You are currently browsing the category archive for the 'Veggie-Ethic' category.

Victor Alexander Liem: Mula2 manusia memangsa binatang yang dianggap rendah. Lalu, manusia mulai memangsa manusia lain, tentu dengan anggapan ada “manusia rendah”.
Saya teringat ungkapan yang sering dikutip alm. Romo Mangun, “hommo homini lupus”
Manusia adalah pemangsa manusia lainnya, seperti serigala :)
(Respon dari artikel: Keenan dan Ocha, tak ada kata SULIT bagi mereka)

Hai Victor, terima kasih sudah mampir. Ego seperti apakah yang membuat manusia menggurat sejarah kekerasan perbudakan-rasisme, Holocaust-rasisme, heteroseksisme yang menyuburkan perdagangan manusia untuk kepentingan prostitusi, lalu yang sedang marak disoroti saat ini adalah kekerasan yang dilatari oleh spesiesme. Mungkin sudah saatnya bagi manusia menjernihkan spesiesme. Spesies manusia merasa lebih unggul dari spesies hewan hingga hewan ‘boleh’ diperlakukan sebagai ‘milik-properti’ . Hewan diperlakukan tak beda dengan benda. perasaan takut, marah, sakit saat disiksa hingga meregang nyawa ‘tak terlihat’ oleh ego manusia. Manusia sedang dan terus memelihara spesiesme ini, pertanyaannya, akan sampai kapan? Manusia butuh kejernihan hati dan akal, menimbang kembali apakah spesiesme layak dipelihara. Jika saja ada spesies yang lebih unggul dari manusia, penguasaan teknologi lebih tinggi dari manusia, manusia bisa saja dieksploitasi, dijadikan objek penelitian, bahkan dijadikan makanan. Saya jadi ingat film The Island, sebuah film futuristik yang mengisahkan tentang komodifikasi manusia kloning untuk kepentingan asuransi kesehatan.

Jaminan kesehatan diberikan dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan adanya manusia kloning. Semua potensi penyakit dapat diatasi. Jika secara genetik Anda memilki potensi penyakit ginjal, diabetes atau jantung, Anda tidak perlu khawatir asal punya DUIT membayar asuransi, organ manusia kloning siap mengganti semua ‘onderdil’ yang bermasalah dalam tubuh Anda. Manusia kloning dengan rekayasa genetik sedemikian rupa diprogram agar tumbuh menjadi manusia yang super sehat untuk menjaga kualitas organnya. Namun rasa dan emosi mereka telah disetel, diprogram sedemikian rupa agar tidak ‘hidup’. Manusia kloning hidup tanpa rasa dan emosi meski dalam akhir cerita ada manusia kloning yang menyimpang , ada manusia kloning yang tetap punya emosi, hingga memberontak. Mereka tak ubahnya ‘benda’. Di sini manusia satu tidak melihat kelayakan yang sama dengan manusia lainnya, hingga Homo Homini Lupus, dominasi sesama spesies subur dan ’sah-sah’ saja. Spesies manusia yang berduit ‘boleh-boleh’ saja memperlakukan manusia kloning sesuai kebutuhan mereka, karena mereka dianggap spesies manusia-benda.

Dalam dunia nyata wajah homo homini lupus sebenarnya tak asing dalam kasus perdagangan manusia entah untuk kepentingan sebagai buruh pabrik, pekerja di dunia prostitusi dengan berbagai modus. Di China modus terbanyak adalah penculikan, mulai dari anak kecil (biasanya untuk dijadikan pekerja seks untuk pedofilia) dan di Indonesia modusnya memanfaatkan keterjepitan keadaan ekonomi. Sebuah kasus di tempat saya dinas dulu terungkap, modus yang digunakan adalah meminta langsung ke orang tua korban dengan memberi segepok uang ke orang tua korban hingga rela melepas anaknya untuk dipekerjakan di Jepang sebagai duta budaya. Kenyataannya, setelah korban sampai di tujuan, korban disodorkan nota utang berisi rincian biaya perjalanan dan biaya pengurusan imigrasi dll. Kondisi terjepit seperti ini, korban tidak memiliki pilihan, hingga terpaksa bekerja di ‘panti’ jauh berbeda dari yang dijanjikan sebelumnya. Sampai pada titik ini, manusia juga telah melihat manusia lain tak ubahnya benda tak berhak punya rasa, yang bisa dieksploitasi. Mungkinkah bakat homo homini lupus ini lahir dan tumbuh bermuasal, berakar dari sikap spesiesme kita terhadap hewan. Sadar tak sadar kita membiasakan diri ‘membenarkan’ mengabaikan rasa mereka. Kita terbiasa memperlakukan mereka seolah tak berhak punya rasa takut, rasa sakit dan rasa cinta akan hidup mereka sendiri. Sebuah ungkapan dari George Angell (1823-1909) sejalan dengan permenungan di atas. Saya kadang ditanya,”Mengapa engkau menghabiskan begitu banyak waktu dan uang berbicara tentang kebaikan kepada binatang padahal begitu banyak kekejaman atas manusia?” Saya menjawab,”Saya bekerja dari akarnya.”

“I hold flesh-food to be unsuited to our species. We err in copying the lower animal world if we are superior to it.” Mohandas K.Gandhikeke

Oleh. Chindy Tan

Berbicara tentang aspek spiritual, sentra poin yang ingin saya ulik adalah transformasi pengetahuan intelektual ke pengetahuan intuitif. Kemampuan transformatif ini saya yakin banyak kita temui pada anak-anak kecil yang sedari janin atau usia dini memilih menolak daging. Tanpa perlu argumen yang mengandalkan rasio mereka dengan kemampuan intuitifnya menetapkan pilihannya. Mungkin ini yang disebut dalam buku The Little Prince “You can only see things clearly with your heart. What essential is invisible to the eye”. Ocha (4th) anak asisten saya, sejak mengenal makanan padat memilih menolak makan daging,”kasihan” itu alasan yang berulang dikatakannya. Suatu ketika saat cukuran di salon, kapsternya menangkap seekor serangga, dimasukkan ke dalam kantong plastik dan diberikan kepada Ocha. Menerima ini, Ocha bertanya pada Bapaknya,”Pa, iki piye nek arep maem, ta’ lepas aja ya ben iso nyari maem”. Kepekaan terhadap makhluk lain (mungkin ini adalah pengetahuan intuitif) yang membuat Ocha dalam keadaan bagaimana pun tetap keukeuh menolak makan daging. Meski itu daging nabati. Saya pernah memberikan Mama Ocha daging nabati dan ketika ditawarkan kepada Ocha, Ocha menolak meski sudah diberi penjelasan oleh ibunya,”iki dudu daging, iki dari tante Dindi”. Ocha juga tidak segan memilih makan ketupat dengan kecap tok, saat dijamu makan sate oleh pamannya. Ayah Ocha, karena sungkan mencoba menyuapkan Ocha beberapa potong daging, namun Ocha bersikeras menolak,”oya geyem ya oya geyem, aku ojo dipokso” (nggak mau ya nggak mau, aku jangan dipaksa). Mereka tidak mengenal kata sulit dalam menolak daging, meski harus makan dengan menu terbatas. Bagi Ocha lebih ‘mudah’ makan ketupat dengan kecap daripada harus mengabaikan rasa kasihannya. Mereka mampu melihat HIDUP MAKHLUK LAIN JUGA BERHARGA dan selayaknya dihargai.

Ternyata sikap serupa ditunjukkan oleh Keenan, putra Reza-Dee dan Marcell-Rima. Seminggu yang lalu pasien saya bercerita tentang sikap keukeuh Keenan menolak daging, tiruan sekalipun. Ketika makan bersama ayahnya Marcell, Rima Melati Siahaan-Adams, di sebuah restoran vegetarian, Keenan menolak makan daging-dagingan. “Saya cuma mau makan tahu sama tempe” tegas Keenan. Meski telah dijelaskan Marcell bahwa ‘daging’ tersebut juga vegetarian, Keenan tetap keukeuh minta tahu sama tempe. Akhirnya Rima meminta kepada pelayan untuk membuatkan masakan baru,”tolong buatkan lagi masakan yang masih kelihatan tahu dan tempenya ya”. Saya tidak tahu pasti mengapa anak-anak ini menolak daging tiruan sekalipun. Seorang rekan saya pernah bercelutuk tidak seharusnya kita memberi nama “bebek vegetarian, ayam vegetarian, babi merah vegetarian, karena pemakaian nama hewan pada makanan-makanan tersebut tidak membantu menjernihkan posisi hewan bukan makanan”.

Kisah-kisah serupa mungkin semakin banyak, dan kita tidak pernah tahu pasti mengapa. Mungkin ‘pengetahuan’ mereka ini analog dengan kisah Negeri Mata Satu.
Suatu waktu di Negeri Mata Satu lahirlah seorang bayi dengan dua mata. Anak itu, anak bahagia. Orang tuanya mencintainya dan senang mengemongnya. Tetapi mereka cemas karena anak itu aneh, matanya dua. Dokter-dokter yang mereka panggil geleng-geleng kepala dan heran. Tetapi mereka berkata,”Apa boleh buat? Tidak mungkin disembuhkan.” Pada suatu hari yang menggemparkan, ia melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat orang -orang lain. Ia tidak melihat seperti orang-orang lain yang hanya hitam dan putih. Ia melihat warna-warna. Orang tuanya dan sahabat-sahabatnya terheran-heran karena ia pandai bercerita tentang temuan-temuan yang menggetarkan hati, yang tidak dapat dilihat mereka. Ia berbicara dengan kata-kata yang belum pernah mereka dengar seperti ‘merah,’ ‘kuning’ dan ‘hijau’
(Manusia Pascamodern, Semesta dan Tuhan-Romo Mangun)

Dapatkah kita persepsikan ‘makan daging adalah hal yang alami’ sebagai pengetahuan hitam putih yang kadung berakar dan menjadi budaya manusia dalam memilih makanannya. Ketika anak-anak ini datang dengan penglihatan warna yang berbeda, manusia mampu hidup tanpa daging, adalah warna lain yang masih sulit diterima dan dipahami.
Gulir zaman menunjukkan pilihan sikap anak-anak ini untuk meat out, diakui secara ilmiah sebagai kebutuhan global. Manusia perlu menjernihkan kembali pilihan makannya. Dan pengetahuan intuitif anak-anak ini menyentil rasio siapa saja. Menantang kita untuk mendefenisikan arti cukup bermula dari isi piring jika peradaban manusia ingin bertahan. Gerakan perubahan kini bukan skala individu melainkan sudah tingkat negara-Belgia yang kini dikenal sebagai negara vegetarian pertama di dunia, Kelompok negara-Eropa: mengharuskan tiap negara Eropa membuat laporan kontribusi gas rumah kaca dari pola makan daging, tingkat kebijakan-semua rumah sakit UK akan berlakukan menu TANPA DAGING untuk pasien. Tidakkah arus perubahan ini semakin jelas menegaskan, kita butuh berubah.

ps.artikel ini dipubilkasi atas sepengetahuan dan seijin Dee dan Marcell, artikel ini akan dipublikasikan juga di majalah Info Vegetarian edisi 4

“Ketika bias paham kita akan budaya domestifikasi dan komodifikasi hewan telah terpapar jelas, angin perubahan telah sampai di ambang pintu. Modal selanjutnya yang paling mendasar untuk membuka gerbang perubahan dan menjadi bagian dari perubahan itu adalah kejujuran pada diri sendiri untuk mengakui bias tersebut. Karena ternyata tidak banyak yang mau dan mampu jujur pada dirinya bahwa hidup kita tidak selayaknya berdiri di atas kesakitan, penyiksaan, kematian makhluk lain, kemampuan mereka untuk merasakan sakit bukanlah omong kosong hingga bisa diabaikan begitu saja. Ketika berada dalam kondisi terbatas sehingga kadang harus menahan lapar, inspirasi anak-anak kecil Ocha dan Keenan mungkin bisa membantu menepis rasa ’sulit’ dengan sikap mereka,”lebih mudah makan terbatas daripada harus mengabaikan rasa kasihan karena kecintaan akan hidup bukan hanya milik manusia”. Rasa belas kasih inilah yang mempertautkan persaudaraan manusia dengan laksa ciptaan lain layaknya darah yang mempertautkan sebuah keluarga-Chief seattle. Buah budaya memperlakukan hewan tidak lebih dari benda/produk telah memukul balik dari segala arah, kerusakan lingkungan, ketimpangan akses pangan, epidemi penyakit sistemik dan mutasi penyakit-penyakit baru (seperti virus H1N1-Huffington Post” Swine Flu Outbreak-Nature Biting Back at Industrial Animal Production?” May 2, 2009). Arus fakta-fakta bahwa pilihan makan manusia mengancam peradaban manusia itu sendiri, benang merahnya semakin tebal. Mari miliki kepala dingin dan kejujuran mengakui fakta ini jika kita sadar bumi kita tidak dalam keadaan baik-baik saja. Kejujuran ini jualah yang akan menjaga sikap setia dan konsisten pada pilihan tersebut” Chindy Tan-Jogja 10 Agustus 2009 00:25 dini hari

Richard bertanya: yang diriku maksud itu terkait pengaruh makanan pada pertumbuhan spiritual, fisik, mental, dan sosial dari individu atau komunitas

Pengaruh pola vegetarian terhadap berbagai aspek sebenarnya sudah tercermin dari asal kata vegetarian itu sendiri yakni vegetus yang artinya lincah, segar, penuh daya semangat hidup (lively, fresh, vigorous). Meminjam frase Vegetus Libertas yang dipopulerkan Dewi ‘Dee’ Lestari, lebih utuh memberikan gambaran apa vegetarian itu sebenarnya. Hidup yang menguatkan budi. Vegetarian adalah makanan yang menguatkan budi. Makanan yang memerdekakan. Pilihan makan yang mengantar manusia untuk terus berevolusi menuju ke jati dirinya.
Mari kita simak satu persatu pengaruh makanan terhadap:

FISIK
Dalam tes daya tahan tubuh yang dilakukan Universitas Yale oleh Dr. Irving Fisher, terhadap para atlet di Yale,para instruktur, para dokter dan perawat ditemukan bahwa kelompok VEGETARIAN memiliki stamina DUA KALI LEBIH KUAT dibanding kelompok PEMAKAN DAGING. Tes yang sama dilakukan oleh J.H. Kellog di BAttle Creek sanitarium di Michigan dan hasilnya mengukuhkan Dr. Fisher

MENTAL DAN SOSIAL

–Kelompok vegetarian lebih stabil emosinya daripada kelompoknon vegetarian (Armina, Wismanto, Y.B & Yudiati, E.A. 2000-Kestabilan emosi antara vegetarian dan non vegetarian. Psikodimensia. 1:66-70

–Mahasiswa yang berkomitmen sebagai vegetarian memiliki kendali emosi yang lebih tinggi daripada yang tidak berkomitmen sebagai vegetarian (Cahyana, V.A. 2003. Perbedaan Kendali Emosi Pada Mahasiswa Vegetarian dan Non Vegetarian. Skripsi. Tidak diterbitkan. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM)

–Penelitian Stein dan Nemeroft (Rozin, Markwith & Stoess, 1997) menunjukkan bahwa murid-murid dengan pola makan vegetarian digambarkan lebih baik hati dan menyenangkan daripada yang mempunyai pola makan yang tidak sehat dan berkadar lemak tinggi.

–Pola makan vegetarian meningkatkan jumlah Sex Hormone Binding Globulin (SHBG) dalam darah. SHBG adalah molekul protein yang berperan sebagai ‘pesawat pengangkut’ yang menahan hormon-hormon seks sampai mereka dibutuhkan. SHBG ini menjaga hormon seks tetap terkontrol (Izotop, 2001) Hasilnya adalah intensitas agresi yang rendah, lebih baik hati dan juga menajdi lebih sabar (dapat mengontrol dirinya lebih baik)

–Individu yang menjalani pola makan vegetarian secara tidak langsung telah dapat mengendalikan haw nafsu atau emosinya untuk tidak mencicipi makanan yang beraroma merangsang. Seseorang yang dapat mengekang diri dalam soal makanan, maka dengan sendirinya individu tersebut memiliki kapasitas untuk dapat mengekang hal-hal lain temasuk mengekang emosi dan kemarahannya (Armina, Psikodimensia-2000)

Masalah apakah apa yang dimakan dapat mempengaruhi perilaku atau tidak, menurut Rozin, P, Markwith, M&Stoess, C 1997. dalam Moralization and Becoming a Vegetarian: The Transformation of Preferences Into Values and the Recruitment of Disgust. Pshycological sciences. 8, menjelaskan bahwa dalam masyarakat moderen maupun tradisional pandangan “you are what you eat” telah menjadi manifestasi berlakunya Sympathetic magical law of contangion,”yaitu manusia ingin membedakan dirinya dengan binatang, namun dengan tetap mengonsumsi, manusia akan memiliki sifat-sifat binatang tersebut. Penelitian Stein dan Nemeroft tahun 1995 (Rozin, 1997) dengan menggunakan teknik impresi Asch pada murid-murid sekolah di Amerika, menunjukkan bahwa murid-murid yang mempunyai pola makan vegetarian digambarkan lebih baik hati dan menyenangkan dibandingkan yang menganut pola makan yang tidak sehat dan berkadar lemak tinggi. (skripsi: Kontrol Diri Antara Pola Makan Vegetarian dan Non Vegetarian pada Mahasiswa di DIY, Uyun Racmawati, 2008, Universitas Ahmad Dahlan)

—Kaitan makanan dengan perilaku juga dibuktikan korelasinya di Central Alternative High School yaitu sekolah tinggi anak-anak yang memiliki perilaku bermasalah. “Kami menyajikan sayur-sayuran dan buah-buahan tanpa bahan pengawet. Semua makanan kami buat tanpa proses pemanggangan dan penggorengan. Di sini kami juga TIDAK MENGENAL DAGING. “Greg Bretthauer-Dekan Applleton Wiscosin-Central High School. “Kami meniadakan mesin soft drink dan junk food. Kami melihat, hal ini MEMBUAT PERUBAHAN YANG BESAR PADA SISWA.” Debra Larson-School Social Worker (Film Dokumenter Supersize Me, 2004)

Bang untuk pengaruh makanan terhadap aspek spiritual sedang menunggu ijin dari Dee ya, akan saya poskan segera setelah ijin turun;)
Demikian Richard, semoga informasi ini dapat memberi masukan ya..
terima kasih

Jacob Behmen (1575-1624) seorang filsuf besar dari Jerman, dalam bukunya The Great Mystery menjelaskan bahwa persaudaraan manusia dengan seisi semesta merupakan dasar dari penyatuan mistis dengan Tuhan. Membunuh binatang untuk makanan akan membangun penghalang antara roh manusia dan Tuhan. Keberatan moral menggunakan hewan sebagai makanan dan berbagai bentuk eksploitasi merupakan tanda kemurnian, kesungguhan dan kejujuran moral. Leo Tolstoy (1828-1910) dengan indah mengekspresikan dasar moral dari vegetarian,” Gerakan vegetarian akan mengisi jiwa yang hatinya menyadari kehadiran kerajaan Allah di bumi dengan kegembiraan…karena itulah kriteria yang kita ketahui tentang bagian dalam diri seorang manusia yang mencari kesempurnaan moral adalah sejati dan jujur.”
“This is dreadful! Not the suffering and death of the animals, but that people suppress in themselves, unnecessarily, the highest spiritual capacity – that of sympathy and pity towards living creatures like themselves – and by violating their own feelings, become cruel. And how deeply seated in the human heart is the injunction not to take life.”
– Leo Tolstoy, translated from “The First Step,”

Mencintai makhluk lain karena Aku adalah Dia,Dia adalah Aku, Engkau adalah Aku dan Aku adalah Engkau. Adalah didikan yang telah ditanamkan dalam diri Bung Karno kecil. Suatu hari tanpa sengaja Karno menjatuhkan sarang burung dari atas pohon. Kejadian itu membuat Ayah Karno marah.
“Bukankah aku sudah mengajarkanmu untuk mengasihi binatang?”
“Ya, Pak,”sahut Karno ketakutan
“Kau bisa menerangkan arti ungkapan Tat Twan Asi, Tat Twan Asi’ yang kuajarkan?”
“Ya, Pak. Artinya, Dia adalah Aku; Aku adalah Dia, Engkau adalah Aku, Aku adalah Engkau.”
“Lalu, mengapa masih kaulakukan? Bukankah kau harus melindungi semua makhluk Tuhan?”
(Bung Karno Mencari Tuhan, 2005)
Seorang Bapak Bangsa yang lain di negeri ini, Romo Mangun sejak masih kecil telah memperlihatkan kehalusan budinya terhadap makhluk lain. Bil (nama kecil Romo Mangun) kerap pergi ke sawah melihat burung-burung manyar. Suatu ketika Bil dan teman-temannya menghalau kawanan burung manyar,”Hurrrsahhh!” akibatnya burung-burung itu segera beterbangan. Mereka senang melihat kawanan burung manyar terbang di udara. Benar-benar pemandangan yang sangat indah sebab burung-burung itu terbang meliuk-liuk seperti ular.
“Kita ketapel, yuk?” ajak salah satu teman Bil.
“Jangan,” kata Bil mencegah. “Kita tidak boleh menyakiti burung. Mereka juga seperti kita, tidak ingin disakiti.”
(Romo Mangun Sahabat Kaum Duafa, 2005)

http://dl2.glitter-graphics.net

http://dl2.glitter-graphics.net

Hakikatnya hati kita sepakat binatang memiliki bagian yang sama dalam diri setiap kita, naluri mencintai hidup, naluri mempertahankan hidup. Ketika Prof Prasasto mempresentasikan klip-klip detil bagaimana hewan disembelih, suara-suara berseru ngeri, jerit takut terdengar dari kiri-kanan dan deretan kursi di belakang saya. Sebuah presentasi dalam forum Pre. Conference …. MEMBERSHIP AS AN ASSET OF ROTARY CLUB Rotary Club (Sheraton Mustika Yogyakarta Resort & Spa. 27-28 Februari 2009). Melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana sebuah kehidupan terenggut, jerit sakit, amarah hingga mereka meregang nyawa, menyentak hati siapapun, kita terhubung dengan segala rasa yang mereka alami. Hati (hakikatnya) akan menolak melihat, menolak memandang ketakutan, kesakitan, menolak mendengar tangisan sebagai ekspresi naluri untuk mempertahankan meski itu keluar dari mulut seekor kambing, ayam, sapi atau babi. Semua naluri mempertahankan hidup ini kode pesannya sama persis dengan yang manusia miliki. Inilah dasar hubungan sebuah hati dengan laksa entitas, hubungan yang dikandung oleh belas kasih. Hubungan yang mempertautkan semua entitas, sedarah dan sekandung dalam belas kasih mengalir dalam diri laksa entitas, serupa dengan sang Bunda Semesta. Terus berproses untuk mengenal belas kasih, hingga sampai pada titik belas kasih tanpa titik adalah perjalanan hati menguak misteri dan mengenal wajah sang Pencipta, Sang Bunda Maha Belas Kasih. Dalam tautan persaudaraan ini jualah kita akan kembali ke pangkuan Sang Bunda.

http://dl.glitter-graphics.net/

http://dl.glitter-graphics.net/

Berikut adalah salah satu kisah yang tercatat dalam buku “Record of Protecting Life”
Ketika seorang pelajar yang bernama Chou Yu sedang memasak belut untuk dimakan, dia memperhatikan salah satu dari belut tersebut menekuk tubuhnya sehingga kepala dan ekornya masih dalam air mendidih, tapi tubuhnya melengkung di atas sup. Tubuh belut itu tidak jatuh seluruhnya sampai akhirnya dia mati. Chou Yu merasa sangat aneh, dia menarik keluar belut tersebut dan memotong perutnya. Dia menemukan ribuan telur di dalamnya. Belut tersebut telah melengkungkan perutnya keluar dari sup panas untuk melindungi anak-anaknya. Dia menangis melihat pemandangan itu, menarik napas panjang dengan penuh emosi bersumpah tidak akan pernah makan belut lagi.

http://3.bp.blogspot.com

http://3.bp.blogspot.com


Brian
Since becoming a vegetarian I’ve felt a new openness and lightness. Channels have been cleared and obstacles have been removed; energy is flowing more freely from top to bottom. An elimination of obstructions, both physical and spiritual. And with this I’ve discovered a new sensitivity. How do you know what it’s like to not have something when you’ve had it all of your life? I’ve eaten meat for 29 years and I never knew what it was like to not eat meat. Sometimes the best way to know what you have is to take it away. I took meat out of my diet, out of my body, and I was able to see what was underneath and able to experience what I was putting on top. I became more sensitive, sensitive to the quality of food, the character of food, and the impact of what I ate. I developed a new awareness of my body as an organic being, realizing it’s made of the same material as Earth and Nature. It seemed so simple and made perfect sense, a new understanding of what it means to live in accordance with the world around me.

I became vegetarian as an experiment, to see what it was like, and to do so without adhering to a hard and fast ideology. First it was a physical experience: I felt lighter, more open, and even stronger; more efficient. I developed an increasing sensitivity to the essence of what I ate: what was wholesome felt instantly energizing and life-affirming; what was unwholesome felt instantly empty and life-draining. I could feel the nutrients of various foods rushing to and kindling various parts of my body. The act of eating became even more pleasurable than before.

Then I understood vegetarianism on a moral level. Here was the way I approached it: To live in harmony with one’s environment, there needs to be a constant sense of give-and-take, a mutual respect that promotes sustainability for eternity. Food is sustenance. Nature provides food for humans to live. It offers fruits, grains, plants. When we take of these things we must pay our respects with gratitude: “I am grateful for this food to have as my sustenance.” In return for our gratitude, Nature replaces these simple things that we take; no harm done and the Earth is found as it was left. But with animals, there is no gratitude we could possibly pay that would replace taking a life. Once a life is taken, that’s it, it’s over, it doesn’t come back. To kill an animal is the end, the animal does not grow back and it is not replaced. There is no sense of gratitude that can equal the taking of a life. In that regard, I don’t eat meat because I could never be grateful enough for eating a life. This sense of gratitude promotes a strong sense of living in harmony with the world around me. If everybody functioned with gratitude, kindness, and respect, the world would be sustainable for eternity. My moral approach to my diet is that food is an offering from the Earth and for that I am grateful. The Earth regenerates its vegetables, grains, fruits, legumes, nuts, etc., so therefore it is within my right to respectfully take from it for my sustenance. I, or Nature, could never replace the life of an animal so therefore it is not within my right to take from it for my sustenance. (In this light, eating animal products is ok with me since the animal is not killed for its offering. Milk is an offering from the cow, honey is an offering from the bee. I have moral issues with the way these products are sometimes obtained but I don’t feel that there is anything inherently immoral with taking them for consumption. For me, milk and honey are very nutritious food sources that have prominence in my diet). I began to regard humans and other animals as co-existing on the same rung of the food-chain; to eat animals would be almost cannibalistic.

Tonight, I finally understood what it means to be a practicing vegetarian. Some vegetarians say it’s ‘wrong’ to kill animals or use animals for food (as I did above). I see that as a matter of principle- and principles aren’t necessarily true or real. It is almost always more powerful to have something be an innate experience, to feel it from your core rather than as an ideology. It finally made sense to me what it means to be practicing vegetarianism: it has to do with making the decision to willingly act for kindness and to renounce violence. To not eat meat, is to say to myself, “I will consciously make the decision to not eat animals killed for my sustenance.” It is a choice- and that is the point. There is no wrong or right, good or bad. But there is, for me, a prolonged sensation that comes with acting for kindness, peace, and non-violence; with acting for openness. This type of consciousness broadens into every other aspect of life: personal relationships (hostility vs. compassion), attitudes towards one’s self (acceptance vs. punishment), and approaches towards daily living (gratitude vs. selfishness). To practice non-violence, in any form, is a reward in itself, and it feels right and undeniably good. So, practicing vegetarianism becomes less about the ideological reason of it being wrong to kill animals for food; it doesn’t bother me that other people are meat eaters and I believe people have the right to choose to eat meat if they like (whereas, nobody has the right to kill another human being, not even if they like). I do it as a way of practicing non-violence; it is a way of bringing peaceful consciousness into my life and a way of making choices that help me maintain that feeling from the time I wake up to the time I go to sleep. It promotes openness and the removal of obstacles as a means of developing heightened sensitivity and broader awareness; it affirms unity and coexistence; it is a way of acting and living for peace, sustainability, and eternity. For me, it has become a way of cultivating a sense of spiritual well-being, and that always comes down to Love, define it as you will. At the moment, this is the way that is working for me, as it feels right. It is a continual experiment.

In the end, I think too much importance is given to the debate between, ‘is it better to have a vegetarian diet or is it ok to eat meat?’ It can become a back and forth with many twists that won’t lead to a sense of resolution. Really, in the end, I don’t think it matters, though the pros do seem to favor vegetarianism. Vegetarians are certainly no better people than meat eaters. And, different diets work for different people. The real question should be regarding what will improve the quality of life- physically, mentally, emotionally, and, spiritually -for us as individuals and the world that we share with everyone else. And, once finding that, making efforts to move in that direction, and then to live in it.

“We regard some animals—our “pets”—as members of our families. We see them as nonhuman persons. We love them and they love us back. We are not in any way speaking or thinking anthropomorphically when we say that dogs and cats are sentient beings with distinct personalities. That is simply a matter of fact. We have no doubt that they have an interest in avoiding pain, suffering, and death. We grieve when they die. But our dogs and cats are no different from the animals whose bodies we eat or who are used to produce dairy and eggs. We love some animals; we stick forks into others. That is what I mean by “moral schizophrenia.”

www.loveusnoteatus.com

www.loveusnoteatus.com

Mother Earth Salam kenal bagi siapa saja yang mau mampir di beranda bersahaja ini. Bertukar isi hati dan isi otak adalah salah satu proses manusia memanusiakan dirinya. Ada dialog di sana. Dialog yang dituntun oleh tanya demi tanya, karena manusia sepanjang hayat peradabannya adalah makhluk yang belum selesai dengan dirinya. Poin senjang yang banyak diusung berkisar pada kata kunci: MANUSIA, CINTA DAN TUHAN, VEGETARIAN, GLOBAL WARMING. Mengajak siapa saja belajar jujur pada dirinya, ketika hati dan fakta berada dalam satu garis lurus(jujur), maka kejujuran pada dirinya inilah yang akan memaksa manusia berubah. Mungkin inilah hidup yang bertanggung jawab, hidup yang fair. Berusaha memahami cara hidup saat itu juga manusia memahami cara mati

---Chindy Tan---

EATING UP THE WORLD

DOWNLOAD PDF FILE EATING UP THE WORLD eating up the planet If we want to preserve and restore our environment in Australia, we must make changes to our diet. The food we eat has a major effect on our waterways, the quality of the air we breathe and on the environment around us. Eating fish and other sea life is killing our oceans, agricultural industries are polluting our waterways, and vast areas of land are wasted with the grazing of animals. These practices are unsustainable and the global impacts are being felt more than ever before. By adopting a vegetarian diet you can make a significant contribution towards improving your health as well as that of the planet. Animal industries are eating up the world. It is up to us to save it!

Film Dokumenter Processed People

processed people Free Download Trailer film Processed People. "Sebenarnya kita sedang mengonsumsi sesuatu yang tidak layak disebut makanan” Jay Gordon, MD, FAAP, FABM,IBCLC Asisten Prof Kesehatan Anak UCLA Medical School Film ini merupakan finalis USA Film & MAUI Film Festival di dukung oleh dokter-dokter ahli dari UCLA, John Robbins, Jeffrey Moussaief Masson, dan pakar-pakar lainnya.

sinopsis film Processed People

The statistics are terrifying. Two hundred million Americans are overweight and 100 million are obese. More than 75 million Americans have high blood pressure. 24 million people are diabetic. Heart disease remains the No. 1 cause of death for men and women, followed by stroke and obesity-related cancers. Obesity has overtaken tobacco as the No. 1 cause of preventable deaths in the United States. Over 50% of bankruptcies are caused by what has become known as “medical debt.” Fast food, fast medicine, fast news and fast lives have turned many Americans into a sick, uninformed, indebted, “processed” people.

Film Dokumenter H O M E

Free Download Full Version H O M E Dari penulis buku terlaris di dunia, Earth Above, hadir kembali dengan karya baru yang cemerlang. Home, film dengan judul buku yang sama, menghadirkan gambar-gambar yang menakjubkan. Sebuah ekplorasi wajah Bumi lengkap dengan foto-foto terkenal karya Arthus-Bertrand dilengkapi teks informatif oleh tim Good Planet, sebuah organisasi non-profit yang mempromosikan pemeliharaan lingkungan hidup. Home menghadirkan keindahan Bumi dan mengajak seluruh umat manusia untuk menjaganya dari kehancuran. Film ini ditayangkan secara serentak mulai tanggal 5 Juni-14 Juni 2009 3 benua, lebih dari 50 negara, termasuk Indonesia, ditayangkan gratis lewat televisi, bioskop, internet klik disini . Berkisah tentang Bumi dan evolusi semua makhluk hidup, dan bagaimana manusia yang paling muda umur eksisnya justru merupakan oknum yang paling bertanggung jawab atas kerusakan bahkan kehancuran Bumi. Film ini juga mengupas tentang inefisiensi hasil pertanian untuk memproduksi daging. Arthus-Bertrand berkata, “50 persen hutan yang telah hilang, bukanlah hal yang paling penting, melainkan 50 persen yang masih tersisa”

Yesus Vegetarian?

Injil Perdamaian Essene (The Essene Gospel of Peace) yang diterbitkan oleh Lembaga Internasional Biogenik. Teks-teks ini diterjemahkan oleh Edmond Bordeaux Szekely dari naskah kuno berbahasa Yahudi dan Aramaik di dalam Arsip Rahasia Vatikan dan dari tulisan bahasa Slavia kuno di dalam Perpustakaan Kerajaan Hapsburgs (sekarang milik pemerintah Austria). Versi ringkasan buku-buku ini dapat diakses di: http://www.thenazareneway.com/index_essene_gospels_of_peace.htm Salah satu terjemahan Injil perdamaian... Yesus sendiri berkata," Dan daging hewan yang dibunuh dalam tubuh manusia akan menjadi kuburan manusia itu sendiri. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, manusia yang membunuh adalah membunuh dirinya sendiri, dan mereka yang memakan daging hewan yang dibunuh, memakan kematian."

Sang Buddha Vegetarian?

Jelang Sang Buddha Parinirvana, Makan Babi atau Jamur? Pro dan Kontra apakah Sang Buddha vegetarian dapat dibaca argumentasi dan dasar telaahnya yang diulas oleh Master Roshi Philip Kapleau (pendiri Budhisme Zen di Amerika) dalam buku To Cherish All Life (DOWNLOAD FULL VERSION

Video: Diet For A New America-John Robbins

Free Download: Video(part1-8): Diet For A New America “I think what I really learned in all of this, Was to be true to myself To be true to my inner voice And I began to see, That we really do have the power, Our own lives really do make a difference, Just by being more conscious of the food that we eat. We can heal ourselves; we can heal the environment, We can heal this planet"<a

Free Download Film Dokumenter Super Size Me

(Film Dokumenter Supersize Me, 2004)-Free Download Self Experience dari Morgan Spurlock, 30 hari bersama daging. Juga memaparkan fakta pengaruh makanan terhadap perilaku. Kaitan makanan dengan perilaku juga dibuktikan korelasinya di Central Alternative High School yaitu sekolah tinggi anak-anak yang memiliki perilaku bermasalah. “Kami menyajikan sayur-sayuran dan buah-buahan tanpa bahan pengawet. Semua makanan kami buat tanpa proses pemanggangan dan penggorengan. Di sini kami juga TIDAK MENGENAL DAGING. “Greg Bretthauer-Dekan Applleton Wiscosin-Central High School. “Kami meniadakan mesin soft drink dan junk food. Kami melihat, hal ini MEMBUAT PERUBAHAN YANG BESAR PADA SISWA.” Debra Larson-School Social Worker (Film Dokumenter Supersize Me, 2004)

Slide Show Buku Terbaru Lester Brown: Plan B.3

Watch videos at Vodpod and other videos from this collection.

RSS Gary Francione’s thoughts

  • Commentary: World Vegan Day—Nov. 1, 2009 November 2, 2009
    Dear Colleagues: Happy World Vegan Day to all of you. In this Commentary, I reflect on the state of the vegan movement. The bad news: the large welfare corporations have done a great deal to marginalize veganism. The good news: in the past year, we have seen the growth of the abolitionist movement, which views veganism as [...] Related posts:Commentary: Aspe […]
    Gary L. Francione
  • Some Thoughts on the Abolitionist Approach October 24, 2009
    Dear Colleagues: Here are some simple thoughts that embody the abolitionist approach and philosophy. They may be useful to you in your own thinking about things as well as in your discussion with others: 1. Speciesism is morally objectionable because, like racism, sexism, and heterosexism, it links personhood with an irrelevant criterion. Explanation: We do […]
    Gary L. Francione
  • Source Materials on Donald Watson October 23, 2009
    Dear Colleagues: Donald Watson (1910-2005), co-founder of the Vegan Society in the U.K. and the person who coined the term “vegan” in response to the consumption and use of dairy and other animal products by “vegetarians,” was a remarkable person who was very far ahead of his time. In 2002, George D. Rodger of the Vegan Society [...] […]
    Gary L. Francione
  • Commentary: Using Sexism to Promote Animal Rights October 21, 2009
    Dear Colleagues: Would Martin Luther King have had an “I’d Rather Go Naked than Sit in the Back of the Bus” campaign? Of course not. He would have recognized that such a campaign would trivialize the important message of civil rights. Why don’t animal advocates recognize that sexist campaigns similarly trivialize the issue of animal r […]
    Gary L. Francione
  • Some Thoughts on the Meaning of “Vegan” October 18, 2009
    There is a great deal of discussion about what “vegan” means. “Veganism” means at the very least not eating any flesh, dairy, or other animal products. In this sense, “vegan” means “vegan diet.” Donald Watson, who orginally coined the term “vegan” used the word in this way when he made statements su […]
    Gary L. Francione

RSS Ecorazzi News

  • Ed Begley Jr. Destroys FOX News Host, Slams Network For Spewing ‘Nonsense’ November 25, 2009
    Now this is more like it. Ed Begley Jr. went Hulk-mode on FOX News host Stuart Varney yesterday while discussing the recent leak of climate change emails that skeptics have hilariously said prove global warming is a hoax. The actor, well-known for his green lifestyle, took issue with Varney saying the emails shed doubt on the [...]
    Michael d'Estries
  • Edward Norton Raises Over $1 Million For Conservation Trust November 25, 2009
    Edward Norton has achieved his goal of raising more than $1 million for the Maasai Wilderness Conservation Trust. The fundraising effort began in late summer when Norton and a team of runners (including some Maasai warriors) sought sponsorship in running the New York City Marathon. Celebrities such as Alanis Morissette and David Blaine jumped on board [...]
    Michael d'Estries
  • Woody Harrelson On Living Green: “I’m Not Perfect By Any Stretch” November 25, 2009
    “I’m not perfect by any stretch. I have a big footprint, I fly a lot. But it’s not so hard. You get some solar panels, you live in a place where there’s sun. You try to not go in and get a new paper or plastic bag every time you go to the store. I [...]
    Michael d'Estries
  • 10 Celebrity Vegetarian Recipes For The Holidays November 24, 2009
    Between now and New Years, an insane amount of food will be consumed around the world in celebration of the holiday season. To help prepare you for the inevitable request of “bring a dish to pass”, we’ve collected 10 vegetarian recipes from celebrities like Paul McCartney and Boy George (yes, that Boy George) to help [...]
    Michael d'Estries
  • White House State Dinner For Indian Prime Minister Will Be All Vegetarian November 24, 2009
    Tonight, President Obama will be holding the first official dinner for visiting Indian Prime Minister Manmohan Singh and we’ve got some good news: the menu is totally vegetarian. Chef Marcus Samuelsson along with White House Executive Chef Cristeta Comerford will be preparing the dinner, which will feature foods like Red Lentil Soup and Roasted Potato […]
    Michael Parrish DuDell
  • Nigel Barker’s New Documentary “A Generation Free” Gives Hope For The Future November 24, 2009
    Last night, I headed downtown to catch a private screening of Nigel Barker’s new film “A Generation Free.” This powerful 45-minute documentary examines how the Elizabeth Glaser Pediatric AIDS Foundation is helping put an end to pediatric AIDS in 17 countries through the world. Barker and his crew traveled to Tanzania and visited Foundation- […]
    Michael Parrish DuDell
  • Linkin Park Singer Bares Chest, Tattoos For PETA Ad November 24, 2009
    Linkin Park frontman Chester Bennington has shed his clothes in support of animal rights. The rocker is starring in a new ad for PETA2, the young adult division of the organization, to draw attention to its ‘Ink, Not Mink’ campaign. “What’s really important for people to understand is the cruelty behind the fur industry,” he [.. […]
    Michael d'Estries
  • WATCH: Martha Stewart’s Vegetarian Thanksgiving Spectacular November 24, 2009
    While most cooking shows would scoff at the thought of producing a Thanksgiving special without meat, Martha Stewart has proved once again why she’s a pioneer in the kitchen. Having someone with as much sway as the famous host show people that the big feast doesn’t have to include meat to be successful is huge. [...]
    Michael d'Estries

RSS Vegetarian Star

  • Meatless Mouthful: Jonathan Safran Foer On Meat, Sexing Everyone Up November 25, 2009
    “Sex feels good, but we don’t go around having sex with anyone that attracts our attention. We say no to lots of things that would please us. I would like to punch people every now and then, but I don’t. I would like to have something for free rather than pay for it. I would [...]
    Veg Star Staff
  • Ginnifer Goodwin Funny Farm Sanctuary PSA Outtakes (Video) November 25, 2009
    Ginnifer Goodwin is starring in Farm Sanctuary’s Adopt-A-Turkey PSA this year and it took more than one take to get a decent 30 second commercial. Here are some hilarious Farm “bloopers” with Ginnifer and her cow and turkey co-stars. “A little bit more ladylike,” Ginnifer advises as a turkey eats apples from a bowl. Then there […]
    Veg Star Staff
  • Sinitta X Factor Fountain Studios–Fur Real Or Fur Fake November 25, 2009
    Simon Cowell knew Linda McCartney faux sausages had the X Factor. But if his assistant and X Factor mentor Sinitta is wearing real fur trim, she definitely isn’t a star. What is with this bizarre looking accessory on her coat, anyway? Seems as if an animal is crawling around her neck, hoping to pop out any minute to [...]
    Veg Star Staff
  • Jonathan Safran Foer “Eating Animals” Trailer, Dog Kisses (Video) November 25, 2009
    Jonathan Safran Foer’s trailer for Eating Animals features the very creature Jonathan used to despise–the dog! “I had a particular lack of enthusiasm for dogs—inspired, in large part, by a related fear that I inherited from my mother, which she inherited from my grandmother,” Jonathan said. Jonathan discusses french kisses with the do […]
    Veg Star Staff
  • Stella McCartney Spring “Gapkids” “Baby Gap” Clothing March 2009 November 25, 2009
    Stella McCartney will be doing another children’s clothing collection with Gapkids and Baby Gap. Stella’s second collection will feature Spring items and will debut in March. Originally, Stella had decided to do only one collection with Gap. Best sellers from the Winter collection include the Miller Naval jacket, named after her son, Miller Alasd […]
    Veg Star Staff
  • Vanilla Ice Is Vegetarian–Rob Van Winkle Vegetarian November 25, 2009
    In the world of strange, surprising and humorous news, we’re happy to inform you that Vanilla Ice is now a vegetarian. Vanilla, who’s real name is Rob Van Winkle, sat down at Mom’s Diner in Florida with Miaminewtimes.com to allow the reporter to catch up on his life since Ice Ice Baby. Although the public may think [...]
    Veg Star Staff
  • Obamas Indian Prime Minister Singh Dinner Almost Vegetarian November 24, 2009
    Barack Obama and Michelle were set to host the very first state dinner banquet for visiting Indian Prime Minister Manmohan Singh. According to the UK Times Online, Singh is an abstemious vegetarian and the menu looks to be accommodating him quite nicely. Although we were hoping for a total veg (damn those green curry prawns), Prime Minister [...]
    Veg Star Staff
  • Chester Bennington “Ink Not Mink” Anti Fur Ad PETA (Video) November 24, 2009
    Lead vocalist for Linkin Park and Dead By Sunrise Chester Bennington has bared his decorated pecs in an anti fur ad for PETA, Ink Not Mink. We’d love to know the stories behind all of Chester’s tattoos and he would like fans to know the story behind fur farms and the fur industry. “Electrocuting animals, skinning them [...]
    Veg Star Staff

RSS Enviro News

  • Chromium 6 Emissions from ESCO in Portland November 13, 2009
    This story comes the NW Examiner in the Northwest Neighborhood of Portland, Oregon. http://www.nwexaminer.com/issues/11November2009.pdfHexavalent chromium accumulates in organisms and does not break down in the environment. No level of human exposure is considered safe.The EPA says that the respiratory tract is the major target organ for chromium 6 toxicity, […]
    noreply@blogger.com (JT)
  • Urban Rooftop Wind Turbines November 5, 2009
    The Indigo Building or 12 West building recently installed Portland's first wind turbines on the top of a high rise. The wind energy generated from the four small-scale turbines (45 feet tall compared to the massive 400-foot turbines in the Columbia River Gorge) will only produce about one percent of the building’s total energy usage, but serves as a be […]
    noreply@blogger.com (JT)
  • Arcimoto Electric Vehicles in Oregon November 5, 2009
    Arcimoto is an electric vehicle company based in Eugene, Oregon. They had a press conference (EV launch) in downtown Portland, Oregon at Pioneer Square on September 23rd, 2009. Follow arcimoto on twitter @arcimotoArcimoto EV's are available for pre-order for under $20,000. Don't forget that you will be able to take advantage of federal and state ta […]
    noreply@blogger.com (JT)

RSS Scientific News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS KOMPAS

RSS Catatan Pinggir-Goenawan Mohamad

  • Cicak & Buaya November 9, 2009
    Dan metafor pun menang. Mungkin itu tak disadari ketika kata cicak melawan buaya dipakai pertama kalinya dalam pertentangan yang kini disebut sebagai konflik antara KPK dan Polisi. Saya yakin Komisaris Jenderal Polisi Susno Duadji tak memperhitungkan betapa ampuhnya perumpamaan yang dipakainya dalam majalah Tempo, 16 Juni 2009: Jika dibandingkan, ibaratnya, […]
    anick
  • Eumenides November 2, 2009
    Kita kira-kira tahu dari mana datangnya hukum, tapi tahukah kita dari mana datangnya keadilan? Hukum memang dimaksudkan sebagai aktualisasi dari “rasa keadilan”. Kata “rasa” di sini sebenarnya lebih dekat ke arah “kesadaran”. Dengan catatan: kesadaran akan keadilan itu tak hanya sebuah produk kognitif, hasil proses pengetahuan, melainkan juga tumbuh melalui […]
    anick

RSS Ruang Hati

  • Belajarlah Menyatakan Cinta November 24, 2009
    Suatu hari seorang sahabat duduk bersama Rasulullah saw. Kemudian seorang sahabat lain berlalu di depan mereka. Sahabat yang duduk bersama Rasulullah saw tadi berkata kepada beliau: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mencintai orang itu.” “Sudahkah engaku menyatakan cintamu padanya?” tanya Rasulullah saw. “Belum, wahai Rasulullah,” kata sahabat itu. ”Pergil […]
    ruanghatikita

RSS Guardian News

RSS The New York Times

  • Report Offers Plan for Reducing China's Carbon Intensity November 25, 2009
    A new report suggests that China could reduce its carbon intensity by as much as 23 percent.
    By REENITA MALHOTRA HORA
  • Canada, India Resume Nuclear Energy Trade November 25, 2009
    Thirty-five years after Canada slapped sanctions on India for using a reactor to help detonate a nuclear warhead, the two countries agreed to resume fuel-grade uranium sales.
    By JOHN LORINC
  • Rethinking Clean Energy Innovation November 25, 2009
    With energy demand growing quickly, development of clean energy technologies cannot afford to be undertaken in silos, a new report says.
    By JIM WITKIN
  • Agribusiness Chief Slams Organics November 25, 2009
    When Michael Mack, the chief executive of Syngenta, a Swiss agribusiness giant that makes pesticides and seeds, hears people say that organic food is better for the planet, he has one response: "Au contraire."
    By KATE GALBRAITH
  • Inhofe Seeks Probe of Climate Science November 24, 2009
    Senator James Inhofe, Republican of Oklahoma, sent letters to many of the scientists whose e-mail messages were made public, asking them to preserve all correspondence.
    By JOHN M. BRODER

RSS Newsweek

Archives

Blog Stats

  • 15,970 hits

 

November 2009
M T W T F S S
« Sep    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30