sat,3 nov 2007 21:33:56 ce Chaiyen imel:cing, masih sering khousou ke huili ga kemaren malam aja tiba tiba inget mau nanya

 jawabanku: udah ngga lagi ce…padahal barusan ada suara yang bersuara dalam hatiku..

kita adalah makhluk rajutan, terajut dari sekian keterkaitan kita dengan apa pun rupa dan nir rupa di semesta ini. praktisnya siapa pun tidak bisa hidup sendiri, kita bergantung pada budi. budi tetangga, budi asisten, budi kernet, budi sopir bus, budi air, budi lampu dan sederet budi-budi lain…hingga, tangan-tangan ini tidak akan datang dengan baik bila tidak dijalin dalam suatu sebab jodoh yang baik.

Menyapa misalnya.Menyapa asisten saya, menyapa rekan-rekan kerja yang lain mengikatkan kami dalam satu sebab jodoh baik. ada apa2 bisa cepat saling bantu. Sapaan mungkin terkesan sepele, namun apa yang terjadi pada eks teman kos, cukup tragis. dalam pergaulan sehari-hari menurut cerita teman2 lain, tidak pernah mau bergaul, nimbrung. mahal kata. berpas2an dgn siapa saja, diam. tak ada sapa atau pun senyum kecil. giliran waktu anak ini sakit dan harus opname, tidak ada satu pun anak yang mau besuk. cuma satu saja bareng mba’ Sum yang jaga kos. Satu anak ini pun tak enak hati tak jenguk karena kamarnya pas sebelahan.

Ampun ya, segitu dahsyatnya buah dari pelit sapa. Ini jadi refleksi pada saya, menyapa sesama manusia saja sudah seperti kita tarik dan keluarkan napas, kenapa menyapa para Suci begitu pelit saya ini ya….