Tulisan ini bukan artikel, cuma copy paste dari komentar saya di blog seorang adik -Vero si ulet bulu;)

jangan sedih ya…
apa yang ditanyakan dosenmu itu, pernah seliwer-seliwir di kepala saya waktu masih SMP lo!
ngapain sih Tuhan nurunin begitu banyak agama. apa Tuhan Buddha, Tuhan Katolik, Tuhan Islam, Tuhan Yahudi itu sendiri2 ato sama? kalo sama kok ajarannya beda2? saking bedanya pake acara bunuh2an segala, jaman perang salib biyen. lha, trus…piye? njelimet memang. Tapi menurutku berbicara tentang kebenaran, sejauh mana sih kemampuan nalar kita menjangkaunya? bahkan sekalipun elastisitas nalar pikiran(rasio,logika) dan nalar hati(insting,naluri) kita MELAAARKAN semaksimalnya, TETAP kebenaran masih relatif. lalu kapan suatu kebenaran dapat kita klaim absolut? itu adalah proses, proses sepanjang hayat peradaban kita adikku yang baik. kita semua sedang berjuang berupaya terus meniti lorong metamorfosa, kesadaran kita dalam memahami kebenaran terus berevolusi. untuk itulah kita semua sami ngudi ilmu ingkang sampurno. ngudi ilmu dadi wong sing waras ati&pikiranne. Terakhir, kalo boleh saran…jangan ambil di hati sikap dosenmu. Beliau juga sama dengan kita semua, gelisah mencari. mencari tau pengetahuan yang baik dan buruk. inilah tantangan turun temurun yang harus dihadapi manusia yang diwariskan oleh Hawa ketika dia melanggar perintah Tuhan untuk tidak memakan buah (ada yang bilang apel, ada yang bilang pisang;) tapi esensinya adalah buah pengetahuan yang baik dan buruk. masalah agama, adalah masalah yang privat. urusan pribadi. mau beragama ini kek, itu kek ateis kek. kalo saya pribadi yang penting hati bertumbuh. ada kasih, ada bela rasa, ada toleransi, ada kepekaan.
urusan saya salah pilih agama menurut siapa pun, mau masuk neraka kek, sorga kek..sekali lagi itu urusan pribadi. yang disiksa bukan Anda, tapi sayakan. gitu aja kok repot, kata Gus Dur,hehe…salam sayang;)