You are currently browsing the category archive for the ‘Veggie-Ethic’ category.

Oleh Chindy Tan
Hidup bagi saya sungguh berarti. Demikian pula kehidupan di sekeliling saya. Jika saya mengharapkan hidup saya dihormati, maka saya juga harus menghormati hidup makhluk lainnya. Namun etika di dunia Barat hanya menghormati hubungan di antara sesama manusia. Karena itu saya katakana etika Barat adalah etika yang terbatas. Yang kita perlukan adalah etika tak terbatas yang juga mencakup hubungan kita dengan binatang” (Albert Schweitzer, 1875-1965)

Siang ini, saat akan pulang ke Yogyakarta ketika keluar dari halaman puskesmas, di sebelah barat halaman ada 2 orang pria sedang menembaki burung. Saya bertanya pada bu Narsih, “Mengapa burung-burung itu ditembaki Bu?” “Nggo senang-senang tur Nggo pakan ikan,”jawab bu Narsih. Ingin sekali saya mendekati dua orang itu, tapi bu Narsih udah keburu bablas, saya nebeng dia sampai Pakis. Rasa tak enak masih mengganjal hati saya. Sesampai di rumah, saya melihat majalah yang ditinggalkan oleh teman saya Chaiyen. Iseng saya buka bagian yang dibacanya semalam. Ya ampun, ada cuplikan kisah masa kecil Albert Schweitzer, paaas banget dengan ganjalan rasa di hati saya saat itu.

‘Thou shalt not kill’
Albert Schweitzer(1875-1965) adalah filsuf penganjur’Reverence for Life’, sebuah panggilan untuk menghormati, memuliakan semua makhluk tanpa terbatas. Beliau juga seorang dokter dan ahli teologi kelahiran Jerman.
Suatu hari di saat usianya masih delapan tahun, temannya Heinrich mengajak Albert keluar untuk menembak burung dengan katapel. Albert kecil meski merasa ide ini mengerikan tetapi tidak berani menolaknya karena takut ditertawakan.
Albert menuturkan,”Kami mendekati sebatang pohon yang sudah tidak berdaun. Burung-burung yg bertengger disana terus bernyanyi dengan manisnya di pagi hari itu. Mereka tampaknya tak takut terhadap kami. Berjongkok seperti pemburu Indian, temanku mengambil sebuah kerikil dan menarik karet katapel. Tatapannya penuh perintah membuatku mengikuti gerakannya.Tetapi pada saat itu hati nuraniku merasa tertusuk dan aku bersumpah untuk tak mengarahkan kerikilku kepada mereka. Pada momen yang kritis inilah lonceng gereja berdentang memenuhi hamparan cahaya matahari, bersama-sama dengan suara burung-burung yang sedang bernyanyi.’Albert terkejut ketika lonceng berdentang dari kejauhan. Baginya itu adalah’a voice from heaven’ suara surga. Albert pun segera meletakkan katapelnya dan berteriak mengusir burung-burung itu pergi agar tak menjadi sasaran katapel temannya. Setelah itu Albert sendiri berlari pulang.

Mengenang kejadian di masa kecilnya, Albert menulis,”Sejak itulah ketika lonceng Paskah berbunyi di dalam hamparan cahaya matahari dan pohon-pohon yang tak lagi berdaun, aku akan ingat,dengan hati yang sangat tersentuh dan berterima kasih, sebab sejak hari itulah berbunyi dalam hatiku perintah ‘Thou shalt not kill’, janganlah membunuh.’ Albert Schweitzer menyampaikan di Auditorium Universitas Oslo setahun setelah beliau memperoleh penghargaan Nobel perdamaian 1954. “Semua manusia..mampu berbelas kasih..spirit itu ada dalam diri manusia seperti terang yang siap menyala, menunggu hanya setitik percikan api”

Adanya jiwa belas kasih yang asali dalam setiap diri manusia, universal,tak terkecuali, tak terbatas.
Saya berharap dua pria yang saya temui siang tadi, suatu ketika, setitik api belas kasih itu memercik dalam ruang hatinya. Mendengarkan keberatan suara nuraninya, bahwa hidup sungguh punya harga, meski hanya seekor burung kecil, siapakah kita hingga layak merampas hidup mereka. Hidup yang mengalir dalam diri tiap makhluk membawa visi kemuliaan-Nya, hingga hanya Sang Pemberi hiduplah yang layak mengambil hidup itu kembali. Bahagia yang di damba tidak datang gratis tanpa memberi bahagia itu sendiri pada makhluk lain.

Semua binatang adalah pahatan sakral yang hidup. Kelebat lari anjing, dan hati-hati langkah kucing, elang, kerbau dan segala yang menghembuskan nafas sungguh memiliki makna. Bagi mata yang melihat lebih dari panggung bentuk; kita bersama dicipta dalam cinta dan dicintai, demikianlah dia yang memikirkan hingga makhluk dunia dibawahnya adalah dia yang memenangkan dunia dengan cintanya” (Philip Bailey, 1816-1902)

Advertisements

I am sometimes asked: ‘Why do you spend so much of your time and money talking about kindness to animals when there is so much cruelty to men?’ I answer: “I am working at the roots.” – George T. Angell, Founder of Massachusetts SPCA

Victor Alexander Liem: Mula2 manusia memangsa binatang yang dianggap rendah. Lalu, manusia mulai memangsa manusia lain, tentu dengan anggapan ada “manusia rendah”.
Saya teringat ungkapan yang sering dikutip alm. Romo Mangun, “hommo homini lupus”
Manusia adalah pemangsa manusia lainnya, seperti serigala 🙂
(Respon dari artikel: Keenan dan Ocha, tak ada kata SULIT bagi mereka)

Hai Victor, terima kasih sudah mampir. Ego seperti apakah yang membuat manusia menggurat sejarah kekerasan perbudakan-rasisme, Holocaust-rasisme, heteroseksisme yang menyuburkan perdagangan manusia untuk kepentingan prostitusi, lalu yang sedang marak disoroti saat ini adalah kekerasan yang dilatari oleh spesiesme. Mungkin sudah saatnya bagi manusia menjernihkan spesiesme. Spesies manusia merasa lebih unggul dari spesies hewan hingga hewan ‘boleh’ diperlakukan sebagai ‘milik-properti’ . Hewan diperlakukan tak beda dengan benda. perasaan takut, marah, sakit saat disiksa hingga meregang nyawa ‘tak terlihat’ oleh ego manusia. Manusia sedang dan terus memelihara spesiesme ini, pertanyaannya, akan sampai kapan? Manusia butuh kejernihan hati dan akal, menimbang kembali apakah spesiesme layak dipelihara. Jika saja ada spesies yang lebih unggul dari manusia, penguasaan teknologi lebih tinggi dari manusia, manusia bisa saja dieksploitasi, dijadikan objek penelitian, bahkan dijadikan makanan. Saya jadi ingat film The Island, sebuah film futuristik yang mengisahkan tentang komodifikasi manusia kloning untuk kepentingan asuransi kesehatan.

Jaminan kesehatan diberikan dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan adanya manusia kloning. Semua potensi penyakit dapat diatasi. Jika secara genetik Anda memilki potensi penyakit ginjal, diabetes atau jantung, Anda tidak perlu khawatir asal punya DUIT membayar asuransi, organ manusia kloning siap mengganti semua ‘onderdil’ yang bermasalah dalam tubuh Anda. Manusia kloning dengan rekayasa genetik sedemikian rupa diprogram agar tumbuh menjadi manusia yang super sehat untuk menjaga kualitas organnya. Namun rasa dan emosi mereka telah disetel, diprogram sedemikian rupa agar tidak ‘hidup’. Manusia kloning hidup tanpa rasa dan emosi meski dalam akhir cerita ada manusia kloning yang menyimpang , ada manusia kloning yang tetap punya emosi, hingga memberontak. Mereka tak ubahnya ‘benda’. Di sini manusia satu tidak melihat kelayakan yang sama dengan manusia lainnya, hingga Homo Homini Lupus, dominasi sesama spesies subur dan ‘sah-sah’ saja. Spesies manusia yang berduit ‘boleh-boleh’ saja memperlakukan manusia kloning sesuai kebutuhan mereka, karena mereka dianggap spesies manusia-benda.

Dalam dunia nyata wajah homo homini lupus sebenarnya tak asing dalam kasus perdagangan manusia entah untuk kepentingan sebagai buruh pabrik, pekerja di dunia prostitusi dengan berbagai modus. Di China modus terbanyak adalah penculikan, mulai dari anak kecil (biasanya untuk dijadikan pekerja seks untuk pedofilia) dan di Indonesia modusnya memanfaatkan keterjepitan keadaan ekonomi. Sebuah kasus di tempat saya dinas dulu terungkap, modus yang digunakan adalah meminta langsung ke orang tua korban dengan memberi segepok uang ke orang tua korban hingga rela melepas anaknya untuk dipekerjakan di Jepang sebagai duta budaya. Kenyataannya, setelah korban sampai di tujuan, korban disodorkan nota utang berisi rincian biaya perjalanan dan biaya pengurusan imigrasi dll. Kondisi terjepit seperti ini, korban tidak memiliki pilihan, hingga terpaksa bekerja di ‘panti’ jauh berbeda dari yang dijanjikan sebelumnya. Sampai pada titik ini, manusia juga telah melihat manusia lain tak ubahnya benda tak berhak punya rasa, yang bisa dieksploitasi. Mungkinkah bakat homo homini lupus ini lahir dan tumbuh, berakar dari sikap spesiesme kita terhadap hewan. Sadar tak sadar kita membiasakan diri ‘membenarkan’ mengabaikan rasa mereka. Kita terbiasa memperlakukan mereka seolah tak berhak punya rasa takut, rasa sakit dan rasa cinta akan hidup mereka sendiri. Sebuah ungkapan dari George Angell (1823-1909) sejalan dengan permenungan di atas. Saya kadang ditanya,”Mengapa engkau menghabiskan begitu banyak waktu dan uang berbicara tentang kebaikan kepada binatang padahal begitu banyak kekejaman atas manusia?” Saya menjawab,”Saya bekerja dari akarnya.”

“I hold flesh-food to be unsuited to our species. We err in copying the lower animal world if we are superior to it.” Mohandas K.Gandhi

Oleh. Chindy Tan

Berbicara tentang aspek spiritual, sentra poin yang ingin saya ulik adalah transformasi pengetahuan intelektual ke pengetahuan intuitif. Kemampuan transformatif ini saya yakin banyak kita temui pada anak-anak kecil yang sedari janin atau usia dini memilih menolak daging. Tanpa perlu argumen yang mengandalkan rasio mereka dengan kemampuan intuitifnya menetapkan pilihannya. Mungkin ini yang disebut dalam buku The Little Prince “You can only see things clearly with your heart. What essential is invisible to the eye”. Ocha (4th) anak asisten saya, sejak mengenal makanan padat memilih menolak makan daging,”kasihan” itu alasan yang berulang dikatakannya. Suatu ketika saat cukuran di salon, kapsternya menangkap seekor serangga, dimasukkan ke dalam kantong plastik dan diberikan kepada Ocha. Menerima ini, Ocha bertanya pada Bapaknya,”Pa, iki piye nek arep maem, ta’ lepas aja ya ben iso nyari maem”. Kepekaan terhadap makhluk lain (mungkin ini adalah pengetahuan intuitif) yang membuat Ocha dalam keadaan bagaimana pun tetap keukeuh menolak makan daging. Meski itu daging nabati. Saya pernah memberikan Mama Ocha daging nabati dan ketika ditawarkan kepada Ocha, Ocha menolak meski sudah diberi penjelasan oleh ibunya,”iki dudu daging, iki dari tante Dindi”. Ocha juga tidak segan memilih makan ketupat dengan kecap tok, saat dijamu makan sate oleh pamannya. Ayah Ocha, karena sungkan mencoba menyuapkan Ocha beberapa potong daging, namun Ocha bersikeras menolak,”oya geyem ya oya geyem, aku ojo dipokso” (nggak mau ya nggak mau, aku jangan dipaksa). Mereka tidak mengenal kata sulit dalam menolak daging, meski harus makan dengan menu terbatas. Bagi Ocha lebih ‘mudah’ makan ketupat dengan kecap daripada harus mengabaikan rasa kasihannya. Mereka mampu melihat HIDUP MAKHLUK LAIN JUGA BERHARGA dan selayaknya dihargai.

Ternyata sikap serupa ditunjukkan oleh Keenan, putra Reza-Dee dan Marcell-Rima. Seminggu yang lalu pasien saya bercerita tentang sikap keukeuh Keenan menolak daging, tiruan sekalipun. Ketika makan bersama ayahnya Marcell, Rima Melati Siahaan-Adams, di sebuah restoran vegetarian, Keenan menolak makan daging-dagingan. “Saya cuma mau makan tahu sama tempe” tegas Keenan. Meski telah dijelaskan Marcell bahwa ‘daging’ tersebut juga vegetarian, Keenan tetap keukeuh minta tahu sama tempe. Akhirnya Rima meminta kepada pelayan untuk membuatkan masakan baru,”tolong buatkan lagi masakan yang masih kelihatan tahu dan tempenya ya”. Saya tidak tahu pasti mengapa anak-anak ini menolak daging tiruan sekalipun. Seorang rekan saya pernah bercelutuk tidak seharusnya kita memberi nama “bebek vegetarian, ayam vegetarian, babi merah vegetarian, karena pemakaian nama hewan pada makanan-makanan tersebut tidak membantu menjernihkan posisi hewan bukan makanan”.

Kisah-kisah serupa mungkin semakin banyak, dan kita tidak pernah tahu pasti mengapa. Mungkin ‘pengetahuan’ mereka ini analog dengan kisah Negeri Mata Satu.
Suatu waktu di Negeri Mata Satu lahirlah seorang bayi dengan dua mata. Anak itu, anak bahagia. Orang tuanya mencintainya dan senang mengemongnya. Tetapi mereka cemas karena anak itu aneh, matanya dua. Dokter-dokter yang mereka panggil geleng-geleng kepala dan heran. Tetapi mereka berkata,”Apa boleh buat? Tidak mungkin disembuhkan.” Pada suatu hari yang menggemparkan, ia melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat orang -orang lain. Ia tidak melihat seperti orang-orang lain yang hanya hitam dan putih. Ia melihat warna-warna. Orang tuanya dan sahabat-sahabatnya terheran-heran karena ia pandai bercerita tentang temuan-temuan yang menggetarkan hati, yang tidak dapat dilihat mereka. Ia berbicara dengan kata-kata yang belum pernah mereka dengar seperti ‘merah,’ ‘kuning’ dan ‘hijau’
(Manusia Pascamodern, Semesta dan Tuhan-Romo Mangun)

Dapatkah kita persepsikan ‘makan daging adalah hal yang alami’ sebagai pengetahuan hitam putih yang kadung berakar dan menjadi budaya manusia dalam memilih makanannya. Ketika anak-anak ini datang dengan penglihatan warna yang berbeda, manusia mampu hidup tanpa daging, adalah warna lain yang masih sulit diterima dan dipahami.
Gulir zaman menunjukkan pilihan sikap anak-anak ini untuk meat out, diakui secara ilmiah sebagai kebutuhan global. Manusia perlu menjernihkan kembali pilihan makannya. Dan pengetahuan intuitif anak-anak ini menyentil rasio siapa saja. Menantang kita untuk mendefenisikan arti cukup bermula dari isi piring jika peradaban manusia ingin bertahan. Gerakan perubahan kini bukan skala individu melainkan sudah tingkat negara-Belgia yang kini dikenal sebagai negara vegetarian pertama di dunia, Kelompok negara-Eropa: mengharuskan tiap negara Eropa membuat laporan kontribusi gas rumah kaca dari pola makan daging, tingkat kebijakan-semua rumah sakit UK akan berlakukan menu TANPA DAGING untuk pasien. Tidakkah arus perubahan ini semakin jelas menegaskan, kita butuh berubah.

ps.artikel ini dipubilkasi atas sepengetahuan dan seijin Dee dan Marcell, artikel ini akan dipublikasikan juga di majalah Info Vegetarian edisi 4

“Ketika bias paham kita akan budaya domestifikasi dan komodifikasi hewan telah terpapar jelas, angin perubahan telah sampai di ambang pintu. Modal selanjutnya yang paling mendasar untuk membuka gerbang perubahan dan menjadi bagian dari perubahan itu adalah kejujuran pada diri sendiri untuk mengakui bias tersebut. Karena ternyata tidak banyak yang mau dan mampu jujur pada dirinya bahwa hidup kita tidak selayaknya berdiri di atas kesakitan, penyiksaan, kematian makhluk lain, kemampuan mereka untuk merasakan sakit bukanlah omong kosong hingga bisa diabaikan begitu saja. Ketika berada dalam kondisi terbatas sehingga kadang harus menahan lapar, inspirasi anak-anak kecil Ocha dan Keenan mungkin bisa membantu menepis rasa ‘sulit’ dengan sikap mereka,”lebih mudah makan terbatas daripada harus mengabaikan rasa kasihan karena kecintaan akan hidup bukan hanya milik manusia”. Rasa belas kasih inilah yang mempertautkan persaudaraan manusia dengan laksa ciptaan lain layaknya darah yang mempertautkan sebuah keluarga-Chief seattle. Buah budaya memperlakukan hewan tidak lebih dari benda/produk telah memukul balik dari segala arah, kerusakan lingkungan, ketimpangan akses pangan, epidemi penyakit sistemik dan mutasi penyakit-penyakit baru (seperti virus H1N1-Huffington Post” Swine Flu Outbreak-Nature Biting Back at Industrial Animal Production?” May 2, 2009). Arus fakta-fakta bahwa pilihan makan manusia mengancam peradaban manusia itu sendiri, benang merahnya semakin tebal. Mari miliki kepala dingin dan kejujuran mengakui fakta ini jika kita sadar bumi kita tidak dalam keadaan baik-baik saja. Kejujuran ini jualah yang akan menjaga sikap setia dan konsisten pada pilihan tersebut” Chindy Tan-Jogja 10 Agustus 2009 00:25 dini hari

Richard bertanya: yang diriku maksud itu terkait pengaruh makanan pada pertumbuhan spiritual, fisik, mental, dan sosial dari individu atau komunitas

Pengaruh pola vegetarian terhadap berbagai aspek sebenarnya sudah tercermin dari asal kata vegetarian itu sendiri yakni vegetus yang artinya lincah, segar, penuh daya semangat hidup (lively, fresh, vigorous). Meminjam frase Vegetus Libertas yang dipopulerkan Dewi ‘Dee’ Lestari, lebih utuh memberikan gambaran apa vegetarian itu sebenarnya. Hidup yang menguatkan budi. Vegetarian adalah makanan yang menguatkan budi. Makanan yang memerdekakan. Pilihan makan yang mengantar manusia untuk terus berevolusi menuju ke jati dirinya.
Mari kita simak satu persatu pengaruh makanan terhadap:

FISIK
Dalam tes daya tahan tubuh yang dilakukan Universitas Yale oleh Dr. Irving Fisher, terhadap para atlet di Yale,para instruktur, para dokter dan perawat ditemukan bahwa kelompok VEGETARIAN memiliki stamina DUA KALI LEBIH KUAT dibanding kelompok PEMAKAN DAGING. Tes yang sama dilakukan oleh J.H. Kellog di BAttle Creek sanitarium di Michigan dan hasilnya mengukuhkan Dr. Fisher

MENTAL DAN SOSIAL

–Kelompok vegetarian lebih stabil emosinya daripada kelompoknon vegetarian (Armina, Wismanto, Y.B & Yudiati, E.A. 2000-Kestabilan emosi antara vegetarian dan non vegetarian. Psikodimensia. 1:66-70

–Mahasiswa yang berkomitmen sebagai vegetarian memiliki kendali emosi yang lebih tinggi daripada yang tidak berkomitmen sebagai vegetarian (Cahyana, V.A. 2003. Perbedaan Kendali Emosi Pada Mahasiswa Vegetarian dan Non Vegetarian. Skripsi. Tidak diterbitkan. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM)

–Penelitian Stein dan Nemeroft (Rozin, Markwith & Stoess, 1997) menunjukkan bahwa murid-murid dengan pola makan vegetarian digambarkan lebih baik hati dan menyenangkan daripada yang mempunyai pola makan yang tidak sehat dan berkadar lemak tinggi.

–Pola makan vegetarian meningkatkan jumlah Sex Hormone Binding Globulin (SHBG) dalam darah. SHBG adalah molekul protein yang berperan sebagai ‘pesawat pengangkut’ yang menahan hormon-hormon seks sampai mereka dibutuhkan. SHBG ini menjaga hormon seks tetap terkontrol (Izotop, 2001) Hasilnya adalah intensitas agresi yang rendah, lebih baik hati dan juga menajdi lebih sabar (dapat mengontrol dirinya lebih baik)

–Individu yang menjalani pola makan vegetarian secara tidak langsung telah dapat mengendalikan haw nafsu atau emosinya untuk tidak mencicipi makanan yang beraroma merangsang. Seseorang yang dapat mengekang diri dalam soal makanan, maka dengan sendirinya individu tersebut memiliki kapasitas untuk dapat mengekang hal-hal lain temasuk mengekang emosi dan kemarahannya (Armina, Psikodimensia-2000)

Masalah apakah apa yang dimakan dapat mempengaruhi perilaku atau tidak, menurut Rozin, P, Markwith, M&Stoess, C 1997. dalam Moralization and Becoming a Vegetarian: The Transformation of Preferences Into Values and the Recruitment of Disgust. Pshycological sciences. 8, menjelaskan bahwa dalam masyarakat moderen maupun tradisional pandangan “you are what you eat” telah menjadi manifestasi berlakunya Sympathetic magical law of contangion,”yaitu manusia ingin membedakan dirinya dengan binatang, namun dengan tetap mengonsumsi, manusia akan memiliki sifat-sifat binatang tersebut. Penelitian Stein dan Nemeroft tahun 1995 (Rozin, 1997) dengan menggunakan teknik impresi Asch pada murid-murid sekolah di Amerika, menunjukkan bahwa murid-murid yang mempunyai pola makan vegetarian digambarkan lebih baik hati dan menyenangkan dibandingkan yang menganut pola makan yang tidak sehat dan berkadar lemak tinggi. (skripsi: Kontrol Diri Antara Pola Makan Vegetarian dan Non Vegetarian pada Mahasiswa di DIY, Uyun Racmawati, 2008, Universitas Ahmad Dahlan)

—Kaitan makanan dengan perilaku juga dibuktikan korelasinya di Central Alternative High School yaitu sekolah tinggi anak-anak yang memiliki perilaku bermasalah. “Kami menyajikan sayur-sayuran dan buah-buahan tanpa bahan pengawet. Semua makanan kami buat tanpa proses pemanggangan dan penggorengan. Di sini kami juga TIDAK MENGENAL DAGING. “Greg Bretthauer-Dekan Applleton Wiscosin-Central High School. “Kami meniadakan mesin soft drink dan junk food. Kami melihat, hal ini MEMBUAT PERUBAHAN YANG BESAR PADA SISWA.” Debra Larson-School Social Worker (Film Dokumenter Supersize Me, 2004)

Bang untuk pengaruh makanan terhadap aspek spiritual sedang menunggu ijin dari Dee ya, akan saya poskan segera setelah ijin turun;)
Demikian Richard, semoga informasi ini dapat memberi masukan ya..
terima kasih

Jacob Behmen (1575-1624) seorang filsuf besar dari Jerman, dalam bukunya The Great Mystery menjelaskan bahwa persaudaraan manusia dengan seisi semesta merupakan dasar dari penyatuan mistis dengan Tuhan. Membunuh binatang untuk makanan akan membangun penghalang antara roh manusia dan Tuhan. Keberatan moral menggunakan hewan sebagai makanan dan berbagai bentuk eksploitasi merupakan tanda kemurnian, kesungguhan dan kejujuran moral. Leo Tolstoy (1828-1910) dengan indah mengekspresikan dasar moral dari vegetarian,” Gerakan vegetarian akan mengisi jiwa yang hatinya menyadari kehadiran kerajaan Allah di bumi dengan kegembiraan…karena itulah kriteria yang kita ketahui tentang bagian dalam diri seorang manusia yang mencari kesempurnaan moral adalah sejati dan jujur.”
“This is dreadful! Not the suffering and death of the animals, but that people suppress in themselves, unnecessarily, the highest spiritual capacity – that of sympathy and pity towards living creatures like themselves – and by violating their own feelings, become cruel. And how deeply seated in the human heart is the injunction not to take life.”
– Leo Tolstoy, translated from “The First Step,”

Mencintai makhluk lain karena Aku adalah Dia,Dia adalah Aku, Engkau adalah Aku dan Aku adalah Engkau. Adalah didikan yang telah ditanamkan dalam diri Bung Karno kecil. Suatu hari tanpa sengaja Karno menjatuhkan sarang burung dari atas pohon. Kejadian itu membuat Ayah Karno marah.
“Bukankah aku sudah mengajarkanmu untuk mengasihi binatang?”
“Ya, Pak,”sahut Karno ketakutan
“Kau bisa menerangkan arti ungkapan Tat Twan Asi, Tat Twan Asi’ yang kuajarkan?”
“Ya, Pak. Artinya, Dia adalah Aku; Aku adalah Dia, Engkau adalah Aku, Aku adalah Engkau.”
“Lalu, mengapa masih kaulakukan? Bukankah kau harus melindungi semua makhluk Tuhan?”
(Bung Karno Mencari Tuhan, 2005)
Seorang Bapak Bangsa yang lain di negeri ini, Romo Mangun sejak masih kecil telah memperlihatkan kehalusan budinya terhadap makhluk lain. Bil (nama kecil Romo Mangun) kerap pergi ke sawah melihat burung-burung manyar. Suatu ketika Bil dan teman-temannya menghalau kawanan burung manyar,”Hurrrsahhh!” akibatnya burung-burung itu segera beterbangan. Mereka senang melihat kawanan burung manyar terbang di udara. Benar-benar pemandangan yang sangat indah sebab burung-burung itu terbang meliuk-liuk seperti ular.
“Kita ketapel, yuk?” ajak salah satu teman Bil.
“Jangan,” kata Bil mencegah. “Kita tidak boleh menyakiti burung. Mereka juga seperti kita, tidak ingin disakiti.”
(Romo Mangun Sahabat Kaum Duafa, 2005)

Hakikatnya hati kita sepakat binatang memiliki bagian yang sama dalam diri setiap kita, naluri mencintai hidup, naluri mempertahankan hidup. Ketika Prof Prasasto mempresentasikan klip-klip detil bagaimana hewan disembelih, suara-suara berseru ngeri, jerit takut terdengar dari kiri-kanan dan deretan kursi di belakang saya. Sebuah presentasi dalam forum Pre. Conference …. MEMBERSHIP AS AN ASSET OF ROTARY CLUB Rotary Club (Sheraton Mustika Yogyakarta Resort & Spa. 27-28 Februari 2009). Melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana sebuah kehidupan terenggut, jerit sakit, amarah hingga mereka meregang nyawa, menyentak hati siapapun, kita terhubung dengan segala rasa yang mereka alami. Hati (hakikatnya) akan menolak melihat, menolak memandang ketakutan, kesakitan, menolak mendengar tangisan sebagai ekspresi naluri untuk mempertahankan meski itu keluar dari mulut seekor kambing, ayam, sapi atau babi. Semua naluri mempertahankan hidup ini kode pesannya sama persis dengan yang manusia miliki. Inilah dasar hubungan sebuah hati dengan laksa entitas, hubungan yang dikandung oleh belas kasih. Hubungan yang mempertautkan semua entitas, sedarah dan sekandung dalam belas kasih mengalir dalam diri laksa entitas, serupa dengan sang Bunda Semesta. Terus berproses untuk mengenal belas kasih, hingga sampai pada titik belas kasih tanpa titik adalah perjalanan hati menguak misteri dan mengenal wajah sang Pencipta, Sang Bunda Maha Belas Kasih. Dalam tautan persaudaraan ini jualah kita akan kembali ke pangkuan Sang Bunda.

Berikut adalah salah satu kisah yang tercatat dalam buku “Record of Protecting Life”
Ketika seorang pelajar yang bernama Chou Yu sedang memasak belut untuk dimakan, dia memperhatikan salah satu dari belut tersebut menekuk tubuhnya sehingga kepala dan ekornya masih dalam air mendidih, tapi tubuhnya melengkung di atas sup. Tubuh belut itu tidak jatuh seluruhnya sampai akhirnya dia mati. Chou Yu merasa sangat aneh, dia menarik keluar belut tersebut dan memotong perutnya. Dia menemukan ribuan telur di dalamnya. Belut tersebut telah melengkungkan perutnya keluar dari sup panas untuk melindungi anak-anaknya. Dia menangis melihat pemandangan itu, menarik napas panjang dengan penuh emosi bersumpah tidak akan pernah makan belut lagi.


Brian
Since becoming a vegetarian I’ve felt a new openness and lightness. Channels have been cleared and obstacles have been removed; energy is flowing more freely from top to bottom. An elimination of obstructions, both physical and spiritual. And with this I’ve discovered a new sensitivity. How do you know what it’s like to not have something when you’ve had it all of your life? I’ve eaten meat for 29 years and I never knew what it was like to not eat meat. Sometimes the best way to know what you have is to take it away. I took meat out of my diet, out of my body, and I was able to see what was underneath and able to experience what I was putting on top. I became more sensitive, sensitive to the quality of food, the character of food, and the impact of what I ate. I developed a new awareness of my body as an organic being, realizing it’s made of the same material as Earth and Nature. It seemed so simple and made perfect sense, a new understanding of what it means to live in accordance with the world around me.

I became vegetarian as an experiment, to see what it was like, and to do so without adhering to a hard and fast ideology. First it was a physical experience: I felt lighter, more open, and even stronger; more efficient. I developed an increasing sensitivity to the essence of what I ate: what was wholesome felt instantly energizing and life-affirming; what was unwholesome felt instantly empty and life-draining. I could feel the nutrients of various foods rushing to and kindling various parts of my body. The act of eating became even more pleasurable than before.

Then I understood vegetarianism on a moral level. Here was the way I approached it: To live in harmony with one’s environment, there needs to be a constant sense of give-and-take, a mutual respect that promotes sustainability for eternity. Food is sustenance. Nature provides food for humans to live. It offers fruits, grains, plants. When we take of these things we must pay our respects with gratitude: “I am grateful for this food to have as my sustenance.” In return for our gratitude, Nature replaces these simple things that we take; no harm done and the Earth is found as it was left. But with animals, there is no gratitude we could possibly pay that would replace taking a life. Once a life is taken, that’s it, it’s over, it doesn’t come back. To kill an animal is the end, the animal does not grow back and it is not replaced. There is no sense of gratitude that can equal the taking of a life. In that regard, I don’t eat meat because I could never be grateful enough for eating a life. This sense of gratitude promotes a strong sense of living in harmony with the world around me. If everybody functioned with gratitude, kindness, and respect, the world would be sustainable for eternity. My moral approach to my diet is that food is an offering from the Earth and for that I am grateful. The Earth regenerates its vegetables, grains, fruits, legumes, nuts, etc., so therefore it is within my right to respectfully take from it for my sustenance. I, or Nature, could never replace the life of an animal so therefore it is not within my right to take from it for my sustenance. (In this light, eating animal products is ok with me since the animal is not killed for its offering. Milk is an offering from the cow, honey is an offering from the bee. I have moral issues with the way these products are sometimes obtained but I don’t feel that there is anything inherently immoral with taking them for consumption. For me, milk and honey are very nutritious food sources that have prominence in my diet). I began to regard humans and other animals as co-existing on the same rung of the food-chain; to eat animals would be almost cannibalistic.

Tonight, I finally understood what it means to be a practicing vegetarian. Some vegetarians say it’s ‘wrong’ to kill animals or use animals for food (as I did above). I see that as a matter of principle- and principles aren’t necessarily true or real. It is almost always more powerful to have something be an innate experience, to feel it from your core rather than as an ideology. It finally made sense to me what it means to be practicing vegetarianism: it has to do with making the decision to willingly act for kindness and to renounce violence. To not eat meat, is to say to myself, “I will consciously make the decision to not eat animals killed for my sustenance.” It is a choice- and that is the point. There is no wrong or right, good or bad. But there is, for me, a prolonged sensation that comes with acting for kindness, peace, and non-violence; with acting for openness. This type of consciousness broadens into every other aspect of life: personal relationships (hostility vs. compassion), attitudes towards one’s self (acceptance vs. punishment), and approaches towards daily living (gratitude vs. selfishness). To practice non-violence, in any form, is a reward in itself, and it feels right and undeniably good. So, practicing vegetarianism becomes less about the ideological reason of it being wrong to kill animals for food; it doesn’t bother me that other people are meat eaters and I believe people have the right to choose to eat meat if they like (whereas, nobody has the right to kill another human being, not even if they like). I do it as a way of practicing non-violence; it is a way of bringing peaceful consciousness into my life and a way of making choices that help me maintain that feeling from the time I wake up to the time I go to sleep. It promotes openness and the removal of obstacles as a means of developing heightened sensitivity and broader awareness; it affirms unity and coexistence; it is a way of acting and living for peace, sustainability, and eternity. For me, it has become a way of cultivating a sense of spiritual well-being, and that always comes down to Love, define it as you will. At the moment, this is the way that is working for me, as it feels right. It is a continual experiment.

In the end, I think too much importance is given to the debate between, ‘is it better to have a vegetarian diet or is it ok to eat meat?’ It can become a back and forth with many twists that won’t lead to a sense of resolution. Really, in the end, I don’t think it matters, though the pros do seem to favor vegetarianism. Vegetarians are certainly no better people than meat eaters. And, different diets work for different people. The real question should be regarding what will improve the quality of life- physically, mentally, emotionally, and, spiritually -for us as individuals and the world that we share with everyone else. And, once finding that, making efforts to move in that direction, and then to live in it.

“We regard some animals—our “pets”—as members of our families. We see them as nonhuman persons. We love them and they love us back. We are not in any way speaking or thinking anthropomorphically when we say that dogs and cats are sentient beings with distinct personalities. That is simply a matter of fact. We have no doubt that they have an interest in avoiding pain, suffering, and death. We grieve when they die. But our dogs and cats are no different from the animals whose bodies we eat or who are used to produce dairy and eggs. We love some animals; we stick forks into others. That is what I mean by “moral schizophrenia.”

Mother Earth Salam kenal bagi siapa saja yang mau mampir di beranda bersahaja ini. Bertukar isi hati dan isi otak adalah salah satu proses manusia memanusiakan dirinya. Ada dialog di sana. Dialog yang dituntun oleh tanya demi tanya, karena manusia sepanjang hayat peradabannya adalah makhluk yang belum selesai dengan dirinya. Poin senjang yang banyak diusung berkisar pada kata kunci: MANUSIA, CINTA DAN TUHAN, VEGETARIAN, GLOBAL WARMING. Mengajak siapa saja belajar jujur pada dirinya, ketika hati dan fakta berada dalam satu garis lurus(jujur), maka kejujuran pada dirinya inilah yang akan memaksa manusia berubah. Mungkin inilah hidup yang bertanggung jawab, hidup yang fair. Berusaha memahami cara hidup saat itu juga manusia memahami cara mati

---Chindy Tan---

RSS Unknown Feed

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

EATING UP THE WORLD

DOWNLOAD PDF FILE EATING UP THE WORLD eating up the planet If we want to preserve and restore our environment in Australia, we must make changes to our diet. The food we eat has a major effect on our waterways, the quality of the air we breathe and on the environment around us. Eating fish and other sea life is killing our oceans, agricultural industries are polluting our waterways, and vast areas of land are wasted with the grazing of animals. These practices are unsustainable and the global impacts are being felt more than ever before. By adopting a vegetarian diet you can make a significant contribution towards improving your health as well as that of the planet. Animal industries are eating up the world. It is up to us to save it!

Film Dokumenter Processed People

processed people Free Download Trailer film Processed People. "Sebenarnya kita sedang mengonsumsi sesuatu yang tidak layak disebut makanan” Jay Gordon, MD, FAAP, FABM,IBCLC Asisten Prof Kesehatan Anak UCLA Medical School Film ini merupakan finalis USA Film & MAUI Film Festival di dukung oleh dokter-dokter ahli dari UCLA, John Robbins, Jeffrey Moussaief Masson, dan pakar-pakar lainnya.

sinopsis film Processed People

The statistics are terrifying. Two hundred million Americans are overweight and 100 million are obese. More than 75 million Americans have high blood pressure. 24 million people are diabetic. Heart disease remains the No. 1 cause of death for men and women, followed by stroke and obesity-related cancers. Obesity has overtaken tobacco as the No. 1 cause of preventable deaths in the United States. Over 50% of bankruptcies are caused by what has become known as “medical debt.” Fast food, fast medicine, fast news and fast lives have turned many Americans into a sick, uninformed, indebted, “processed” people.

Film Dokumenter H O M E

Free Download Full Version H O M E Dari penulis buku terlaris di dunia, Earth Above, hadir kembali dengan karya baru yang cemerlang. Home, film dengan judul buku yang sama, menghadirkan gambar-gambar yang menakjubkan. Sebuah ekplorasi wajah Bumi lengkap dengan foto-foto terkenal karya Arthus-Bertrand dilengkapi teks informatif oleh tim Good Planet, sebuah organisasi non-profit yang mempromosikan pemeliharaan lingkungan hidup. Home menghadirkan keindahan Bumi dan mengajak seluruh umat manusia untuk menjaganya dari kehancuran. Film ini ditayangkan secara serentak mulai tanggal 5 Juni-14 Juni 2009 3 benua, lebih dari 50 negara, termasuk Indonesia, ditayangkan gratis lewat televisi, bioskop, internet klik disini . Berkisah tentang Bumi dan evolusi semua makhluk hidup, dan bagaimana manusia yang paling muda umur eksisnya justru merupakan oknum yang paling bertanggung jawab atas kerusakan bahkan kehancuran Bumi. Film ini juga mengupas tentang inefisiensi hasil pertanian untuk memproduksi daging. Arthus-Bertrand berkata, “50 persen hutan yang telah hilang, bukanlah hal yang paling penting, melainkan 50 persen yang masih tersisa”

Sang Buddha Vegetarian?

Jelang Sang Buddha Parinirvana, Makan Babi atau Jamur? Pro dan Kontra apakah Sang Buddha vegetarian dapat dibaca argumentasi dan dasar telaahnya yang diulas oleh Master Roshi Philip Kapleau (pendiri Budhisme Zen di Amerika) dalam buku To Cherish All Life (DOWNLOAD FULL VERSION

Video: Diet For A New America-John Robbins

Free Download: Video(part1-8): Diet For A New America “I think what I really learned in all of this, Was to be true to myself To be true to my inner voice And I began to see, That we really do have the power, Our own lives really do make a difference, Just by being more conscious of the food that we eat. We can heal ourselves; we can heal the environment, We can heal this planet"<a

Free Download Film Dokumenter Super Size Me

(Film Dokumenter Supersize Me, 2004)-Free Download Self Experience dari Morgan Spurlock, 30 hari bersama daging. Juga memaparkan fakta pengaruh makanan terhadap perilaku. Kaitan makanan dengan perilaku juga dibuktikan korelasinya di Central Alternative High School yaitu sekolah tinggi anak-anak yang memiliki perilaku bermasalah. “Kami menyajikan sayur-sayuran dan buah-buahan tanpa bahan pengawet. Semua makanan kami buat tanpa proses pemanggangan dan penggorengan. Di sini kami juga TIDAK MENGENAL DAGING. “Greg Bretthauer-Dekan Applleton Wiscosin-Central High School. “Kami meniadakan mesin soft drink dan junk food. Kami melihat, hal ini MEMBUAT PERUBAHAN YANG BESAR PADA SISWA.” Debra Larson-School Social Worker (Film Dokumenter Supersize Me, 2004)

Slide Show Buku Terbaru Lester Brown: Plan B.3

RSS Gary Francione’s thoughts

  • NEW BOOK: ADVOCATE FOR ANIMALS! AN ABOLITIONIST VEGAN HANDBOOK December 14, 2017
    Just out! Available in paperback and Kindle at Amazon.com: This book is a call to action. Since the beginning of time, there have been—in total—about 110 billion humans who have lived and died. We kill more nonhuman animals than that every single year. Think about that for a second. Our exploitation of nonhumans represents violence […] Related posts: OUR NEW […]
    Gary L. Francione
  • Veganism: History, Contemporary Views, and Common Objections October 29, 2017
    This brief essay, translated into Spanish, will be included in the new edition of the Diccionario de Filosophía (J. Ferrater Mora): VEGANISM. Veganism, as a matter of diet that may reflect broader ethical concerns, refers to the practice of not consuming meat, fish, dairy, eggs, and other foods, such as honey. Veganism as a general […] Related posts: Animal […]
    Gary L. Francione
  • Guest Essay: Mercy for Animals and Cage-Free Duplicity September 24, 2017
    This is a guest essay written by Linda McKenzie, a long-time Abolitionist advocate. ******* Mercy for Animals and Cage-Free Duplicity Linda McKenzie Part 1 Mercy For Animals (MFA) is a classic example of welfarist organizations that make a habit of talking out of both sides of their mouths, and of saying one thing while doing […] Related posts: Guest Essay: […]
    Gary L. Francione
  • Some Thoughts in Anticipation of the Podcast Discussion to Which Sivarama Swami Has Agreed September 9, 2017
    NOTE: I AM PREPARED TO DO THE PODCAST AT ANYTIME. SIVARAMA SWAMI HAS YET TO AGREE TO A DATE. On September 1, 2017, a Hare Krishna adherent named Sivarama Swami posted a video on Facebook entitled, Can Vegans Consume Milk?. I watched the video and I was disturbed by it. I posted this on the […] Related posts: Some Thoughts for Mother’s Day 2012 Guest Essay: T […]
    Gary L. Francione
  • Aeon.com Essay on the Interest Animals Have in Living September 9, 2017
    Here is our second essay in Aeon.com. The title of the essay is: A ‘humanely’ killed animal is still killed – and that’s wrong. We hope that you enjoy it and that it stimulates your thinking about the issue of the interest that animals have in continuing to live–apart from their interest in not suffering. […] Related posts: Essay on Domestication and Pet Own […]
    Gary L. Francione

RSS Ecorazzi News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Vegetarian Star

  • Jon Stewart and Wife Tracey Stewart Adopt Horse May 31, 2016
    When Jon Stewart signed off the air a year ago, he talked about his plans for the future, one of which included bringing a Noah’s Ark group of animals to his private sanctuary his runs with his wife Tracey Stewart. One very special horse has been given the opportunity to join the family. A white […]
    Vegetarian Star
  • Chrissy Teigen Failed Vegan Experiment May 31, 2016
    Aside from the occasional trip on the runway, supermodels never fail at anything, right? Chrissy Teigen has partaken in several adventures in her kitchen, many of which are included in her new cookbook, Cravings. The wife of musician John Legend decided to experiment with veganism, but this adventure created more excitement online than in the […]
    Vegetarian Star
  • Mia Evans Is A “Masterchef Junior” Vegetarian Star May 9, 2016
    Any vegetarian chef on a reality cooking show is something to get excited about, but when a 12-year old makes better sauce than most adults do–it’s something worth swearing like Gordon Ramsay. Mia Evans was a contestant on the fourth season of Masterchef Junior, a kids’ spin-off of the adult series on Fox TV. Mia […]
    Vegetarian Star
  • Ringling Brothers, Barnum & Bailey Elephants Retire To Sanctuary May 9, 2016
    Activists all over the world are performing tricks way more entertaining than these elephants could. Ringling Brothers and Barnum & Bailey Circus is retiring the remaining elephants that have performed during its shows. The company had originally planned to do this by 2018, but it looks like these lucky pachyderms are getting an early pension! […]
    Vegetarian Star
  • The Passing Of A Vegan Prince April 23, 2016
    It’s a sorrowful week for music lovers and vegans alike, as Prince, one of the greatest masters of funk, R & B, jazz, pop and a mixture of everything else, has passed. The singer left the world at his famous home and recording studio, Paisley Park, in Chanhassen, Minnesota on Thursday, April 21, 2016. He […]
    Vegetarian Star
  • Holly Madison Enjoys Vegan Smoothie From M Cafe In Beverly Hills April 10, 2016
    Holly Madison knows the formula for a healthy pregnancy! The Playboy pinup was spotted with a smoothie from one of Beverly Hill’s popular vegan eateries, M Cafe. Madison is pregnant with her second child with husband Pasquale Rotella. Vegan smoothies are known for containing every good, like non-dairy milks, vitamins and fiber, so the mother-to-be […]
    Vegetarian Star
  • Controversy Over Pro-Vegeterian Curriculum In Schools April 1, 2016
    Parents are outraged at a new curriculum designed to encourage children to eat more vegetarian foods. A group called Veggie Kids of Tomorrow has created a book filled with nothing but images from some of the most popular campaigns from the animal rights group People for the Ethical Treatment of Animals. The problem with this […]
    Vegetarian Star
  • Ellie Goulding Creates Protein Bar “Everlasting Joy” With GoMacro March 31, 2016
    Ellie Goulding has collaborated with vegan and organic Wisconsin-based company GoMacro to create a protein bar that represents the English singer’s desire for plant-based nutrition and charitable giving. The “Ellie-Inspired” bars contains chocolate chips, coconut and almond butter, a combination Goulding says keeps her energetic for any occasion, whether it’ […]
    Vegetarian Star

RSS Enviro News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Scientific News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS KOMPAS

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Catatan Pinggir-Goenawan Mohamad

  • Origami August 16, 2012
    Seorang penulis sejarah yang baik tahu bahwa ia seorang penggubah origami. Ia membangun sesuatu, sebuah struktur, dari bahan-bahan yang gampang melayang. Sebab bahan penyusunan sejarah sesungguhnya bagaikan kertas: ingatan. Ingatan tak pernah solid dan stabil; ingatan dengan mudah melayang tertiup. Seperti kertas, ketika ia menampakkan diri di depan kita, se […]
    anick
  • Batman August 6, 2012
    Batman tak pernah satu. Maka ia tak berhenti. Apa yang disajikan Christopher Nolan sejak Batman Begins (2005) sampai dengan The Dark Knight Rises (2012) berbeda jauh dari asal-muasalnya, tokoh cerita bergambar karya Bob Kane dan Bill Finger dari tahun 1939. Bahkan tiap film dalam trilogi Nolan sebenarnya tak menampilkan sosok yang sama, meskipun Christian Ba […]
    anick

RSS Ruang Hati

  • Berbagi Ketidaksempurnaan December 10, 2009
    Kita mungkin tidak akan pernah melupakan satu kisah nyata yang mirip dongeng; tragedi cinta Puteri Diana dan Pangeran Charles. Kematian Sang Puteri begitu mengharu biru dunia. Tercatat dua milyar lebih pasang mata menitikkan air mata pemakaman Sang Puteri. Larut dalam sedih dan kehilangan. Dunia tidak akan melupakan pernikahan megah Putera Mahkota Inggris da […]
    ruanghatikita

RSS Times online

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS CNN News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Guardian News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS The New York Times

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Newsweek

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Archives

Blog Stats

  • 62,250 hits
December 2017
M T W T F S S
« May    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

RSS Timesnews

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.