Lao Zi: “orang yang berkebajikan bagaikan air. Air mempunyai 3 sifat luhur: menjadi tempat hidup makluk lain, lemah lembut mengikuti alam tanpa perlawanan, dan selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah, tempat yang tidak disukai kebanyakan orang. Air yang lemah lembut, menyesuaikan diri dengan apa yang ditempati

Alam sang maha entitas yang melahirkan sesuatu (beyond) entitas yang menafkahi jiwa kita. Sesuatu yang tak pernah redup pendarannya, terus bergetar dalam tiada awal dan tiada akhir. Hakikatnya bebas label, melampaui nama namun ada yang menyebutnya nurani, ada juga yang memanggilnya kalbu. Kadang riil dalam surupa namun gamang dalam sunya karena dia bukan sunya maupun surupa itu sendiri. Melampaui baik-buruk, benar-salah, suka tak suka, jelek-rupawan.
Namun tulisan di atas, hanyalah sederet huruf. Upaya memberi nafas pada hakikat diri yang bebas dualitas bukan hal yang mudah, namun bukan berarti mustahil. Mampukah hati tak beriak ketika realita merampas, mencekik harapan. Mampukah hati tak bergeming kala seorang sahabat lain dengan enteng melepas tanggung jawab. Mampukah hati tetap hening tatkala deraan fitnah menusuk.

Detik ini, dengan segala paket di dalamnya: omongan baik-tak baik, tantangan karir lancar-tersendat-sendat, masalah keluarga ruwet-ayem, pilihan kita cuma dua. Menerima atau menampik, lari darinya. Mungkin ketika diri tak kalah oleh kecewa, tak redup oleh putus asa, tidak memelihara ketidakpuasan tatkala kaki harus menjejak onak dan duri. Hidup ingin memaparkan wajah hidup yang sesungguhnya, rasa hidup yang sesungguhnya. Tidak ada hidup yang sial, tidak ada hidup yang mujur. Tidak ada sial yang abadi juga tidak ada mujur yang kekal. Tugas hati hanyalah memasang mata pada satu ubin demi satu ubin yang ada di depan mata, ikhlas melangkah, meski perih onak duri menusuk dan merobek kulit. Berjalan dalam keikhlasan yang tak memilih, mengantar diri belajar berdiri di atas dualitas, derita, kecewa, sedih, tak suka, bermetamorfosa menjadi konsep, ilusi bukan realita
Sahabat,
berbicara dengan alam, membuka jalur komunikasi dengan ‘diri’
bersentuhan dengan alam, mengantar diri mencecap cita alam, sebanyak pori tubuh
alam adalah diri, diri adalah alam

Hakikat hidup termuat dalam kitab raksasa-alam raya yang membentuk semesta, setitik debu sekalipun dapat memantulkan hakikat hidup kepada tiap hati yang mau menapak pulang ke dalam diri.