Oleh Chindy Tan

So In berkata:

“melepaskan penilaian susahnya minta ampun. kita udah terbiasa memakai label. dan ketika saya pernah menanyakan ke teman amerika saya, Tuhan itu apa? dia menjelaskan panjang lebar tapi saya tidak menangkap intinya. akhirnya dia mengambil sehelai daun, dia cuma bilang kalau kamu sudah memberi label ini “DAUN” maka kamu tidak mau tau daun lebih jauh lagi. kamu tau daun itu kebanyakan warnanya hijau, daun itu bentuknya begini dan begitu. dan akhirinya kamu cuma tau daun sebatas itu. anyway, ada yang mau share pengalaman mengenai Tuhan ga? please bantu beri pencerahan.” )

 

Pagi ini, saya benah-benah buku dan iseng buka buku Pemujaan Terhadap Kelompok Etnis-Harold .Isaacs. Bisa-bisanya pas buka pas ketemu halaman 91, permulaan Bab 5 dengan judul besar NAMA. Diawali dengan kutipan Hsun Tzu (CA.250 Sebelum Masehi)

“Di dalam pekerjaan Ilmiah tentang Nama-nama, terdapat tiga buah pikiran yang keliru: kekeliruan dalam mengubah nama-nama dengan nama; kekeliruan di dalam mengubah nama-nama dengan keadaan yang sebenarnya: kekeliruan dalam mengubah keadaan yang sebenarnya dengan nama-nama”

Hmm, lebih lanjut dituliskan kearifan China ada yang menyuarakan” ingin mengoreksi…hubungan antara nama dan keadaan yang sebenarnya, sehingga dengan demikian dapat mengubah seluruh dunia.” Di dalam versi William James, “alam semesta selalu tampak sebagaimana aslinya, seakan-akan merupakan sebuah teka-teki yang membingungkan, di mana kuncinya harus dicari dalam bentuk nama atau kata-kata gambaran yang jelas”

       Sesaat saya mabok habis baca paragraf ini, begitu misteri segala ritme hidup kita, begitu besar keinginan kita untuk menjembatani sejuta tanda tanya yang meraja di hati. Didi Sugandi, salah seorang sahabat terbaik saya pernah bercelutuk,”segala sesuatu ingin kita konkritkan.”  Begitu konkrit, final sudah. Misteri usai. Dan saat itu mungkin tanpa sadar kita telah membatasi ruang jumpa dengan Tuhan, ruang sentuh dengan Cinta. Ibarat seekor kutu loncat yang diletakkan dalam sebuah kotak korek api, sepengetahuannya tinggi lompatan yang bisa dijangkaunya adalah setinggi ruang kotak korek api. Ketika dikeluarkan dari kotak tersebut dia tetap melompat setinggi ukuran kotak. Tak terpikir olehnya dia bisa melompat lebih tinggi dan lebih tinggi lagi.

     Mungkin demikianlah apa yang terjadi pada elastisitas nalar dan intuisi bila segala sesuatu dipaksa harus konkrit. Tuhan, Cinta, dan Manusia adalah label yang sebenar-benarnya belum selesai dan menurut saya biarkanlah tak kenal selesai sebagai tanda tanya besar di hati kita masing-masing. Dengan begitu mungkin kita akan  bisa melihat Tuhan, sebanyak laksa entitas yang eksis dan tak eksis. Bisa mencicip cita rasa Cinta sebanyak pori-pori tubuh. Dan bisa memahami manusia dalam ruang hati yang tak berbatas, tak kenal tepi. 

Ijinkan saya bersuara bahwa ketika hati saya benar-benar menyapa hati Papa, menyapa hati sang ulat saat itulah saya diberi kesempatan bersua dengan Tuhan dan mencicip getar Cinta. Cinta adalah salah satu wajah Tuhan  dan Tuhan sedikit konkrit dalam wajah Cinta

ps. So In maap ye, malah jadi mubeng-mubeng ria, lagi mabok soale…hehe…

pesan sponsor: temen2 nyuwun pamit off line 2 minggu yee, eneng bancaan akbar (diakbar-akbarin), hihi….pareeeng