Oleh: Chindy Tan

Gac yang baik,
Jangan bingung adikku*untung ada Bang Ripsong dengan segera beri senter*
filsafat bukan produk negeri di awan, melainkan sangat membumi jej;)
jika oksigen adalah dzat utama pemantik api dalam jasad fisik, maka filsafat adalah pemantik api jiwa kita.

filsafat bukan menu orang kurang gawean, tiap detik kita sedang bermain dengan filosofi(jika tombol kesadaran berusaha dijaga on). Bercanda dengan hidup tanpa filosofi tak beda bercanda dengan boneka barbie yang diberi baterai. Tersenyum tanpa tau kenapa dia tersenyum. Cekikikan bukan karena geli. Garing. Tak ubahnya dengan seonggok daging yang seliweran tanpa roh. Sungguh, manusia harus gentar bila (ternyata) hidup tanpa filosofi. Hidup tanpa akar. Hidup tanpa dasar.
Gac, saya mencoba membaca kegelisahanmu. Mengutip pertanyaan teman-temanmu,”Gac loe mau jadi apa sih? Penulis apa arsitek?” Rundung gelisah yang nampaknya belum ketemu tepi, melahirkan sejuta pertentangan. Iya, ya…aku kan arsitek, kudu bisa milih lah. prioritas, arsitek, arsitek, arsiteeek. tapiiii aku juga pengen tau yang laen(sastra barangkali? or budaya? humaniora? whateverlah) mungkin kira-kira demikian gelisah yang nyumbat ditenggorokan Gac jika boleh saya coba uraikan. (maaf kalo sok terawang;)


Hmm…Gac, pertama saya ingin menarik kata-kataku tentang :a bit contra with ur dream. Bukan kontra melainkan memiliki warna yang berbeda. Kepekaan seni yang menggelegak dalam diri Gac sedang menarik fokus Gac ke arus arsitekturia. No problemo, keep that sense high. Tetapi, dasar dari bidang arsitektur, dasar dari semua ilmu malah, semua bermuara ke filsafat. Sejarah dalam dunia edukasi, saya lupa abad ke berapa ketika pendidikan tinggi pertama kali diformalkan, semua jurusan harus belajar filsafat terlebih dahulu. Mengapa? Karena tanpa filsafat, ekonom hanya akan jadi Paman Gober yang taunya lepas stres dengan nyebur ke gudang duitnya. Tanpa filsafat, arsitek hanya akan jadi tukang rancang tak beda dengan program autocad. Belajarlah dari Bapak Arsitek yang holistik di negara kita, Alm. Romo Mangun. Tak ada satu sudut kehidupan yang diabaikan Beliau. Beliau membangun perkampungan kumuh Kali Code menjadi layak huni, sebagai hasil bacaan adanya kesenjangan sosial, ekonomi dan politik. Tak perlu jiplak plek langkah beliau, tetapi dalam merancang prinsip-prinsip dasar keseimbangan pengguna-manusia, apa yang digunakan-alam dan dampak dari rancangan tersebut mungkin bisa menjadi pandu. Bangunlah rumah yang tidak saja ramah bagi pemiliknya tetapi juga ramah terhadap sumber-sumber Bumi: efisien air, listrik, minim polutan, ada yang sudah zero waste malah, dengan demikian dampak buruk yang ditimbulkan pada Bumi juga minim.
Rancangan bangunan di Inggris misalnya, daur ulang grey water bisa mencapai 11kali. Bahkan The Adam J.Lewis Center untuk lingkungan di Univ Oberlin, Ohio, telah menemukan the art desinfectan system untuk membersihkan air  toilet hingga dapat digunakan kembali, tentu bukan untuk minum yee;) Prinsip penggunaan sumber alam yang seefesien mungkin. Filosofi daur ulang air ini mencontek prinsip daur ulang air dari gunung, hutan dan tanaman air. Di Indonesia, hotel-hotel di Bali beberapa sudah menerapkan sistem ini. Para desainer Smith Grup pada tahun 2002, bangunan yang dibangun 1/3 energi listriknya dipasok dari geothermal heat pumps, suatu sistem yang memanfaatkan panas bumi dan panel bangunan photovoltaic yang mengubah sinar matahari menjadi listrik.Di Jepang malah sudah ada kompleks yan listriknya dipasok dari pembakaran sampah-waste energi.

Dan sebuah maha karya dari Glenn Murcutt, peraih Pritzker prizewinner for architecture, mengembangkan rancang bangun yang meniru kemampuan adaptasi manusia terhadap perubahan suhu. Jika dingin kita pakai jaket dan jika panas kita lepas. Idenya sangat sederhana. Sekali lagi filosofi berbicara di sini. Bangunan Rancangan Murcutt ada di Australia. Rumah tanpa AC dan ketika musim dingin tanpa pemanas. Pada musim panas, di wilayah tenggara Australia, suhu dapat mencapai 41 derajat Celcius, namun di dalam rumah rancangan Murcutt yang dibangun di Adelaide Hills untuk saudaranya hanya sekitar 24 derajat Celcius! Sedangkan pada musim dingin ketika suhu diluar mencapai nol derajat, di dalam rumah Murcutt tetap hangat dengan suhu 17 derajat Celcius.
Tidakkah ini menakjubkan? Rancang bangun selayaknya terus berevolusi membaca ritme alam dan berdenyut selaras dengannya, sampai satu nada. Mungkin pada saat itu, zero energi yang terbuang, zero sampah yang dihasilkan. Satu lagi, bukan hanya rumahnya yang waras tetapi juga penghuninya dengan merancang sebuah kompleks yang memungkinkan anak-anak tumbuh dalam ruang interaksi yang sehat dengan tetangga. dengan alam, dan dengan binatang seperti yang digagas di swiss. Membangun kompleks khusus untuk binatang peliharaan dan tanaman peliharaan. Dan semua ini butuh pemahaman aspek sosial, budaya, psikologi, multi disiplin ilmu dah. So banyak2lah membaca yaaa, hehe…..
Gileee ini dudu komen tapi artikel saingan jej! hihihi…ku upload di blogku ye
hieep..hieeep..hurrraaay!