Sepanjang jalan, Maria dan Bang Reynold menertawai saya. Pasalnya, Maria cerita pada suaminya kalau saya tidak bisa diam melihat orang-orang buang puntung rokok atau tisu di jalan raya. Aih, aih..siapa yang tidak gemas, geram plus greget! Setiap hari, hampir setiaaap hari saya berpapasan dengan satu orang yang dengan santainya menjentikkan puntung rokoknya ke jalan raya, Astaghfirullah! Geram, geram, geram nian hati ini, tiada daya, cuma bisa menggurat, merekam dengan detil semua pemandangan ini. Menandainya satu demi satu. Tanpa sadar, dalam hati sudah tercentang sekian kejadian. Hari ini satu, kemarin satu, esoknya satu lagi. Sabtu kemarin sempat 3 yang ketangkap mata. Prihatin, cuma bisa prihatin, berat sekali rasa hati ini. Netralin, kudu segera di netralin, sebelum hati bengkak jadi hepatitis. Defense mekanis segera diaktifin, setel sudut pandang. Pandang fenomena ini sebagai tantangan untuk mengetuk siapa saja dengan satu pesan, apa yang dilakukan tak ubah dengan ngupil lalu menebar dan menempelkan upil  ke setiap sudut wajah sendiri. tak ada indah-indahnya sama sekali.  analoginya mungkin bisa dipapar demikian, saat berkendara, pandangan pasti fokus ke jalan dan apa yang ada dijalan akan tertampak nyolok. entah itu daun kering, plastik cemilan, puntung rokok atau apapun yang ada diatasnya. Demikian juga dengan wajah, saat berbicara dengan siapa pun, pandangan kita fokus di wajah. apa yang ada diwajah akan terlihat jelas. entah tahi lalat, jerawat, komedo atau apalah. Nah, kalau membuang sampah sembarang di jalan raya, ibarat membuang upil di wajah sendiri kan! aduuh, analoginya kedengaran maksa g ya,hehehe….biasolah, bisa-bisanya ae…