Jurnalis Kontributor: Latifah

Jurnalperempuan.com-Jakarta. Sambil melihat sampah-sampah yang bertebaran di sekelilingnya, Chindy Tanjung membeberkan contoh cara memanfaatkan kembali sampah sesuai dengan jenisnya.

Aktivis International Natural Loving Association itu merasa miris melihat sampah- sampah bekas gelas air mineral dan kotak makanan berserakan seusai acara diskusi yang digelar dalam rangkaian Festifval Seni Pertunjukan Kontemporer Perfurbance #3 Pembaharuan Spiritual. Festival ini bisa dibilang unik karena berlangsung secara bersahaja di tengah-tengah perkampungan Gemblangan, Bantul pada 25-29 April 2007.

Sayangnya, tidak banyak masyarakat setempat yang mengikuti acara diskusi yang penuh informasi penting mengenai kesehatan makanan dan lingkungan itu. Mungkin hal ini bisa dimaklumi karena perhatian mereka tercurah untuk melayat seorang penduduk kampung yang meninggal hari itu.

Mengomentari sampah plastik, perempuan asal Kendari itu menerangkan, plastik bukanlah jenis bahan yang dapat terurai dengan mudah karena membutuhkan waktu sekitar 100 tahun. Sampah plastik yang ditimbun dalam tanah akan menyebabkan tanah menjadi jenuh, seperti yang terjadi di daerah Sukunan, Yogyakarta. Jalan pintas memusnahkan sampah dengan cara pembakaran pun akan menimbulkan masalah lingkungan yang tak kalah bahayanya. Karenanya, dokter gigi yang membuka praktek di Yogyakarta itu menekankan pentingnya pemilahan sampah antara sampah kering dan basah dan mendaur ulangnya.

Sampah basah dapat dimanfaatkan menjadi pupuk kompos, sementara sampah kering dapat dipilah-pilah dan dijual kembali untuk kemudian didaur ulang. “Plastik bekas juga dapat diberikan ke pedagang di pasar agar dapat digunakan kembali,” ujar Chindy menanggapi pertanyaan mengenai menumpuknya plastik di rumah-rumah kos antara lain karena hampir setiap hari membeli makanan di luar rumah.

Menurut Chindy, pengorganisasian masyarakat untuk mengelola sampah dapat berjalan dengan efektif bila dikoordinasi oleh RW. Sebagai contoh, sejak 1992, masyarakat Gondolayu Lor sudah menjalankan sistem pengelolaan sampah yang ramah lingkungan. Bahkan, sepasang suami-istri yang mengelola program itu membuat eksperimentasi kompos sehubungan dengan latar belakang pendidikan mereka dari pertanian. Hasilnya, daerah Gondolayu Lor yang tak seberapa luas itu dipenuhi oleh rerimbunan pohon yang berwarna cerah dan segar karena menggunakan sistem organik. Hasil penjualan sampah pun dapat menambah kas RW.

Cara lainnya adalah berkoordinasi dengan pemulung. Mereka dapat membantu menyalurkan sampah, sementara ia sendiri pun mendapat penjualan dari hasil penjualan sampah itu. Bila di wilayah perkotaan RW tidak berjalan, koordinasi dapat dilakukan melalui komunitas agama, seperti yang dilakukan umat Budha di Vihara Bodhicitta Maitreya. “Umat dimotivasi agar memilah sampah yang kemudian ditampung, diangkut, lalu dijual,” cerita Ketua Korcab Indonesia Vegetarian Society wilayah Jawa Tengah-Yogyakarta ini. Dengan pembinaan seorang biarawati yang khusus menangani masalah ini, mahasiswa Budha yang menjadi relawan terutama berperan menangani proses pengangkutan itu.

Bagi Chindy, inilah cara membumikan nilai-nilai spiritual alam kehidupan sehari-hari, “Melihat tanah sebagai wajah penciptanya. Kalau asing dengan tanah, bumi, dan air, kita merasa asing dengan penciptanya, sang Ilahi.” Hal mendasar agar sistem itu dapat berjalan adalah kesadaran masyarakat untuk hidup sehat. Dalam hal ini, di samping mengorganisasi pengelolaan sampah secara intens di rumahnya, perempuan berperan besar dalam membentuk karakter anak, misalnya mengajarkan anak membuang sampah yang benar. Perempuan juga mempunyai andil yang tidak sedikit dalam memotivasi kesadaran kritis akan pentingnya makanan yang sehat.

“Saya dulu diceritai ibu saya bagaimana proses membuat bakso yang kurang sehat.” Contoh lain yang disampaikan Chindy adalah proses pembuatan sirop yang sehat, tanpa pewarna.*