Ada berapa ruang pikir yg dapat dikembangkan dalam diri tiap kita?
Menurutku tidak terbatas tapi juga bisa sangat berbatas. Cendek. Ketika sedikit saja sentilan, teguran,”kok sampah kertasnya masih nyasar di tempat sampah organik?”keluh bu Tuti. “Si mbok mungkin bingung liat saya, sampah salah kamar aja dipikirin segitu ribetnya” lanjut bu Tuti berkeluh kesah kepada saya.

Hmm, memang tidak mudah membiasakan dan membentuk perilaku. Saya jadi ingat cerita bu Suyanto dari wilayah percontohan swakelola sampah. Tak putus mereka mendekati warga, dalam tiap pertemuan selalu mengangkat pentingnya dan betapa simpelnya nambah kantong sampah di rumah untuk mulai memilah. Demi nasib TPA Piyungan di Jogja yang dlm hitungan dua tahun lagi tak bisa lagi tampung sampah. Terus dan urun rembuk terus digelar. Tapi, tetap masih saja ada yang nyeletuk,”buang sampah aj kok ndada’ mikir”
Ketika nalar tak dipakai, hanya dijadikan manikin yang didandanin molek, necis. Penampilan lagak intelek sejati tapi kelakuannya, maaf, telek aja masih punya arti di tanah, masih bisa buat subur tanah. Namun manusia yang malas berpikir?
Gelar berderet disandang pun namun sampah dengan enaknya asal dicecer. Ini pengalaman saya, terhitung dua kali. Sebelumnya saya mohon maaf jika terkesan ada justifikasi, ijinkan saya membawa hati saya tidak merasa lebih baik dari siapa pun termasuk rekan yang memilih mencecer sampahnya, pas ketika saya ke WC, balik ke mobil rekan saya terlihat terburu-buru membunag tisu dan bungkus makanan dari dalam mobil. Juga ketika pulang dari melayat seorang rekan yang lain, pas hari yang sama saya menceritakan ide ‘Gerakan Sapa Sahabat’ Gerakan memungut puntung rokok atau sampah apa pun yang dicecer pas di depan orang yang melakukannya dan memberikannya kertas pembatas buku yang berisi pesan yang menyentil kebiasaan ini, kaget setengah mati. Barengan di mobil ambulans, permen dibagikan, rekan bersangkutan membuang kulit permennya di jalan. spontan saya bersuara,”Kok di buang ke jalan Bu?” Dikantongi dulu kan bisa…”Malas ah, nggowo sampah” jawabnya. Demikianlah adanya kita Sobat. Sekali lagi saya tidak merasa lebih baik dari siapa pun. Saya hanya seperti Zaiya(3thn) yang spontan menjerit,”Masyaa Allah!” ketika temannya menggambar pakai crayon di lantai dan menyodorkan kertas gambar. Ada tempatnya. coret di lantai kurang elok, ada tempatnya..coretlah pada tempatnya. Begitu juga dengan Sampah. Ada satu ilustrasi yang saya usulin dalam gerakan Sapa Sahabat ini, “Tubuh manusia, dari ujung rambut hingga ujung kaki, kotorannya tidak sembarang kita cecer. Kotoran telinga tidak kita ulas di jidat. Upil tidak kita totol-totol di pipi. Beol tidak di kebon tetangga, di kebon belakang atau di halaman depan tapi ada tempatnya. Semua kotoran ada tempatnya. Oleh karena itu, bagi saya cecer sampah sembarangan ibaratnya sama dengan mencecer upil di wajah. sendiri. Jorok kan…
Manusia berani mengaku mulia karena konon satu-satunya ‘makhluk berpikir’ namun ketika diminta sedikiiit saja beri ruang pikir untuk dampak satu puntung rokok atau satu bungkus permen disahuti dengan,”gitu aj kok ndada’ mikir” dan akibatnya? Ungkapan Amit-amit saja blm cukup punya gigi (baca menggigit) untuk menggambarkan dahsyatnya kekonyolan dampak dari malas pikir
atau ‘sebodo amat’ ini.

S e b u a h p u n t u n g r o k o k menyulap satu SPBU, plus satu mobil truk, plus satu sepeda motor menjadi arang dalam satu kejapan mata. Tujuh unit pemadam kebakaran diturunkan, tiap truk harus bolak-balik sampai 5 kali untuk mengambil air, barulah api padam. Jalan Siliwangi, dari arah Semarang-Kendal macet selama beberapa jam.
Coba, mau kurang konyol seperti apa lagi. Kata konyol saja angkat tangan untuk mendeskripsikan dampak sikap sembrono menyepelekan satu puntung rokok ini. Terlalu dibesar2kan? Ah tidak juga, semua ini realita kok. Tempat dan bukti kejadian masih mengepul asap, baruuu saja kemaren senen kedadiane, 10 September 2007. Pergi dan tengoklah ke sana saksikan dengan mata kepala sendiri.

Bangsa ini tidak akan pernah menjadi BESAR bila untuk hal-hal KECIL saja kita sembrono, sebodo amat, sampai kapanpun kita tidak akan bergerak dari kekonyolan demi kekonyolan. Ada satu ilustrasi gambar karikatur dalam buku Saudara Bumi Saudara Manusia, Sikap Iman dan Kelestarian yang sangat menyentil hati saya. Seorang anak kecil duduk menyenuk bersama neneknya di atas atap rumah mereka, mungkin dengan tatapan nanar melihat genangan air karena banjir yang menyentuh atap rumahnya, seolah sedang berlayar numpak perahu ( dengan latar Tugu Monas, pastilah Ibune kote Indonesia nyang dimaksud, DJakartee).

Bocah ini bertanya pada Mboknya,”Kita ini mau dibawa sampai dimana Mbok?”

“Sampai kita sadar apa yang membuat kita sering kebanjiran Tolol!” Seru Mbok’e