Jalan-Jalan
Santapan Vegan demi Bumi Kita
Kompas/Agus Susanto / Kompas Images
Pramusaji menyajikan makanan vegetarian di Tehe Resto Vegetarian, Gambir Expo Blok J, PRJ Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat (17/10).

Sabtu, 18 Oktober 2008 | 03:00 WIB

sarie febriane/soelastri S/Clara Wresti

”Save The Earth, Go Green, Be Veg”, begitu kalimat yang tertulis pada seragam pramusaji di sebuah restoran vegetarian di Jakarta Selatan. Isu pemanasan global belakangan menjadi narasi besar—juga gaya—untuk mengemas berbagai hal. Tak ketinggalan bisnis gaya hidup di dunia konsumsi. Namun rupanya, gaya hidup vegetarian memang sungguh relevan dengan isu tersebut. Berbuat baik untuk bumi dapat dimulai dari piring kita.

Apa hubungannya global warming dengan gaya hidup vegetarian? Coba simak laporan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) berjudul Livestcok’s Long Shadow, yang dipublikasi 29 November 2006 di situsnya. Ternyata, 18 persen pemanasan global yang terjadi kini ”berkat” peran seluruh industri peternakan di dunia. Angka ini lebih besar dari pemanasan akibat seluruh (jenis) transportasi di dunia yang hanya 13 persen.

Aktivitas di sektor peternakan juga menyumbang 9 persen gas karbon dioksida, 65 persen nitro oksida, dan 37 persen gas metana. Gas nitro oksida—dihasilkan oleh kotoran ternak—296 kali lebih berpotensi menimbulkan gas rumah kaca ketimbang CO>sub<2>res<>res<. Gambaran ini belum termasuk kontribusinya pada polusi tanah dan air.

Riset oleh Gidon Eshel dan Pamela Martin dari Universitas Chicago berkesimpulan, dengan mengganti pola makan hewani menjadi vegetarian, 50 persen lebih efektif mencegah global warming daripada mengganti mobil SUV dengan mobil hibrida. Lantas selorohannya, seorang vegan yang mengendarai SUV Hummer masih lebih ramah lingkungan ketimbang seorang pemakan daging yang mengayuh sepeda!

Tak heran, Dr Rajendra K Pachauri, Ketua Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim (Intergovernmental Panel on Climate Change/IPCC) di Paris, 15 Januari 2008, mengajak warga dunia mengurangi makan daging demi mengurangi pemanasan global.

Resto vegetarian

Sutrisno, Ketua Umum Indonesia Vegetarian Society (IVS), mengungkapkan, anggota IVS saat ini mencapai 85.000 orang. Padahal, satu dekade lalu masih 5.000 orang.

”Sekarang, restoran vegetarian di Indonesia saja sudah sekitar 400 buah,” ujar Sutrisno.

Tak sulit mencari resto vegetarian di Jakarta. Sebab saat ini sedikitnya terdapat 60 restoran vegetarian di Jakarta, yang sebagian besar di wilayah barat dan utara. Sejumlah pemasok atau toko penyedia bahan pangan vegetarian pun tersedia di Jakarta. Ada pula rumah sakit yang hanya menyediakan menu vegetarian bagi pasiennya.

Salah satu resto vegetarian baru di Jakarta Selatan adalah Loving Hut, yang seragam pramusajinya bertuliskan ”Save the Earth, Go Green, Be Veg”. Resto yang berlokasi di Lantai 3A Plaza Semanggi ini milik Yayasan Supreme Master Ching Hai Indonesia. Tak heran, karena tak berorientasi profit, harga makanannya cukup murah, berkisar belasan ribu rupiah.

”Misi kami menularkan gaya hidup vegetarian. Minimal mengurangi makan daging. Lewat pilihan makanan di piring kita, kita bisa berbuat sesuatu untuk planet ini,” tutur Mery Kurniawan dari Loving Hut.

Uniknya, resto ini tak mencantumkan keterangan vegetarian demi menjaring kalangan nonvegetarian. Loving Hut menyajikan masakan vegan, tanpa unsur hewani apa pun, termasuk telur dan susu hewani. Meski begitu, rasa masakannya sangat mengesankan. ”Sering ke sini karena enak. Akan tetapi, baru tahu ternyata makanan vegetarian, toh,” ujar Miko (33), pengunjung.

Resto Tri Ratna di kawasan Jembatan Lima, Jakarta Barat, merupakan resto vegetarian yang cepat saji. Pengunjung juga bisa membeli bahan pangan vegetarian di sini. Yuli, seorang pengunjung, baru merasa terkesima dengan santapan satenya. ”Lucu ya, ada seratnya. Seperti daging sungguhan,” celotehnya.

Hasil ramuan sendiri

Sekitar lima tahunan lalu di Jakarta dan sekitarnya tak mudah mencari menu makanan vegetarian, sementara pengikut aliran vegetarian mulai banyak.

Ada beberapa restoran vegetarian berdiri, tetapi jumlahnya terbatas. Padmanadi Veg Restaurant di Mitra Bahari Estate, Jalan Pakin Nomor 1 Blok A, Jakarta Utara, adalah contoh restoran vegetarian tua di Jakarta. Namun, karena lokasinya yang cukup jauh dari rumah mereka di Tangerang, pasangan suami-istri Suharjo (43) dan Linda Kasno (40) mulai membuat makanan vegetarian sendiri. Maklum keduanya dan tiga anak mereka vegetarian murni.

”Awalnya kami makan aneka menu di restoran vegetarian. Beruntung istri saya memiliki kelebihan langsung tahu bumbu dari masakan itu. Sampai di rumah lalu ia coba membuat sendiri,” ujar Suharjo.

Hasil masakan lalu mereka sajikan untuk keluarga dan kerabat, ternyata mereka memuji hasil ramuan masakan perempuan asal Langsa, Aceh, itu.

Karena mendapat pujian, Linda makin bersemangat membuat menu baru dari aneka bahan nabati. ”Saya sudah membuat sekitar 400 resep makanan vegetarian,” tutur Linda.

Pasangan suami-istri itu lalu membuka resto vegetarian Tehe di Mal Metropolis, Tangerang, tahun 2003. Usahanya sukses, lalu dibuka restoran di PRJ Kemayoran dan Mangga Dua Square. ”Belakangan, karena sibuk sekali, restoran di Tangerang saya tutup,” lanjut Suharjo.

Inovasi makanan vegetarian tampaknya akan terus berkembang, mengingat minat mengonsumsi jenis makanan ini kian meningkat. Urusan bisnis sekaligus demi bumi yang sehat rupanya bisa berjalan sejajar….

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/18/01062750/santapan.vegan.demi.bumi.kita