Seni menjatuhkan pilihan sikap dalam hidup ibarat berada diatas ayakan, butir-butir tepung diayak untuk memisahkan debu, batu kecil atau remah-remah yang tak penting.Tepung murni dapat diperoleh. Pilihan sikap diambil setelah dikonfrontirkan dengan ragam nilai. Ada yang meletakkan nilai agama, norma masyarakat, nilai moralitas, nilai tradisi, nilai budaya sebagai saringan absolut Namun ada juga yang memilih menguji sikap hidupnya dengan orisinalitas menyorot dan menganalisa fenomena, realitas atau objek.
Apapun pilihan yang akhirnya diambil, tentu ada alasan yang melatarinya. Persepsi membidani lahirnya semua pilihan. Namun yang menjadi tanda tanya besar sekarang, adakah persepsi yang tidak bias? Adakah persepsi yang objektif, hingga persepsi terhadap suatu nilai yang dianggap benar atau baik dapat diterima sebagai benar-salah, baik-buruk yang absolut.
Sang Bhagavan memberi ilustrasi yang inspiratif mengenai persepsi. Seekor gajah yang coba dideskripsikan oleh beberapa orang buta. Dia yang memegang kaki, mengatakan gajah seperti tiang. Lalu yang memegang ekor mendeskripsikan gajah sebagai pecut. Lain lagi dengan yang memegang telinga, mantap menjawab gajah seperti tikar. Semua punya persepsi yang berbeda. Tapi tidak ada yang total salah maupun total benar. Adalah fakta kaki gajah seperti tiang, ekor seperti pecut, telinga seperti tikar. Semua yang digambarkan adaah benar adalah bagian dari gajah namun BUKAN sang gajah itu sendiri.
Suatu objek atau realitas dijepret dari segala titik potret yang mungkin pun hanya bisa menyajikan POTRET yang mendekati wajah aslinya. Potret tetaplah potret bukan realitas itu sendiri. Pencerapan akan objek/realitas MENDEKATI wajah asli bilamana pengamatan objek melintasi batas sang pengamat itu sendiri namun memposisikan diri sebagai objek itu sendiri. Apapun yang dilahirkan dari persepsi, penilaian benar atau salah. Baik atau buruk tidak ada yang absolut. Persepsi hanya mampu mendekati ‘benar-baik’ tatkala persepsi mampu ditelorkan dari memaksimalkan elastisitas jangkauan nalar pikiran(rasio) dan nalar hati(naluri, insting, intuisi).
Nalar pikiran mampu menyentuh segala apa yang nyata dapat dicerap indera. Nalar hati, memampukan diri menyelami, menempatkan diri dalam posisi objek. Menyelami
ruang rasa, gerak rasa. Berupaya membaca frekuensi energi objek.
Persepsi yang sehat lahir dari upaya maksimal mengupas siung bawang hingga ke inti. Runut sampai ke akar, ranah di mana segala yg murni memberi jiwa pada hidup tumbuh. Cinta, bela rasa, solider, adil, toleran,respek yg dituntun, dijaga dan dibela mati-matian oleh kejujuran. Pada ruang ini, warna asli baik-buruk, benar-salah, pantas tak pantas samar dapat ditangkap. Masih samar. Samar berganti jelas ketika pengetahuan sempurna akan realitas dicapai. Nibbana.