Jangan terlalu percaya pada semua indera Anda

oleh Chindy Tan Jogja, 14 Mei 2013, 8:02 Am

Distorsi realita Pikiran yg bergerak, adalah pikiran yg terdistorsi oleh asumsi bukan kenyataan apa adanya adalah sumber dari sekian-sekian masalah dalam hidup kita. Mulai dari masalah sepele hingga tragedi

Di jaman dulu, ada seorang penebang kayu. Suatu hari dia kehilangan kapaknya, dan tanpa kapak dia tidak bisa bekerja. Dia mencurigai tetangganya yang mencuri kapaknya. Pagi itu ketika sang tetangga berangkat, sang tetangga menutupi peralatan kerjanya dengan kain, si penebang berfikir ‘rasanya kapaknya pasti disembunyikan disana’, apalagi sang tetangga senyumnya terasa tidak tulus. ‘Pasti dia pencurinya’ dugaan si penebang. Besoknya, sang tetangga terasa menjadi ramah berlebihan, karena biasanya jarang menyapa, kali ini dia menyempatkan berbasa basi. Apalagi dilihat hasil tebangan kayunya 2 hari ini banyak sekali, pasti dia menebang menggunakan kapak curiannya. Semakin dipikir semakin yakin dugaan si penebang. Pada hari ketiga baru disadari ternyata kapaknya tersimpan dilaci dapur. Istrinya yang sedang keluar kota menyimpankan disana. Senang benar hatinya karena kapaknya dapat ditemukan kembali. Dia amati lagi tetangganya yang lewat, dan dia merasa tetangga ini tidak berkelakuan seperti pencuri, dan senyumnya juga tulus² saja. Bahkan percakapannya terasa sangat wajar dan jujur. Dia heran kenapa kemarin dia melihat tetangganya seperti pencuri?

see

Persepsi membentuk kenyataan, pikiran kita membentuk sudut pandang kita. Apa yang kita yakini akan semakin terlihat oleh kita sebagai kenyataan. Janganlah terlalu cepat menilai seseorang sebelum kita tahu pasti kebenarannya.

Pikiran yg bergerak dari kenyataan apa adanya, distorsi realita oleh pikiran Mendengar gemuruh belum tentu itu guntur, melihat asap belum tentu itu api, jangan pernah mengambil keputusan terhadap apa apa yang “tampak seperti” sebelum anda tahu apa sesungguhnya itu.