Oleh Chindy Tan
Sebuah refleksi hidup

Bahagia yang jamak kita kenal…
mungkin lebih tepat disebut saat-saat bahagia
saat-saat bahagia seperti menikmati warna-warni yang dipantulkan dari gelembung-gelembung sabun yang dihembuskan. Indah namun ringkih, cuma dapat dinikmati sekejap, lalu pecah entah ke mana. Bersiaplah untuk dijadikan bulan-bulanan keinginan bila terbersit keinginan untuk keukeuh mempertahankannya apalagi memilikinya, tidak ada cara untuk mengawetkan gelembung sabun tersebut, tiba masanya dia akan pecah, berlalu.
Menjaga ritme kesadaran dari kondisi batin menilai gelembung sabun itu indah hingga dia pecah, lenyap…tanpa memilih lebih suka saat indah eksis dan kecewa saat indah berlalu atau dengan lidah inggris kita sebut dengan choiceless awareness…mungkinkah ini satu langkah awal melampaui kerangkeng pikiran dan rasa?
Setiap perjumpaan dalam hidup kita menawarkan kesempatan eksplorasi dimensi lain, dimensi yang dirasakan oleh seekor kepompong ketika kesetiaannya untuk merangkak dalam berproses, menikmati segala kondisi tanpa memilih, bahkan ketika sampai pada fase kritis, fase perjalanan ke ujung gerbang metamorfosa, kepompong harus bertahan dalam kondisi yang serba minim, minim pasokan air, minim pasokan makanan. Derita inilah yang memungkinkannya untuk bertumbuh, bertumbuh lepas dari kerangkeng yang membatasinya, maka keleluasaan akan menjemputnya.
Konsisten melatih kemampuan diri merayakan realita tanpa memilih akan membangun kemampuan seperti yang dimiliki tetes air jika setia menetes, batu pun akan lubang. Sebuah kemampuan (seolah) melampaui kemampuan, karena setetes air sangat sulit dipercaya dapat melubangi sebuah batu. Demikian juga kemampuan kesadaran kita. Kesadaran kita mampu mencapai keseimbangan batin, kesadaran yang melampui segala bentuk ketergantungan (baca: kemelekatan) kita pada syarat-syarat ‘bahagia’ . Saya akan bahagia bila…..punya ini, punya itu, bersama dia. Saat ini, mari kilas balik mengamati satu persatu persepsi bahagia yang ada dalam format pikiran kita.
Seorang sahabat saya pernah berceletuk, “ya ampun Cing, motormu dari jaman kuliah belum ganti-ganti juga?”
Sahabat yang lain juga pernah berkomentar,” Ce A Cing ini ya, dokter gigi yang paling ‘spesial’ lah. Dokter lain mesti udah punya rumah dan bawaannya mobil. Cece masiiiih aja ngontrak dan ke mana-mana ditemani motor bututnya”
Rekan saya yang lain berkata,”kalo nggak kesandung masalah keluarganya aj, penghasilan dari dua tempat praktek pribadinya. A Cing mesti udah bisa beli rumah”. Ada lagi pertanyaan usil,” cing..dah kawin blom??? sama richard gere aja atau bixu thong…..http://www.facebook.com/l/;he.he.he…”
Hmmmm…..bahagiakah saya dengan kondisi saya sekarang?
Seberapa terusik hati saya dengan omongan-omongan teman-teman saya. Boleh saya sebut sebagai bising persepsi ya. Semakin saya terusik, semakin kuat ikatan saya dengan standar mereka. Apakah saya minder dengan apa yang saya miliki sekarang? Apakah saya yakin dengan pilihan hidup selibat? Masihkah ada rasa iri melihat mereka yang berpasangan? Siapkah saya dengan sekian-sekian pertanyaan dan mungkin persepsi (miring) terhadap hidup selibat? Karena hidup sendiri masih dipandang aneh dimasyarakat kita. Betapa (saat-saat bahagia) bergantung pada sekian syarat-syarat yang telah terpola dalam masyarakat kita. Lalu apakah tidak mungkin saya memiliki standar sendiri?
Saya sedang belajar fokus menikmati apa yang disajikan hidup di depan mata, telinga dan hidung saya. Mencoba menghirupnya dalam-dalam, mendengarkan segala bising persepsi memenuhi ruang hati dan kepala, mungkin dengan demikian dapat mengendapkannya, barulah dapat memasang mata kejernihan kesadaran untuk mengindetifikasi satu persatu bising persepsi tersebut. Betapa selama ini kita mau saja dibatasi dan dibentuk oleh bising persepsi. Saya tidak tahu apakah saya naif jika mengatakan saya ingin berhenti diobok-obok oleh bising persepsi. Ketika kelopak mata kesadaran terbuka, memandang tembus permainan persepsi, saat itu juga kita mengambil jarak dan terbentang peluang untuk keluar dari persepsi, melampauinya
Mari cermat melihat ‘standar’ sukses, standar ‘bahagia’ yang telah dipatok oleh kebanyakan kita. Pencapaian apa yang menjadi ukurannya? Hidup cukup kata teman saya. Cukup uang untuk beli rumah, cukup dana untuk beli mobil, cukup tabungan bila sewaktu-waktu mau ke luar negeri. Sadar tak sadar kita sepakat pada satu titik ukuran, bahagia dan sukses bergantung dari seberapa dalam dompet Anda dan seberapa tebal isinya. Apakah menjalani hidup ‘sugih tanpa bandha’ terlalu utopis? Utopis atau tidak, semoga tidak terkesan sok dan naif jika mengatakan saya ingin belajar hidup sugih tanpa bandha. Saya ingin mengecap ‘bahagia’ yang tidak bergantung pada syarat apa pun selain keseimbangan batin, bahagia yang tahu kapan memiliki dan kapan melepas, termasuk ‘rasa bahagia’ itu sendiri.


Jika hidup mengijinkan, kalaupun suatu ketika kelak dompet sudah longgar, saya ingin fokus pada Spiritual Education Center, menyalurkan isi dompet pada suatu wadah yang mengupayakan lompatan kesadaran. Entah dengan mencetak buku, menyediakan buku, menyelenggarakan road show diskusi dalam skala apa saja (dari forum bisik-bisik tetangga-forum rt-arisan-dharma wanita-sekolah-kampus-dunia maya-nasional-internasional) dan forum apa saja yang temanya menggelitik kesadaran, merangsang diri untuk memampukan diri menempuh lompatan kesadaran, agar melihat dimensi lain yang ditawarkan oleh hidup selain 4 Ta (Harta, Tahta, Toyota, Wanita…btw kok wanita disejajarkan dengan benda ya..saya ganti saja dengan Seks ya jadinya 3Taplus seks). Jika kita mau jeli, evolusi hati kita tak kunjung keluar dari bahagia dan sukses versi 3taplus seks ini. Meski sudah dipermainkan, tetap saja betah berada kerangkeng 3taplus seks. Salah satu indikator bahwa diri telah dijadikan obyek permainan dari 3taplus seks ini apabila diri tidak bisa bilang tidak ketika kesempatan menikmati harta, tahta, toyota dan seks dengan jalan kongkalikong. Pleease deh, get real sist! Mana ada jalan yang waras dijaman sekarang, ingat kata pepatah orang jujur makan bubur!
Mungkin orang-orang juga akan berkata, “Ah, itukan karena belum ada kesempatan saja, coba kalau suatu ketika ditawari proyek dengan ‘profit samping’ bernilai puluhan hingga ratusan juta, tidak tergiurkah Anda?” Saat sebuah kesempatan ada di depan Anda, saat itulah Anda benar-benar tahu siapa Anda. Hidup adalah kesempatan untuk berlatih, setiap saat melatih kesadaran agar hati lurus, dan pikiran satu garis lurus dengan ucapan dan lakon. Jika saya memilih meyakini keseimbangan batin adalah jalan utama, saya harus belajar konsisten dengan aturan main yang waras dalam hidup, sadar saat diri ngiler pada duit agar cepat tahu ambil sikap yang waras, sadar saat diri ngiler pada apresiasi dari sebuah pencapaian prestasi (tahta, karir) dengan demikian melihat jelas kalau diri masih melekat pada apresiasi, juga sadar saat diri ngiler pada kenyamanan duduk di mobil ber AC, agar diri bisa lebih selektif alokasi perolehan penghasilan, kalau prioritas untuk dukung edukasi, mending tabungan diarahkan ke sana. Terakhir, sadar saat diri ngiler dengan sensasi-sensasi nikmat yang ditawarkan seks, hingga selalu mengingatkan diri, seks adalah sesuatu yang suci namun seks juga tanpa ampun dapat menggelembungkan keserakahan diri akan kenikmatan. Ini akan membentuk diri menjadi makhluk mutan, rela menukar malu, martabat diri, menerobos apaaa saja untuk menikmatinya.