Bau kecoak menyengat sekali. Bukan karena dosa besar hingga kecoak  memiliki aroma yang ‘sengit’ di hidung kita. Semua sudah demikian adanya. Namun aromanya justru seolah pembawa kutuk baginya.
      Hari ini adalah hari kesekian saya pindah ke kamar baru. Pertamakali  masuk kamar, bau khas kecoak sudah tercium. Benar saja, ada 2 ekor  seliweran di kamar mandi. Ada yang di pinggir pintu, aroma makin kuat terasa.
Hmm, kenapa penolakan kita pada bau tertentu bisa begitu sengit. Bau! Begitu seru kita dan segera melacak asal muasalnya. Begitu ketemu, spontan kecoak digebuk, diinjak atau dikejar2 dg sandal jepit kita. Siapa  sih kecoak, dan siapa sih kita, manusia?

      Satu pesan Mama yang selalu saya ingat sampai sekarang adalah,”Mereka juga mau hidup” ketika itu kalau  tidak salah kakak saya sedang mengadu jangkrik. Saya yakin pesan ini  berlaku untuk semua yang hidup. Tidak terkecuali kecoak. Kita punya seribu pembenaran, bisa karena rasa jijik, bisa karena bau, bisa karena  kecoak hidupnya di tempat kotor menghalalkan kita  untuk membunuhnya.       Padahal jika ruangan dibersihkan, kecoak akan hengkang dari
tempat kita,tidak perlu dibunuh,mereka akan pergi dengan sendirinya. Dengan demikian kita berbagi ruang hidup dengannya. Berkat kecoaklah sampah nenek moyang kita tidak menutupi seluruh wajah Bumi. Kecoak pasukan yang paling tekun dan setia menguraikan sampah kita. Tanpa kecoak sampah kita mungkin sudah
akan membumbung menyentuh langit ketujuh. Mari hargai dan beri ruang  bagi apa pun, siapa pun di alam raya ini dengan begitu kita juga akan  dilayakkan u menempati ruang mana pun di muka Bumi ini. 
     Satu sudut pandang lain yang ingin saya bagi adalah bila ada makhluk  predator yang sangat sensitif dan responsif terhadap aroma kebusukan hati, mungkin makhluk yang bernama manusia sudah lama punah karena  diserang dan dibasmi oleh makhluk predator tersebut. Manusia yang tersisa hanya mereka yang  bisa dengan ekstra hati-hati menjaga tiap jengkal gerak pikiran dan hatinya dari

waksyangka,

purbasangka,

kepura-puraan,

tamak,

haus nama,

tumpul rasa hingga enggan timbang rasa, hanya kata,”peduli amat” yang  meraja di hati.

Manusia yang telah selesai bergulat dengan seribu persepsi, persepsi tidak mendiktenya lagi. apa pun. Namun semua eksistensi dapat dipantulkan dengan utuh, apa adanya