Oleh Chindy Tan

Sabtu malam lalu, di apotek tempat saya bekerja ada pembeli yang mengeluh kalau sudah beberapa hari sulit buang air besar. Biasanya jika sudah hampir seminggu tidak BAB dia akan mengonsumsi obat pelancar.Telusur punya telusur, ternyata masalah ini sudah cukup lama dialami dan dia juga mengaku kalau tidak doyan sayuran. “Cuma doyan daging tuh!” celetuk pacarnya. “Jangan dianggap remeh lo, gangguan sembelit terus-menerus dapat menimbulkan resiko terkena kanker usus.” Cuma ini yang bisa saya timpali plus saran untuk banyak mengonsumsi buah dan sayur.

Dihari yang sama, sabtu siang ketika mengikuti pertemuan dharma wanita, seorang karyawan bercerita kepada saya perihal serangan stroke yang dialami suaminya. Hari pertama saat terkena serangan, tekanan darah melonjak hingga 230mmHg. Dampak serangan cukup memprihatinkan. Separuh badan lumpuh ringan, telinga kiri tidak dapat mendengar, koordinasi kedipan mata tidak bisa berbarengan, artinya saat mata kanan dikedipkan, mata kiri kelopaknya tidak bisa serentak bareng dengan gerakan yang sama dengan mata kanan. Apa yang nampak, mata kanan tertutup, mata kiri masih tetap terbuka, beberapa saat kemudian baru kelopaknya bergerak menutup. Koordinasi gerak tungkai atas dan bawah juga terganggu. Cuma sisi kanan yang masih leluasa digerakkan, alhasil, jalan dapat dilakukan dengan cukup payah, setengah menyeret kaki kiri. Tangan kiri juga berat untuk digerakkan. Dua minggu opname dan masuk minggu keempat barulah fungsi gerak berangsur pulih. Sungguh memprihatinkan membayangkan keadaan si penderita.
Sejak terkena serangan, penderita tidak diperbolehkan mengonsumsi jeroan, gorengan, makanan bergajih/berlemak tinggi, santan, semua makanan yang berkolesterol tinggi. Hmm, bila mencermati dua kasus di atas, pesan apa yang hendak disampaikan? Coba kita garis bawahi kata MAKANAN. Ada metode yang sangat sederhana yang ingin saya tawarkan, coba jeli sedikit mengamati sekitar kita. Tanyakan, teman kos, teman kuliah, tetangga rumah, kerabat dekat maupun jauh. Iseng catat, berapa banyak yang mengalami kasus kesulitan BAB, diabetes, stroke, masalah dengan jantung, hipertensi dan tanyakan menu harian mereka. Di Amerika ternyata, tercatat 20 juta kasus ketergantungan obat pencahar (schlosser,2002). Realita ini ternyata berkaitan erat dengan tingginya konsumsi daging. Penelitian terbaru, hasil kompilasi dari 15 penelitian Lembaga Kesehatan Institut Karolisnka Swedia yang dipublikasikan dalam Journal National Cancer Institute Susanna Larson melaporkan bahwa, penelitian terhadap 4704 relawan yang diteliti dari tahun 1996-2006, yang mengonsumsi 30gram daging setiap harinya selama 10 tahun beresiko terkena kanker perut sebesar 15-38%.
Paparan fakta di atas bebas tendensi menjatuhkan pamor ‘daging’ yang citranya sudah sedemikian rekat erat di hati kita, sebagai makanan yang bergizi, bergengsi, bercita rasa tinggi melainkan hanya memaparkan fakta apa adanya. Mari bermain imajinasi sejenak, tangan kanan saya memegang buah jeruk, sedangkan tangan kiri ‘pentungan’ (baca paha ayam). Apa kesan yang muncul saat saya menyodorkan jeruk? Saya yakin, tak satu pun yang akan was-was, cemas kalau-kalau makan jeruk dapat membahayakan kesehatan. Lalu bagaimana dengan ‘pentungan’? Kolesterol,asam urat tinggi dan lemak jenuh tinggi dan penyebab kanker sudah menjadi paket icon pembentuk citra daging. Namun herannya, meski membonceng sekian banyak ‘bom waktu’ dengan sadar sepotong demi sepotong daging tetap kita masukkan ke dalam mulut kita…
Jika kita bertanya apakah tubuh kita bisa hidup tanpa mengonsumsi daging, jawabnya bisa.
Apakah cukup gizi? jawabnya cukup.
Saya sendiri telah bervegetarian selama 14 tahun, dengan hasil pemeriksaan lab terakhir (13-10-2008),asam urat 3,4mg/dL(normal) nilai rujukan <6mg/dL Hb: 12,1g/dL (normal) jadi bila ada isu yang mengatakan tanpa konsumsi daging tubuh beresiko tinggi anemia. Fakta membalikkan isu tersebut, tidak benar.
Manusia terbukti bisa survive tanpa daging, bahkan dengan kualitas hidup yang lebih baik karena angka harapan hidup lebih tinggi bila dibandingkan dengan pemakan daging.

Mari bertanya ke dalam diri masing-masing, kapan kita mau memulai mendefenisikan kata cukup di atas piring makan kita bila fakta terbaru berikut telah menunjukkan kepada kita:

Makan Daging Memakan Umur Anda
77% Kematian di negara maju oleh penyakit kardiovaskular dan kanker yang berhubungan erat dengan pola makan (14% oleh penyakit menular, 9% oleh kecelakaan). (Pangan dan Uang demi Kesehatan Bangsa”, National Geographic Indonesia, edisi khusus: Detak Bumi, h.29)

Makan Daging menguras Air Bumi
—-16.000 liter Air yang digunakan untuk memproduksi 1 kg daging (1 kg nasi perlu 3.400 liter, 1 kg daging ayam 3.900 liter, 1 kg daging babi 4.800 liter, 1 buah hamburger 2.400 li-ter). (Pangan dan Uang demi Kesehatan Bangsa”, National Geographic Indonesia, edisi khusus: Detak Bumi, h.48); dari sumber Hoekstra/Champagain , 2008. www.waterfootprint.org)

Makan Daging Ikan Menyedot Isi Laut
100 juta ton Tangkapan ikan global pertahun yang terbuang sia-sia (tak dikonsumsi, terjaring percuma). (laporan khusus, “Lautan Nan Senyap – Krisis Perikanan Global”, National Geographic Indonesia, April, 2007)
—-90% spesies laut yang telah hilang sejak tahun 1900 akibat eksploitasi. (laporan khusus, “Lautan Nan Senyap – Krisis Perikanan Global”, National Geographic Indonesia, April, 2007
“Apakah kita baru tersadar untuk mengatakan TIDAK untuk ikan ketika yang sampai di piring kita adalah ikan yang terakhir?”

Makan Daging Memakan Umur Bahan Bakar Fosil
260 tahun Waktu habisnya persediaan minyak fosil dunia bila semua orang bervegetarian. Jika seluruh manusia makan daging, dalam 13 tahun minyak fosil dunia ha-bis.</strong> (www.eatveg.com ; 30/8/8)

Terakhir ini adalah himbauan langsung dari
Christina Engfeldt – Kepala Kantor Nordik Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (P)dalam sela-sela acara
“Cara Mengurangi Konsumsi Daging Untuk Mengurangi Dampak Lingkungan” adalah judul dari seminar dan diskusi panel yang baru saja diadakan Parlemen Swedia di Stockholm:
Tanya (reporter SMTV):”bagaimana keadaan masa depan jika kita tidak melakukan tindakan terhadap industri peternakan?”
Jawab; “Maka kita akan melipatgandakan dampak negatif pada lingkungan dan kita sudah berada pada keadaan tidak dapat dipertahankan dan tidak mendukung dalam hal manajemen limbah, emisi gas rumah kaca, hingga penghancuran sumber daya alam, tanah, air, ekosistem, keanekaragaman hayati. Sekali lagi, kita tidak akan menemukan sebuah cara untuk menjalani hidup sehat dalam beberapa tahun ke depan, dan anak dan cucu kita akan mewarisi sebuah dunia yang penuh polusi.

Jika semakin banyak orang memilih hidup yang lebih sehat, dan menjalani diet yang lebih seimbang, lebih sedikit mengkonsumsi daging, atau mungkin tanpa daging, kita dapat menjamin bahwa kerusakan lingkungan akan berkurang, dan kita mampu mengurangi kelaparan dunia, dan lebih banyak orang yang akan memiliki masa depan yang lebih baik.

catatan kecil: 13 desember 2006 diperbarui 2 April 2009