Lista bertanya:
“c chin, mau tny pndpat cchin soal bahan2 tepung/jamur/dsb yg diolah menyerupai daging, seolah jadi makanan spt kari ‘kambing’, ‘daging ayam’ dsb, bagaimana thu? apa bisa membuat nafsu makan-daging di dlm pikiran tetep ada ya?
tks yaaaa :D”

Hai Lista,
Tidak membunuh adalah sila pertama Pancasila Buddhis, dan sila adalah fondasi perilaku umat Buddhis. Sila pertama seperti yang dijabarkan Master Roshi Philip Kapleau, bahwa sila-sila lainnya merupakan ‘turunan’ dari sila tidak membunuh, hingga dapat dikatakan sila tidak membunuh adalah akar dari sila lainnya. Apa saja cakupan tidak membunuh itu sendiri? Tidak saja berbentuk kesengajaan melakukan pembunuhan SECARA LANGSUNG, seperti menyembelih, memanah, membakar, menyetrum, menembak, tetapi juga MENYEBABKAN ORANG LAIN melakukan pembunuhan baik kepada manusia maupun binatang, memilih ambil bagian sebagai konsumen yang notabene menekan tombol permintaan akan daging itu sendiri termasuk dalam konteks ini.

Nah, kembali pada pertanyaan Lista, daging palsu tidakkah membuat nafsu-daging dalam pikiran tetap ada? Jawabnya bisa ya, bisa tidak. Kalau iya, hukumnya tetap beda dengan makan daging sungguhan. Karma pikiran dan karma perbuatan sangat berbeda kan? Katakan dalam pikiran ada niat membunuh (Mano kamma), dibandingkan dengan niat tsb direalisasikan-perbuatan (Kaya kamma) karmanya beda kan? Daging palsu bisa menjembatani ‘angan’ atau rasa ‘kangen’ umumnya pada para pemula vegetarian thd pada daging. Meski mungkin dalam pikiran masih ada keinginan untuk makan ayam, tapi jika yang digigit adalah sepotong gluten, satu ekor ayam tak perlu dipotong untuk ‘keinginan’ ini kan? Berkat gluten. Satu ekor ayam masih bisa mengepakkan sayapnya.kalikan saja berapa kali niat makan daging yang bisa di’suap’ oleh gluten, jamur yang disulap serupa daging. Ini ekivalen dengan jumlah hewan yang ‘tak jadi’ disembelih.

Tidak. Tidak ada nafsu makan daging dalam pikiran bila pola pandang terhadap daging palsu itu sendiri sama sekali tidak melihatnya sebagai daging. Saya jadi teringat video seminar Dee di Medan, ‘pernah suatu ketika saat pulang ke rumah, dia heran aroma daging kok menyengat sekali, siapa gerangan yang masak daging? Oaaalaa, ternyata Mba’e lagi masak menu rendang yang memang aroma bumbunya kuat sekali. Sejak itu Dee berkesimpulan, yang kita makan itu sebenarnya bumbu…yang kita persepsikan ‘enak’ itu adalah bumbu. Jadi jamur yang dibumbu balado, sebenarnya bukan rasa sapi tapi rasa rempah dan sambal baladonya. Daging sapi sendiri tidak bercitarasa kan?Ketika saya pulang ke sulawesi dan masak sate dari proteina dengan bumbu khas sulawesi, ponakan saya Sui Ing (4th)bolak-balik nggak berhenti makan sate tsb. Olahan Cece saya lebih topcer lagi, sepupu saya-Koko Heng sampe makan 15 tusuk sekali duduk! Udah itu besoknya masih nelpon masih ada sisa nggak? Whueleeeh-weeeleh bablaaas abisabiiis satene;)
Saya sendiri, tiap melihat olahan apa pun, yang tergelitik di benak saya, apaaa aja ya bumbunya;)