oleh Chindy Tan

Belakangan saya gemar mengamati timbul tenggelamnya gerak pikiran dan perasaan yang ada. Saya juga gemar mengamati pilihan-pilihan hidup yang dijalani orang lain. Lalu tanpa jeda bertanya pada diri sendiri mengapa? Darimana datangnya pikiran dan perasaan tersebut ? Saya tidak tahu apakah pergumulan rasa ingin tahu ini akhirnya mengantar saya sampai pada titik pemahaman atau tidak. Namun yang bisa saya rasakan, celah pandang yang saya intip seolah dengan sendirinya bergeser, melihat dengan cara yang tak lazim saya lihat sebelumnya.

Penasaran dengan bagaimana kerja suatu ketertarikan, iseng saya bertanya kepada seorang teman,
”Pernahkah kamu merasa ‘kecanduan’ dengan seseorang atau tergila-gila pada sesuatu, semisal hp keluaran terbaru atau apalah itu ?”
“Tentu. Saya pernah sangat tertarik dengan seseorang. Benar-benar bikin gelisah. Senang sekali kalau bisa bertemu, meski hanya sekedar saling bertukar senyum dan pandang. Apalagi jika sempat bertukar canda, whuiiiih, di hati ini, senaaaang sekali.” Serasa ada yang menjemput, menggandeng dan menenangkan gejolak ‘rasa’ dihati. Ada yang bilang itu namanya rindu, ada yang memahaminya sebagai sinyal cinta, ada pula yang menyebutnya ‘chemistry’. Setrum jiwa.

Rasa tertarik, siapa pun mungkin pernah merasakannya, tak terkecuali saya. Saya pernah sangat demen dengan seseorang. Wibawanya kuat, seolah tak ada pesona yang bisa membuatnya gugup, mau orang itu super cantik atau jenis super lainnya. Dia selalu bisa terlihat kalem, di depan siapa pun. Keseimbangan sikap yang jarang saya temui. Semenjak menyadari pesonanya ini, perhatian saya semata tertuju padanya. Apa yang dia lakukan mendadak menjadi begitu penting. Ada keinginan mencari-cari alasan untuk bisa berinteraksi dengannya. Hati senang bukan kepalang ketika bisa sekedar bercanda dengannya. Senyumnya, selera humornya, semua begitu sempurna. Semakin memperbesar keinginan untuk terus bersama dan selalu ada rasa yang hilang saat dia pamit. Darimana datangnya keinginan ini? Apakah rasa senang bersamanya dapat juga disebut dengan bahagia? Apakah ini yang disebut dengan kemelekatan? Atau penjara dualitas? Mengapa hanya saat jumpa rasanya demikian membuai namun saat berpisah harus sakit yang tersisa? Kemana perginya imaji cita yang penuh kembang setaman? Suka tak suka, senang atau sedih, adalah ilusi kata sahabat baru saya Lista. Mengutip permenungannya yang indah akan dualitas, dari sebuah perjalanannya mengalami sendiri dan membaca sebuah pesan hasil konspirasi dari alam, di hari ulang tahunnya .

Panorama Pagi
“Jakarta, 17 March 2009, 06.15 am
Kembali kusempatkan diri untuk mengitari secuil permukaan bumi yang tak jauh dari tempat tinggal. Tepatnya ketika matahari bersiap-siap menunjukkan jati dirinya di timur sana. Angin segar menyapa tubuhku selaju putaran roda sepeda yang kukayuh perlahan. Burung- burung melayang kesana- kemari sambil berkicau di atas udara dan pepohonan. Serangga-serangga lainnya juga turut mengucapkan selamat pagi lewat suara khas masing-masing di balik semak dan rerumputan yang melambai-lambai. Menyenangkan sekali menikmati suasana ini..

Memandangi angkasa sebelah barat laut yang belum begitu terang, terdapat sekelompok titik air halus, yang barangkali, hendak menyiratkan suatu pesan dengan mengimpitkan gas serupa bentuk yang amat familiar, oh, angka dua..

Ya, dua.

Demikian kata awan di langit fajar..
Mendadak, aku terkesima. Lantas aku mulai membatin. Barangkali, ini fenomena langka ya.. Lalu, mengapa harus angka dua?
Barangkali, dua berarti aku dan kamu. Tapi apalah arti aku kalau tidak ada kamu? Apa juga artinya kamu tanpa aku? Mungkin, kita memang mendua. Karena ‘wujud’ kita terlihat beda. Yakni dualitas yang mewarnai hari demi hari. Baik buruk. Besar kecil. Hitam putih. Kiri kanan. Hidup mati. Dan sebagainya. Sayangnya, kita hanya ilusi. Pelan-pelan angka dua itu tergeser angin. Tebaran serabut putihnya kian melebar horizontal. Pemandangan barusan tak lagi terukir jelas. Lengkungnya semakin samar, tercerai berai, dan pada akhirnya menjadi berantakan seperti teman-temannya yang lain. Tak lagi ‘dua’.
Yah mudah-mudahan, dengan usaha tertentu kita juga demikian pada akhirnya. Melampaui dualitas, lewat celah kesadaran.
( http://listanita.blogspot.com/)

Indah sekali. Terimakasih adik Lista untuk tulisannya yang maha inspiratif bagi saya.
Kapan momen lengkung dua dalam hidup kita bersalin bentuk, samar buyar tak lagi ‘dua’? Selama ini, kita membiarkan diri berlari seperti berlari di atas tread mill, tidak ke mana-mana, melainkan lari di tempat. Menghabiskan sekian-sekian kesempatan meniti jalan ketersibakan dualitas. Betah terjebak dalam kemelekatan. Memilih setia (dipermainkan) dalam permainan dualitas, karena keliru mengira ‘diri’ adalah rasa suka itu sendiri namun lupa akan rasa sedih yang tidak lain adalah bayangan suka itu sendiri. Sang Jalan mengajarkan kepada kita, ketika rasa suka datang jangan perlakukan dia lebih dari seorang tamu. Layani sewajarnya. Meski tidak mudah. Bayangkan saja, harus tetap bersikap cool (bukan sok cool) jika berhadapan dengan seseorang yang menurut mata dan rasa dia sangatlah menarik. Dan mari perluas kesadaran, dia di sini bukan hanya ketertarikan pada seseorang, tetapi juga ‘cinta’ kita yang dahsyat pada uang, segala bentuk apresiasi, segala rekaman nikmat yang bisa dirasakan badan kasar ini. Hidup yang ‘lengkap’ bergantung pada kehadiran segala kemelekatan ini, dan ketika mereka tak lagi digenggaman, masa bertamu mereka habis, kecewa, rasa tak puas dan rasa kehilangan hadir. Mari berlatih jika kesempatan bersamanya berlalu tidak ada yang perlu disesali, juga terus belajar melatih diri tidak membuat diri merasa-ada sesuatu yang hilang. Inilah hukum keseimbangan. Tak ada riak bukan karena mati rasa, namun karena mau merangkak berdiri di atas dualitas


Beberapa indikator bahwa diri keluar dari hukum keseimbangan ini adalah, adanya rasa haus untuk terus memiliki rasa suka ini, ketika harus melepas terasa ada yang hilang. Haus timbul dari keinginan untuk mengawetkan kesenangan yang sempat dicicip, dan perasaan kehilangan karena merasa diri adalah bagian dari kesenangan tersebut, mungkin ini yang disebut dengan aku palsu. Kita mengindentikkan ‘diri’ dengan rasa suka sebagai bahagia, dan mengiranya sebagai aku sejati. Rasa berbunga ini adalah saya, senang ini adalah saya, yang selanjutnya kita kira inilah kebahagiaan. Berhati-hatilah berhadapan dengan keinginan, Dr. Michael Newton dalam Journey of the Souls, menuliskan mereka yang mengalami depresi berat, setelah dihipnoterapi ternyata berkejaran dengan keinginan sejak kehidupan-kehidupan sebelumnya. Sampai kapan kita mau terus berputar, berlari dalam kesalahpahaman kita akan keinginan? Mengira terpenuhinya keinginan sebagai kebahagiaan.

Kapan Berhenti?

Kapan Berhenti?

Saya tak tahu kapan bisa memastikan bahwa saya telah melampaui dualitas. Mungkin saya tak perlu tahu saya telah melampaui dualitas atau tidak. Satu hal yang saya alami, berusaha menjaga keterjagaan dalam setiap aktivitas pikiran dan rasa, detik itu kita memiliki peluang untuk memberi jarak terhadap dualitas. Punya ruang untuk mempertanyakan, dari mana asal segala ‘rasa’ bagaimana dia terbit dan akhirnya bagaimana dia terbenam, lalu berlalu. Jeli yang berkesadaran akan menjernihkan pandangan atas sebuah realita, hakikat realita dalam setiap perjumpaan dengan hidup.

Sebuah kisah titik balik berhentinya sebuah keinginan mungkin dapat jadi permenungan kita bersama
Suatu pagi ketika Sang Bhagavan memasuki Savatthi, kota itu bagaikan kota hantu. Seorang pembunuh terkenal bernama Angulimala terus mencari korban untuk mengambil jarinya dan menambahkannya di untaian kalungnya. Ketika melangkah dengan perlahan dan penuh kesadaran di jalan, Sang Bhagavan mendengar langkah kaki dari kejauhan yang sedang berlari menghampirinya dari belakang. Bhagavan tahu itu adalah Angulimala, namun Bhagavan sama sekali tidak merasa takut.
Angulimala berteriak,”Berhenti!”
Bhagavan melanjutkan langkah-langkah yang perlahan dan stabil. Sewaktu Angulimala berhasil menyusul, dia berdampingan dengan Bhagavan dan berkata,”Aku suruh engkau berhenti. Mengapa tidak berhenti?”
Bhagavan terus berjalan dan berkata,” Sudah sejak lama aku berhenti, Angulimala. Engkaulah yang belum berhenti” Sudah sejak lama sekali aku berhenti melakukan tindakan-tindakan yang menimbulkan penderitaan bagi makhluk lain”

Berefleksi dari kisah Angulimala ini perkenankan saya berkata pada diri sendiri,”saya ingin belajar berhenti dipermainkan oleh kekeliruan, bias persepsi saya akan kebahagiaan, akan hidup, akan siapa diri saya. Ini adalah dasar penyebab penderitaan. Penyebab penderitaan bagi diri sendiri dan bagi penderitaan makhluk lain. Saya bukanlah segala yang berkondisi, saya bukanlah segala yang memiliki bayangan saya bukanlah segala rasa suka yang bergantung pada ada dan tiada. Saya bukanlah rasa puas dan tak puas. Saya bukanlah rasa kecewa, saya bukanlah rasa bangga, ketika tulisan ini diapresiasi dan kecewa ketika kurang diapresiasi. Apa yang menjadi jatah saya adalah menulis dan menulis, perkara diapresiasi atau tidak adalah jatah realita. Membiarkan diri membumbung, terbuai oleh apresiasi hanya akan menggiring saya melewati jatah yang kodratnya saya miliki, oleh karenanya harus siap oleh kecewa ketika apresiasi yang datang tak sesuai ekspektasi. Saya adalah sang wajar, saya adalah sang biasa, saya adalah sang netral, saya adalah yang tak beriak nan jernih bebas prasangka dan penilaian.