oleh Chindy Tan

Shifu Ripsi!
Ni cente cente wo te Shifu!
Aiih, aih…sayang bener pemikiran-pemikiran manjur bin markotob sampeyan hanya beredar di blog ini. Cobalah, coba cari jalan untuk masuk ke sasana politik. Atau mungkin coba realisasikan pemikiran-pemikiran tsb dalam kelompok kecil. Ajak siapa saja yang mau dan bisa membantu. Borok dalam dunia politik di negeri ini tidak akan pernah kering jika tidak ada yang mau secara serius menganamnesa dan menegakkan diagnosa secara tepat,bukan diagnosa coba-coba yang salah satu buntutnya gonta-ganti kurikulum melulu. Selama ini, tindakan yang diambil hanya simptomatik, mengacu pada gejalanya saja, tidak utuh menjajaki mata rantai penyebab. Hingga ibarat kanker, kita sibuk mengutak-atik anak sebar bukan induknya.


Protap-prosedur tetap pola kompetisi perpolitikan relatif seragam pada pola: Tebar pesona-jual bibir-kulakan suara dg serangan fajar. Mau sampai kapan borok negeri kita diobati dengan resep gombal seperti ini?
          Asa tak boleh putus, satu jurus jitu yang layak diperhitungkan adalah kampanye modal aksi, bukan bibir. Syarat maju ke sasana politik bukan draf program, melainkan rintisan progam. Bunyi draf bukan AKAN blablabla, melainkan TELAH. Misalnya untuk masalah pendidikan. Masih ada satu juta lebih anak yang tidak dapat melanjutkan pendidikan karena biaya yang tidak terjangkau kocek. Apa yang TELAH dilakukan partai-partai politik untuk fenomena ini? Jangan bilang AKAN mengupayakan sekolah gratis melainkan sodorkan bukti apa yang telah dirintis untuk mengurai benang kusut dunia pendidikan kita. Jika ada dalih, kan belum punya kuasa, jadi seberapalah atau apalah  dayanya?


   Satu orang Bahruddin menunjukkan pada kita arti daya dan tak perlu tunggu tampuk kuasa itu ada ditangan baru bisa bergerak. Pada tahun 2004, Bahruddin dapat merintis sebuah sekolah alternatif SMP Qaryah Thayyibah yang nyata membuka mata kita semua, mitos sekolah bermutu identik dengan mahal adalah jubah komersialisasi pendidikan.


Seorang ibu penjual jamu gendong tidak pernah bermimpi anaknya dapat mencicil satu perangkat komputer murah, hanya dengan menyisihkan uang 1000 rupiah per hari. Ide yang lahir dari kejelian membaca titik-titik esensi didik.  Sekolah butuh apa sih, sebenar-benarnya? Bukan gedung mewah, bukan semata lapangan basket, golf, kolam renang atau apalah. Anak butuh interaksi, anak butuh ruang tumbuh,  anak butuh pengalaman, biarkan rasa ingin tahu mereka melanlang tanpa batas di ruang internet, di alam terbuka, di massa, dan dalam interaksi mereka dengan teman sebaya. SMP QT bermula dari pinjaman tempat salah satu warga Kali Bening, Salatiga. dengan jumlah siswa hanya 12 murid yang kini telah mencapai 200 anak. Uang sekolah sumbangan sukarela, BENAR-BENAR SUMBANGAN SUKARELA, jadi dari nol rupiah hingga 15 ribu per bulan, “kalo dipatok minimal berapa bukan sumbangan namanya” cerita pak Bahruddin pada saya (saat kami pulang bareng dari acara  Festival Internasional Perfurbance#4 di desa Krinjing, Muntilan). Bandingkan dengan Tiara Bangsa yang uang masuknya 10-50 juta rupiah!  Metode pengajaran mengadopsi kurikulum pendidikan terbuka namun dihibrid dengan konsep home schooling dari luar dan kekeluargaan dari budaya kita sendiri.  Makanya disebut juga berbasis komunitas, anak-anak sarapan di rumah warga, warga secara bergiliran memasakkan makanan. Tujuannya agar anak-anak terbiasa berinteraksi dengan masyarakat. Potensi dan bakat anak dihargai sebagai keunikan masing-masing, jika ada 10 anak, maka ada 10 potensi dan bakat yang ada. Guru hanya sebagai pendamping anak untuk bertumbuh. Tidak mesti berseragam sekolah, dan di kelas anak tidak harus mengikuti pelajaran yang ada, boleh mengutak-ngatik pelajaran lain yang disukai saat itu. Sekolah ini dengan pendekatan yang simpatik, mendapat dukungan fasilitas akses internet 24 jam dari indonet Salatiga. Metode pembebasan ini agak mirip dengan metode pendidikan pemerdekaan oleh Romo Mangun yang juga senada dengan apa yang diterapkan oleh Kobayashi kepala sekolah Tetsuko kuroyanagi-Totto Chan.
         Rasa ingin tahu ditumbuhsuburkan dan difasilitasi dengan akses info tanpa batas dari internet. Hasilnya? Luar biasa! Album lagu jawa ditelorkan dan mampu menembus pasar. Lalu sejumlah film, novel dan karya tulis yang dihasilkan anak-anak dusun. salah satu siswa SMP ini pernah menjadi runner up lomba karya tulis online mengalahkan mahasiswa dan seorang akademisi.Betapa pesat dan semarak potensi yang dapat tumbuh dari dalam diri tiap anak bila diberi ruang tumbuh yang bebas dari kekangan dan tekanan.
      Sahabat, ijinkan saya bermimpi, negeri ini akan dipimpin oleh sekian-sekian spirit Bahruddin dan Richard Paulus, Butet Manurung, Dewi’Dee’Lestari, Andrea Hirata. Spirit yang menjaga api keadilan, api aksi, api asa dalam diri setiap kita untuk JANGAN PERNAH PUTUS HARAPAN, terus dan teruslah memasang mata dan hati dengan kejujuran yang sangat pada semua masalah di negeri ini, sekusut apa pun benang yang membelit, kejujuran akan mengantar pada kejernihan dan kejelian, ujung belitnya akan tampak.