Respon untuk artikel-Surat Untuk Romo Santo: Bekal Bertahan Hidup, Apa yang Tersisa?

ezra: mungkin ide tentang mengajak orang2 ke rumah penyembelihan hewan akan bagus untuk memberi sedikit pencerahan. sebagian besar kita tdk menyadari dari mana makanan yg terhidang di atas piring kita berasal. jadi, saya pikir bila kita mengetahui proses makanan itu berjalan sampai menjadi sesuatu yg siap kita konsumsi akan membuat kita lebih menghargai pengorbanan yg harus diberikan hanya supaya kita dapat terus makan dan terus hidup.
saya pernah membaca tentang orang2 yg hidup ribuan tahun yg lalu yg menggunakan seluruh bagian dari hasil buruan mereka. selain daging utk dimakan, tulangnya utk pisau, lemaknya utk minyak lampu, kulit utk pakaian, dll. mereka amat menghargai alam krn mereka merasa bahwa mereka tdk dpt hidup tanpa alam. namun mereka pun hanya mengambil sebanyak yg mreka perlukan. tdk pernah berlebihan.
saya lebih cenderung setuju kpd argumen kuasa manusia utk penjagaan. bukankah krn mausia makhluk paling sempurna maka ialah yg seharusnya memelihara makhluk2 yg lain dan juga alam?
saya juga teringat tentang doa para biksu budha sebelum mereka makan, yg kurang lebih berbunyi “kami makan bukan untuk kenikmatan, kami makan untuk memelihara hidup”.

chindy:Hai Ezra,
suwun nggeeh udah mau nimbrung ngobrol di ruang ini…
saya paling suka bila musim mangga tiba, melihat buah menggantung, ada yang satu-satu, ada yang bergerombol. Indah sekali;) Rasa takjub juga kerap mengalir bila melihat setandan pisang menggantung di pohonnya menuju masak. Terakhir, saya takjub melihat gambar domba pemberian seorang teman, rambutnya kriwil-kriwil. Cantik. Mungkin refleks respon terhadap keunikan, keindahan Saudara sepenciptaan merupakan naluri yang lahir dari kodrat asali kita yang konon adalah makhluk pemelihara;)
Pilihan untuk memakan binatang atau tidak, bagi manusia mungkin memang masih dalam proses pembelajaran bagaimana manusia akan menempatkan binatang dalam perjalanan evolusinya. Krisis iklim, krisis pangan, krisis ekonomi, krisis keanekaragaman hayati banyak membuka mata kita dan mempertanyakan kembali bagaimana seharusnya kita memperlakukan bumi dan segala isinya

blog-20070521

Saya setuju dengan Ezra, bahwa mungkin dengan mengetahui bagaimana proses bagaimana makanan tersebut sebelum sampai ke meja makan kita akan menumbuhkan apresiasi atas apa yang kita makan. Apresiasi yang lahir dari pemahaman hulu ke hilir bagaimana makanan bisa sampai ke piring makan kita, mungkin juga akan melahirkan rasa tanggung jawab akan konsekuensi dari apa yang dipilih untuk di makan.
Jika kita bertanya apakah tubuh kita bisa hidup tanpa mengonsumsi mereka, jawabnya bisa.
Apakah cukup gizi? jawabnya cukup.
Saya sendiri telah bervegetarian selama 14 tahun, dengan hasil pemeriksaan lab terakhir (13-10-2008),asam urat 3,4mg/dL(normal) nilai rujukan <6mg/dL Hb: 12,1g/dL (normal) jadi bila ada isu yang mengatakan tanpa konsumsi daging tubuh beresiko tinggi anemia. Fakta membalikkan isu tersebut, tidak benar.
Manusia terbukti bisa survive tanpa daging, bahkan dengan kualitas hidup yang lebih baik karena angka harapan hidup lebih tinggi bila dibandingkan dengan pemakan daging. “Manusia bisa hidup tanpa daging tapi tidak akan mungkin bisa hidup tanpa tumbuhan” ajian diplomatis Prof Prasasto yang sangat menggigit hati saya, mungkin ajian ini bisa jadi satu dalil penegasan bahwa sejatinya tumbuhan adalah makanan manusia. Secara empiris dapat dihitung dan dapat dibuktikan kelangsungan hidup Bumi berlipat lebih lama jika saja manusia mau memilih makanan yang efisien, yang mata rantainya pendek. Berbicara dari sudut etika, seperti yang diulas Ezra. Melihat sendiri bagaimana proses penyembelihan, pada kenyataannya umumnya lebih mendapat tempat di hati anak kecil mungkin karena kepolosan mereka, tanpa dalih ini itu seorang anak kecil dapat melihat kekerasan adalah kekerasan. Sedangkan pada orang dewasa banyak berbenturan dengan tradisi dan budaya bahkan nilai agama(menurut persepsi masing-masing)yang mewarnai nilai-nilai hidup yang dianut. Hingga aspek etika sering dimentahkan lagi dengan dalih tradisi, budaya bahkan agama. Contoh sederhana adalah pencitraan yang dibentuk oleh lagu potong bebek angsa. Repetisi pesan yang termuat dalam lagu tersebut ‘menanamkan dan meyakinkan’ diri kita bahwa mereka memang dicipta untuk dipotong. Perjalanan peradaban manusia memahami bagaimana menempatkan posisi binatang memang masih berhadapan dengan lapis-lapis persepsi yang menyertai perjalanan manusia.
Berpegang pada bukti ilmiah akan beban ekologis dari sepotong daging sejauh ini merupakan dasar argumen yang tak terbantahkan untuk mencairkan tembok-tembok bias akan persepsi manusia terhadap posisi binatang.
Terima kasih Ezra;)

Respon untuk artikel-Kompas:Tujuh Alasan Menjadi Vegetarian

surya:saya mau curhat nih…
sampai sekarang untungnya masih vegetarian…
kemarin2 saya sering makan nasi capcay GM…
sebelum pesan, saya uda bilang gak pake ayam dan daging lainnya…tapi mereka bilang ga bisa…ya uda mau gimana lagi…tapi tetap, dagingnya saya singkirin….
nah, salah satu tujuan vege saya khan mereduksi daging…kalo gitu, tujuan saya sia2 dong ya….??

chindy:Surya, saya juga kadang mengalami hal yang sama, namun dalam konteks makanan kecampur telur. Telurnya saya sisihkan. Kadang terbersit pikiran, udah terlanjur tersaji kenapa tidak dimakan saja, daripada dibuang dan toh tetap ‘terhitung’ andilnya. Mungkin situasinya ini agak mirip dengan sikap menolak cipratan uang pungli. Uang ‘tambahan kesejahteraan’ yang dikumpul dari hasil keterampilan menyerempet dana setoran dari berbagai pos, konon ‘aturan mainnya’ telah disepakati bersama. (tempat dinas saya dulu telah turun-temurun melestarikan sistem seperti ini). Uang telah terlanjur dipungli, apa ngga rugi kalo uang tsb ditolak, karena toh uang TELAH kadung ditilep, ditolak juga uang tersebut hanya akan jatuh ke tangan orang lain dan tidak mengurangi punglinya itu sendiri. Sia-siakah penolakan ini?
Menolak pada saat itu adalah peluang menyentil kebiasaan/ budaya pungli tersebut meski belum bisa mencabut akarnya. Namun upaya untuk mengkonfrontir harus ada awal, untuk itu harus ada yang berani memulai. Ada pesan lain yang sampai di ruang hati yang sudah berkarat dengan budaya pungli tersebut. Saya yakin, ini akan menjadi embrio perubahan itu sendiri. Harus ada yang mau memulai menyemai benih perubahan itu. Pikirkan jika kebiasaan tetap menolak daging meski kadung kecampur seperti ini tetap Surya lakukan, ketika makan bersama orang lain, mereka akan bertanya, saat itu Surya punya kesempatan meneruskan alasan mengapa Surya memilih menolak daging. saat itu upaya menyisihkan daging tsb tidaklah sia-sia. Api efek getok tular ‘upaya mendefenisikan cukup’ di piring makan Anda tetap Anda jaga. Dan yang lebih penting mungkin, Surya belajar konsisten satu kata antara hati dan lakon, kesadaran kita sudah mengajarkan apa yang cukup di atas piring makan kita dan kita belajar setia terhadap kesadaran dan komitmen itu.
suwuun Surya;)

baca juga Dialog yang (mungkin) Berdaya Gigit di Hati-1
ps. beberapa komentar saya ada penambahan dari komentar sebelumnya.