Apa sih arti perbuatan kita kalau kita hanya seorang diri memisah sampah, membuat kompos, hemat listrik, hemat air, mengurangi makan daging, mengurangi konsumerisme, sementara jutaan orang di luar sana tidak peduli dan terus menjalankan hidupnya seperti biasa?”   A Thank U note(dee-idea.blogspot.com)

Sahabat, sewaktu kecil saya selalu mengamati cara Erl-Cie keramas. Unik. Air bilasan pertama sebelum rambut berbuih sampo, air tsb selalu ditampung, lalu dipakai lagi untuk membilas rambut ketika sudah berbuih. Pemandangan ini masig detil terekam dalam ingatanku. Dan ini sangat mempengaruhi caraku memperlakukan air. Kalo cuci buah, sayang rasanya bila air bilasan terbuang begitu saja. sebisa mungkin saya berusaha mencari baskom atau wadah apa saja untuk menampung. Untuk kemudian dipakai bilas gelas kek, bilas sendok kek atau siram tanaman.

Sekecil apa pun sesuatu hal yang dilakukan, membawa suatu pesan yang HIDUP. Pesan yang hidup mudah menghidupkan bagian yang sama dalam diri. Tiap kita punya peduli, melihat peduli itu begitu Hidup dan berapi2 dalam diri orang lain, pasti ada pengaruhnya pada benih peduli dalam diri kita. Respek yang HIDUP dalam diri orang lain akan menyentil bakat respek dalam diri kita. Getok tular kata orang Jawa.
Menurut saya, apa yang kita lakukan adalah memncoba memperbaiki cara kita memandang Bumi. Bumi dan segala isinya selama ini kita perlakukan tak lebih dari sebuah produk. Kacung pemuas kebutuhan kita. Tafsir kata ‘Kuasai’ mengantar kita pada wajah Bumi kita detik ini. Segala bentuk kehidupan yang ada di muka Bumi adalah komoditi yang punya nilai jual. Habis2an alam dikeruk. Rasa2nya kita jadi sangat kreatif, hampir tak ada yang tak bisa dijadikan duit. Sepuluh tahun lalu tidak pernah terpikir air harus dibeli. tiga tahun lalu sepupu saya menawarkan satu paket Ozon alias O3, 500rb. Udara kualitas terbaik katanya. Sekujur tubuh Bumi dikapling pemilik modal. Jaman imperalis yang dikapling tanah. Lepas Revolusi Industri mata kita berlipat2 lebih jeli melihat apa saja yang bisa dikapling. Perut Bumi dikuras, Hutan dibotakin, air di’aman’kan oleh perusahaan. Sekarang yang lagi marak adalah kaplingan atmosfer….
Kalo di klaten ada komoditi lain yang mungkin sulit dipercaya..tuyul. ada pasar tuyul. kalo minat datang saja sendiri dan bisa milih lo…wueleeh,wueeleh jadi ngelantur
Namun demikianlah sepak terjang keserakahan yang telah dipilih untuk dipertuhankan manusia sekarang.
Kembali ke pada setiap upaya yang mungkin terkesan remeh, sepele. Memulihkan hati bukanlah remeh. memperbaiki hubungan kita kembali dengan Alam tidaklah sepele.

Beberapa minggu yang lalu saya bertanya pada pak Daliman, “Mengapa sih kita bisa begitu merusak Alam? mungkin karena kita memang sudah sangat jauh dan asing terhadap Alam ya?”
“Pagi sekarang tidak seceria dulu “kata pak Daliman, laboran di pusk kami. Dulu, menjelang pagi saat masih gelap saya suka sekali ke sungai hanya untuk mendengarkan gemericik aliran air, daun-daun seolah mantuk-mantuk menyapa. Burung-burung berlomba bernyanyi. ceria sekali! Sekarang…saya tidak bisa merasakannya lagi. Pagi tidak seramah dulu. Bangun pagi, dimana2 saya ketemu manusia, terlalu banyak manusia. suasana rasanya dingin. rasanya alam menarik diri, mungkin marah sama ulah kita. entahlah…sambat pak Daliman