Jacob Behmen (1575-1624) seorang filsuf besar dari Jerman, dalam bukunya The Great Mystery menjelaskan bahwa persaudaraan manusia dengan seisi semesta merupakan dasar dari penyatuan mistis dengan Tuhan. Membunuh binatang untuk makanan akan membangun penghalang antara roh manusia dan Tuhan. Keberatan moral menggunakan hewan sebagai makanan dan berbagai bentuk eksploitasi merupakan tanda kemurnian, kesungguhan dan kejujuran moral. Leo Tolstoy (1828-1910) dengan indah mengekspresikan dasar moral dari vegetarian,” Gerakan vegetarian akan mengisi jiwa yang hatinya menyadari kehadiran kerajaan Allah di bumi dengan kegembiraan…karena itulah kriteria yang kita ketahui tentang bagian dalam diri seorang manusia yang mencari kesempurnaan moral adalah sejati dan jujur.”
“This is dreadful! Not the suffering and death of the animals, but that people suppress in themselves, unnecessarily, the highest spiritual capacity – that of sympathy and pity towards living creatures like themselves – and by violating their own feelings, become cruel. And how deeply seated in the human heart is the injunction not to take life.”
– Leo Tolstoy, translated from “The First Step,”

Mencintai makhluk lain karena Aku adalah Dia,Dia adalah Aku, Engkau adalah Aku dan Aku adalah Engkau. Adalah didikan yang telah ditanamkan dalam diri Bung Karno kecil. Suatu hari tanpa sengaja Karno menjatuhkan sarang burung dari atas pohon. Kejadian itu membuat Ayah Karno marah.
“Bukankah aku sudah mengajarkanmu untuk mengasihi binatang?”
“Ya, Pak,”sahut Karno ketakutan
“Kau bisa menerangkan arti ungkapan Tat Twan Asi, Tat Twan Asi’ yang kuajarkan?”
“Ya, Pak. Artinya, Dia adalah Aku; Aku adalah Dia, Engkau adalah Aku, Aku adalah Engkau.”
“Lalu, mengapa masih kaulakukan? Bukankah kau harus melindungi semua makhluk Tuhan?”
(Bung Karno Mencari Tuhan, 2005)
Seorang Bapak Bangsa yang lain di negeri ini, Romo Mangun sejak masih kecil telah memperlihatkan kehalusan budinya terhadap makhluk lain. Bil (nama kecil Romo Mangun) kerap pergi ke sawah melihat burung-burung manyar. Suatu ketika Bil dan teman-temannya menghalau kawanan burung manyar,”Hurrrsahhh!” akibatnya burung-burung itu segera beterbangan. Mereka senang melihat kawanan burung manyar terbang di udara. Benar-benar pemandangan yang sangat indah sebab burung-burung itu terbang meliuk-liuk seperti ular.
“Kita ketapel, yuk?” ajak salah satu teman Bil.
“Jangan,” kata Bil mencegah. “Kita tidak boleh menyakiti burung. Mereka juga seperti kita, tidak ingin disakiti.”
(Romo Mangun Sahabat Kaum Duafa, 2005)

Hakikatnya hati kita sepakat binatang memiliki bagian yang sama dalam diri setiap kita, naluri mencintai hidup, naluri mempertahankan hidup. Ketika Prof Prasasto mempresentasikan klip-klip detil bagaimana hewan disembelih, suara-suara berseru ngeri, jerit takut terdengar dari kiri-kanan dan deretan kursi di belakang saya. Sebuah presentasi dalam forum Pre. Conference …. MEMBERSHIP AS AN ASSET OF ROTARY CLUB Rotary Club (Sheraton Mustika Yogyakarta Resort & Spa. 27-28 Februari 2009). Melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana sebuah kehidupan terenggut, jerit sakit, amarah hingga mereka meregang nyawa, menyentak hati siapapun, kita terhubung dengan segala rasa yang mereka alami. Hati (hakikatnya) akan menolak melihat, menolak memandang ketakutan, kesakitan, menolak mendengar tangisan sebagai ekspresi naluri untuk mempertahankan meski itu keluar dari mulut seekor kambing, ayam, sapi atau babi. Semua naluri mempertahankan hidup ini kode pesannya sama persis dengan yang manusia miliki. Inilah dasar hubungan sebuah hati dengan laksa entitas, hubungan yang dikandung oleh belas kasih. Hubungan yang mempertautkan semua entitas, sedarah dan sekandung dalam belas kasih mengalir dalam diri laksa entitas, serupa dengan sang Bunda Semesta. Terus berproses untuk mengenal belas kasih, hingga sampai pada titik belas kasih tanpa titik adalah perjalanan hati menguak misteri dan mengenal wajah sang Pencipta, Sang Bunda Maha Belas Kasih. Dalam tautan persaudaraan ini jualah kita akan kembali ke pangkuan Sang Bunda.