Oleh Chindy Tan

Hai Haris dan Jugimin, terima kasih sudah mau bertandang di beranda saya;)
Saya tidak ingin berdebat apakah Sang Buddha vege atau tidak ya, tapi mungkin dapat membaca beberapa opini saya dalam note ini:Saya pribadi memilih percaya tidak ada kebenaran absolut, kecuali sebuah kesadaran yang telah mencapai Nibbana. Apakah Buddha vege atau tidak sekali lagi tidak ada satu pun fakta yang bisa sebagai pembenar. Menurut saya, kita semua berjalan dalam kemungkinan, kemungkinan yang teruji yang menurut kita berdasar. Saya percaya SB mungkin vege dan Andikha percaya SB(mungkin) tidak vege. Mengapa saya katakan (mungkin) tidak vege, bukan tegas tidak vege? Karena jika rujukannya adalah Sutta, Master Roshi Philip Kapleu memiliki fakta yang mengulas hal-hal yang rancu dan mempertebal keraguan keabsahan Sutta tsb. Oleh karenanya kita sama2 tidak bisa mengklaim siapa yang paling benar, karena keduanya masih kemungkinan. Lalu apa yang bisa jadi alat ukur saya untuk menimbang adalah rasio dan hati.
Master Roshi Philip Kapleau adalah Pendiri Budhisme Zen di Amerika, menuliskan data2 yang menolak keabsahan sutta tentang SB makan daging. dapat dibaca di (http://www.buddhanet.net/pdf_file/lifecherish.pdf)
To Cherish all life

Lalu argumen bahwa kesucian tidak berhubungan dengan makan atau tak makan daging. Atau pendapat yang mengatakan makan tak makan yang penting tak melekat. Benar dalam konteks tertentu, hanya berlaku bagi mereka yang kualitas batinnya telah berkomitmen melepas suka dan tak suka, inilah esensi tak melekat. Tak boleh menolak apa pun yang diberi. Ibaratnya, diberi makana hampir basi pun nggak boleh ada rasa tak suka dalam hati. Kisah berikut mungkin dapat memperjelas konteks aturan melatih makan tanpa memilih, melatih diri makan tak melekat. Suatu ketika Maha Kasyapa tak sengaja mendengar obrolan beberapa biksu yang ingin (memilih) ke sebuah rumah besar yang terkenal pemberian makanannya enak-enak. Maha Kasyapa lalu sengaja berjalan mengikuti rombongan biksu ini lalu memimpin perjalanan. Awalnya rute mereka seolah2 akan ke rumah besar, tiba-tiba Maha Kasyapa berbelok menuju sebuah jembatan. di bawah jembatan tersebut adalah pemukiman orang-orang miskin dan penderita kusta. Maha Kasyapa menuju ke salah satu rumah penduduk, dan memohon sedekah. Pemilik rumah tsb adalah seorang nenek tua penderita kusta dengan hanya semangkok bubur yang hampir basi di tangannya. Melihat Maha Kasyapa menyodorkan mangkok kosongnya kepadanya, nenek itu menolak,”jangan bhante, makanan ini tidak layak untuk dimakan dan saya tidak punya makanan lain untuk diberi.” Maha Kasyapa tetap menyodorkan mangkuknya, tak kuasa menolak lagi sang nenek pun menuangkan buburnya ke mangkuk Maha Kasyapa, tepat saat itu, nanah salah satu bagian telapak tangan nenek itu menetes. Beberapa rombongan biksu yang menyaksikan ini, ada yang hampir muntah. Namun Maha Kasyapa, di depan nenek ini langsung menghabiskan bubur pemberian sang nenek. Nah, dapat kita lihat, kualitas batin tanpa memilih, bebas dari rasa suka tak suka adalah kualitas batin yang hendaknya dimiliki jika berbicara makanan tidak mempengaruhi pencapaian kesucian. esensinya, kualitas batin apa yang kita miliki saat makan.