish study demonstrated that individuals with asthma practicing a vegan diet for a full year have a marked decrease in the need for medications and in the frequency and severity of asthma attacks. Twenty-two of the 24 subjects reported improvement by the end of the year.33
Common Concerns

Some people still worry about whether a vegetarian diet can provide all essential nutrients. However, it is very easy to have a well-balanced diet with vegetarian foods, since these foods provide plenty of protein. Careful combining of foods is not necessary. Any normal variety of plant foods provides more than enough protein for the body’s needs. Although there is somewhat less protein in a vegetarian diet than a meat-eater’s diet, this is actually an advantage. Excess protein has been linked to kidney stones, osteoporosis, and possibly heart disease and some cancers. A diet focused on beans, whole grains, and vegetables contains adequate amounts of protein without the “overdose” most meat-eaters get.

Calcium is easy to find in a vegetarian diet. Many dark green leafy vegetables and beans are loaded with calcium, and some orange juices, non-dairy “milks,” and cereals are calcium-fortified. Iron is plentiful in whole grains, beans, and fruits.
Vitamin B12

Vitamin B12 is a genuine issue for vegans, although very easy to deal with. Found mainly in animal products, small amounts may be found in plant products due to bacterial contamination.34,35 However, these plant and fermented foods, such as spirulina, sea vegetables, tempeh, and miso, do not provide an active and reliable source,36 so vitamin B12 must be obtained elsewhere in the diet. Regular intake of vitamin B12 is important to meet nutritional needs. Good sources include all common multiple vitamins (including vegetarian vitamins), fortified cereals, nutritional yeast, and fortified soymilk. It is especially important for pregnant women, breast-feeding mothers, and children to get enough vitamin B12.
Special Concerns: Pregnancy, Infants, and Children

During pregnancy, nutritional needs increase. The American Dietetic Association has found vegan diets adequate for fulfilling nutritional needs during pregnancy, but pregnant women and nursing mothers should supplement their diets with vitamins B12 and D.36 Most doctors also recommend that pregnant women supplement their diet with iron and folic acid, although vegetarians normally consume more folic acid than meat-eaters.

Vegetarian women have a lower incidence of pre-eclampsia in pregnancy and significantly more pure breast milk. Analyses of vegetarians’ breast milk show that the levels of environmental contaminants in their milk are much lower than in non-vegetarians.37 Studies have also shown that in families with a history of food allergies, when women abstain from allergenic foods, including milk, meat, and fish, during pregnancy, they are less likely to pass allergies onto the infant.38 Mothers who drink milk pass cow antibodies along to their nursing infants through their breast milk. These antibodies can cause colic.

Vegetarian children also have high nutritional needs, but these are met within a vegetarian diet. A vegetarian menu is life extending. As young children, vegetarians may grow more gradually, reach puberty somewhat later, and live substantially longer than do meat-eaters. For more information on these topics, visit http://www.pcrm.org/health.
Further Reading

For more information on vegetarian diets, PCRM recommends:
• Breaking the Food Seduction, by Neal Barnard, M.D.
• Foods That Fight Pain, by Neal Barnard, M.D.
• Eat Right, Live Longer, by Neal Barnard, M.D.
• Food for Life, by Neal Barnard, M.D.
• The McDougall Plan, by John McDougall, M.D.
• Dr. Dean Ornish’s Program for Reversing Heart Disease, by Dean Ornish, M.D.

References
1.Thorogood M, Mann J, Appleby P, McPherson K. Risk of death from cancer and ischaemic heart disease in meat and non-meat eaters. Br Med J 1994;308:1667-70.
2. Chang-Claude J, Frentzel-Beyme R, Eilber U. Mortality patterns of German vegetarians after 11 years of follow-up. Epidemiology 1992;3:395-401.
3. Chang-Claude J, Frentzel-Beyme R. Dietary and lifestyle determinants of mortality among German vegetarians. Int J Epidemiol 1993;22:228-36.
4. Phillips RL. Role of lifestyle and dietary habits in risk of cancer among Seventh-Day Adventists. Cancer Res (Suppl) 1975;35:3513-22.
5. Barnard ND, Nicholson A, Howard JL. The medical costs attributable to meat consumption. Prev Med 1995; 24:646-55.
6. Campbell, TC, Chen J. Diet and chronic degenerative diseases: Perspectives from China. Am J Clin Nutr 1994;59:1153S–61S.
7. Trichopoulos D, Yen S, Brown J, Cole P, MacMahon B. The effect of westernization on urine estrogens, frequency of ovulation, and breast cancer risks: a study in ethnic Chinese women in the Orient and in the U.S.A. Cancer 1984;53:187-92.
8. Giovannucci E, Rimm EB, Stampfer MJ, Colditz GA, Ascherio A, Willett WC. Intake of fat, meat, and fiber in relation to risk of colon cancer in men. Cancer Res 1994;54:2390-7.
9. Willett WC, Stampfer MJ, Colditz GA, Rosner BA, Speizer FE. Relation of meat, fat, and fiber intake to the risk of colon cancer in a prospective study among women. N Engl J Med 1990;323:1664-72.
10. Cho E, Speigelman D, Hunter DJ, Chen WY, Stampfer MJ, Colditz GA, Willett WC. Premenopausal fat intake and risk of breast cancer. J Natl Cancer Inst 2003;95:1079-85.
11. Bingham SA, Luben R, Welch A, Wareham N, Khaw KT, Day N. Are imprecise methods obscuring a relation between fat and breast cancer? Lancet 2003;362:212-4.
12. Cramer DW, Harlow BL, Willett WC. Galactose consumption and metabolism in relation to the risk of ovarian cancer. Lancet 1989;2:66-71.
13. Araki H, Watanabe H, Mishina T, Nakao M. High-risk group for benign prostatic hypertrophy. Prostate 1983;4:253-64.
14. Malter M, Schriever G, Eilber U. Natural killer cells, vitamins, and other blood components of vegetarian and omnivorous men. Nutr Cancer 1989;12:271-8.
15. Sacks FM, Castelli WP, Donner A, Kass EH. Plasma lipids and lipoproteins in vegetarians and controls. N Engl J Med 1975;292:1148-52.
16. Barnard RJ, Inkeles SB. Effects of an intensive diet and exercise program on lipids in postmenopausal women. Women’s Health Issues 1999;9:155-61.
17. Barnard ND, Scialli AR, Bertron P, Hurlock D, Edmonds K, Talev L. Effectiveness of a low-fat vegetarian diet in altering serum lipids in healthy premenopausal women. Am J Cardiol. 2000;85:969-72.
18. Ornish D, Brown SE, Scherwitz LW. Can lifestyle changes reverse coronary heart disease? Lancet 1990;336:129-33.
19. Esselstyn CB Jr, Ellis SG, Medendorp SV, Crowe TD. A strategy to arrest and reverse coronary artery disease: a 5-year longitudinal study of a single physician’s practice. J Fam Pract. 1995;41:560-8.
20. Salie F. Influence of vegetarian food on blood pressure. Med Klin 1930;26:929-31.
21. Donaldson AN. The relation of protein foods to hypertension. Calif West Med 1926;24:328-31.
22. Rouse IL, Beilin LJ. Editorial review: vegetarian diet and blood pressure. J Hypertension 1984;2:231-40.
23. Lindahl O, Lindwall L, Spangberg A, Stenram A, Ockerman PA. A vegan regimen with reduced medication in the treatment of hypertension. Br J Nutr 1984;52:11-20.
24. Appleby PN, Davey GK, Key TJ. Hypertension and blood pressure among meat eaters, fish eaters, vegetarians and vegans in EPIC-Oxford. Public Health Nutr 2002;5:645-54.
25. Ernst E, Pietsch L, Matrai A, Eisenberg J. Blood rheology in vegetarians. Br J Nutr 1986;56:555-60.
26. Nicholson AS, Sklar M, Barnard ND, et al. Toward improved management of NIDDM: A randomized, controlled, pilot intervention using a low-fat, vegetarian diet. Prev Med 1999;29:87-91.
27. Scott FW. Cow milk and insulin-dependent diabetes mellitus: is there a relationship? Am J Clin Nutr 1990;51:489-91.
28. Karjalainen J, Martin JM, Knip M, et al. A bovine albumin peptide as a possible trigger of insulin-dependent diabetes mellitus. N Engl J Med 1992;327:302-7.
29. Robertson WG, Peacock M, Heyburn PJ. Should recurrent calcium oxalate stone formers become vegetarians? Br J Urol 1979;51:427-31.
30. Goldfarb DS, Coe FL. Prevention of Recurrent Nephrolithiasis. Am Fam Physician 1999;60:2269–76.
31. Pixley F, Wilson D, McPherson K, Mann J. Effect of vegetarianism on development of gall stones in women. Br Med J (Clin Res Ed) 1985;291:11-2.
32. Hegsted DM. Calcium and osteoporosis. J Nutr 1986;116:2316-9.
33. Lindahl O, Lindwall L, Spangberg A, Stenram A, Ockerman PA. Vegan regimen with reduced medication in the treatment of bronchial asthma. J Asthma 1985;22:45-55.
34. Herbert V. Vitamin B-12: plant sources, requirements, and assay. Am J Clin Nutr 1988;48:852-8.
35. Rauma A, Torronen R, Hanninen O, Mykkanen H. Vitamin B-12 status of long-term adherents of a strict uncooked vegan diet (“living food diet”) is compromised. J Nutr 1995;125:2511-5.
36. Position of the American Dietetic Association: vegetarian diets. J Amer Diet Assoc 2003;103(6):748-765.
37. Hergenrather J, Hlady G, Wallace B, Savage E. Pollutants in breast milk of vegetarians (letter). N Engl J Med 1981;304:792.
38. Allergies in infants are linked to mother’s diets. New York Times, 30 August 1990.

sumber

smart vegetarian kid

smart vegetarian kid

KOMPAS CYBER MEDIA

Anak-anak dengan IQ (Intelligence Quotient) tinggi, cenderung akan tumbuh menjadi seorang vegetarian atau hanya makan sayuran. Ini merupakan hasil dari sebuah riset yang dilakukan di Inggris dan dimuat dalam British Medical Journal

Anak-anak ber-IQ tinggi saat memasuki masa remaja memiliki risiko penyakit kardiovaskular lebih rendah. Hal ini bisa menjelaskan kaitan antara kepintaran dan kesehatan. “Orang dengan otak cerdas cenderung memiliki pola makan lebih sehat,” kata peneliti senior di Universitas Southampton, Inggris, Catharine Gale yang memimpin riset.

Seperti kita ketahui, seorang vegetarian kadar kolesterolnya rendah serta jarang menderita obesitas dan penyakit jantung. Sehingga bisa dimengerti mengapa anak ber-IQ tinggi memiliki risiko penyakit jantung lebih rendah saat mereka dewasa. Studi lain juga menyebutkan bahwa anak berotak cerdas biasanya memiliki gaya hidup sehat; tidak merokok, tidak kegemukan, tekanan darahnya normal dan rajin berolahraga.

Dalam riset yang dilakukannya, Gale dan tim peneliti mengumpulkan data dari 8200 pria dan wanita berusia 30 tahun, yang IQ-nya pernah dites saat mereka berusia 10 tahun. Hasilnya menarik, anak dengan IQ tinggi banyak yang menjadi vegetarian saat mereka berusia 30 tahun. Sekitar 4.5 persen responden adalah vegetarian, 2,5 persen seorang vegan (menolak makan daging atau memakai produk yang menggunakan tes terhadap binatang), dan 33,6 persen menyatakan mereka vegetarian tetapi juga makan ikan dan daging ayam.

Kebanyakan yang menjadi vegetarian adalah wanita atau mereka yang berasal dari kelas sosial atas atau berpendidikan tinggi. Meski begitu, menurut Gale, IQ tetap menjadi faktor penting dalam menentukan gaya hidup sehat seseorang.

Tetapi penelitian ini dianggap  belum bisa menjawab semua pertanyaan. Karena tidak disebutkan apakah anak-anak itu tumbuh dalam lingkungan vegetarian atau tidak. “Kita tidak tahu bagaimana kebiasaan atau gaya hidup orangtua mereka, atau apakah ada penyebab atau kejadian khusus yang membuat anak-anak itu tumbuh menjadi seorang  vegetarian,” kata profesor dari Universitas Texas, Lona Sandon.

Sedangkan penjelasan mengapa vegetarian lebih banyak wanita, Sandon mengatakan bahwa wanita memang lebih peduli pada kesehatan dibanding dengan pria. “Jadi jika mereka (kaum perempuan) percaya bahwa vegetarian memiliki manfaat kesehatan, mereka akan memilihnya,” tambahnya.

Sumber: Health Day
Penulis: An
http://64.203.71.11/ver1/Kesehatan/0612/16/164939.htm

sumber lain menyebutkan:

The evidence linking vegetarianism to good health outcomes is very strong,” said Dr. David L. Katz, the director of the Prevention Research Center and an associate professor of public health at the Yale University School of Medicine.

“Studies, for example, of vegetarian Seventh-Day Adventists in California suggest that they have lower rates of almost all major chronic diseases, and greater longevity, than their omnivorous counterparts,” Katz said. “Evidence is also strong and consistent that greater intelligence, higher education, and loftier social status–which tend to cluster with one another–also correlate with good health.”
https://www.magellanassist.com/Mem/library/default.asp?TopicId=189&CategoryId=0&ArticleId=113

Oleh Chindy Tan

Sabtu malam lalu, di apotek tempat saya bekerja ada pembeli yang mengeluh kalau sudah beberapa hari sulit buang air besar. Biasanya jika sudah hampir seminggu tidak BAB dia akan mengonsumsi obat pelancar.Telusur punya telusur, ternyata masalah ini sudah cukup lama dialami dan dia juga mengaku kalau tidak doyan sayuran. “Cuma doyan daging tuh!” celetuk pacarnya. “Jangan dianggap remeh lo, gangguan sembelit terus-menerus dapat menimbulkan resiko terkena kanker usus.” Cuma ini yang bisa saya timpali plus saran untuk banyak mengonsumsi buah dan sayur.

Dihari yang sama, sabtu siang ketika mengikuti pertemuan dharma wanita, seorang karyawan bercerita kepada saya perihal serangan stroke yang dialami suaminya. Hari pertama saat terkena serangan, tekanan darah melonjak hingga 230mmHg. Read the rest of this entry »


Posted by: Mardi  /  Category: Vegetarian Healthy

Carrot + Ginger + AppleBoost and cleanse our system.

Apple + Cucumber + Celery – Prevent cancer, reduce cholesterol, and eliminate stomach upset and headache.

Tomato + Carrot + AppleImprove skin complexion and eliminate bad breath.

Bitter gourd + Apple + Milk –  Avoid bad breath and reduce internal body heat.

Orange + Ginger + CucumberImprove Skin texture and moisture and reduce body heat.

Pineapple + Apple + Watermelon To dispel excess salts, nourishes the bladder and kidney.

Apple + Cucumber + Kiwi To improve skin complexion.

Pear & Banana regulates sugar content.

Carrot + Apple + Pear + Mango Clear body heat, counteracts toxicity, decreased blood pressure and fight oxidization.

Honeydew + Grape + Watermelon + MilkRich in vitamin C + Vitamin B2 that increase cell activity and strengthen body immunity.

Papaya + Pineapple + MilkRich in vitamin C, E, Iron. Improve skin complexion and metabolism.

Banana + Pineapple + MilkRich in vitamin with nutritious and prevent constipation

sumber: http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1211787432,89991,


Gizi.net – THE 3RD SOUTHEAST ASIAN VEGETARIAN CONGRESS
24-25 Mei 2008, Jakarta International Expo, Gedung Niaga Lantai 6Pada tanggal 24-25 Mei 2008, Indonesia Vegetarian Society (IVS) yang mempunyai Sekretariat Pusat di Royal Progress International Hospital, Jl. Danau Sunter Utara, Sunter Paradise I, Jakarta Utara 14350, telah mengadakan Kongres Vegetarian wilayah Asia Tenggara dengan thema Vegetarian, Gaya Hidup Sehat Alami dan Ramah Lingkungan. Kongres dihadiri oleh Perkumpulan Vegetarian Asia Tenggara seperti dari Thailand, Malaysia, Singapura dan dari Indonesia sendiri. Pembicara adalah para pakar gizi manca negara dan dari Indonesia sendiri. Kongres diramaikan dengan 50 stand berpartisipasi dalam pameran yang bertemakan vegetarian. Berbagai restoran, pabrik bahan makanan vegetarian, supplier bahan makanan no hewani serta food supplement bahan alami dan lain-lain.

Secara resmi The 3rd Southeast Asian Vegetarian Congress dibuka oleh Direktur Bina Gizi Masyarakat, Departemen Kesehatan RI yang diwakili oleh DR. Dr. Anie Kurniawan, MSc, SPGK – Kasubdit Bina Gizi Klinik, Direktorat Bina Gizi Masyarakat. Berikut ini Sambutan Direktur Bina Gizi Masyarakat – Departemen Kesehatan RI pada acara pembukaan Kongres Vegetraian Ketiga wilayah Asia Tenggara.

Read the rest of this entry »

Oleh Chindy Tan

 

 

            Adakah gizi yang terdapat pada pola makan hewani yang tak tergantikan di pola makan nabati? Tidak. Clueless bertanya: bisakah diverifikasi pernyataan  tersebut dengan sumber yang akurat? Hanya mengambil sebuah contoh, sepengetahuan saya sumber Fe (zat besi) yang paling signifikan adalah daging sapi. Memang kita bisa mendapatkannya dari sayur-sayuran hijau, tapi tubuh kita hanya menyerap 1/5-1/3 dibandingkan bila zat besi diperoleh dari daging. Selain itu, sebut saja susu, protein (alpha, beta casein) yang terkandung di dalamnya merupakan sumber gizi yang cukup penting yang sekiranya sulit didapatkan dari produk lain. Secara pribadi, saya saat ini juga mengonsumsi makanan hewani seminimal mungkin (low fat diet), hanya saja dari sudut pandang nutrisi, saya belum yakin akan banyak hal. Lalu selanjutnya pertanyaan Ghazi: tapi, saya teringat guru biologi saya lagi, bukankah ada beberapa jenis protein yang hanya terdapat pada hewan?

kalau ini benar jadi bagaimana para vegetarian mencukupi kebutuhan protein yang ini?

 

Bila kita bertanya tentang gizi, kita bertanya tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan tiap sel tubuh kita.  Tiap sendok makanan yang dipilih untuk dimasukkan ke dalam mulut, itulah juga yang akan sampai pada tiap sel tubuh kita. Sel tubuh adalah penyusun dasar tubuh kita, dinamika roda metabolisme   menjaga fungsi kerja tiap organ yang kita kenal dengan hidup, dapur utamanya adalah sel. Untuk menjalankan fungsinya sel tubuh kita membutuhkan sumber energi  dalam porsi yang sangat besar, yang dipasok dari 90% glukosa(molekul terkecil dari metabolisme karbohidrat). Beda dengan karnivora yang memperoleh energinya dari oksidasi 90% asam amino (molekul terkecil dari protein). Asam amino hanya dibutuhkan menurut WHO hanya dalam jumlah kecil (2,5-4%) atau hanya sekitar 25 gram, asam lemak tak jenuh(1+%), vitamin kurang dari 1%.

Secara sederhana kita berharap apa yang ditelan dapat memberi manfaat, dapat memberi kehidupan, namun bila ternyata malah memberi beban, memberi toksin yang akhirnya memberi resiko dan petaka apakah ‘makanan’ tersebut layak disebut makanan bergizi?

Mari menjernihkan makna gizi atau nutrien, jika suatu produk mengandung tinggi protein belum bisa disebut bergizi jika ternyata perannya pada tingkat sel justru membebani atau bahkan merusak. Selama ini kita menilai gizi hanya dari sisi kandungan namun abai dari sisi fungsi. Fungsi dikatakan optimal ditentukan dari manfaat dan kecukupan jumlah nutrien yang  dibutuhkan sel tubuh tubuh, tentu dengan minim resiko. Kata butuh selalu menjadi acuan karena keliru persepsi banyak lahir dari iming-iming ‘lebih tinggi’ pada protein, zat besi dan B12, namun abai mencemati faktor lain, yakni resiko.

Apa yang sampai pada sel tubuh kita atau konsumsi tingkat sel akan memberi kategori apa yang pas untuk makanan yang kita telan, nutrien, ampas,  atau bahkan toksin.  Makanan kita harapkan dapat menjaga dan memelihara kelangsungan hidup (living food) jika kita memilih jenis ini, kita menempatkan sel tubuh sebagai livingtariancell (sel pengonsumsi makanan yang memberi dan memelihara hidup). Namun jika apa yang sampai pada sel tak lebih dari ampas, nutrien berlebih atau bahkan toksin tulen bawaan makanan tersebut, karsinogen-produk biang masalah (trouble maker food), maka sel tubuh hanya kita tempatkan sebagai junkatariancell (sel pengonsumsi sampah/masalah).

Mari awali dengan pertanyaan tentang kelengkapan protein atau lebih populer dengan istilah protein komplit. Begitu mendengar pernyataan protein hewani sebagai sumber protein komplit apa yang terbayang dalam benak kita? Protein nabati tak komplit? Diskriminasi akan kualitas protein hewani yang dilabeli ‘lebih komplit’ ini dijernihkan  oleh Dr. Alfred Harper (Chairman of Nutritional Sciences at the University of Wisconsin, Madison, and of the Food and Nutrition Board of the National Research Council) mengatakan bahwa,”Salah satu kekeliruan terbesar yang masih saja dipelihara sampai detik ini adalah adanya istilah yang kita kenal dengan  protein komplit”.  American Dietetic Association menyatakan bahwa selama diet yang dikonsumsi bervariasi, kecukupan protein akan mudah diperoleh bahkan tanpa perlu melakukan kombinasi khusus. Pernyataan ADA ini meluruskan ide kombinasi khusus dari berbagai macam jenis biji-bijian, kacang, buah atau sayur untuk memenuhi kebutuhan akan protein.

Tubuh kita juga memiliki sistem daur ulang 70% protein yang dikenal dengan pool asam amino (Arthur C Guyton, Physiology of the Body). Inilah salah satu jawaban mengapa kasus kekurangan protein sangat jarang terjadi. Defisiensi hanya terjadi pada kasus kelaparan berat, kwashioskor, busung lapar atau diet yang kurang dari 500 kalori. Bukankah ketakutan yang kita pelihara selama ini sudah sangat berlebihan?

 

’Sumbangsih’ tulen diet sumber hewani

Sejatinya ketakutan yang mutlak ada adalah resiko yang dibonceng satu paket dari konsumsi protein hewani. Garis bawahilah, protein dari sumber hewani tidak pernah sampai sendirian sampai ke sel tubuh kita. Mengonsumsi sumber hewani yang kita harapkan mendapatkan protein selalu datang bersama dengan lemak jenuh, kolesterol, kandungan tinggi zat besi (pencetus kanker lambung, diabetes dan serangan jantung), sekian jumlah zat-zat kimia.

 Zat-zat kimia pengawet nitrit, nitrat dan pewarna diberikan untuk menjaga tampilan warna daging tetap merah dan segar. Sumber hewani juga mengandung hormon pertumbuhan, antibiotik, herbisida dan pestisida. Kandungan pestisida dalam daging 13 kali lipat DDT lebih banyak daripada sayuran, buah dan rerumputan. Daging yang telah dimasak, kandungan asam amino, kreatin dan gula pada otot daging membentuk senyawa karsinogen (pencetus kanker) yang dikenal dengan Heterocyclic amines (Turn Off the Fat Genes, 2001). Ilmuwan di Lawrence Livermore National Laboratory mengadakan penelitian selama 5 tahun terhadap ribuan kilogram hamburger untuk mengetahui toksin apa saja yang terbentuk dalam daging yang dimasak. Hasilnya, sedikitnya ada 8 (delapan jenis) bahan kimia yang berkaitan dengan kanker dan kerusakan kromosom. Seorang peneliti senior mengatakan ”Anda tak akan memperoleh struktur seperti ini saat memasak tahu”. Senyawa lain diantaranya, dalam satu kilogram steak mengandung 4-5 mikrogram benzopyrene (karsinogen sangat kuat) setara dengan potensi kanker 600 batang rokok. Pemanasan pada lemak binatang mengakibatan reaksi peroksidasi dan terbentuknya radikal bebas.  Radikal bebas mengakibatkan terakumulasinya debris dalam sel yang dikenal dengan lipofuscin dan creoid yang diduga merupakan komponen penting terjadinya kerusakan sel.

 

Isu favorit lainnya adalah zat besi.

 

Sisi yang banyak disorot adalah daya serap tubuh terhadap heme (zat besi sumber hewani) yang lebih tinggi dibandingkan dengan non heme (zat besi sumber nabati). Apa yang abai diperhatikan adalah tubuh tidak mampu membuang stok zat besi, kecuali dengan donor darah. Dalam banyak kasus, tingginya ketersediaan zat besi dalam tubuh justru mempertinggi resiko kanker lambung, kanker usus besar, diabetes tipe 2 dan serangan jantung. Jurnal Circulation dari American Heart Association’s melaporkan ilmuwan Harvard University meneliti sebanyak 45.000 pria dan menemukan bahwa semakin banyak zat besi heme dalam tubuh, maka resiko terkena penyakit jantung semakin tinggi. Demikian juga dengan resiko diabetes tipe 2 akibat ketersediaan zat besi yang tinggi dalam tubuh. Bagaimana  resiko ini dapat timbul? Zat besi merupakan katalis dalam pembentukan radikal bebas hidroksil yang sangat kuat menyerang membran lemak, protein dan asam nukleat. Mekanisme inilah yang diduga mengawali proses resistensi insulin dan mengakibatkan menurunnya pengeluaran insulin sehingga memicu penyakit diabetes tipe 2.

(JAMA. 2004;291:711-717).

Tingginya stok zat besi juga membonceng resiko pada lambung.Makanan sumber hewani secara umum tinggi akan zat besi yang merupakan faktor penting untuk pertumbuhan Helicobacter pylori. Kaitan kombinasi bakteri Helicobacter pylori terhadap kanker lambung telah terbukti signifikan (www.medicalnewstoday.com)

Poin lain yang tidak kalah penting adalah: meski stok zat besi pada kelompok vegetarian lebih rendah daripada non vegetarian namun tidak pada level defisiensi. Kasus anemia pada kelompok vegetarian tidak lebih banyak atau lebih sedikit dari non vegetarian, tidak ada perbedaan yang bermakna akan resiko kasus anemia pada kedua kelompok.(

   Beberapa saat sebelum dijagal, produksi neurotoksin dalam tubuh hewan ternak meningkat tajam, dipicu oleh rasa takut, stres dan marah melihat dan mendengar jeritan hewan-hewan lain yang disembelih. Produksi adrenalin meningkat dan memuncak ketika pisau jagal memutus nadi utama mereka.    Enam menit setelah disembelih, molekul penyusun dalam tubuh berubah, proses pembusukan terjadi. Keasaman tubuh bergeser dari basa ke asam. Menurut Dr. Cousens ini adalah salah satu dasar mengapa pH rata-rata non-vegetarian 6,3-6,9 (lebih asam) sedangkan pH kaum vegetarian 6,3-7,2. Juga merupakan dasar mengapa sumber hewani dapat mempertinggi resiko rapuh tulang (osteoporosis).

 

Mengetahui begitu banyaknya toksin, zat-zat kimia yang terkandung dalam sepotong daging, mungkin sebagian dari kita akan bertanya berapa lama tabungan resiko ini akan berbuah? Kanker misalnya. Salah satu alasan mengapa tubuh kita tidak serta merta tumbuh tumor dan berkembang menjadi kanker di mana-mana adalah karena adanya mekanisme pertahanan. Perubahan sifat dasar sel yang dipicu dari makanan kaya toksin, kaya radikal bebas, kaya karsinogen, ketika sel-sel ini memasuki (ikut dalam) pembuluh darah, sistem imun 50.000 : 1 sel kanker akan menghambat pertumbuhan lanjut sel kanker.  Namun stabil tidaknya mekanisme pertahanan ini bergantung pada apa yang dimakan. Jika terus-menerus tubuh terpapar oleh toksin, radikal bebas, dan karsinogen pada ambang tertentu tubuh tidak mampu membendung pertumbuhan sel kanker (Nature 407:249-257 2000) Sebagai gambaran, kompilasi 15 penelitian yang dilakukan oleh LEMKES  Institut Karolinska, Swedia dalam jurnal National Cancer Institute, Amerika. Setiap konsumsi 30 gram daging selama 10 tahun beresiko 15-38% kanker perut ( Agustus 2006).

Bagaimana Sahabat? Jika kita cukup fair, data-data di atas selayaknya dapat memberi pemahaman pada kita apa yang sejatinya sampai dari tiap kunyahan daging kepada tiap sel tubuh kita, kehidupan ataukah petaka. Mari belajar mendengar suara sel tubuh kita, apa yang enak di lidah warasnya juga selaras di dapur sel. Tidak membonceng bom waktu, tidak menimbun resiko. 

 

Oleh Chindy Tan
(artikel ini dipublkasikan juga di web blog : dee-idea.blogspot.com)
Bukankah daging tetap dibutuhkan tubuh untuk kesehatan?” Demikianlah kepercayaan yang sangat mengakar hingga detik ini, yakni daging sebagai sumber protein kelas satu, sumber kalsium, sumber lemak, sumber vitamin B12 dan sumber zat besi.Salah satu akar kepercayaan ini bersumber dari sebuah studi antara tahun 1929-1950 dengan menggunakan asam amino yang dimurnikan (padahal makanan yang kita makan bukanlah asam amino yang dimurnikan). Kemudian, penelitian lanjutnya dilakukan pada tikus, yang ternyata tingkat kebutuhan proteinnya paling tinggi dari semua mamalia. Sebagai patokan, jumlah kalori protein yang terkandung dalam air susu tikus adalah 49%, sedangkan pada manusia jumlah kalori protein yang terdapat pada ASI hanyalah 5%.

Mengapa Jadi Berlebih?

Patut dicermati bahwa kebutuhan tertinggi tubuh manusia akan protein seumur hidupnya adalah masa usia 0-5 tahun. Pada masa paling krusial 0-6 bln di mana ASI secara eksklusif diberikan, ASI sendiri ‘hanya’ mengandung 5% kalori protein, Terkecuali masa menyusui, American Journal of Clinical Nutrition mematok rata-rata asupan 2,5% kalori protein per hari, dan banyak populasi yang hidup dengan baik-baik saja pada angka ini. Logis saja, karena pada masa kebutuhan tertingginya pun tubuh kita hanya dipasok 5% kalori protein dari ASI. Tentunya setelah lewat masa pertumbuhan, tubuh kita tidak membutuhkan sebanyak itu lagi, atau cukup di bawah 5% kalori protein.

Bukankah hal yang janggal bila National Egg Board, National Dairy Council, National Livestock, dan Meat Board Amerika menambah 30% dari angka yang harusnya kurang dari 6% (“Diet For A New America”)? Batas aman atau RDA 30% inilah yang disoroti sebagai dasar propaganda industri ternak. Kebijakan tersebut lantas dituangkan ke dalam kurikulum pendidikan. Bermula di Amerika, propaganda daging, telur, susu sebagai sumber protein utama ini pun mendunia, termasuk di Indonesia. Bangku sekolah kita tak luput dari jangkauan propaganda ini. Konsep yang sudah sangat akrab sampai ke sumsum kita, bahwa daging adalah sumber terbaik untuk protein.

Kejanggalan ini terjawab pada uraian Dr. David Reuben yang mempertanyakan: siapakah yang sesungguhnya memperoleh manfaat ekstra 30% batas aman tersebut? Beliau menjawab, “Mereka yang menjual daging, ikan, keju, telur, ayam dan semua sumber-sumber protein yang bergengsi dan mahal lainnya. Jika Anda adalah keluarga Amerika umumnya, Anda harus mengeluarkan uang 40 USD per bulan untuk memompa asupan protein yang sebenarnya tidak Anda perlukan. Pengeluaran ini, memberikan 36 miliar USD per tahun ke kantong penjual.” (Diet For A New America – John Robbins)

Business As Usual

Era globalisasi memberi jalan lapang bagi negara-negara industri yang kuat modal dan kuat teknologi untuk menguasai harkat hidup di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Mari lebih jeli menganalisa benang merah tiap fakta berikut: Makanan merupakan 11% dari keseluruhan komoditi perdagangan global, proporsi yang berada di atas perdagangan minyak bumi (Globalization and Human Nutrition, 2001). Produk makanan yang dihasilkan dari produksi pangan yang berlebihan di negara-negara industri mau tak mau harus dipasarkan. Namun karena ‘demand’-nya yang sudah statis (baca: jenuh) atau inelastik di negara industri, maka pilihan pasarnya adalah negara-negara berkembang yang produk pangannya masih ‘tradisional’ dan ‘terbatas’. Untuk ini industri makanan di Amerika Serikat mengeluarkan dana 30 miliar dolar setiap tahunnya untuk promosi (Bulletin of the World Health Organization, 2002). Strategi promosi yang digunakan memberi citra daging sebagai makanan bergengsi, modern dan gaul. Rumus ”Tiga P” digunakan: placing, pricing dan promotion. Hasilnya, menjamur dan mengguritanya bisnis makanan cepat saji hampir di seluruh dunia.

Dampak Terhadap Kesehatan

Prof.dr.Siti Fatimah Muis, M.Sc, SpGK dalam kajiannya,”Globalisasi Pangan: Dampaknya Terhadap Gizi dan Kesehatan” menuliskan bahwa setelah Perang Dunia II, negara berkembang mengalami transisi epidemiologi yakni, menurunnya penyakit infeksi seperti TBC, tifus, diare, lepra dan mulai munculnya penyakit degeneratif seperti penyempitan pembuluh darah jantung atau otak, penyakit gangguan metabolisme dan keganasan. Dan sekarang telah memasuki masa transisi berikutnya adalah transisi gizi atau munculnya masalah gizi ganda. Artinya, masalah gizi berlebih pada saat yang bersamaan muncul dengan masalah gizi kurang. Kelebihan asupan energi pada anak-anak dan remaja, utamanya dari makanan berlemak jenuh tinggi (daging, telur, dan susu) di atas 30% dari keseluruhan asupan energi sehari-hari ternyata juga dapat mengakibatkan kenaikan kolesterol, penebalan/pengerasan dinding pembuluh darah (atherosklerosis) dan diabetes tipe-2 seperti yang dialami usia paruh baya (Rapid Westernization of children’s blood cholesterol in 3 countries, 2000). Pada abad ke-20 diabetes tipe 2 (non-insuline dependent) hanya terjadi pada usia paruh baya dan tua. Namun, tren sekarang menunjukkan penyakit tersebut mulai banyak diderita oleh anak maupun remaja. Terjadi peningkatan empat kali lipat kejadian diabetes tipe 2 pada anak usia anak 6-15 tahun yang terbukti berkorelasi dengan kelebihan berat badan (Type 2 diabetes in young, 2004)

Sesekali saat membesuk rekan yang sakit di RS, cobalah adakan survei kecil. Berapa banyak pasien penderita stroke, serangan jantung, hipertensi, diabetes dan kanker dan yakinlah, sepuluh dari sepuluh penderita tersebut dianjurkan oleh dokter untuk mengurangi atau berpantang daging. Begitu sederhana pesan yang bisa diamati dari sekeliling kita tanpa perlu studi atau riset untuk sampai pada pemahaman bahwa: sederet penyakit inilah yang sebenar-benarnya ’diberikan’ oleh daging kepada tubuh manusia.

* Lagi, satu sumbangan dari Chindy Tan yang dikerjakan dengan begitu sigap untuk kita semua yang masih penasaran soal isu gizi daging dan kesehatan. Saya pribadi merekomendasikan buku “New Diet For A New America” bagi yang ingin mengulik lebih lanjut dan lebih mendalam. Thank you, Chindy, untuk sumbangannya.

 

Mother Earth Salam kenal bagi siapa saja yang mau mampir di beranda bersahaja ini. Bertukar isi hati dan isi otak adalah salah satu proses manusia memanusiakan dirinya. Ada dialog di sana. Dialog yang dituntun oleh tanya demi tanya, karena manusia sepanjang hayat peradabannya adalah makhluk yang belum selesai dengan dirinya. Poin senjang yang banyak diusung berkisar pada kata kunci: MANUSIA, CINTA DAN TUHAN, VEGETARIAN, GLOBAL WARMING. Mengajak siapa saja belajar jujur pada dirinya, ketika hati dan fakta berada dalam satu garis lurus(jujur), maka kejujuran pada dirinya inilah yang akan memaksa manusia berubah. Mungkin inilah hidup yang bertanggung jawab, hidup yang fair. Berusaha memahami cara hidup saat itu juga manusia memahami cara mati

---Chindy Tan---

RSS Unknown Feed

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

EATING UP THE WORLD

DOWNLOAD PDF FILE EATING UP THE WORLD eating up the planet If we want to preserve and restore our environment in Australia, we must make changes to our diet. The food we eat has a major effect on our waterways, the quality of the air we breathe and on the environment around us. Eating fish and other sea life is killing our oceans, agricultural industries are polluting our waterways, and vast areas of land are wasted with the grazing of animals. These practices are unsustainable and the global impacts are being felt more than ever before. By adopting a vegetarian diet you can make a significant contribution towards improving your health as well as that of the planet. Animal industries are eating up the world. It is up to us to save it!

Film Dokumenter Processed People

processed people Free Download Trailer film Processed People. "Sebenarnya kita sedang mengonsumsi sesuatu yang tidak layak disebut makanan” Jay Gordon, MD, FAAP, FABM,IBCLC Asisten Prof Kesehatan Anak UCLA Medical School Film ini merupakan finalis USA Film & MAUI Film Festival di dukung oleh dokter-dokter ahli dari UCLA, John Robbins, Jeffrey Moussaief Masson, dan pakar-pakar lainnya.

sinopsis film Processed People

The statistics are terrifying. Two hundred million Americans are overweight and 100 million are obese. More than 75 million Americans have high blood pressure. 24 million people are diabetic. Heart disease remains the No. 1 cause of death for men and women, followed by stroke and obesity-related cancers. Obesity has overtaken tobacco as the No. 1 cause of preventable deaths in the United States. Over 50% of bankruptcies are caused by what has become known as “medical debt.” Fast food, fast medicine, fast news and fast lives have turned many Americans into a sick, uninformed, indebted, “processed” people.

Film Dokumenter H O M E

Free Download Full Version H O M E Dari penulis buku terlaris di dunia, Earth Above, hadir kembali dengan karya baru yang cemerlang. Home, film dengan judul buku yang sama, menghadirkan gambar-gambar yang menakjubkan. Sebuah ekplorasi wajah Bumi lengkap dengan foto-foto terkenal karya Arthus-Bertrand dilengkapi teks informatif oleh tim Good Planet, sebuah organisasi non-profit yang mempromosikan pemeliharaan lingkungan hidup. Home menghadirkan keindahan Bumi dan mengajak seluruh umat manusia untuk menjaganya dari kehancuran. Film ini ditayangkan secara serentak mulai tanggal 5 Juni-14 Juni 2009 3 benua, lebih dari 50 negara, termasuk Indonesia, ditayangkan gratis lewat televisi, bioskop, internet klik disini . Berkisah tentang Bumi dan evolusi semua makhluk hidup, dan bagaimana manusia yang paling muda umur eksisnya justru merupakan oknum yang paling bertanggung jawab atas kerusakan bahkan kehancuran Bumi. Film ini juga mengupas tentang inefisiensi hasil pertanian untuk memproduksi daging. Arthus-Bertrand berkata, “50 persen hutan yang telah hilang, bukanlah hal yang paling penting, melainkan 50 persen yang masih tersisa”

Sang Buddha Vegetarian?

Jelang Sang Buddha Parinirvana, Makan Babi atau Jamur? Pro dan Kontra apakah Sang Buddha vegetarian dapat dibaca argumentasi dan dasar telaahnya yang diulas oleh Master Roshi Philip Kapleau (pendiri Budhisme Zen di Amerika) dalam buku To Cherish All Life (DOWNLOAD FULL VERSION

Video: Diet For A New America-John Robbins

Free Download: Video(part1-8): Diet For A New America “I think what I really learned in all of this, Was to be true to myself To be true to my inner voice And I began to see, That we really do have the power, Our own lives really do make a difference, Just by being more conscious of the food that we eat. We can heal ourselves; we can heal the environment, We can heal this planet"<a

Free Download Film Dokumenter Super Size Me

(Film Dokumenter Supersize Me, 2004)-Free Download Self Experience dari Morgan Spurlock, 30 hari bersama daging. Juga memaparkan fakta pengaruh makanan terhadap perilaku. Kaitan makanan dengan perilaku juga dibuktikan korelasinya di Central Alternative High School yaitu sekolah tinggi anak-anak yang memiliki perilaku bermasalah. “Kami menyajikan sayur-sayuran dan buah-buahan tanpa bahan pengawet. Semua makanan kami buat tanpa proses pemanggangan dan penggorengan. Di sini kami juga TIDAK MENGENAL DAGING. “Greg Bretthauer-Dekan Applleton Wiscosin-Central High School. “Kami meniadakan mesin soft drink dan junk food. Kami melihat, hal ini MEMBUAT PERUBAHAN YANG BESAR PADA SISWA.” Debra Larson-School Social Worker (Film Dokumenter Supersize Me, 2004)

Slide Show Buku Terbaru Lester Brown: Plan B.3

RSS Gary Francione’s thoughts

  • NEW BOOK: ADVOCATE FOR ANIMALS! AN ABOLITIONIST VEGAN HANDBOOK December 14, 2017
    Just out! Available in paperback and Kindle at Amazon.com: This book is a call to action. Since the beginning of time, there have been—in total—about 110 billion humans who have lived and died. We kill more nonhuman animals than that every single year. Think about that for a second. Our exploitation of nonhumans represents violence […] Related posts: OUR NEW […]
    Gary L. Francione
  • Veganism: History, Contemporary Views, and Common Objections October 29, 2017
    This brief essay, translated into Spanish, will be included in the new edition of the Diccionario de Filosophía (J. Ferrater Mora): VEGANISM. Veganism, as a matter of diet that may reflect broader ethical concerns, refers to the practice of not consuming meat, fish, dairy, eggs, and other foods, such as honey. Veganism as a general […] Related posts: Animal […]
    Gary L. Francione
  • Guest Essay: Mercy for Animals and Cage-Free Duplicity September 24, 2017
    This is a guest essay written by Linda McKenzie, a long-time Abolitionist advocate. ******* Mercy for Animals and Cage-Free Duplicity Linda McKenzie Part 1 Mercy For Animals (MFA) is a classic example of welfarist organizations that make a habit of talking out of both sides of their mouths, and of saying one thing while doing […] Related posts: Guest Essay: […]
    Gary L. Francione
  • Some Thoughts in Anticipation of the Podcast Discussion to Which Sivarama Swami Has Agreed September 9, 2017
    NOTE: I AM PREPARED TO DO THE PODCAST AT ANYTIME. SIVARAMA SWAMI HAS YET TO AGREE TO A DATE. On September 1, 2017, a Hare Krishna adherent named Sivarama Swami posted a video on Facebook entitled, Can Vegans Consume Milk?. I watched the video and I was disturbed by it. I posted this on the […] Related posts: Some Thoughts for Mother’s Day 2012 Guest Essay: T […]
    Gary L. Francione
  • Aeon.com Essay on the Interest Animals Have in Living September 9, 2017
    Here is our second essay in Aeon.com. The title of the essay is: A ‘humanely’ killed animal is still killed – and that’s wrong. We hope that you enjoy it and that it stimulates your thinking about the issue of the interest that animals have in continuing to live–apart from their interest in not suffering. […] Related posts: Essay on Domestication and Pet Own […]
    Gary L. Francione

RSS Ecorazzi News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Vegetarian Star

  • Jon Stewart and Wife Tracey Stewart Adopt Horse May 31, 2016
    When Jon Stewart signed off the air a year ago, he talked about his plans for the future, one of which included bringing a Noah’s Ark group of animals to his private sanctuary his runs with his wife Tracey Stewart. One very special horse has been given the opportunity to join the family. A white […]
    Vegetarian Star
  • Chrissy Teigen Failed Vegan Experiment May 31, 2016
    Aside from the occasional trip on the runway, supermodels never fail at anything, right? Chrissy Teigen has partaken in several adventures in her kitchen, many of which are included in her new cookbook, Cravings. The wife of musician John Legend decided to experiment with veganism, but this adventure created more excitement online than in the […]
    Vegetarian Star
  • Mia Evans Is A “Masterchef Junior” Vegetarian Star May 9, 2016
    Any vegetarian chef on a reality cooking show is something to get excited about, but when a 12-year old makes better sauce than most adults do–it’s something worth swearing like Gordon Ramsay. Mia Evans was a contestant on the fourth season of Masterchef Junior, a kids’ spin-off of the adult series on Fox TV. Mia […]
    Vegetarian Star
  • Ringling Brothers, Barnum & Bailey Elephants Retire To Sanctuary May 9, 2016
    Activists all over the world are performing tricks way more entertaining than these elephants could. Ringling Brothers and Barnum & Bailey Circus is retiring the remaining elephants that have performed during its shows. The company had originally planned to do this by 2018, but it looks like these lucky pachyderms are getting an early pension! […]
    Vegetarian Star
  • The Passing Of A Vegan Prince April 23, 2016
    It’s a sorrowful week for music lovers and vegans alike, as Prince, one of the greatest masters of funk, R & B, jazz, pop and a mixture of everything else, has passed. The singer left the world at his famous home and recording studio, Paisley Park, in Chanhassen, Minnesota on Thursday, April 21, 2016. He […]
    Vegetarian Star
  • Holly Madison Enjoys Vegan Smoothie From M Cafe In Beverly Hills April 10, 2016
    Holly Madison knows the formula for a healthy pregnancy! The Playboy pinup was spotted with a smoothie from one of Beverly Hill’s popular vegan eateries, M Cafe. Madison is pregnant with her second child with husband Pasquale Rotella. Vegan smoothies are known for containing every good, like non-dairy milks, vitamins and fiber, so the mother-to-be […]
    Vegetarian Star
  • Controversy Over Pro-Vegeterian Curriculum In Schools April 1, 2016
    Parents are outraged at a new curriculum designed to encourage children to eat more vegetarian foods. A group called Veggie Kids of Tomorrow has created a book filled with nothing but images from some of the most popular campaigns from the animal rights group People for the Ethical Treatment of Animals. The problem with this […]
    Vegetarian Star
  • Ellie Goulding Creates Protein Bar “Everlasting Joy” With GoMacro March 31, 2016
    Ellie Goulding has collaborated with vegan and organic Wisconsin-based company GoMacro to create a protein bar that represents the English singer’s desire for plant-based nutrition and charitable giving. The “Ellie-Inspired” bars contains chocolate chips, coconut and almond butter, a combination Goulding says keeps her energetic for any occasion, whether it’ […]
    Vegetarian Star

RSS Enviro News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Scientific News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS KOMPAS

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Catatan Pinggir-Goenawan Mohamad

  • Origami August 16, 2012
    Seorang penulis sejarah yang baik tahu bahwa ia seorang penggubah origami. Ia membangun sesuatu, sebuah struktur, dari bahan-bahan yang gampang melayang. Sebab bahan penyusunan sejarah sesungguhnya bagaikan kertas: ingatan. Ingatan tak pernah solid dan stabil; ingatan dengan mudah melayang tertiup. Seperti kertas, ketika ia menampakkan diri di depan kita, se […]
    anick
  • Batman August 6, 2012
    Batman tak pernah satu. Maka ia tak berhenti. Apa yang disajikan Christopher Nolan sejak Batman Begins (2005) sampai dengan The Dark Knight Rises (2012) berbeda jauh dari asal-muasalnya, tokoh cerita bergambar karya Bob Kane dan Bill Finger dari tahun 1939. Bahkan tiap film dalam trilogi Nolan sebenarnya tak menampilkan sosok yang sama, meskipun Christian Ba […]
    anick

RSS Ruang Hati

  • Berbagi Ketidaksempurnaan December 10, 2009
    Kita mungkin tidak akan pernah melupakan satu kisah nyata yang mirip dongeng; tragedi cinta Puteri Diana dan Pangeran Charles. Kematian Sang Puteri begitu mengharu biru dunia. Tercatat dua milyar lebih pasang mata menitikkan air mata pemakaman Sang Puteri. Larut dalam sedih dan kehilangan. Dunia tidak akan melupakan pernikahan megah Putera Mahkota Inggris da […]
    ruanghatikita

RSS Times online

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS CNN News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Guardian News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS The New York Times

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Newsweek

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Archives

Blog Stats

  • 62,250 hits
December 2017
M T W T F S S
« May    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

RSS Timesnews

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.