(Postingan ini adalah respon saya untuk artikel Reza: Ketika Tubuh Sendiri Tak Cukup Dicinta)

baruuu saja pasienku gumon,
“susu kedelai proteinnya tinggi ya dok?”
“kalo dibandingkan susu tempe, jauh lebih tinggi tempe” jawabku
“lagi program pembentukan otot nih dok….abis baca how to win ur date”
Oaalaaa…jadi ingat susu pembentuk otot, aku lupa jeneng’e(konon keluaran Ade Rai)
hmmm,
Setiap inci tubuh kita bisa jadi target pasar (yang tak kenal jenuh) memanfaatkan sifat tak mudah puas dalam diri. Akhir Januari lalu waktu reunian, teman SMA saya bercerita,”kalo suami saya si Robert, dia akan ku kurung dalam rumah, takkan kubiarkan ngider kemana2 sendirian” pasalnya buah fitness si Robert perfect bow! six pad, plus sayap kiri kanan ok punya, en lengan’e berorot-toot abiez.
(saya cuma bisa senyam-senyum g jelas merespon omongan si Mala..)
Robert jaman SMP dan SMA dulu kurus, hingga terkenal dengan julukan gerondong dan sekarang bisa membalikkan citra tsb, dengan keluaran baru yang tak pernah kami bayangkan, bentuk Robert bisa seperti sekarang ini, weleh..weleeh
n1240826581_30155065_8097626
(foto reuni kiriman si Lina Lajadi)

Pantas ajlah orang2 pada berlomba gedein otot, pantas juga produk pemutih laris manis ngungkuli bakul kacang,…hati mudah dibuat percaya oleh pasar.”Anda tak lengkap, ada yang kurang dalam diri Anda tanpa (topeng)itu semua”
Relalah kita jadi bulan2an ‘citra’ pasar

Padahal, bila kita meminta jawaban yang jujur ke dalam diri kita,”apa yang benar-benar tubuh (dan jiwa) saya butuhkan juga apa yang benar-benar saya butuhkan dari seorang partner?”
Saya sangat setuju dengan tulisan Nara, yang mengungkapkan bahwa, sebelum berharap dalam sebuah hubungan mendapat (mengejar) rasa aman dari orang lain, terlebih dahulu kita harus belajar merasa aman dengan diri sendiri.

Menaruh syarat rasa aman pada kulit, harus siap tertekan setiap kerutan di wajah bertambah. Kulit halus bak porselen ato mulus bak pantat bayi tidak akan memberi rasa aman bila pemiliknya temperamen, picik, egois.
Sejatinya rasa aman terhadap diri dengan sendirinya akan bertumbuh dan mengakar bila mampu menghargai diri apa adanya. Penghargaan ini menumbuhsuburkan rasa percaya diri. Tak ada batu yang mengganjal dalam interaksi dengan siapa pun melainkan dapat berlaku ringan, wajar.
Otot megar sebakpao shangtung tidak mampu melindungi atau memberi ayoman bila pemiliknya emosian, ringan tangan, bosenan..Perlindungan yang dirindukan sebuah hati tentu tidak sekedar batasan fisik. Perlindungan dan ayoman mengalir dalam kejujuran, dukungan yang tak kenal lelah. Perlindungan pada diri sendiri, rajutan pagarnya terdiri dari balok-balok kearifan. Kearifan yang lahir dari upaya melatih diri untuk setiap saat memeriksa gerak hati yang cenderung mudah menjatuhkan penilaian. Mudah terbawa oleh penilaian. Hingga mulut mudah mengejek, mudah dikuasai rasa tak puas. Mudah mengeluh. Terlalu gemuk, terlalu hitam, terlalu kurus, terlalu….dan sekian terlalu lainnya yang membuat diri sulit nyaman dengan keberadaan diri sendiri.
Lalu untuk partnership, mungkin titik mulanya dapat diawali dengan menjadikan diri sendiri sebagai partner barulah melangkah keluar membina partnership dengan orang lain. Partnership yang sehat akan memberi ruang tanpa batas pada diri untuk bertumbuh menjadi diri sendiri apa adanya. Partnership dengan modal hubungan yang kaya akan pemakluman, kesabaran yang bijak (sabar namun mampu saling didik), hubungan yang tak putus saling memperkaya warna hati dengan komunikasi hati yang leluasa, lepas. Memilih hidup dengan seseorang berarti memilih hidup dengan ‘isi dalamnya’. Apa yang terbentuk dalam karakter dan kepribadiannya adalah ukuran sejati untuk kebutuhan rasa aman, nyaman dan adanya ruang untuk diri sendiri bertumbuh.
Otot ‘isi dalam’ (baca-jiwa) inilah yang layaknya dilatih, dikuatkan, sehingga bakat mampu respek pada diri dan orang lain tidak mandul, bakat empatik tak melempem, bakat mencinta tanpa label harga/pamrih bisa berbunga tak kenal musim,

Hidup dengan diri sendiri ataupun bersama seorang partner, akan sama-sama lengkapnya bila dalam perjalananannya berisi ‘revisi dan upgrade mata kebijaksanaan’ semata. Memilih hidup bersama seseorang tidak serta merta menjadikan hidup lengkap, memilih staying single juga tidak berarti tak lengkap. Kedua pilihan dapat sama lengkap dan sama tidak lengkapnya, keduanya akan menuju lengkap bila ada upaya tak kenal putus menggiring diri membaca nada dasar irama alam. Hidup menjadi urusan berlatih mengalir dalam rupa kewajarannya, kebersahajaannya…
hidup yang terus mencari,
tak jenuh meraba,
menjejak ritme keseimbangan..
ritme harmoni,
ritme yang telah diinspirasikan utuh oleh alam..