You are currently browsing the category archive for the ‘artikel Chindy Tan’ category.

billgates
http://www.thegatesnotes.com/features/future-of-food

Advertisements

Sekolah Dasar di Kota New York beralih ke 100 persen vegetarian

Sekolah publik di New York telah memulai “revolusi” di kafetaria sekolah sejak Walikota Bloomberg menjabat dengan menyediakan makanan 100% vegetarian. Evolusi yang terus berlanjut di kafetaria sekolah telah tersedia di 1.000 sekolah, dan dan mereka akan tersedia di 1.800 sekolah hingga akhir tahun akademik berikutnya.

Bravo! 1.000 sekolah vegetarian ada di New York! Dunia vegan segera terwujud?

Referensi:
http://www.foxnews.com/health/2013/04/30/new-york-city-elementary-school-adopts-all-vegetarian-menu/
http://www.nydailynews.com/new-york/queens/queens-school-serves-all-vegetarian-fare-article-1.1331690
http://abcnews.go.com/blogs/health/2013/05/01/elementary-school-cafeteria-goes-vegetarian/
http://edition.cnn.com/2013/05/02/health/new-york-vegetarian-school/index.html?sr=fb050213vegetarianschool9p

Laporan World Wildlife Fund yang berjudul “Living Planet 2012” merekomendasikan untuk mengurangi pemborosan makanan dan menurunkan konsumsi daging dan susu.
http://www.onegreenplanet.org/news/new-wwf-report-recommends-lowering-meat-and-dairy-consumption/
http://awsassets.panda.org/downloads/1_lpr_2012_online_full_size_single_pages_final_120516.pdf

Hasil SCANS OTAK menunjukkan VEGETARIAN & VEGAN lebih empatik atas penderitaan manusia dan hewan dibanding OMNIVORA.
Penelitian terbaru menggunakan “functional Magnetic Resonance Imaging” (fMRI) menunjukkan bahwa vegetarian dan vegan tampaknya memiliki lebih banyak respon empati terhadap penderitaan manusia dan hewan. Scan otak fMRI menunjukkan bahwa area otak yang berhubungan dengan empati (seperti anterior cingulate cortex dan gyrus frontal kiri lebih rendah dalam penelitian ini) lebih diaktifkan di vegetarian dan vegan dibandingkan dengan omnivora, ketika semua peserta dari ketiga kelompok ini ditunjukkan gambar manusia atau hewan yang menderita. Peserta ditunjukkan mutilasi, orang dibunuh, manusia / hewan diancam, disiksa, dilukai, dll. Anda dapat membaca lebih lanjut tentang studi di sini:
http://­www.plosone.org/­article/­info%3Adoi%2F10.­1371%2Fjournal.­pone.0010847

Jangan terlalu percaya pada semua indera Anda

oleh Chindy Tan Jogja, 14 Mei 2013, 8:02 Am

Distorsi realita Pikiran yg bergerak, adalah pikiran yg terdistorsi oleh asumsi bukan kenyataan apa adanya adalah sumber dari sekian-sekian masalah dalam hidup kita. Mulai dari masalah sepele hingga tragedi

Di jaman dulu, ada seorang penebang kayu. Suatu hari dia kehilangan kapaknya, dan tanpa kapak dia tidak bisa bekerja. Dia mencurigai tetangganya yang mencuri kapaknya. Pagi itu ketika sang tetangga berangkat, sang tetangga menutupi peralatan kerjanya dengan kain, si penebang berfikir ‘rasanya kapaknya pasti disembunyikan disana’, apalagi sang tetangga senyumnya terasa tidak tulus. ‘Pasti dia pencurinya’ dugaan si penebang. Besoknya, sang tetangga terasa menjadi ramah berlebihan, karena biasanya jarang menyapa, kali ini dia menyempatkan berbasa basi. Apalagi dilihat hasil tebangan kayunya 2 hari ini banyak sekali, pasti dia menebang menggunakan kapak curiannya. Semakin dipikir semakin yakin dugaan si penebang. Pada hari ketiga baru disadari ternyata kapaknya tersimpan dilaci dapur. Istrinya yang sedang keluar kota menyimpankan disana. Senang benar hatinya karena kapaknya dapat ditemukan kembali. Dia amati lagi tetangganya yang lewat, dan dia merasa tetangga ini tidak berkelakuan seperti pencuri, dan senyumnya juga tulus² saja. Bahkan percakapannya terasa sangat wajar dan jujur. Dia heran kenapa kemarin dia melihat tetangganya seperti pencuri?

see

Persepsi membentuk kenyataan, pikiran kita membentuk sudut pandang kita. Apa yang kita yakini akan semakin terlihat oleh kita sebagai kenyataan. Janganlah terlalu cepat menilai seseorang sebelum kita tahu pasti kebenarannya.

Pikiran yg bergerak dari kenyataan apa adanya, distorsi realita oleh pikiran Mendengar gemuruh belum tentu itu guntur, melihat asap belum tentu itu api, jangan pernah mengambil keputusan terhadap apa apa yang “tampak seperti” sebelum anda tahu apa sesungguhnya itu.

Oleh Chindy Tan
Hidup bagi saya sungguh berarti. Demikian pula kehidupan di sekeliling saya. Jika saya mengharapkan hidup saya dihormati, maka saya juga harus menghormati hidup makhluk lainnya. Namun etika di dunia Barat hanya menghormati hubungan di antara sesama manusia. Karena itu saya katakana etika Barat adalah etika yang terbatas. Yang kita perlukan adalah etika tak terbatas yang juga mencakup hubungan kita dengan binatang” (Albert Schweitzer, 1875-1965)

Siang ini, saat akan pulang ke Yogyakarta ketika keluar dari halaman puskesmas, di sebelah barat halaman ada 2 orang pria sedang menembaki burung. Saya bertanya pada bu Narsih, “Mengapa burung-burung itu ditembaki Bu?” “Nggo senang-senang tur Nggo pakan ikan,”jawab bu Narsih. Ingin sekali saya mendekati dua orang itu, tapi bu Narsih udah keburu bablas, saya nebeng dia sampai Pakis. Rasa tak enak masih mengganjal hati saya. Sesampai di rumah, saya melihat majalah yang ditinggalkan oleh teman saya Chaiyen. Iseng saya buka bagian yang dibacanya semalam. Ya ampun, ada cuplikan kisah masa kecil Albert Schweitzer, paaas banget dengan ganjalan rasa di hati saya saat itu.

‘Thou shalt not kill’
Albert Schweitzer(1875-1965) adalah filsuf penganjur’Reverence for Life’, sebuah panggilan untuk menghormati, memuliakan semua makhluk tanpa terbatas. Beliau juga seorang dokter dan ahli teologi kelahiran Jerman.
Suatu hari di saat usianya masih delapan tahun, temannya Heinrich mengajak Albert keluar untuk menembak burung dengan katapel. Albert kecil meski merasa ide ini mengerikan tetapi tidak berani menolaknya karena takut ditertawakan.
Albert menuturkan,”Kami mendekati sebatang pohon yang sudah tidak berdaun. Burung-burung yg bertengger disana terus bernyanyi dengan manisnya di pagi hari itu. Mereka tampaknya tak takut terhadap kami. Berjongkok seperti pemburu Indian, temanku mengambil sebuah kerikil dan menarik karet katapel. Tatapannya penuh perintah membuatku mengikuti gerakannya.Tetapi pada saat itu hati nuraniku merasa tertusuk dan aku bersumpah untuk tak mengarahkan kerikilku kepada mereka. Pada momen yang kritis inilah lonceng gereja berdentang memenuhi hamparan cahaya matahari, bersama-sama dengan suara burung-burung yang sedang bernyanyi.’Albert terkejut ketika lonceng berdentang dari kejauhan. Baginya itu adalah’a voice from heaven’ suara surga. Albert pun segera meletakkan katapelnya dan berteriak mengusir burung-burung itu pergi agar tak menjadi sasaran katapel temannya. Setelah itu Albert sendiri berlari pulang.

Mengenang kejadian di masa kecilnya, Albert menulis,”Sejak itulah ketika lonceng Paskah berbunyi di dalam hamparan cahaya matahari dan pohon-pohon yang tak lagi berdaun, aku akan ingat,dengan hati yang sangat tersentuh dan berterima kasih, sebab sejak hari itulah berbunyi dalam hatiku perintah ‘Thou shalt not kill’, janganlah membunuh.’ Albert Schweitzer menyampaikan di Auditorium Universitas Oslo setahun setelah beliau memperoleh penghargaan Nobel perdamaian 1954. “Semua manusia..mampu berbelas kasih..spirit itu ada dalam diri manusia seperti terang yang siap menyala, menunggu hanya setitik percikan api”

Adanya jiwa belas kasih yang asali dalam setiap diri manusia, universal,tak terkecuali, tak terbatas.
Saya berharap dua pria yang saya temui siang tadi, suatu ketika, setitik api belas kasih itu memercik dalam ruang hatinya. Mendengarkan keberatan suara nuraninya, bahwa hidup sungguh punya harga, meski hanya seekor burung kecil, siapakah kita hingga layak merampas hidup mereka. Hidup yang mengalir dalam diri tiap makhluk membawa visi kemuliaan-Nya, hingga hanya Sang Pemberi hiduplah yang layak mengambil hidup itu kembali. Bahagia yang di damba tidak datang gratis tanpa memberi bahagia itu sendiri pada makhluk lain.

Semua binatang adalah pahatan sakral yang hidup. Kelebat lari anjing, dan hati-hati langkah kucing, elang, kerbau dan segala yang menghembuskan nafas sungguh memiliki makna. Bagi mata yang melihat lebih dari panggung bentuk; kita bersama dicipta dalam cinta dan dicintai, demikianlah dia yang memikirkan hingga makhluk dunia dibawahnya adalah dia yang memenangkan dunia dengan cintanya” (Philip Bailey, 1816-1902)

Oleh Chindy Tan

Hai Haris dan Jugimin, terima kasih sudah mau bertandang di beranda saya;)
Saya tidak ingin berdebat apakah Sang Buddha vege atau tidak ya, tapi mungkin dapat membaca beberapa opini saya dalam note ini:Saya pribadi memilih percaya tidak ada kebenaran absolut, kecuali sebuah kesadaran yang telah mencapai Nibbana. Apakah Buddha vege atau tidak sekali lagi tidak ada satu pun fakta yang bisa sebagai pembenar. Menurut saya, kita semua berjalan dalam kemungkinan, kemungkinan yang teruji yang menurut kita berdasar. Saya percaya SB mungkin vege dan Andikha percaya SB(mungkin) tidak vege. Mengapa saya katakan (mungkin) tidak vege, bukan tegas tidak vege? Karena jika rujukannya adalah Sutta, Master Roshi Philip Kapleu memiliki fakta yang mengulas hal-hal yang rancu dan mempertebal keraguan keabsahan Sutta tsb. Oleh karenanya kita sama2 tidak bisa mengklaim siapa yang paling benar, karena keduanya masih kemungkinan. Lalu apa yang bisa jadi alat ukur saya untuk menimbang adalah rasio dan hati.
Master Roshi Philip Kapleau adalah Pendiri Budhisme Zen di Amerika, menuliskan data2 yang menolak keabsahan sutta tentang SB makan daging. dapat dibaca di (http://www.buddhanet.net/pdf_file/lifecherish.pdf)
To Cherish all life

Lalu argumen bahwa kesucian tidak berhubungan dengan makan atau tak makan daging. Atau pendapat yang mengatakan makan tak makan yang penting tak melekat. Benar dalam konteks tertentu, hanya berlaku bagi mereka yang kualitas batinnya telah berkomitmen melepas suka dan tak suka, inilah esensi tak melekat. Tak boleh menolak apa pun yang diberi. Ibaratnya, diberi makana hampir basi pun nggak boleh ada rasa tak suka dalam hati. Kisah berikut mungkin dapat memperjelas konteks aturan melatih makan tanpa memilih, melatih diri makan tak melekat. Suatu ketika Maha Kasyapa tak sengaja mendengar obrolan beberapa biksu yang ingin (memilih) ke sebuah rumah besar yang terkenal pemberian makanannya enak-enak. Maha Kasyapa lalu sengaja berjalan mengikuti rombongan biksu ini lalu memimpin perjalanan. Awalnya rute mereka seolah2 akan ke rumah besar, tiba-tiba Maha Kasyapa berbelok menuju sebuah jembatan. di bawah jembatan tersebut adalah pemukiman orang-orang miskin dan penderita kusta. Maha Kasyapa menuju ke salah satu rumah penduduk, dan memohon sedekah. Pemilik rumah tsb adalah seorang nenek tua penderita kusta dengan hanya semangkok bubur yang hampir basi di tangannya. Melihat Maha Kasyapa menyodorkan mangkok kosongnya kepadanya, nenek itu menolak,”jangan bhante, makanan ini tidak layak untuk dimakan dan saya tidak punya makanan lain untuk diberi.” Maha Kasyapa tetap menyodorkan mangkuknya, tak kuasa menolak lagi sang nenek pun menuangkan buburnya ke mangkuk Maha Kasyapa, tepat saat itu, nanah salah satu bagian telapak tangan nenek itu menetes. Beberapa rombongan biksu yang menyaksikan ini, ada yang hampir muntah. Namun Maha Kasyapa, di depan nenek ini langsung menghabiskan bubur pemberian sang nenek. Nah, dapat kita lihat, kualitas batin tanpa memilih, bebas dari rasa suka tak suka adalah kualitas batin yang hendaknya dimiliki jika berbicara makanan tidak mempengaruhi pencapaian kesucian. esensinya, kualitas batin apa yang kita miliki saat makan.

Ratu Beatrix mengumumkan akan berpartisipasi dalam SEHARI TANPA DAGING SETIAP HARI SENIN. Ratu Beatrix berjanji TIDAK AKAN ADA LAGI menu FOIE GRAS (makanan dari hati bebek/angsa) dalam perjamuan istana kerajaan. Pemerintah Belanda juga akan mengalokasi dana 6 juta gulden untuk MENGURANGI KONSUMSI DAGING dan global warming
Queen Beatrix of the Netherlands has announced she’s giving up meat one day a week and has promised to no longer serve foie gras at Royal Banquets.“Meat Free Mondays” hat to a costume ball held by Queen Beatrix as part of the annual “Prinsjesdag” celebrations.the Dutch government has announced plans to spend €6 million spend to help reduce meat consumption and fight global warming.

sumber:http://vegetarianstar.com/2009/09/26/queen-beatrix-gives-up-meat-once-a-week-bans-foie-gras/

I am sometimes asked: ‘Why do you spend so much of your time and money talking about kindness to animals when there is so much cruelty to men?’ I answer: “I am working at the roots.” – George T. Angell, Founder of Massachusetts SPCA

Victor Alexander Liem: Mula2 manusia memangsa binatang yang dianggap rendah. Lalu, manusia mulai memangsa manusia lain, tentu dengan anggapan ada “manusia rendah”.
Saya teringat ungkapan yang sering dikutip alm. Romo Mangun, “hommo homini lupus”
Manusia adalah pemangsa manusia lainnya, seperti serigala 🙂
(Respon dari artikel: Keenan dan Ocha, tak ada kata SULIT bagi mereka)

Hai Victor, terima kasih sudah mampir. Ego seperti apakah yang membuat manusia menggurat sejarah kekerasan perbudakan-rasisme, Holocaust-rasisme, heteroseksisme yang menyuburkan perdagangan manusia untuk kepentingan prostitusi, lalu yang sedang marak disoroti saat ini adalah kekerasan yang dilatari oleh spesiesme. Mungkin sudah saatnya bagi manusia menjernihkan spesiesme. Spesies manusia merasa lebih unggul dari spesies hewan hingga hewan ‘boleh’ diperlakukan sebagai ‘milik-properti’ . Hewan diperlakukan tak beda dengan benda. perasaan takut, marah, sakit saat disiksa hingga meregang nyawa ‘tak terlihat’ oleh ego manusia. Manusia sedang dan terus memelihara spesiesme ini, pertanyaannya, akan sampai kapan? Manusia butuh kejernihan hati dan akal, menimbang kembali apakah spesiesme layak dipelihara. Jika saja ada spesies yang lebih unggul dari manusia, penguasaan teknologi lebih tinggi dari manusia, manusia bisa saja dieksploitasi, dijadikan objek penelitian, bahkan dijadikan makanan. Saya jadi ingat film The Island, sebuah film futuristik yang mengisahkan tentang komodifikasi manusia kloning untuk kepentingan asuransi kesehatan.

Jaminan kesehatan diberikan dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan adanya manusia kloning. Semua potensi penyakit dapat diatasi. Jika secara genetik Anda memilki potensi penyakit ginjal, diabetes atau jantung, Anda tidak perlu khawatir asal punya DUIT membayar asuransi, organ manusia kloning siap mengganti semua ‘onderdil’ yang bermasalah dalam tubuh Anda. Manusia kloning dengan rekayasa genetik sedemikian rupa diprogram agar tumbuh menjadi manusia yang super sehat untuk menjaga kualitas organnya. Namun rasa dan emosi mereka telah disetel, diprogram sedemikian rupa agar tidak ‘hidup’. Manusia kloning hidup tanpa rasa dan emosi meski dalam akhir cerita ada manusia kloning yang menyimpang , ada manusia kloning yang tetap punya emosi, hingga memberontak. Mereka tak ubahnya ‘benda’. Di sini manusia satu tidak melihat kelayakan yang sama dengan manusia lainnya, hingga Homo Homini Lupus, dominasi sesama spesies subur dan ‘sah-sah’ saja. Spesies manusia yang berduit ‘boleh-boleh’ saja memperlakukan manusia kloning sesuai kebutuhan mereka, karena mereka dianggap spesies manusia-benda.

Dalam dunia nyata wajah homo homini lupus sebenarnya tak asing dalam kasus perdagangan manusia entah untuk kepentingan sebagai buruh pabrik, pekerja di dunia prostitusi dengan berbagai modus. Di China modus terbanyak adalah penculikan, mulai dari anak kecil (biasanya untuk dijadikan pekerja seks untuk pedofilia) dan di Indonesia modusnya memanfaatkan keterjepitan keadaan ekonomi. Sebuah kasus di tempat saya dinas dulu terungkap, modus yang digunakan adalah meminta langsung ke orang tua korban dengan memberi segepok uang ke orang tua korban hingga rela melepas anaknya untuk dipekerjakan di Jepang sebagai duta budaya. Kenyataannya, setelah korban sampai di tujuan, korban disodorkan nota utang berisi rincian biaya perjalanan dan biaya pengurusan imigrasi dll. Kondisi terjepit seperti ini, korban tidak memiliki pilihan, hingga terpaksa bekerja di ‘panti’ jauh berbeda dari yang dijanjikan sebelumnya. Sampai pada titik ini, manusia juga telah melihat manusia lain tak ubahnya benda tak berhak punya rasa, yang bisa dieksploitasi. Mungkinkah bakat homo homini lupus ini lahir dan tumbuh, berakar dari sikap spesiesme kita terhadap hewan. Sadar tak sadar kita membiasakan diri ‘membenarkan’ mengabaikan rasa mereka. Kita terbiasa memperlakukan mereka seolah tak berhak punya rasa takut, rasa sakit dan rasa cinta akan hidup mereka sendiri. Sebuah ungkapan dari George Angell (1823-1909) sejalan dengan permenungan di atas. Saya kadang ditanya,”Mengapa engkau menghabiskan begitu banyak waktu dan uang berbicara tentang kebaikan kepada binatang padahal begitu banyak kekejaman atas manusia?” Saya menjawab,”Saya bekerja dari akarnya.”

“I hold flesh-food to be unsuited to our species. We err in copying the lower animal world if we are superior to it.” Mohandas K.Gandhi

Oleh. Chindy Tan

Berbicara tentang aspek spiritual, sentra poin yang ingin saya ulik adalah transformasi pengetahuan intelektual ke pengetahuan intuitif. Kemampuan transformatif ini saya yakin banyak kita temui pada anak-anak kecil yang sedari janin atau usia dini memilih menolak daging. Tanpa perlu argumen yang mengandalkan rasio mereka dengan kemampuan intuitifnya menetapkan pilihannya. Mungkin ini yang disebut dalam buku The Little Prince “You can only see things clearly with your heart. What essential is invisible to the eye”. Ocha (4th) anak asisten saya, sejak mengenal makanan padat memilih menolak makan daging,”kasihan” itu alasan yang berulang dikatakannya. Suatu ketika saat cukuran di salon, kapsternya menangkap seekor serangga, dimasukkan ke dalam kantong plastik dan diberikan kepada Ocha. Menerima ini, Ocha bertanya pada Bapaknya,”Pa, iki piye nek arep maem, ta’ lepas aja ya ben iso nyari maem”. Kepekaan terhadap makhluk lain (mungkin ini adalah pengetahuan intuitif) yang membuat Ocha dalam keadaan bagaimana pun tetap keukeuh menolak makan daging. Meski itu daging nabati. Saya pernah memberikan Mama Ocha daging nabati dan ketika ditawarkan kepada Ocha, Ocha menolak meski sudah diberi penjelasan oleh ibunya,”iki dudu daging, iki dari tante Dindi”. Ocha juga tidak segan memilih makan ketupat dengan kecap tok, saat dijamu makan sate oleh pamannya. Ayah Ocha, karena sungkan mencoba menyuapkan Ocha beberapa potong daging, namun Ocha bersikeras menolak,”oya geyem ya oya geyem, aku ojo dipokso” (nggak mau ya nggak mau, aku jangan dipaksa). Mereka tidak mengenal kata sulit dalam menolak daging, meski harus makan dengan menu terbatas. Bagi Ocha lebih ‘mudah’ makan ketupat dengan kecap daripada harus mengabaikan rasa kasihannya. Mereka mampu melihat HIDUP MAKHLUK LAIN JUGA BERHARGA dan selayaknya dihargai.

Ternyata sikap serupa ditunjukkan oleh Keenan, putra Reza-Dee dan Marcell-Rima. Seminggu yang lalu pasien saya bercerita tentang sikap keukeuh Keenan menolak daging, tiruan sekalipun. Ketika makan bersama ayahnya Marcell, Rima Melati Siahaan-Adams, di sebuah restoran vegetarian, Keenan menolak makan daging-dagingan. “Saya cuma mau makan tahu sama tempe” tegas Keenan. Meski telah dijelaskan Marcell bahwa ‘daging’ tersebut juga vegetarian, Keenan tetap keukeuh minta tahu sama tempe. Akhirnya Rima meminta kepada pelayan untuk membuatkan masakan baru,”tolong buatkan lagi masakan yang masih kelihatan tahu dan tempenya ya”. Saya tidak tahu pasti mengapa anak-anak ini menolak daging tiruan sekalipun. Seorang rekan saya pernah bercelutuk tidak seharusnya kita memberi nama “bebek vegetarian, ayam vegetarian, babi merah vegetarian, karena pemakaian nama hewan pada makanan-makanan tersebut tidak membantu menjernihkan posisi hewan bukan makanan”.

Kisah-kisah serupa mungkin semakin banyak, dan kita tidak pernah tahu pasti mengapa. Mungkin ‘pengetahuan’ mereka ini analog dengan kisah Negeri Mata Satu.
Suatu waktu di Negeri Mata Satu lahirlah seorang bayi dengan dua mata. Anak itu, anak bahagia. Orang tuanya mencintainya dan senang mengemongnya. Tetapi mereka cemas karena anak itu aneh, matanya dua. Dokter-dokter yang mereka panggil geleng-geleng kepala dan heran. Tetapi mereka berkata,”Apa boleh buat? Tidak mungkin disembuhkan.” Pada suatu hari yang menggemparkan, ia melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat orang -orang lain. Ia tidak melihat seperti orang-orang lain yang hanya hitam dan putih. Ia melihat warna-warna. Orang tuanya dan sahabat-sahabatnya terheran-heran karena ia pandai bercerita tentang temuan-temuan yang menggetarkan hati, yang tidak dapat dilihat mereka. Ia berbicara dengan kata-kata yang belum pernah mereka dengar seperti ‘merah,’ ‘kuning’ dan ‘hijau’
(Manusia Pascamodern, Semesta dan Tuhan-Romo Mangun)

Dapatkah kita persepsikan ‘makan daging adalah hal yang alami’ sebagai pengetahuan hitam putih yang kadung berakar dan menjadi budaya manusia dalam memilih makanannya. Ketika anak-anak ini datang dengan penglihatan warna yang berbeda, manusia mampu hidup tanpa daging, adalah warna lain yang masih sulit diterima dan dipahami.
Gulir zaman menunjukkan pilihan sikap anak-anak ini untuk meat out, diakui secara ilmiah sebagai kebutuhan global. Manusia perlu menjernihkan kembali pilihan makannya. Dan pengetahuan intuitif anak-anak ini menyentil rasio siapa saja. Menantang kita untuk mendefenisikan arti cukup bermula dari isi piring jika peradaban manusia ingin bertahan. Gerakan perubahan kini bukan skala individu melainkan sudah tingkat negara-Belgia yang kini dikenal sebagai negara vegetarian pertama di dunia, Kelompok negara-Eropa: mengharuskan tiap negara Eropa membuat laporan kontribusi gas rumah kaca dari pola makan daging, tingkat kebijakan-semua rumah sakit UK akan berlakukan menu TANPA DAGING untuk pasien. Tidakkah arus perubahan ini semakin jelas menegaskan, kita butuh berubah.

ps.artikel ini dipubilkasi atas sepengetahuan dan seijin Dee dan Marcell, artikel ini akan dipublikasikan juga di majalah Info Vegetarian edisi 4

“Ketika bias paham kita akan budaya domestifikasi dan komodifikasi hewan telah terpapar jelas, angin perubahan telah sampai di ambang pintu. Modal selanjutnya yang paling mendasar untuk membuka gerbang perubahan dan menjadi bagian dari perubahan itu adalah kejujuran pada diri sendiri untuk mengakui bias tersebut. Karena ternyata tidak banyak yang mau dan mampu jujur pada dirinya bahwa hidup kita tidak selayaknya berdiri di atas kesakitan, penyiksaan, kematian makhluk lain, kemampuan mereka untuk merasakan sakit bukanlah omong kosong hingga bisa diabaikan begitu saja. Ketika berada dalam kondisi terbatas sehingga kadang harus menahan lapar, inspirasi anak-anak kecil Ocha dan Keenan mungkin bisa membantu menepis rasa ‘sulit’ dengan sikap mereka,”lebih mudah makan terbatas daripada harus mengabaikan rasa kasihan karena kecintaan akan hidup bukan hanya milik manusia”. Rasa belas kasih inilah yang mempertautkan persaudaraan manusia dengan laksa ciptaan lain layaknya darah yang mempertautkan sebuah keluarga-Chief seattle. Buah budaya memperlakukan hewan tidak lebih dari benda/produk telah memukul balik dari segala arah, kerusakan lingkungan, ketimpangan akses pangan, epidemi penyakit sistemik dan mutasi penyakit-penyakit baru (seperti virus H1N1-Huffington Post” Swine Flu Outbreak-Nature Biting Back at Industrial Animal Production?” May 2, 2009). Arus fakta-fakta bahwa pilihan makan manusia mengancam peradaban manusia itu sendiri, benang merahnya semakin tebal. Mari miliki kepala dingin dan kejujuran mengakui fakta ini jika kita sadar bumi kita tidak dalam keadaan baik-baik saja. Kejujuran ini jualah yang akan menjaga sikap setia dan konsisten pada pilihan tersebut” Chindy Tan-Jogja 10 Agustus 2009 00:25 dini hari

Mother Earth Salam kenal bagi siapa saja yang mau mampir di beranda bersahaja ini. Bertukar isi hati dan isi otak adalah salah satu proses manusia memanusiakan dirinya. Ada dialog di sana. Dialog yang dituntun oleh tanya demi tanya, karena manusia sepanjang hayat peradabannya adalah makhluk yang belum selesai dengan dirinya. Poin senjang yang banyak diusung berkisar pada kata kunci: MANUSIA, CINTA DAN TUHAN, VEGETARIAN, GLOBAL WARMING. Mengajak siapa saja belajar jujur pada dirinya, ketika hati dan fakta berada dalam satu garis lurus(jujur), maka kejujuran pada dirinya inilah yang akan memaksa manusia berubah. Mungkin inilah hidup yang bertanggung jawab, hidup yang fair. Berusaha memahami cara hidup saat itu juga manusia memahami cara mati

---Chindy Tan---

RSS Unknown Feed

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

EATING UP THE WORLD

DOWNLOAD PDF FILE EATING UP THE WORLD eating up the planet If we want to preserve and restore our environment in Australia, we must make changes to our diet. The food we eat has a major effect on our waterways, the quality of the air we breathe and on the environment around us. Eating fish and other sea life is killing our oceans, agricultural industries are polluting our waterways, and vast areas of land are wasted with the grazing of animals. These practices are unsustainable and the global impacts are being felt more than ever before. By adopting a vegetarian diet you can make a significant contribution towards improving your health as well as that of the planet. Animal industries are eating up the world. It is up to us to save it!

Film Dokumenter Processed People

processed people Free Download Trailer film Processed People. "Sebenarnya kita sedang mengonsumsi sesuatu yang tidak layak disebut makanan” Jay Gordon, MD, FAAP, FABM,IBCLC Asisten Prof Kesehatan Anak UCLA Medical School Film ini merupakan finalis USA Film & MAUI Film Festival di dukung oleh dokter-dokter ahli dari UCLA, John Robbins, Jeffrey Moussaief Masson, dan pakar-pakar lainnya.

sinopsis film Processed People

The statistics are terrifying. Two hundred million Americans are overweight and 100 million are obese. More than 75 million Americans have high blood pressure. 24 million people are diabetic. Heart disease remains the No. 1 cause of death for men and women, followed by stroke and obesity-related cancers. Obesity has overtaken tobacco as the No. 1 cause of preventable deaths in the United States. Over 50% of bankruptcies are caused by what has become known as “medical debt.” Fast food, fast medicine, fast news and fast lives have turned many Americans into a sick, uninformed, indebted, “processed” people.

Film Dokumenter H O M E

Free Download Full Version H O M E Dari penulis buku terlaris di dunia, Earth Above, hadir kembali dengan karya baru yang cemerlang. Home, film dengan judul buku yang sama, menghadirkan gambar-gambar yang menakjubkan. Sebuah ekplorasi wajah Bumi lengkap dengan foto-foto terkenal karya Arthus-Bertrand dilengkapi teks informatif oleh tim Good Planet, sebuah organisasi non-profit yang mempromosikan pemeliharaan lingkungan hidup. Home menghadirkan keindahan Bumi dan mengajak seluruh umat manusia untuk menjaganya dari kehancuran. Film ini ditayangkan secara serentak mulai tanggal 5 Juni-14 Juni 2009 3 benua, lebih dari 50 negara, termasuk Indonesia, ditayangkan gratis lewat televisi, bioskop, internet klik disini . Berkisah tentang Bumi dan evolusi semua makhluk hidup, dan bagaimana manusia yang paling muda umur eksisnya justru merupakan oknum yang paling bertanggung jawab atas kerusakan bahkan kehancuran Bumi. Film ini juga mengupas tentang inefisiensi hasil pertanian untuk memproduksi daging. Arthus-Bertrand berkata, “50 persen hutan yang telah hilang, bukanlah hal yang paling penting, melainkan 50 persen yang masih tersisa”

Sang Buddha Vegetarian?

Jelang Sang Buddha Parinirvana, Makan Babi atau Jamur? Pro dan Kontra apakah Sang Buddha vegetarian dapat dibaca argumentasi dan dasar telaahnya yang diulas oleh Master Roshi Philip Kapleau (pendiri Budhisme Zen di Amerika) dalam buku To Cherish All Life (DOWNLOAD FULL VERSION

Video: Diet For A New America-John Robbins

Free Download: Video(part1-8): Diet For A New America “I think what I really learned in all of this, Was to be true to myself To be true to my inner voice And I began to see, That we really do have the power, Our own lives really do make a difference, Just by being more conscious of the food that we eat. We can heal ourselves; we can heal the environment, We can heal this planet"<a

Free Download Film Dokumenter Super Size Me

(Film Dokumenter Supersize Me, 2004)-Free Download Self Experience dari Morgan Spurlock, 30 hari bersama daging. Juga memaparkan fakta pengaruh makanan terhadap perilaku. Kaitan makanan dengan perilaku juga dibuktikan korelasinya di Central Alternative High School yaitu sekolah tinggi anak-anak yang memiliki perilaku bermasalah. “Kami menyajikan sayur-sayuran dan buah-buahan tanpa bahan pengawet. Semua makanan kami buat tanpa proses pemanggangan dan penggorengan. Di sini kami juga TIDAK MENGENAL DAGING. “Greg Bretthauer-Dekan Applleton Wiscosin-Central High School. “Kami meniadakan mesin soft drink dan junk food. Kami melihat, hal ini MEMBUAT PERUBAHAN YANG BESAR PADA SISWA.” Debra Larson-School Social Worker (Film Dokumenter Supersize Me, 2004)

Slide Show Buku Terbaru Lester Brown: Plan B.3

RSS Gary Francione’s thoughts

  • NEW BOOK: ADVOCATE FOR ANIMALS! AN ABOLITIONIST VEGAN HANDBOOK December 14, 2017
    Just out! Available in paperback and Kindle at Amazon.com: This book is a call to action. Since the beginning of time, there have been—in total—about 110 billion humans who have lived and died. We kill more nonhuman animals than that every single year. Think about that for a second. Our exploitation of nonhumans represents violence […] Related posts: OUR NEW […]
    Gary L. Francione
  • Veganism: History, Contemporary Views, and Common Objections October 29, 2017
    This brief essay, translated into Spanish, will be included in the new edition of the Diccionario de Filosophía (J. Ferrater Mora): VEGANISM. Veganism, as a matter of diet that may reflect broader ethical concerns, refers to the practice of not consuming meat, fish, dairy, eggs, and other foods, such as honey. Veganism as a general […] Related posts: Animal […]
    Gary L. Francione
  • Guest Essay: Mercy for Animals and Cage-Free Duplicity September 24, 2017
    This is a guest essay written by Linda McKenzie, a long-time Abolitionist advocate. ******* Mercy for Animals and Cage-Free Duplicity Linda McKenzie Part 1 Mercy For Animals (MFA) is a classic example of welfarist organizations that make a habit of talking out of both sides of their mouths, and of saying one thing while doing […] Related posts: Guest Essay: […]
    Gary L. Francione
  • Some Thoughts in Anticipation of the Podcast Discussion to Which Sivarama Swami Has Agreed September 9, 2017
    NOTE: I AM PREPARED TO DO THE PODCAST AT ANYTIME. SIVARAMA SWAMI HAS YET TO AGREE TO A DATE. On September 1, 2017, a Hare Krishna adherent named Sivarama Swami posted a video on Facebook entitled, Can Vegans Consume Milk?. I watched the video and I was disturbed by it. I posted this on the […] Related posts: Some Thoughts for Mother’s Day 2012 Guest Essay: T […]
    Gary L. Francione
  • Aeon.com Essay on the Interest Animals Have in Living September 9, 2017
    Here is our second essay in Aeon.com. The title of the essay is: A ‘humanely’ killed animal is still killed – and that’s wrong. We hope that you enjoy it and that it stimulates your thinking about the issue of the interest that animals have in continuing to live–apart from their interest in not suffering. […] Related posts: Essay on Domestication and Pet Own […]
    Gary L. Francione

RSS Ecorazzi News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Vegetarian Star

  • Jon Stewart and Wife Tracey Stewart Adopt Horse May 31, 2016
    When Jon Stewart signed off the air a year ago, he talked about his plans for the future, one of which included bringing a Noah’s Ark group of animals to his private sanctuary his runs with his wife Tracey Stewart. One very special horse has been given the opportunity to join the family. A white […]
    Vegetarian Star
  • Chrissy Teigen Failed Vegan Experiment May 31, 2016
    Aside from the occasional trip on the runway, supermodels never fail at anything, right? Chrissy Teigen has partaken in several adventures in her kitchen, many of which are included in her new cookbook, Cravings. The wife of musician John Legend decided to experiment with veganism, but this adventure created more excitement online than in the […]
    Vegetarian Star
  • Mia Evans Is A “Masterchef Junior” Vegetarian Star May 9, 2016
    Any vegetarian chef on a reality cooking show is something to get excited about, but when a 12-year old makes better sauce than most adults do–it’s something worth swearing like Gordon Ramsay. Mia Evans was a contestant on the fourth season of Masterchef Junior, a kids’ spin-off of the adult series on Fox TV. Mia […]
    Vegetarian Star
  • Ringling Brothers, Barnum & Bailey Elephants Retire To Sanctuary May 9, 2016
    Activists all over the world are performing tricks way more entertaining than these elephants could. Ringling Brothers and Barnum & Bailey Circus is retiring the remaining elephants that have performed during its shows. The company had originally planned to do this by 2018, but it looks like these lucky pachyderms are getting an early pension! […]
    Vegetarian Star
  • The Passing Of A Vegan Prince April 23, 2016
    It’s a sorrowful week for music lovers and vegans alike, as Prince, one of the greatest masters of funk, R & B, jazz, pop and a mixture of everything else, has passed. The singer left the world at his famous home and recording studio, Paisley Park, in Chanhassen, Minnesota on Thursday, April 21, 2016. He […]
    Vegetarian Star
  • Holly Madison Enjoys Vegan Smoothie From M Cafe In Beverly Hills April 10, 2016
    Holly Madison knows the formula for a healthy pregnancy! The Playboy pinup was spotted with a smoothie from one of Beverly Hill’s popular vegan eateries, M Cafe. Madison is pregnant with her second child with husband Pasquale Rotella. Vegan smoothies are known for containing every good, like non-dairy milks, vitamins and fiber, so the mother-to-be […]
    Vegetarian Star
  • Controversy Over Pro-Vegeterian Curriculum In Schools April 1, 2016
    Parents are outraged at a new curriculum designed to encourage children to eat more vegetarian foods. A group called Veggie Kids of Tomorrow has created a book filled with nothing but images from some of the most popular campaigns from the animal rights group People for the Ethical Treatment of Animals. The problem with this […]
    Vegetarian Star
  • Ellie Goulding Creates Protein Bar “Everlasting Joy” With GoMacro March 31, 2016
    Ellie Goulding has collaborated with vegan and organic Wisconsin-based company GoMacro to create a protein bar that represents the English singer’s desire for plant-based nutrition and charitable giving. The “Ellie-Inspired” bars contains chocolate chips, coconut and almond butter, a combination Goulding says keeps her energetic for any occasion, whether it’ […]
    Vegetarian Star

RSS Enviro News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Scientific News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS KOMPAS

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Catatan Pinggir-Goenawan Mohamad

  • Origami August 16, 2012
    Seorang penulis sejarah yang baik tahu bahwa ia seorang penggubah origami. Ia membangun sesuatu, sebuah struktur, dari bahan-bahan yang gampang melayang. Sebab bahan penyusunan sejarah sesungguhnya bagaikan kertas: ingatan. Ingatan tak pernah solid dan stabil; ingatan dengan mudah melayang tertiup. Seperti kertas, ketika ia menampakkan diri di depan kita, se […]
    anick
  • Batman August 6, 2012
    Batman tak pernah satu. Maka ia tak berhenti. Apa yang disajikan Christopher Nolan sejak Batman Begins (2005) sampai dengan The Dark Knight Rises (2012) berbeda jauh dari asal-muasalnya, tokoh cerita bergambar karya Bob Kane dan Bill Finger dari tahun 1939. Bahkan tiap film dalam trilogi Nolan sebenarnya tak menampilkan sosok yang sama, meskipun Christian Ba […]
    anick

RSS Ruang Hati

  • Berbagi Ketidaksempurnaan December 10, 2009
    Kita mungkin tidak akan pernah melupakan satu kisah nyata yang mirip dongeng; tragedi cinta Puteri Diana dan Pangeran Charles. Kematian Sang Puteri begitu mengharu biru dunia. Tercatat dua milyar lebih pasang mata menitikkan air mata pemakaman Sang Puteri. Larut dalam sedih dan kehilangan. Dunia tidak akan melupakan pernikahan megah Putera Mahkota Inggris da […]
    ruanghatikita

RSS Times online

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS CNN News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Guardian News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS The New York Times

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Newsweek

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Archives

Blog Stats

  • 62,250 hits
December 2017
M T W T F S S
« May    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

RSS Timesnews

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.