Bertukar isi hati dan isi otak adalah salah satu proses manusia memanusiakan dirinya. Ada dialog di sana. Dialog yang dituntun oleh tanya demi tanya, karena manusia sepanjang hayat peradabannya adalah makhluk yang belum selesai dengan dirinya. Ripsi seorang yang ogah diam dengan seribu ujud kesenjangan yang mencocok mata dan aromanya mengiris hidung (peseklah kita semua,hehe). Dia memilih membacanya dan membedah mencoba menguraikannya, melihat pion-pion kunci sumber kesenjangan tersebut. Dia memilih menjadi jarum pentul dibokong setiap hati agar tidak diam, melainkan bersuara dan bertindaklah. Hanya dengan demikian manusia sadar dia sedang di kubangan, beranak pinak di kubangan dan mau keluar dari kubangan itu. Diskriminasi etnis adalah salah satu kubangan yang telah sekian lama dipilih manusia (ttt) untuk terus hidup di dalamnya dan tulisan di bawah ini adalah dialog (tak langsung) saya-Chindy dengan Ripsi untuk masalah etnis. Lebih tepatnya adalah respon bolak-balik dari Ripsi-Saya untuk artikel What’s in a name.  Ajian Ripsi yang sangat menyentuh hati saya adalah : terbuka untuk diuji dan tidak memaksakan kehendak. Manusia akan mampu merubah dirinya bila mau membuka diri untuk diuji oleh fakta, menguji dirinya sendiri juga dengan fakta. Jika teruji, terbukti apa yang dipelihara di kepala dan hatinya justru menjadi salah satu sumber senjang (rasis, misalnya) tidak ada jalan lanjut selain jujur mengakuinya dan menanggalkannya.

 

Kejujuran pada dirinya sendirilah yang akan memaksa manusia untuk berubah. Inilah hidup yang fair, hidup yang bertanggung jawab. Kita semua sedang belajar cara hidup, karena dengan memahami cara hidup, saat itu juga kita paham cara mati

Richard berkata: babe gua, satu-satunya kakak gua dan salah satu abang gua mukanya cokin abis, en ganteng-ganteng juga cakep abeees… hahaha nggak kayak gua yang amuba (asli muka batak). walau abang gua laennya yang muka bataknya keren-keren *nasib gua kali yak*

waktu tahun 50-60′an di medan, bergejolak pembantaian terhadap cokin-cokin, dan babe di stop mau dibantai juga. wakakakakak… dia langsung ngomong bahasa german begini: “a roa, olo doho hu tunjang”, yang artinya: “apa lo, mau gua matiin lo”. *maklum, darah muda* wkwkwkwk… en ngibrit tuh rasis. makanya, laen kali kalo ada yang songong soal rasis, gertak aja, kalo perlu gamparin mukanya sampe bengep pake jurus kungfu gorilla (diatasnya kung fu panda) *geram* btw, kampung si babe juga punya sejarah, kalau kublay khan pernah mampir disana. dan kalau belajar budaya batak, toraja dan taiwan, disana ada kesamaan relief dalam produk2x budayanya. katanya sih, karena si kublay memang lewat zona itu.

so, only one earth itu rasional kok. karena bisa jadi, dibalik muka gua yang batak ini mengalir darah kublay juga. so what? selain secara ius soli gua Indonesia, namun nggak tertutup kemungkinan gua cokin juga. kalo ada yang keberatan, sini datengin gua dan tolak gua, biar gua pecahin kepalanya. sok jagoan kah gua? memang, dan lawan yang sok jagoan pun terkadang perlu pake cara jagoan juga. udah ah, puas gua cuap-cuap disini sekalian mau muntah kalo ternyata masih denger kasus beginian di negri ini. *turut bedukacita jeng, dan kontak my e-mail kalo ada yang ekses*

btw, kakakku yang mukanya cokin abis udah di N.Y. ha ha ha… padahal dulu, anak hukum itu hobi ngurus kasus yang beginian. tapi kayaknya bosen juga, karena sebenernya bukan masalah rasis, tapi masalah minta persen. so, colok aja congor “mereka” pake duit biru empat lembar, pasti langsung oyeee… *binatang aja nggak gitu toh*

@Ripsi:

WhuuaaAa! Ripsong batak rupanya, HhhuuoOras Bah!
Batak punya cetakan jejak yang dalem diidup saye, cieee
wt SD sohiban sama Siregar, dia tu batak yang paling alus dan lembut yang pernah saya kenal. dialah yang ngajak ke gereja, kenalan ama Yesus.kami sohiban sampe SMA lo
truuus, Harry Siiii..aduh aku lupa marganya.batak yang suaranya masih mengalun detil dibenakku, soale sama frater Sabinus tak pernah absen ditegur…”kau ni ya, batak yang paling susah dicerna suaranya” aduh kasian si Harry tapi dia hebat tak pernah keliatan minder, tujuh jempol deh untuk PEDEnya, teteeep aja dia nyanyi saat frater gedhekgedhek denger suarane

saat kuliah, hari pertama urusan registrasi aku sebelahan sama Airy Pangaribuan, gileeee, galaknya minta ampiuunn. tapi hatinya malaikat aja kalah. saya belajar banyak dari Riri. belajar patuh sama kejujuran, keras pada niat serong dan blakcablakan abis. solidernya juga bulet belum nemu cacatnya. saya sangat ngerasain saat salah satu temen kami ditimpa kesusahan. Ibunya melarikan diri dari Tobelo, Maluku Tenggara karena pertikaian antar agama saat itu. Berhari-hari di atas laut karena hanya bisa numpang kapal kecil, dan setiba di Jogja kondisi psikis beliau sangat terguncang*sigh* beliau sangat peka dengan suara apa pun, sekecil apa pun akan membuatnya terjaga. Riri tanpa ba bi bu, ngumpulin kami semua, waktu itu berenam kami sangat dekat, mencari alternatif apa yang dapat dilakukan untuk membantu.Riri, salah dua sahabat saya yang masih ngendon di Jogja, lainnya ude mencar-mencar ikut arus nasib.

Jejak indah akan batak adalah taon lalu, saat bantu liput launching INLA di Jakarta. Seorang nenek yang saya wawancara setelah saya menanyakan namanya, beliau balik bertanya,”siapa namamu Nak?”
“Chindy Bu”
“Chindy siapa” kejarnya lagi
“Chindy Tanjung Bu”
Kaget bukan main, Ibu itu langsung memelukku seraya berkata,”Oo Tanjung?” Saya Pasaribu, Kau cucuku Nak…panggil aku Opung”
Oaalaaa ternyata Tanjung itu padanan Pasaribu jack, ampiun deh.
emanglah sepuluh orang yang ngeliat aku sepuluh suara dengan mantapnya nebak aku batak. Banyak untungnya seh, salah satunya pernah dapet diskon dobel wt beli buku di stand Kesaint Blanc yang ternyata penerbitan milik orang batak, gara-garanya waktu diminta nulis nama di nota kutulis tanjung, dapet rejeki nomplok deh,hihi….Memang benarlah apekate Bang Ripsong, Batak ya China China ya Batak. tapi bibir saya gatel mau lanjutin, China ya Manusia, Batak ya Manusia, Jawa juga Manusia, semua, semua, semuaaa ya Manusiaaa
Yaaah begitulah Rip, malah curhat ya….tks anyway. masalah kulit, kita harus berani bermimpi generasi-generasi selanjutnya punya keberanian berganti kulit, menanggalkan kulit purbasangka yang sudah amit-amit purbanya
Damediportibion!