Richard berkata:

Sejenis Festifval Seni Pertunjukan Kontemporer Perfurbance memang membuka mata. Disneyland memang mengagumkan. Child Care memang mengajar. Primagama memang menjanjikan. Demikian halnya dengan tempat-tempat lainnya yang membantu pertumbuhan si kecil.

Sehebat apapun dunia menyediakan fasilitasnya, nyatanya anak tetap dibesarkan di rumah, dimana nilai-nilai dibangun. Rumah yang sejuk menciptakan generasi yang menyejukkan ditengah dunia yang mulai panas.

Sayangnya, kita berhadapan pada suatu realita, dimana kebanyakan generasi ini memang panas karena kehilangan hati seorang ayah, dan sentuhan seorang ibu. Saya pikir, dari rumahlah seharusnya kita mengkonsentrasikan pergerakan menyejukkan itu, dimana kesimbangan spiritual, fisik, mental dan sosial akan ditularkan demi masa depan bumi yang lebih bermakna. Dalam kesejukan sebuah rumah pasti tersedia solusi untuk meminimalisir sampah literal atau kiasan dalam kehidupan ini

onlyoneearth said, September 18, 2008 at 5:03 pm

Wo pei fu ni Rip!
melakukan sesuatu tidak perlu besar, sing penting setia. biar kecil asal terus. Berbagi di rt-rt jauh lebih pendek jarak antara kata dengan tindakan. bisa langsung ditindaklanjuti, yang selanjutnya mereka sendiri akan saling memantau dan memelihara kesadaran tersebut. Memang tidak selalu mulus, tapi dari pengalaman, masyarakat kita sebenarnya relatif masih polos, jiwa mereka masih murni jadi mudah menerima info dan ikatan kekeluargaan menjadi pondasi ketika meraka diajak untuk menerapkan apa yang disampaikan.
        Rumah adalah kunci perubahan. Betul kata Ripsi, kita awali dari rumah dalam hal ini ibu berada pada garis terdepan. Saya masih ingat sewaktu kecil Mama selalu meminta saya untuk menunggu pemulung yang lewat, untuk diberikan botol kosong, ember pecah atau barang apa saja yang sekiranya dibutuhkan pemulung,” sayang kalo dibuang” kata Mama. Hal-hal seperti ini mungkin remeh tapi interaksi dengan dua orang pemulung sangat membekas di hati saya, banyak manusia-manusia lain yang harus hidup dalam kesusahan yang sangat Mereka adalah pasangan suami istri yang menurutku sudah tua. Sudah seuzur itu masih harus berjalan entah berapa kilometer di bawah panas terik. Hampir setiap hari sepulang sekolah saya melihat mereka. (Kendari adalah kota kecil, jalan utamanya cuma satu)
Hati selalu iba melihat mereka, pernah satu kali masa imlek uang angpaoku kuberikan pada mereka. Mungkin sikap ini kurang tepat, tapi saya sulit membendung rasa* * Alm. Papa paling pantang memberi uang kepada peminta-minta, tapi Papa tidak pernah menawar dan menolak orang yang datang berjualan buah di toko. Di kota kami (kendari) banyak penjaja buah keliling. Adik saya pernah bertanya mengapa Papa langsung beli tidak menawar dulu. “Kasihan, mereka juga cari uang”. Sikap Papa saya coba pahami sebagai jika membantu atau menolong, bantulah dengan bijak. Memberi uang pada peminta-minta hanya akan membuat mereka terus hidup dengan ’sampah-malas’ dalam diri mereka. Mereka yang telah berusaha bekerja harus dihargai, meski mungkin tidak bisa maksimal, rengkuhlah semampu tangan menjangkau.
Sampah-sampah kiasan jauh lebih membumbung lagi Sobat, dan kita harus jeli melihatnya agar jika niat membantu, tidak kesiangan, bukannya mengerok malah menambah tebal kerak lapisan sampah di hati Saudara kita yang lain

Terima kasih Rip, sudah mau berbagi