Siapa saja kalau ke Jogja, coba sempatkan tengok satu pohon besar di depan Museum Affandi. Kalau dari arah Timur, letaknya di sisi kanan poros jalan Solo.. Entitas dengan kepekaan yang punya nyawa membaca hati alam, satu bahasa dengan alam. Pohon yang unik dan antik, kala  akan memasuki musim hujan, hijau semarak mewarna, DEDAUNAN tumbuh di setiap rantingnya. Ketika mulai berbunga, daunnya akan rontok, hingga hanya BUNGA yang tampak mata. Indah! Gumam siapa pun yang melihatnya. Tatkala musim hujan akan berlalu, satu persatu bunga akan gugur, tak terkecuali, meninggalkan tulang ranting, gundul, bersih..tak ada DAUN, tak ada BUNGA. Sungguh bahasa alam yang unik, pohon ini mampu satu hati dengan alam, gejala alam dipahami dengan tepat, tak pernah meleset sedikitpun.  

Berbahasa alam, kemampuan yang terfosil lama dalam diri manusia. Sel-sel penginderaan mati, raib kepekaan, hingga rabun untuk membaca bahasa alam, getar jerit alam pun mental, tak mampu kita dengar lagi. Eksistensi pohon ini, sebuah pengamatan yang intim dari seorang sahabat, Anton. Dengan sarat dan limpahan cinta, Anton menamakan pohon itu sebagai pohon Anton. Hari ini, kamis, 2 November 2006, pukul 9.40BBWI. Kembali saya menyapanya dengan mata saya, benar seperti kata Anton. “Sekarang daunnya sudah sangat lebat, itu pertanda hujan sebentar lagi akan mengguyur Jogja”