Dewasa ini, kian banyak yang memilih pola hidup sebagai vegetarian, ditengah serbuan aneka makanan dari luar dan iming-iming makanan enak serbuan pasar yang dikemudian hari ternyata mengancam kesehatan. Bagi individu yang sudah dewasa, menjadi vegetarian bisa jadi sebuah pilihan rasional karena telah memiliki pemahaman yang memadai. Namun ketika sebuah keluarga memilih menyajikan menu vegetarian yang terhidang, perlu ada persiapan yang matang, karena anak-anak memiliki dunia tersendiri dan masih perlu bimbingan saat berinteraksi dengan dunia luar.

Bila vegetarian sebagai pilihan di keluarga, sebaiknya menyimak penuturan drg Chindy Tanjung, Ketua Korcab Indonesia Vegetarian Society (IVS) DIY-Jateng, yang ditemui saat acara gebyar IVS seluruh Indonesia, belum lama ini. Sebaiknya, ujar Chindy, bapak dan ibu selaku orangtua, harus sepakat dahulu. Bagi orang dewasa, pemahaman mungkin bisa lebih diterima. Namun, bagi anak-anak perlu waktu dan cara yang tepat. “Misalnya saja, anak diberi pemahaman bahwa ternak yang akan dimakan juga seperti kita, ingin tumbuh dan punya keluarga yang disayangi, mereka adalah makhluk hidup seperti kita dan tidak suka bila dibunuh, mereka juga bisa stress,” katanya. Chindy menilai bila menekankan dosa pada anak sebagai dalih, dirasa kurang tepat karena sangat relatif.
Masa sebelum masuk sekolah adalah masa yang sangat tepat untuk menyosialisasikan saat memilih untuk menjadi vegetarian. Terlebih, interaksi di dalam keluarga menjadi sangat penting sekali. “Saya punya kenalan seorang keluarga yang menganut vegetarian, saat ada pertemuan keluarga besar, sang nenek menawari cucunya makan bakso, ternyata anak kenalan saya tidak tertarik dan memilih makanan nabati karena dia sudah mendapatkan pemahaman yang benar dari orangtuanya sehingga sudah memiliki pilihan,” jelas Chindy.
“Kalau soal camilan, sebenarnya ada kok camilan nabati yang sehat dan disukai anak-anak. Sekarang tinggal niatnya, karena tidak hanya camilan, banyak variasi menu yang menggugah selera dan dihidangkan menarik minat anak-anak,” kata Chindy.
Awal sebagai vegetarian, dijelaskan Chindy muncul pada sekitar tahun 1995, saat itu dirinya mengalami masalah dengan pencernaan. Chindy yang berasal dari Kendari Sulawesi, banyak makan ikan yang disajikan sang ibu, namun sayur mayur sering tidak lengkap. Saat menimba ilmu di Fakultas Kedokteran UGM tahun 1995, Chindy menemukan lingkungan yang sehat dalam konsumsi makanan, seperti suka makanan pecel dan sayuran lain yang banyak ditemui di sekitar kostnya. “Sudah 12 tahun menjadi vegetarian, saya merasa tidak ada masalah, padahal aktivitas cukup padat juga, karena sore hari saya masih buka praktik. Kalaupun tubuh merasa lemas dan capek, pemulihannya juga cepat,” jelas Chindy sambil menyebut aneka jus buah yang lezat dikonsumsi dan jelas menyehatkan.
IVS juga konsisten terhadap aspek kesehatan, lingkungan dan etika. Dari sisi kesehatan, pola hidup konsumsi nabati ternyata baik, dan membuat makhluk berumur panjang. “Banyak contoh vegetarian yang sudah berusia satu abad masih bisa beraktivitas,” katanya. Sedang dari aspek lingkungan, tentu dikaitkan dengan keselarasan alam. Apa yang kita makan sifatnya ramah lingkungan. Bahkan dalam perhitungan secara global, satu orang vegetarian memberikan kontribusi penurunan emisi CO2 sebesar 1,4 juta ton/tahun, bandingkan dengan mobil hybrid yang memberikan kontribusi penurunan emisi CO2 sebesar 1 juta ton/ tahun.
Sedang berkaitan dengan etika, berkaitan dengan psikologis mengenai apa yang kita makan. Setiap makhluk punya hak untuk hidup. “Coba bayangkan saja, mereka itu juga sakit saat disembelih, stress dan marah. Kalau ada pilihan lain untuk dimakan, mengapa tidak kita lakukan. Pilihan mengonsumsi daging, jelas bukan hal yang absolut, karena esensi makan adalah untuk hidup, bukan sebaliknya,” jelasnya.
“Binatang sembelihan yang merasa depresi sebenarnya mengeluarkan toksin, nah daging yang kita konsumsi kan sama saja dengan barang yang sudah jadi karena mengandung toksin dan secara kesehatan ini bisa mempengaruhi perangai kita,” papar Chindy.
Untuk memasyarakatkan pola hidup vegetarian, anggota IVS melakukan cara-cara yang simpatik, disamping mengenalkan aneka menu resep yang menarik, juga kampanye dengan list-list yang menarik dalam bentuk-bentuk yang unik seperti pembatas buku. Diantaranya adalah list dari penyanyi dan penulis novel Dewi “Dee” Lestari yang menyebutkan, “Pilihan untuk menjadi vegetarian pada masa sekarang, tidak seharusnya lagi diembel-embeli perdebatan seputar kesehatan, agama atau rasa iba. Hidup vegetaris adalah pilihan moral paling realistis dan jitu untuk membawa dunia keluar dari jerat krisis gizi dan lingkungan.
Chindy yang juga aktivis International Nature Loving Association (INLA), menjadi vegetarian juga menjadi bagian orang yang mencintai lingkungan.
Mengutip dari National Geographic, dikatakan, ekspor daging sapi meraup 3 miliar Dollar/tahun bagi Brasil. Jumlah populasi ternak kini diatas 60 juta ekor. Tuntutan akan padang rumput baru mendorong penggundulan hutan lebih banyak. Pohon-pohon semena-mena dibakar untuk membuka lahan baru di beberapa wilayah. Kondisi ini menjadikan Brasil sebagai penghasil gas rumah kaca terbesar di dunia.
(Hanik Atfiati)-d