Chuang seorang sahabat menulis
” Kini saatnya untuk berhenti mengejar ilusi.”

Saya setuju dan saya mungkin terlalu terburu-buru mencoba mengukur bulatnya hati saya dengan satu kata, m u r n i.
Saya masih sangat samar menangkap bayang sang murni, tapi intuisi menuntun saya ke sana. Saya penasaran, dan makin penasaran seperti apa sih interaksi yang murni. saya banyak belajar dari anak-anak. dari Ocha-4thn, Prajna-1,5thn Zaiya-3thn, Jovita-5thn. Mereka semua adalah cermin utuh kemurnian. saya berusaha memutar balik ingatan semasa kecil, seperti apa rasanya persepsi ‘pertama kali’. perjumpaan yang saya yakin paling apa adanya. Jean Jacques Rousseu berkata, “Human being good by nature but have been corrupted by social…” Robert Fulghum juga menyorot, “segala tentang hidup telah dipelajari di taman kanak-kanak.”
Chuang, saya sangat takjub dalam tiap interaksi saya dengan anak-anak. Mereka bayangan detil dari kemurnian itu sendiri…fiuuuh, Chuang..saat berhadapan dengan diri sendiri, rasanya mudah sekali merangkai imaji kemurnian seperti apa. dalam eksperimen pikiran, tidak sulit bagi saya untuk menghadirkan kemurnian. gesit sekali saya berimajinasi interaksi yang jujur, tulus, murni itu seperti apa. Namuuun, ketika nyata berhadapan dengan realita. sulit sekali Chuang..sulit sekali mengondisikan hati dan pikiran dalam state murni…sekali lagi fiuuh..tapi saya yakin asal konsisten, setia menarik murni dan terus menariknya..saya yakin akan ada jalan menapaki kemurnian,ceilee..sok bijak bro! hehe…
may only peace prevails on earth!