Membaca tulisan Ce Chai Yen di blognya
cinta yang sederhana seperti apa sih
menurut kates
kedua kalinya papasan dengan laras, laras lambaikan tangannya memanggilku:
1laras: “hi, kita pernah ketemu kan”
kates (kecoak) berkata pada dirinya; “itulah pertama kalinya aku menyadari tidak semua manusia memusuhi kaum (begitu kecoak menyebut diri mereka), juga itulah pertama kalinya aku mengenal orang yang mengenalku secara individu. di matanya, aku bukan satu dari sebakul kecoak. tapi seorang makhluk
kamu sudah makan” tanya laras
Kates masih gumam dalam hati ;itulah pertama kalinya aku melanggar hukum kaum: jangan teteskan airmata untuk dirimu
aku menangis karena itulah pertama kalinya ada manusia yang peduli,
aku makan atau belum
“kamu nangis” kata laras menarik sapu tangannya
kates (masih dalam hati) :itulah pertama kalinya aku ketemu manusia yang bisa melihat airmata kaum
sebab sesungguhnya airmata kami invisible bagi mata kakidua
“boleh aku pake untuk lap”

saya jadi ingat lirik lagu gress hitnya PINK,dear mr president ‘Can you even look me in the eye And tell me why Dear Mr. President’…dua hari ini hatiku penuh dengan kata-kata, andai kita tidak memalingkan mata hati kita , sungguh-sungguh mata ketemu mata membaca kedalaman mata kepedihan, mata kesakitan, mata keperihan yang tersorot jelas, percayalah saat pertama kali mengabaikannya, bongkahan rasa bersalah menghimpit..eee, kemarin bongkar-bongkar kompas, ada artikel berjudul sahabat atau keluarga, oleh Samuel Mulia, menulis.. Saya paling senang mengisap bagian kepalanya.

“Ya lo kan memang doyan mengisap semua kepala,” kata teman saya suatu hari. Menurut saya memang bagian kepala itu enaknya setengah mati. Kepala ikan, maksudnya. Namun, kalau sudah kepala habis diisap dan digerogoti, lalu yang tinggal hanya sepasang mata bolanya, saya sering malu sendiri sama ikannya. Mata ikan tak bersalah itu seperti berkata, “Isaaap terus sampai kering.” Jadi, saya selalu menyisakan kedua matanya.

Kadang saya berpikir, matanya mungkin sebaiknya ditutup saja sehingga saya lebih enak mengisap tanpa merasa bersalah.

Sobat, Garis bawahi kalimat matanya mungkin sebaiknya ditutup saja sehingga saya lebih enak mengisap tanpa merasa bersalah. Tak mungkin sobat! rasa bersalah jujur lahir apa adanya, karena kekejaman adalah kekejaman, sakit adalah sakit! Mengapa matanya harus ditutup? apakah karena kita ingin lari dari penggalan-penggalan rentet perjalanan tragis sang Ikan sebelum sampai di meja makan kita? Bagi ikan adalah momen tak terperikan kala, kena jaring, bibir kena kait kail, takut setengah mati, tergelepar-gelepar payah gelagapan mencari kesempatan hidup. Sama persis ketika kita ditenggelamkan di air, kita berontak, gelagapan memaksa naik ke permukaan, 1 cc oksigen sungguh tak ternilai pentingnya saat itu. saat itu ditawarkan apa saja, tak ada yang sepadan. Berlian? Oscar? Jaguar? semua lewat. tak ada yang lebih penting dari kesempatan hidup.saat yang sangat mencekam, saat nyawa dipaksa meregang, lepas dari tubuh ini. Semua makhluk merasakannya dalam kadar yang sama persis. tidak kurang sakit, tidak lebih sakit, tapi sama sakit.Kecoak tidak sedang berakting ketakutan dikejar-kejar sandal jepit kita. Ikan juga tidak sedang latihan drama meronta-ronta saat kait kail merobek bibirnya.Tidak Sobat! mereka tidak sedang berpura-pura sakit, berpura-pura menjerit, berpura-pura meronta hingga boleh diabaikan begitu saja!