You are currently browsing the category archive for the 'Suara Bumi' category.
“I think what I really learned in all of this,
Was to be true to myself
To be true to my inner voice
And I began to see,
That we really do have the power,
Our own lives really do make a difference,
Just by being more conscious of the food that we eat.
We can heal ourselves; we can heal the environment,
We can heal this planet”
John Robbins dibesarkan di jantung Mega Bisnis Perusahaan Makanan di Amerika. Dari kecil diharapkan kelak dapat mengambil alih dan menjalankan apa yang telah menjadi perusahaan es krim terbesar di dunia – Baskin-Robbins. Tahun demi tahun John Robbins dibesarkan dan dipersiapkan untuk tugas ini, mendapat kesempatan untuk hidup dalam skenario yang paling diidamkan oleh semua orang Amerika. Bahkan mimpi yang hanya dapat dicapai oleh segelintir orang. Kolam renang berbentuk kerucut es krim di halaman belakang rumah tinggalnya, merupakan simbol kesuksesan yang sedang menunggunya.
Tetapi ketika waktunya tiba untuk memutuskan John Robbins berkata: “ terima kasih, saya sangat menghargai tawaran baik ini, tetapi ‘Tidak!’ Saya harus berkata tidak. Nurani menarik saya ke arah yang berbeda, sesuatu yang lain memanggil saya, dan bagaimanapun kerasnya saya berusaha, saya tetap tidak bisa mengabaikannya.”
Ada mimpi yang lebih menyentak dan menarik langkah saya . Sebuah mimpi di mana semua makhluk hidup berbagi karena dibangun atas rasa hormat pada semua bentuk kehidupan. Mimpi dimana masyarakat berdamai dengan hati nurani karena mereka menghormati dan tinggal berdampingan dengan semua bentuk kehidupan. Mimpi bahwa manusia hidup selaras dengan hukum Sang Pencipta, menghargai dan merawat lingkungan alami, mengkonservasi alam, bukan justru menghancurkan alam. Mimpi tentang masyarakat yang benar-benar sehat, mempraktekkan pengayoman yang bijaksana dan berbelas kasih pada keseimbangan ekosistem.
Ini bukan mimpi saya seorang. Sesungguhnya adalah mimpi semua umat manusia yang sama-sama bisa melihat keadaan Bumi yang menyedihkan, dan merasakan luka Bumi sebagai bagian dari dirinya. Juga mimpi mereka yang merasa bahwa panggilan menghormati dan melindungi dunia di mana kita hidup adalah kewajiban. Pada tingkat tertentu, kita semua berbagi dalam mimpi ini.
Saya memilih membangun integritas dan mimpi saya. Bersama istri kami pindah ke pulau kecil di Kolumbia, hidup dari apa yang kami tanam sendiri. Merajut hidup kami dalam jejaring alam, Mencoba menemukan akar hidup kami bersama Bumi. Mendefenisikan ‘cukup’ akan materi dengan pengeluaran 600 dolar /tahun selama tujuh tahun.
Hampir tak seorang pun dari kita menyadari betapa besarnya kebiasaan makan kita berpengaruh terhadap kemungkinan mimpi ini menjadi kenyataan. Kita tidak menyadarinya dalam berbagai cara, bagaimana apa yang kita makan bisa mempunyai dampak begitu luar biasa. Adalah John Robbins melalui bukunya Diet For A New America, buku pertama yang menunjukkan dalam detail penuh dasar dari dampak ini, tidak hanya terhadap kesehatan kita, tetapi sebagai tambahan atas kekuatan masyarakat kita, kesehatan dunia kita, dan kesejahteraan semua makhluk. “Ternyata yang terjadi, kita mempunyai sebab untuk berterima kasih, karena apa yang terbaik bagi diri kita secara pribadi adalah juga terbaik untuk semua bentuk kehidupan dan semua sistem pendukung kehidupan dimana kita semua bergantung kepadanya.
kepada Anda tentang bagaimana Anda bisa menikmati makanan dengan benak dan hati bersih dan tak terpolusi.”
Buku Diet For A New America telah mengguncang dan mengetuk kesadaran orang untuk sungguh terhubung dengan setiap detil konsekuensi atas pilihan makanan yang akan dimasukkan ke dalam mulut . Sejak pertama kali terbit tahun 1987, John Robbins mendapat respon sejumlah 75.000 surat. Lima tahun setelah buku Diet For A New America terbit, terjadi perubahan besar-besaran dalam pola konsumsi beef di Amerika, sungguh di luar dugaan dapat menurun hingga 20%.
Joanna Macy penulis buku-Despair and Personal Power in the Nuclear Age- bertutur tentang salah satu buku terbaik John Robbins ‘Diet For A New America’
“Saya berterima kasih bahwa buku ini bukan kotbah. Terlalu penting untuk sebuah kotbah – terlalu penting untuk kesehatan kita sebagai individu, sebagai keluarga, sebagai masyarakat dan sebagai planet. John Robbins tidak mencaci atau berkotbah; dia membawa kita dalam perjalanan besertanya, membagi cintanya bagi kehidupan dan hormatnya bagi semua bentuk kehidupan, termasuk diri kita. Sementara dia membagi juga keterkejutannya dan kesakitan atas apa yang ditemukannya dalam Mega Bisnis Perusahaan Makanan di Amerika, dia dengan arif membiarkan kita menarik kesimpulan kita sendiri tentang bagaimana kita ingin hidup. Ketika saya menapaki serpihan dan kayu apung, saya berpikir sendiri ‘Skenario ini utopis yang liar, absurd. Juga jelas tentang cara tujuan hidup kita, membangun hidup’.
Ditulis ulang dari buku dan video Diet For A New America, The Food Revolution oleh Chindy Tan
ps.
tulisan ini akan dipublikasikan di majalah info vege edisi 3
tayangan perjalanan John Robbins tinggal klik kolom koleksi video dengan judul Diet For A New America part 1 (tengok ke kolom kiri ya;)
“O Lord of love and kindness, who created the beautiful earth and all creatures walking and flying in it, so that they may proclaim your glory, I thank you to my dying day that you have place me amongst them”
(St. Fransiscus Asisi)
Ytk
Romo Santo
Terima kasih atas apresiasinya,
Semoga kita semua, mau belajar hidup yang mengenal asal usul tiap berkah Bumi yang sampai kepada kita dan menghargainya. Manusia tidak berhak mengklaim ‘kepemilikan’ atas apa pun di muka Bumi ini. Namun sayangnya peradaban kita sedang bergulir menuju serba komoditi. Setiap inci entitas sebisa mungkin dijadikan komoditas. air, tanah, tetumbuhan, bahkan atmosfer pun kini telah dikapling, udara—sepupu saya pernah menawarkan Ozon (O3). udara dengan kualitas terbaik dengan harga 500rb/Liter. Semua berkah Bumi (kalau bisa) diberi label rupiah.
Mengutip kata-kata Romo Inugraha, (dalam seminar Go Green and Healthy Lifestyle 6 Maret 2009, Atmajaya-Yogyakarta)
“Kita telah menjadi makhluk yang selalu lapar, tak sadar menumpuk materi, memakan sumber hidup Bumi, mulut satu orang dengan perut yang berkantong-kantong, memasukkan apa saja tak kenal kata cukup.” Pedas memang tapi itulah kenyataan apa adanya. Manusia telah menjadi makhluk mutan, kehilangan kemuliaan yang telah ditiupkan Allah dalam hati nuraninya. Read the rest of this entry »
Alam sang maha entitas yang melahirkan sesuatu (beyond) entitas yang menafkahi jiwa kita. Sesuatu yang tak pernah redup pendarannya, terus bergetar dalam tiada awal dan tiada akhir. Hakikatnya bebas label, melampaui nama namun ada yang menyebutnya nurani, ada juga yang memanggilnya kalbu. Kadang riil dalam surupa namun gamang dalam sunya karena dia bukan sunya maupun surupa itu sendiri. Melampaui baik-buruk, benar-salah, suka tak suka, jelek-rupawan.
Namun tulisan di atas, hanyalah sederet huruf. Upaya memberi nafas pada hakikat diri yang bebas dualitas bukan hal yang mudah, namun bukan berarti mustahil. Mampukah hati tak beriak ketika realita merampas, mencekik harapan. Mampukah hati tak bergeming kala seorang sahabat lain dengan enteng melepas tanggung jawab. Mampukah hati tetap hening tatkala deraan fitnah menusuk.
Detik ini, dengan segala paket di dalamnya: omongan baik-tak baik, tantangan karir lancar-tersendat-sendat, masalah keluarga ruwet-ayem, pilihan kita cuma dua. Menerima atau menampik, lari darinya. Mungkin ketika diri tak kalah oleh kecewa, tak redup oleh putus asa, tidak memelihara ketidakpuasan tatkala kaki harus menjejak onak dan duri. Hidup ingin memaparkan wajah hidup yang sesungguhnya, rasa hidup yang sesungguhnya. Tidak ada hidup yang sial, tidak ada hidup yang mujur. Tidak ada sial yang abadi juga tidak ada mujur yang kekal. Tugas hati hanyalah memasang mata pada satu ubin demi satu ubin yang ada di depan mata, ikhlas melangkah, meski perih onak duri menusuk dan merobek kulit. Berjalan dalam keikhlasan yang tak memilih, mengantar diri belajar berdiri di atas dualitas, derita, kecewa, sedih, tak suka, bermetamorfosa menjadi konsep, ilusi bukan realita
Sahabat,
berbicara dengan alam, membuka jalur komunikasi dengan ‘diri’
bersentuhan dengan alam, mengantar diri mencecap cita alam, sebanyak pori tubuh
alam adalah diri, diri adalah alam
Hakikat hidup termuat dalam kitab raksasa-alam raya yang membentuk semesta, setitik debu sekalipun dapat memantulkan hakikat hidup kepada tiap hati yang mau menapak pulang ke dalam diri.
Oleh: Chindy Tan
Gac yang baik,
Jangan bingung adikku*untung ada Bang Ripsong dengan segera beri senter*
filsafat bukan produk negeri di awan, melainkan sangat membumi jej;)
jika oksigen adalah dzat utama pemantik api dalam jasad fisik, maka filsafat adalah pemantik api jiwa kita.
filsafat bukan menu orang kurang gawean, tiap detik kita sedang bermain dengan filosofi(jika tombol kesadaran berusaha dijaga on). Bercanda dengan hidup tanpa filosofi tak beda bercanda dengan boneka barbie yang diberi baterai. Tersenyum tanpa tau kenapa dia tersenyum. Cekikikan bukan karena geli. Garing. Tak ubahnya dengan seonggok daging yang seliweran tanpa roh. Sungguh, manusia harus gentar bila (ternyata) hidup tanpa filosofi. Hidup tanpa akar. Hidup tanpa dasar.
Gac, saya mencoba membaca kegelisahanmu. Mengutip pertanyaan teman-temanmu,”Gac loe mau jadi apa sih? Penulis apa arsitek?” Rundung gelisah yang nampaknya belum ketemu tepi, melahirkan sejuta pertentangan. Iya, ya…aku kan arsitek, kudu bisa milih lah. prioritas, arsitek, arsitek, arsiteeek. tapiiii aku juga pengen tau yang laen(sastra barangkali? or budaya? humaniora? whateverlah) mungkin kira-kira demikian gelisah yang nyumbat ditenggorokan Gac jika boleh saya coba uraikan. (maaf kalo sok terawang;)
-
Ada berapa ruang pikir yg dapat dikembangkan dalam diri tiap kita?
Menurutku tidak terbatas tapi juga bisa sangat berbatas. Cendek. Ketika sedikit saja sentilan, teguran,”kok sampah kertasnya masih nyasar di tempat sampah organik?”keluh bu Tuti. “Si mbok mungkin bingung liat saya, sampah salah kamar aja dipikirin segitu ribetnya” lanjut bu Tuti berkeluh kesah kepada saya.
Hmm, memang tidak mudah membiasakan dan membentuk perilaku. Saya jadi ingat cerita bu Suyanto dari wilayah percontohan swakelola sampah. Tak putus mereka mendekati warga, dalam tiap pertemuan selalu mengangkat pentingnya dan betapa simpelnya nambah kantong sampah di rumah untuk mulai memilah. Demi nasib TPA Piyungan di Jogja yang dlm hitungan dua tahun lagi tak bisa lagi tampung sampah. Terus dan urun rembuk terus digelar. Tapi, tetap masih saja ada yang nyeletuk,”buang sampah aj kok ndada’ mikir” Read the rest of this entry »
Siapa saja kalau ke Jogja, coba sempatkan tengok satu pohon besar di depan Museum Affandi. Kalau dari arah Timur, letaknya di sisi kanan poros jalan Solo.. Entitas dengan kepekaan yang punya nyawa membaca hati alam, satu bahasa dengan alam. Pohon yang unik dan antik, kala akan memasuki musim hujan, hijau semarak mewarna, DEDAUNAN tumbuh di setiap rantingnya. Ketika mulai berbunga, daunnya akan rontok, hingga hanya BUNGA yang tampak mata. Indah! Gumam siapa pun yang melihatnya. Tatkala musim hujan akan berlalu, satu persatu bunga akan gugur, tak terkecuali, meninggalkan tulang ranting, gundul, bersih..tak ada DAUN, tak ada BUNGA. Sungguh bahasa alam yang unik, pohon ini mampu satu hati dengan alam, gejala alam dipahami dengan tepat, tak pernah meleset sedikitpun.
Berbahasa alam, kemampuan yang terfosil lama dalam diri manusia. Sel-sel penginderaan mati, raib kepekaan, hingga rabun untuk membaca bahasa alam, getar jerit alam pun mental, tak mampu kita dengar lagi. Eksistensi pohon ini, sebuah pengamatan yang intim dari seorang sahabat, Anton. Dengan sarat dan limpahan cinta, Anton menamakan pohon itu sebagai pohon Anton. Hari ini, kamis, 2 November 2006, pukul 9.40BBWI. Kembali saya menyapanya dengan mata saya, benar seperti kata Anton. “Sekarang daunnya sudah sangat lebat, itu pertanda hujan sebentar lagi akan mengguyur Jogja”
Sepanjang jalan, Maria dan Bang Reynold menertawai saya. Pasalnya, Maria cerita pada suaminya kalau saya tidak bisa diam melihat orang-orang buang puntung rokok atau tisu di jalan raya. Aih, aih..siapa yang tidak gemas, geram plus greget! Setiap hari, hampir setiaaap hari saya berpapasan dengan satu orang yang dengan santainya menjentikkan puntung rokoknya ke jalan raya, Astaghfirullah! Geram, geram, geram nian hati ini, tiada daya, cuma bisa menggurat, merekam dengan detil semua pemandangan ini. Menandainya satu demi satu. Tanpa sadar, dalam hati sudah tercentang sekian kejadian. Hari ini satu, kemarin satu, esoknya satu lagi. Sabtu kemarin sempat 3 yang ketangkap mata. Prihatin, cuma bisa prihatin, berat sekali rasa hati ini. Netralin, kudu segera di netralin, sebelum hati bengkak jadi hepatitis. Defense mekanis segera diaktifin, setel sudut pandang. Pandang fenomena ini sebagai tantangan untuk mengetuk siapa saja dengan satu pesan, apa yang dilakukan tak ubah dengan ngupil lalu menebar dan menempelkan upil ke setiap sudut wajah sendiri. tak ada indah-indahnya sama sekali. analoginya mungkin bisa dipapar demikian, saat berkendara, pandangan pasti fokus ke jalan dan apa yang ada dijalan akan tertampak nyolok. entah itu daun kering, plastik cemilan, puntung rokok atau apapun yang ada diatasnya. Demikian juga dengan wajah, saat berbicara dengan siapa pun, pandangan kita fokus di wajah. apa yang ada diwajah akan terlihat jelas. entah tahi lalat, jerawat, komedo atau apalah. Nah, kalau membuang sampah sembarang di jalan raya, ibarat membuang upil di wajah sendiri kan! aduuh, analoginya kedengaran maksa g ya,hehehe….biasolah, bisa-bisanya ae…
Apa sih arti perbuatan kita kalau kita hanya seorang diri memisah sampah, membuat kompos, hemat listrik, hemat air, mengurangi makan daging, mengurangi konsumerisme, sementara jutaan orang di luar sana tidak peduli dan terus menjalankan hidupnya seperti biasa?” A Thank U note(dee-idea.blogspot.com)
Sahabat, sewaktu kecil saya selalu mengamati cara Erl-Cie keramas. Unik. Air bilasan pertama sebelum rambut berbuih sampo, air tsb selalu ditampung, lalu dipakai lagi untuk membilas rambut ketika sudah berbuih. Pemandangan ini masig detil terekam dalam ingatanku. Dan ini sangat mempengaruhi caraku memperlakukan air. Kalo cuci buah, sayang rasanya bila air bilasan terbuang begitu saja. sebisa mungkin saya berusaha mencari baskom atau wadah apa saja untuk menampung. Untuk kemudian dipakai bilas gelas kek, bilas sendok kek atau siram tanaman.
Sekecil apa pun sesuatu hal yang dilakukan, membawa suatu pesan yang HIDUP. Pesan yang hidup mudah menghidupkan bagian yang sama dalam diri. Tiap kita punya peduli, melihat peduli itu begitu Hidup dan berapi2 dalam diri orang lain, pasti ada pengaruhnya pada benih peduli dalam diri kita. Respek yang HIDUP dalam diri orang lain akan menyentil bakat respek dalam diri kita. Getok tular kata orang Jawa.
Menurut saya, apa yang kita lakukan adalah memncoba memperbaiki cara kita memandang Bumi. Bumi dan segala isinya selama ini kita perlakukan tak lebih dari sebuah produk. Kacung pemuas kebutuhan kita. Tafsir kata ‘Kuasai’ mengantar kita pada wajah Bumi kita detik ini. Segala bentuk kehidupan yang ada di muka Bumi adalah komoditi yang punya nilai jual. Habis2an alam dikeruk. Rasa2nya kita jadi sangat kreatif, hampir tak ada yang tak bisa dijadikan duit. Sepuluh tahun lalu tidak pernah terpikir air harus dibeli. tiga tahun lalu sepupu saya menawarkan satu paket Ozon alias O3, 500rb. Udara kualitas terbaik katanya. Sekujur tubuh Bumi dikapling pemilik modal. Jaman imperalis yang dikapling tanah. Lepas Revolusi Industri mata kita berlipat2 lebih jeli melihat apa saja yang bisa dikapling. Perut Bumi dikuras, Hutan dibotakin, air di’aman’kan oleh perusahaan. Sekarang yang lagi marak adalah kaplingan atmosfer….
Kalo di klaten ada komoditi lain yang mungkin sulit dipercaya..tuyul. ada pasar tuyul. kalo minat datang saja sendiri dan bisa milih lo…wueleeh,wueeleh jadi ngelantur
Namun demikianlah sepak terjang keserakahan yang telah dipilih untuk dipertuhankan manusia sekarang.
Kembali ke pada setiap upaya yang mungkin terkesan remeh, sepele. Memulihkan hati bukanlah remeh. memperbaiki hubungan kita kembali dengan Alam tidaklah sepele.
Beberapa minggu yang lalu saya bertanya pada pak Daliman, “Mengapa sih kita bisa begitu merusak Alam? mungkin karena kita memang sudah sangat jauh dan asing terhadap Alam ya?”
“Pagi sekarang tidak seceria dulu “kata pak Daliman, laboran di pusk kami. Dulu, menjelang pagi saat masih gelap saya suka sekali ke sungai hanya untuk mendengarkan gemericik aliran air, daun-daun seolah mantuk-mantuk menyapa. Burung-burung berlomba bernyanyi. ceria sekali! Sekarang…saya tidak bisa merasakannya lagi. Pagi tidak seramah dulu. Bangun pagi, dimana2 saya ketemu manusia, terlalu banyak manusia. suasana rasanya dingin. rasanya alam menarik diri, mungkin marah sama ulah kita. entahlah…sambat pak Daliman
Jurnalperempuan.com-Jakarta. Sambil melihat sampah-sampah yang bertebaran di sekelilingnya, Chindy Tanjung membeberkan contoh cara memanfaatkan kembali sampah sesuai dengan jenisnya.
Aktivis International Natural Loving Association itu merasa miris melihat sampah- sampah bekas gelas air mineral dan kotak makanan berserakan seusai acara diskusi yang digelar dalam rangkaian Festifval Seni Pertunjukan Kontemporer Perfurbance #3 Pembaharuan Spiritual. Festival ini bisa dibilang unik karena berlangsung secara bersahaja di tengah-tengah perkampungan Gemblangan, Bantul pada 25-29 April 2007.
Sayangnya, tidak banyak masyarakat setempat yang mengikuti acara diskusi yang penuh informasi penting mengenai kesehatan makanan dan lingkungan itu. Mungkin hal ini bisa dimaklumi karena perhatian mereka tercurah untuk melayat seorang penduduk kampung yang meninggal hari itu.
Mengomentari sampah plastik, perempuan asal Kendari itu menerangkan, plastik bukanlah jenis bahan yang dapat terurai dengan mudah karena membutuhkan waktu sekitar 100 tahun. Sampah plastik yang ditimbun dalam tanah akan menyebabkan tanah menjadi jenuh, seperti yang terjadi di daerah Sukunan, Yogyakarta. Jalan pintas memusnahkan sampah dengan cara pembakaran pun akan menimbulkan masalah lingkungan yang tak kalah bahayanya. Karenanya, dokter gigi yang membuka praktek di Yogyakarta itu menekankan pentingnya pemilahan sampah antara sampah kering dan basah dan mendaur ulangnya.
Sampah basah dapat dimanfaatkan menjadi pupuk kompos, sementara sampah kering dapat dipilah-pilah dan dijual kembali untuk kemudian didaur ulang. “Plastik bekas juga dapat diberikan ke pedagang di pasar agar dapat digunakan kembali,” ujar Chindy menanggapi pertanyaan mengenai menumpuknya plastik di rumah-rumah kos antara lain karena hampir setiap hari membeli makanan di luar rumah.
Menurut Chindy, pengorganisasian masyarakat untuk mengelola sampah dapat berjalan dengan efektif bila dikoordinasi oleh RW. Sebagai contoh, sejak 1992, masyarakat Gondolayu Lor sudah menjalankan sistem pengelolaan sampah yang ramah lingkungan. Bahkan, sepasang suami-istri yang mengelola program itu membuat eksperimentasi kompos sehubungan dengan latar belakang pendidikan mereka dari pertanian. Hasilnya, daerah Gondolayu Lor yang tak seberapa luas itu dipenuhi oleh rerimbunan pohon yang berwarna cerah dan segar karena menggunakan sistem organik. Hasil penjualan sampah pun dapat menambah kas RW.
Cara lainnya adalah berkoordinasi dengan pemulung. Mereka dapat membantu menyalurkan sampah, sementara ia sendiri pun mendapat penjualan dari hasil penjualan sampah itu. Bila di wilayah perkotaan RW tidak berjalan, koordinasi dapat dilakukan melalui komunitas agama, seperti yang dilakukan umat Budha di Vihara Bodhicitta Maitreya. “Umat dimotivasi agar memilah sampah yang kemudian ditampung, diangkut, lalu dijual,” cerita Ketua Korcab Indonesia Vegetarian Society wilayah Jawa Tengah-Yogyakarta ini. Dengan pembinaan seorang biarawati yang khusus menangani masalah ini, mahasiswa Budha yang menjadi relawan terutama berperan menangani proses pengangkutan itu.
Bagi Chindy, inilah cara membumikan nilai-nilai spiritual alam kehidupan sehari-hari, “Melihat tanah sebagai wajah penciptanya. Kalau asing dengan tanah, bumi, dan air, kita merasa asing dengan penciptanya, sang Ilahi.” Hal mendasar agar sistem itu dapat berjalan adalah kesadaran masyarakat untuk hidup sehat. Dalam hal ini, di samping mengorganisasi pengelolaan sampah secara intens di rumahnya, perempuan berperan besar dalam membentuk karakter anak, misalnya mengajarkan anak membuang sampah yang benar. Perempuan juga mempunyai andil yang tidak sedikit dalam memotivasi kesadaran kritis akan pentingnya makanan yang sehat.
“Saya dulu diceritai ibu saya bagaimana proses membuat bakso yang kurang sehat.” Contoh lain yang disampaikan Chindy adalah proses pembuatan sirop yang sehat, tanpa pewarna.*
Something is out of whack in China’s lakes and rivers. Algae blooms are making fresh water undrinkable. This is what report on Newsweek magazine, sept 24, 2007. Emil Salim ever jabed his finger angrily to the forest (gambut land) on Riau. In China, for the water sake! The Earth definetely jabs it finger to the lake. The lake is profoundly sick, coz if you go in, your skin will turn red immediately,”says a disgusted Zhang. Zhang yanks up his trouser leg to showthe rash left on his ankles from a recent wade into the once pristine waters.
Again, the record of human careless trigger by their greedy, rapid economy growth, the name of new god that human adore


Salam kenal bagi siapa saja yang mau mampir di beranda bersahaja ini. Bertukar isi hati dan isi otak adalah salah satu proses manusia memanusiakan dirinya. Ada dialog di sana. Dialog yang dituntun oleh tanya demi tanya, karena manusia sepanjang hayat peradabannya adalah makhluk yang belum selesai dengan dirinya. Poin senjang yang banyak diusung berkisar pada kata kunci: MANUSIA, CINTA DAN TUHAN, VEGETARIAN, GLOBAL WARMING. Mengajak siapa saja belajar jujur pada dirinya, ketika hati dan fakta berada dalam satu garis lurus(jujur), maka kejujuran pada dirinya inilah yang akan memaksa manusia berubah. Mungkin inilah hidup yang bertanggung jawab, hidup yang fair. Berusaha memahami cara hidup saat itu juga manusia memahami cara mati





Dari penulis buku terlaris di dunia, Earth Above, hadir kembali dengan karya baru yang cemerlang. Home, film dengan judul buku yang sama, menghadirkan gambar-gambar yang menakjubkan. Sebuah ekplorasi wajah Bumi lengkap dengan foto-foto terkenal karya Arthus-Bertrand dilengkapi teks informatif oleh tim Good Planet, sebuah organisasi non-profit yang mempromosikan pemeliharaan lingkungan hidup. Home menghadirkan keindahan Bumi dan mengajak seluruh umat manusia untuk menjaganya dari kehancuran.
Film ini ditayangkan secara serentak mulai tanggal 5 Juni-14 Juni 2009 3 benua, lebih dari 50 negara, termasuk Indonesia, ditayangkan gratis lewat televisi, bioskop,
Injil Perdamaian Essene
Jelang Sang Buddha Parinirvana, Makan Babi atau Jamur?
Pro dan Kontra apakah Sang Buddha vegetarian dapat dibaca argumentasi dan dasar telaahnya yang diulas oleh Master Roshi Philip Kapleau (pendiri Budhisme Zen di Amerika) dalam buku
(





Berbalas Cuap