Semalam Sherly bercerita, putri temannya Zaiya (2,5thn) punya kebiasaan jerit selengking-lengkingnya tapi tidak pernah lama, paling cuma 3-4menit. Bila wajahnya sudah nempel di dada atau pundak ibunya, seketika itu juga tangisnya reda, wajahnya akan diusap-usap di sana. Pernah Zaiya, saat nangis, dalam sela isaknya dia berkata,”Bundaaa, Zayaa cinta Bunda..Bunda… cinta itu apa?” Spontan semua gerr mendengarnya…cah cilik iki gemesin tenin;)

      Cinta itu apa? Hmm…ehm…hmm lagi…hehe, maksudmu apa sih cing…Cinta? Opung temen saya bilang puncak nikmat dunia, ya saat kalian kawin kelak…hmm, rasane idem dengan apa yang dituangkan Plato dalam karyanya Symposium. Cinta ada 2, Cinta birahi, puncaknya lestarinya keturunan dan cinta antara guru dan murid yang puncaknya adalah lestarinya kebijaksanaan.

    Gerak hati manusia umumnya bergerak dalam dua jalur ini. Mau ikut yang mana monggoo. Ada yang sudah berada pada tepian cinta platonik..cinta yang telah melangkah jauh meninggalkan cinta birahi. Seks tawar baginya. Cintanya telah mengembang sedemikian rupa bak diberi fermipan, cintanya merembes kemana-mana. Bukan obral cinta lo! Tapi telah menjadi cinta itu sendiri, telah satu dalam semua. cinta yang altruis. Naifkah ulasan ini? Tentu tidak sobat, seorang sahabat kecil kita yang lain, Vina namanya,  berusia 4 tahun. Saat dikelas menggambar, Sherly meminta mereka menggambar orang-orang yang mereka cintai. Semua mulai menggambar, Sherly berkeliling mendekati mereka satu persatu mengamati apa yang mereka gambar. Saat di meja Vina, ada gambar 2 orang, satu perempuan, satu laki-laki. Itu gambar papa dan mama Vina saat ditanya namun Vina balik bertanya pada Sherly, “Bu Sherly, Vina boleh gambar mang Udin g?”boleh, jawab Sher. “klo Mpo Inah?”boleh. Andi boleh Bu? boleh sayang, jawab Sherly. Belum selesai, Vina masih tanya,”pohon kakek boleh ngga Bu?” Alhasil gambar Vina numpuk, penuh. Naluri mencinta no border, no limit, ngendon dalam diri siapa saja. Tinggal mau di expand atau tidak. Cinta yang penuh kehati-hatian, cinta yang membangun kualitas benih kemanusiaan, cinta yang tau arti sakit hingga tidak akan menyakiti, cinta yang bergerak bebas dalam naluri nurani.