Oleh : Chindy Tan

UuuuPs!
Kaget eeuy…tiba-tiba ada yang nabrak. Si Abang Ripsi ni ga ngebel dulu, kluntung-kluntung tau-tau ude selonjoran kipas-kipas asoy sambil nyuruput kopi tur sertamerta bersuara…

“nggak semua bugil itu pornografi. memaksakan apa yang ada di otak kita kepada keberagaman bunga itu merusak keindahan taman. gua pikir, pondasi berfikir semacam itulah yang membuat bangunan ekstrim menjulang tinggi, hingga kemudian ambruk sebagai menara babel.
kedangkalan berfikir memang, saat menganggap orang bugil sama dengan pornografi”

Topik’e malah jadi makin berbunga-bunga jej! kali ini tamasya ke taman bunga bugil.

Naked Daisy Flower
Hmm, omongin bugil jadi ingat Ocha (4thn), anak asisten saya pada saat sedang mandi pernah bertanya pada Mamanya, ‘gajah’ Mama seperti apa? Gelagapanlah mamanya, tak tau bagaimana harus menyikapi pertanyaan Ocha. Apakah pertanyaan seperti ini porno? Rasa ingin tahu yang alamiah, mengalir sebening embun. Bebas tendensi eksploitasi, bebas dari unsur pelecehan, sikap hormat tidak dibuat-buat tetap ada di sana. Di mana batas porno dan tak porno dapat diberi tanda?

Nafsu syahwat secara alami dimiliki oleh manusia sama seperti nafsu-nafsu lainnya, namun nafsu selalu punya dua mata kail, satu yang runcing dan tajam siap mencucuk hidung, namun mata kail yang lain adalah mata kail tumpul dan licin hingga ada ruang untuk mengambil arah yang berbeda dari nafsu itu sendiri. Bila (diri pasrah saja) dicucuk kait tajam, diri jadi alas kaki nafsu, mengekor kemana saja nafsu menggiring. Namun bila memilih bergantung pada mata kail yang tumpul, kapan saja kita mau, kita dapat melepaskan diri, tidak mengekori nafsu namun berjalan beriringan dengannya. Memasang mata padanya dan bebas mengatur jarak, menempatkan diri sebagai pengamat bukan kroco.


Barangkali sebagai ilustrasi saya ingin berbagi pengalaman saya saat mencoba mengatakan tidak pada rasa ngiler yang sangat terhadap durian. Saya tidak bermaksud menyamakan dorongan berahi dengan dorongan makan, namun ada kesamaan pola bagaimana dorongan itu menggedor kesadaran kita. Mengguncang keinginan dengan amat sangat yang kata beberapa rekan bisa sakit kepala bila tak dituruti. Saya sangat sangat doyan durian, ketika saya ke indogrosir pas saat itu durian bangkok sedang dibuka untuk dipaket. Begitu masuk, wangi aromanya sudah memaku hidung saya, refresh rekaman betapa daging durian yang tebal, empuk dengan aroma yang aduhai wanginya langsung online. Sontak produksi liur meningkat, detik itu saya iseng memilih mengamati bagaimana kerja dorongan hasrat ‘giur ngiler’ berusaha mendikte diri. Keinginan yang sangat untuk mencicipi saya coba beri jeda, coba beri jarak dengan memasang mata pada gerak hasrat ngiler tersebut. Terhitung sejak hidung terhipnotis wangi aroma durian, air liur ngeces deras, hangat rasanya mulut ini, sampai rasa giur rasanya makin membesar, ngiler makin menjadi-jadi, menguat serasa semakin penuh, semakin memenuhi ubun-ubun, memang agak puyeng ketika keinginan itu rasanya menyentuh ubun-ubun, bombastisnya tembus ubun-ubun namun lalu selang beberapa detik sesudahnya, tek..tek…teek rasa pelan tapi pasti bersalin rupa bersama waktu kadar ngiler berangsur-angsur surut, melemah dan terus melemah hingga kembali biasa. keadaan biasa seperti sediakala. tak ada riak, tak ada ombak.
Demikianlah bagaimana modus rasa memeras, mendesak kesadaran kita, yang akhirnya mencucuk perilaku kita. Kembali ke masalah esensi porno. Porno sejati tercetak pada pola bagaimana kita merespon setiap rangsang yang datang menyentuh wilayah nafsu. Sebuah kasus pelecehan terjadi yang pelakunya tak kuasa menahan diri lepas menonton pentas dangdut. Penyanyinya tak berbugil ria, namun pelecehan tetap terjadi. Benang merah apa yang bisa ditarik menghubungkan tanya dan jawaban atas kasus ini? Gaya erotis. Mungkin. Namun kalau boleh berpendapat, kegagapan diri terhadap nafsu birahilah yang menjadi akar, gaya erotis hanyalah ranting. Bila hanya mati-matian memotong ranting, tak akan kunjung selesai petaka yang timbul dari gapsuwat, gagap nafsu syahwat.