Oleh Chindy Tan

“Saya belum pernah merasakan diberi perhatian oleh seseorang seperti yang dia lakukan” Ungkapan seorang rekan saya yang saya yakin modus yang sama dialami oleh sekian miliar hati yang merindu cinta, babak awal episode cinta pun bermula.
Rasa nyaman, rasa dihargai, diperhatikan adalah kecambah dari sesuatu yang coba kita tebak sebagai cinta. Kebutuhan emosi, celetuk pasien saya. Semua ‘kebutuhan’ ini lalu melahirkan keinginan untuk memiliki.
“Mengapa kamu begitu baik kepada saya?”
“Tinggallah bersama saya malam ini, saya mohon”
“Kamu perlakukan saya dengan begitu baik, mengapa semua ini tidak dapat saya nikmati lebih lama?”
“Saya ingin meminjam hidupmu malam ini”
Dialog Gong Li dan Tony Leung dalam film 2046, mengingatkan kita akan epik standar misteri cinta, nikmat, teduh namun tak dapat dimiliki, terlalu sakit untuk diakui ketika harus melepas. Siapapun mungkin pernah mengalami. Mendadak lagu…uuusah kau kenang lagiiii sayaaaang menggantung di bibir, berulang dilantunkan tanpa bosan. Ika sahabat saya pernah ngancam,”Cing lu ganti lagu lain ato panci ini melayang…” gara-garanya beberapa hari setelah putus, bibir ini seolah disetel melo, pengennya nyanyi lagu melooo aj;)
Sadar tak sadar ‘cinta’ yang berlaku kebanyakan adalah cinta bersyarat, ketika syarat2nya satu persatu tidak terpenuhi lagi, ‘kepekatan’ cinta pun berkurang, lama kelamaan tawar, tidak berasa apa-apa lagi…
so where did the feeling go?
tidak kemana-mana, ‘cinta’ hanya mengikuti hukum kodrat dari segala yang berkondisi…. akan berlalu.
Cinta seperti ini hanya akan numpang lewat, kadang dia mampir, ingat sekedar mampir, tidak ada yang bisa dilakukan ketika temponya tiba untuk berlalu…
that’s why at the time you’re falling in love, that exact moment u got to learn to let him/her go…
Namun ada skenario lain yang mungkin, siapa pun memiliki potensi untuk melampaui ketergantungan kita pada cinta yang memiliki syarat. Setiap detak hidup kita adalah kesempatan menafaskan cinta. Mencinta untuk hidup hingga hidup adalah cinta itu sendiri.
Kapan terakhir Anda mendengar, kata-kata yang menyentak relung hati Anda, seolah menyibak sekat ketidaktahuan, ada jendela lain yang terbuka, terinspirasi olehnya? Bukan hanya oleh kata, lebih hidup lagi adalah inspirasi dari lakon.
Inspirasi, lahir dari upaya yang tak putus untuk memahami gerak hati sendiri, setiap fenomena hidup yang diamati mungkin akan mampu dibahasakan dengan hati, ketika itu ruh ditiupkan pada setiap huruf. Sebuah hati barulah dapat terhubung dengan zat yang sama dengan hati itu sendiri, sesama hati. Inspirasi adalah getaran elektrik yang mengantar nafas terhubung dengan jiwa, hidup sungguh hidup. Hidup yang penuh. Setiap denyut nadi adalah peluang berjumpa dengan pemahaman baru, benih penyibakan selalu berkecambah dan bermekaran dalam menjejak ruang hidup. Bagi saya, ini salah satu dari sekian jalan cinta yang tak berbatas yang dapat ditempuh, terus dan terus belajar membaca hidup, menginspirasi diri, memerdekakan diri dari segala batasan, berdiri di atas batasan (baca: kerangkeng) yang telah diformat, disepakati bersama sebagai ‘hidup normal’.
Bagaimana ‘hidup normal’ (baca:kebanyakan) mendefenisikan cinta.
Cinta tidak (seharusnya) selalu identik dengan berpasangan.
Cinta yang seolah tunggal jangan terburu menilainya sunyi.
Cinta melampaui ganjil maupun genap.
Cinta adalah kekuatan untuk hidup dalam irama yang tak berpihak, netral.
Cinta adalah kekuatan untuk menginspirasi, karena inspirasi adalah bahan baku dasar dari hidup yang penuh,
bahan baku dasar dari cinta yang utuh

Jogja, Medio May 2009