Merdeka!
Pekik merdeka ini punya siapa Sobat?
Papa saya, sekitar taon ‘97 pernah dipanggil ke pengadilan. Grujug-grujug karena pemakaian nama Chandra pada adik saya. Papa didakwa melanggar aturan kewarganegaraan. Adik saya lahir taon 1983, begitu lahir udah nyandang nama Chandra padahal status kewarganegaraan kami saat itu masih ASING-WNA. Sementara WNI kami keluar taon ‘95.  Kewarganegaraan kami ini udah diurus sejak jaman biyen, sejak aq masih TK nol kecil Sobat…berarti arsip kami udah ‘debuan’ selama 15 taon di kantor Catatan Sipil, barulah kelar.


     Kembali ke masalah nama. Papa digugat karena memberi nama Chandra pada adikku sebelum absah jadi warganegara Indonesia keturunan. Dengan kata lain status masih asing tapi sudah berani memakai nama Indonesia. Kerutlah kening semua orang yang dengar aturan ini, benar aneh tapi waktu dan tempat merekamnya.


Saat ditanya Jaksa, “Apakah Bapak tidak tau aturan pemerintah tentang pemakaian nama pribumi?”
“Tau..jawab Papa
“Lalu kenapa masih memberikan nama Chandra pada putra ke-6 Bapak?”
“Saya mendapat wangsit Pak, saya mendapat penglihatan dalam mimpi saya beberapa minggu sebelum anak saya ini lahir. Saya bertemu dengan seorang tua yang berpesan untuk memberi nama Chandra. Dan saya tidak berani melanggar wangsit ini, takut kalau anak saya bisa sakit-sakitan atau terjadi sesuatu padanya,”Jelas Papa
Selanjutnya, alhasil karena undang-undang tak mampu menjerat wangsit, Papa lalu dibebaskan. Untung saja!
ini baru seuprit serpihan realita yang benar-benar terjadi di tanah air kita Sobat. Kerangkeng punya kemasan elit,undang-undang bro!! Dengan sadar di godok dan diterapkan di negeri kita ini. Hak untuk pilih nama saja diatur sedemikian ribetnya! Mungkin sekarang aturan super wagu ini sudah tidak lagi, saya tidak tau bagaimana perkembangan terakhirnya. Hakikat nama apa sih? What’s in a name? Gugat Shakespeare. Paling banter bisa tertinggal di nisan. Tapi itupun bisa bertahan berapa lama sih? Di Jakarta saking terbatasnya lahan, kuburan pake sistim kontrak. Kalo tidak perpanjang nisan akan disruduk buldozer. Ratalah nama kita dengan tanah!    
     Masalah etnis, dari jaman kolonial tragedi Angke sampai kerusuhan ’98 tempo hari, menggurat histori yang selalu sontak perih bila terlintas lagi sobat. Jika otak bisa di setel, ingin memori ini dibuat amnesia saja!
     Tak ada satu batang hidung pun yang bisa memilih akan terlahir sebagai etnis apa! Probabilitasnya beda tipis dengan mata dadu yang dilempar. Keragaman yang sewayahnya indah, disusupi waksyangka dan memolesnya menjadi sumber tragedi. Hingga ada seorang yang ditemui Goenawan Mohamad di jalan ke-53 di New York, memilih menyebut dirinya ‘eks-Yugo’tidak Serbia, tidak Kroasia atau Bosnia. “Saya menampik diberi identitas etnis. Dan saya adalah seorang atheis dalam hal etnis,”tandasnya. Mengapa? “Saya datang dari sebuah negeri di mana orang membunuh dan dibunuh hanya karena berada dalam sebuah kategori tertentu dalam kitab sensus.”
     Sejarah merah negeri kita ini pernah menyajikan fakta, kepala orang Madura jadi the most wanted. Kepala ditenteng kemana-mana dengan entengnya oleh seraut wajah tanpa rasa bersalah, malah senyum tersungging dibibirnya sobat! Wallahualam!
Rumah orang Tionghoa jadi halal jarahan. Jerit tangis anak kecil, wanita, pria asal dia Tionghoa, anggap saja sunyi!
Apa bedanya saya dengan yang lain Sobat? Kulit orang Tionghoa, orang Yahudi, Orang Madura, Orang Serbia kalau dikelupas..DAGING & DARAHNYA SAMA MERAHNYA, bahkan kentut pun tak ada yang lebih wangi dari etnis manapun!
Kapankah peradaban kita bergerak melihat manusia sebagai manusia?