oleh Chindy Tan

 

Api ancaman global warming telah membakar alis, bahaya telah sampai tepat di pelupuk mata. Ramai-ramai kita sedang mendorong isi Bumi ke bibir jurang kematian, sebagian masyarakat dunia kini tidak sedikit yang tersentak sadar dan memilih bangun, seketika merubah diri. Seperti yang disampaikan oleh Stephen Hawkins dalam film dokumenter The Eleventh Hour, ”jika manusia tidak merubah gaya hidupnya secara revolusioner, manusia sedang mengantar Bumi menuju Venus dengan kata lain mengubah Bumi menjadi Venus yang suhu planetnya 300 derajat Celcius! Ruang waktu tidak lagi menyisakan tempat untuk berdebat.  Telegraph Media Group 18 Mei 2008 lalu, menurunkan berita seruan desakan Pangeran Charles kepada masyarakat dunia untuk SEGERA melakukan aksi dalam 18 bulan ke depan. Apa yang dilakukan dalam masa 18 bulan ke depan merupakan penentu untuk menghindarkan kita dari ancaman serial kekacauan iklim. 

Tindakan waras apa yang SEGERA harus dilakukan? Gerakan vegetarian sebagai solusi SEGERA telah menjadi seruan global. Pertemuan G8-Group of eight environment ministers yang dilansir The Japan Times Online 26 Mei 2008 lalu, sepakat pada satu seruan: Eat less beef! Presiden Taiwan Ma Yong Jeou dan Wakil Presiden Taiwan Vincent Siew memimpin penandatangan deklarasi untuk mengurangi CO2 dan aksi hemat energi, termasuk di dalamnya mengonsumsi produk lokal dan lebih banyak sayur dan mengurangi daging. Green Peace USA juga mengeluarkan seruan senada: On your plate! Serupa menghimbau masyarakat dunia untuk mengeluarkan daging dari piring makan, karena makan daging bukan masalah pilihan personal lagi. Kita tidak bebas memilih ketika pilihan itu nyata mengancam keberlangsungan hidup setiap makhluk dan entitas di muka Bumi ini, seperti yang ditekankan oleh Worldwatch Institute dalam artikel mereka: MEAT! Now, It’s  not personal! But Like it or not, meat eating is becoming a problem for everyone on the planet

           

 

 

Global Warming, Sebuah Pengantar

           

Global warming dapat dipahami sebagai naiknya suhu rata-rata permukaan Bumi. Salah satu penyebabnya adalah aktivitas manusia yang menyumbang 90% gas rumah kaca di atmosfer. Gas rumah kaca sendiri berfungsi untuk menjaga suhu Bumi agar berada pada kisaran layak huni yakni: 14,5 derajat Celcius, tidak seperti bulan yang memiliki suhu -18 derajat Celcius. Gas rumah kaca memerangkap panas dari matahari, ketika sinar matahari mencapai atmosfer Bumi, sebagian akan dipantulkan dalam bentuk infra merah dan sebagian lagi diteruskan ke permukaan Bumi.  Permukaan Bumi memantulkan kembali panas tersebut dan sebagian diperangkap oleh gas-gas rumah kaca (CO2-Karbondioksida, CH4-Metana, N2O-DinitroOksida). Semakin banyak konsentrasi gas rumah kaca, semakin banyak panas yang terperangkap yang akan meningkatkan suhu rata-rata di permukaan Bumi. Gas rumah kaca ibarat selimut Bumi, semakin bertambah ketebalannya maka semakin gerahlah suhu Bumi. Perlu diketahui, daya perangkap panas CH4 adalah 25 kali CO2, sedangkan N20 daya perangkap panasnya hingga 296 kali CO2. Konsentrasi CO2 saat ini adalah 380 bps (bagian per sejuta atau part per million) ada sumber yang merujuk angka 450 bps sebagai ambang Bumi mencerna CO2 namun James Hansen, ahli iklim NASA mematok angka 350 bps dengan batas ambang kenaikan suhu adalah pada kisaran 2 derajat Celcius. Lebih dari ambang ini, Bumi akan memasuki kekacauan ilklim yang tidak terkendali. Data dari bulan oktober 2007, kenaikan suhu Bumi telah mencapai 0, 5 derajat Celcius.

Darimana sajakah datangnya gas-gas rumah kaca ini?

Berdasarkan data  yang dikeluarkan United Nation-FAO tahun 2006 lalu, yang dituangkan dalam buku Livestock’s Long Shadow menggarisbawahi sumbangan gas rumah kaca peternakan (18%) lebih besar dari buangan emisi seluruh kendaraan bermotor di dunia (13,5%). Rangkuman laporan Livestock’s Long Shadow menyorot peternakan sebagai salah satu dari dua atau tiga penyumbang masalah paling serius terhadap lingkungan dalam semua tingkatan dari lokal hingga global. Sektor peternakan mutlak mendapat fokus utama karena bertanggung jawab terhadap kemerosotan lahan, perubahan iklim, polusi air dan punahnya keanekaragaman hayati.   Uraian lebih detil jejak beban ekologis bahkan sosial dan ekonomi dari sepotong daging dapat disimak dalam beberapa artikel berikut.