You are currently browsing the category archive for the 'Suara Bumi' category.


“I think what I really learned in all of this,
Was to be true to myself
To be true to my inner voice
And I began to see,
That we really do have the power,
Our own lives really do make a difference,
Just by being more conscious of the food that we eat.
We can heal ourselves; we can heal the environment,
We can heal this planet”

John Robbins dibesarkan di jantung Mega Bisnis Perusahaan Makanan di Amerika. Dari kecil diharapkan kelak dapat mengambil alih dan menjalankan apa yang telah menjadi perusahaan es krim terbesar di dunia – Baskin-Robbins. Tahun demi tahun John Robbins dibesarkan dan dipersiapkan untuk tugas ini, mendapat kesempatan untuk hidup dalam skenario yang paling diidamkan oleh semua orang Amerika. Bahkan mimpi yang hanya dapat dicapai oleh segelintir orang. Kolam renang berbentuk kerucut es krim di halaman belakang rumah tinggalnya, merupakan simbol kesuksesan yang sedang menunggunya.

Tetapi ketika waktunya tiba untuk memutuskan John Robbins berkata: “ terima kasih, saya sangat menghargai tawaran baik ini, tetapi ‘Tidak!’ Saya harus berkata tidak. Nurani menarik saya ke arah yang berbeda, sesuatu yang lain memanggil saya, dan bagaimanapun kerasnya saya berusaha, saya tetap tidak bisa mengabaikannya.”

Ada mimpi yang lebih menyentak dan menarik langkah saya . Sebuah mimpi di mana semua makhluk hidup berbagi karena dibangun atas rasa hormat pada semua bentuk kehidupan. Mimpi dimana masyarakat berdamai dengan hati nurani karena mereka menghormati dan tinggal berdampingan dengan semua bentuk kehidupan. Mimpi bahwa manusia hidup selaras dengan hukum Sang Pencipta, menghargai dan merawat lingkungan alami, mengkonservasi alam, bukan justru menghancurkan alam. Mimpi tentang masyarakat yang benar-benar sehat, mempraktekkan pengayoman yang bijaksana dan berbelas kasih pada keseimbangan ekosistem.

Ini bukan mimpi saya seorang. Sesungguhnya adalah mimpi semua umat manusia yang sama-sama bisa melihat keadaan Bumi yang menyedihkan, dan merasakan luka Bumi sebagai bagian dari dirinya. Juga mimpi mereka yang merasa bahwa panggilan menghormati dan melindungi dunia di mana kita hidup adalah kewajiban. Pada tingkat tertentu, kita semua berbagi dalam mimpi ini.

Saya memilih membangun integritas dan mimpi saya. Bersama istri kami pindah ke pulau kecil di Kolumbia, hidup dari apa yang kami tanam sendiri. Merajut hidup kami dalam jejaring alam, Mencoba menemukan akar hidup kami bersama Bumi. Mendefenisikan ‘cukup’ akan materi dengan pengeluaran 600 dolar /tahun selama tujuh tahun.

Hampir tak seorang pun dari kita menyadari betapa besarnya kebiasaan makan kita berpengaruh terhadap kemungkinan mimpi ini menjadi kenyataan. Kita tidak menyadarinya dalam berbagai cara, bagaimana apa yang kita makan bisa mempunyai dampak begitu luar biasa. Adalah John Robbins melalui bukunya Diet For A New America, buku pertama yang menunjukkan dalam detail penuh dasar dari dampak ini, tidak hanya terhadap kesehatan kita, tetapi sebagai tambahan atas kekuatan masyarakat kita, kesehatan dunia kita, dan kesejahteraan semua makhluk. “Ternyata yang terjadi, kita mempunyai sebab untuk berterima kasih, karena apa yang terbaik bagi diri kita secara pribadi adalah juga terbaik untuk semua bentuk kehidupan dan semua sistem pendukung kehidupan dimana kita semua bergantung kepadanya.
kepada Anda tentang bagaimana Anda bisa menikmati makanan dengan benak dan hati bersih dan tak terpolusi.”

Buku Diet For A New America telah mengguncang dan mengetuk kesadaran orang untuk sungguh terhubung dengan setiap detil konsekuensi atas pilihan makanan yang akan dimasukkan ke dalam mulut . Sejak pertama kali terbit tahun 1987, John Robbins mendapat respon sejumlah 75.000 surat. Lima tahun setelah buku Diet For A New America terbit, terjadi perubahan besar-besaran dalam pola konsumsi beef di Amerika, sungguh di luar dugaan dapat menurun hingga 20%.

Joanna Macy penulis buku-Despair and Personal Power in the Nuclear Age- bertutur tentang salah satu buku terbaik John Robbins ‘Diet For A New America’
“Saya berterima kasih bahwa buku ini bukan kotbah. Terlalu penting untuk sebuah kotbah – terlalu penting untuk kesehatan kita sebagai individu, sebagai keluarga, sebagai masyarakat dan sebagai planet. John Robbins tidak mencaci atau berkotbah; dia membawa kita dalam perjalanan besertanya, membagi cintanya bagi kehidupan dan hormatnya bagi semua bentuk kehidupan, termasuk diri kita. Sementara dia membagi juga keterkejutannya dan kesakitan atas apa yang ditemukannya dalam Mega Bisnis Perusahaan Makanan di Amerika, dia dengan arif membiarkan kita menarik kesimpulan kita sendiri tentang bagaimana kita ingin hidup. Ketika saya menapaki serpihan dan kayu apung, saya berpikir sendiri ‘Skenario ini utopis yang liar, absurd. Juga jelas tentang cara tujuan hidup kita, membangun hidup’.

Ditulis ulang dari buku dan video Diet For A New America, The Food Revolution oleh Chindy Tan

ps.
tulisan ini akan dipublikasikan di majalah info vege edisi 3
tayangan perjalanan John Robbins tinggal klik kolom koleksi video dengan judul Diet For A New America part 1 (tengok ke kolom kiri ya;)

O Lord of love and kindness, who created the beautiful earth and all creatures walking and flying in it, so that they may proclaim your glory, I thank you to my dying day that you have place me amongst them”
(St. Fransiscus Asisi
)

Ytk
Romo Santo

Terima kasih atas apresiasinya,
Semoga kita semua, mau belajar hidup yang mengenal asal usul tiap berkah Bumi yang sampai kepada kita dan menghargainya. Manusia tidak berhak mengklaim ‘kepemilikan’ atas apa pun di muka Bumi ini. Namun sayangnya peradaban kita sedang bergulir menuju serba komoditi. Setiap inci entitas sebisa mungkin dijadikan komoditas. air, tanah, tetumbuhan, bahkan atmosfer pun kini telah dikapling, udara—sepupu saya pernah menawarkan Ozon (O3). udara dengan kualitas terbaik dengan harga 500rb/Liter. Semua berkah Bumi (kalau bisa) diberi label rupiah.
Mengutip kata-kata Romo Inugraha, (dalam seminar Go Green and Healthy Lifestyle 6 Maret 2009, Atmajaya-Yogyakarta)
“Kita telah menjadi makhluk yang selalu lapar, tak sadar menumpuk materi, memakan sumber hidup Bumi, mulut satu orang dengan perut yang berkantong-kantong, memasukkan apa saja tak kenal kata cukup.” Pedas memang tapi itulah kenyataan apa adanya. Manusia telah menjadi makhluk mutan, kehilangan kemuliaan yang telah ditiupkan Allah dalam hati nuraninya. Read the rest of this entry »

Lao Zi: “orang yang berkebajikan bagaikan air. Air mempunyai 3 sifat luhur: menjadi tempat hidup makluk lain, lemah lembut mengikuti alam tanpa perlawanan, dan selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah, tempat yang tidak disukai kebanyakan orang. Air yang lemah lembut, menyesuaikan diri dengan apa yang ditempati

Alam sang maha entitas yang melahirkan sesuatu (beyond) entitas yang menafkahi jiwa kita. Sesuatu yang tak pernah redup pendarannya, terus bergetar dalam tiada awal dan tiada akhir. Hakikatnya bebas label, melampaui nama namun ada yang menyebutnya nurani, ada juga yang memanggilnya kalbu. Kadang riil dalam surupa namun gamang dalam sunya karena dia bukan sunya maupun surupa itu sendiri. Melampaui baik-buruk, benar-salah, suka tak suka, jelek-rupawan.
Namun tulisan di atas, hanyalah sederet huruf. Upaya memberi nafas pada hakikat diri yang bebas dualitas bukan hal yang mudah, namun bukan berarti mustahil. Mampukah hati tak beriak ketika realita merampas, mencekik harapan. Mampukah hati tak bergeming kala seorang sahabat lain dengan enteng melepas tanggung jawab. Mampukah hati tetap hening tatkala deraan fitnah menusuk.

Detik ini, dengan segala paket di dalamnya: omongan baik-tak baik, tantangan karir lancar-tersendat-sendat, masalah keluarga ruwet-ayem, pilihan kita cuma dua. Menerima atau menampik, lari darinya. Mungkin ketika diri tak kalah oleh kecewa, tak redup oleh putus asa, tidak memelihara ketidakpuasan tatkala kaki harus menjejak onak dan duri. Hidup ingin memaparkan wajah hidup yang sesungguhnya, rasa hidup yang sesungguhnya. Tidak ada hidup yang sial, tidak ada hidup yang mujur. Tidak ada sial yang abadi juga tidak ada mujur yang kekal. Tugas hati hanyalah memasang mata pada satu ubin demi satu ubin yang ada di depan mata, ikhlas melangkah, meski perih onak duri menusuk dan merobek kulit. Berjalan dalam keikhlasan yang tak memilih, mengantar diri belajar berdiri di atas dualitas, derita, kecewa, sedih, tak suka, bermetamorfosa menjadi konsep, ilusi bukan realita
Sahabat,
berbicara dengan alam, membuka jalur komunikasi dengan ‘diri’
bersentuhan dengan alam, mengantar diri mencecap cita alam, sebanyak pori tubuh
alam adalah diri, diri adalah alam

Hakikat hidup termuat dalam kitab raksasa-alam raya yang membentuk semesta, setitik debu sekalipun dapat memantulkan hakikat hidup kepada tiap hati yang mau menapak pulang ke dalam diri.

Oleh: Chindy Tan

Gac yang baik,
Jangan bingung adikku*untung ada Bang Ripsong dengan segera beri senter*
filsafat bukan produk negeri di awan, melainkan sangat membumi jej;)
jika oksigen adalah dzat utama pemantik api dalam jasad fisik, maka filsafat adalah pemantik api jiwa kita.

filsafat bukan menu orang kurang gawean, tiap detik kita sedang bermain dengan filosofi(jika tombol kesadaran berusaha dijaga on). Bercanda dengan hidup tanpa filosofi tak beda bercanda dengan boneka barbie yang diberi baterai. Tersenyum tanpa tau kenapa dia tersenyum. Cekikikan bukan karena geli. Garing. Tak ubahnya dengan seonggok daging yang seliweran tanpa roh. Sungguh, manusia harus gentar bila (ternyata) hidup tanpa filosofi. Hidup tanpa akar. Hidup tanpa dasar.
Gac, saya mencoba membaca kegelisahanmu. Mengutip pertanyaan teman-temanmu,”Gac loe mau jadi apa sih? Penulis apa arsitek?” Rundung gelisah yang nampaknya belum ketemu tepi, melahirkan sejuta pertentangan. Iya, ya…aku kan arsitek, kudu bisa milih lah. prioritas, arsitek, arsitek, arsiteeek. tapiiii aku juga pengen tau yang laen(sastra barangkali? or budaya? humaniora? whateverlah) mungkin kira-kira demikian gelisah yang nyumbat ditenggorokan Gac jika boleh saya coba uraikan. (maaf kalo sok terawang;)

Read the rest of this entry »

Ada berapa ruang pikir yg dapat dikembangkan dalam diri tiap kita?
Menurutku tidak terbatas tapi juga bisa sangat berbatas. Cendek. Ketika sedikit saja sentilan, teguran,”kok sampah kertasnya masih nyasar di tempat sampah organik?”keluh bu Tuti. “Si mbok mungkin bingung liat saya, sampah salah kamar aja dipikirin segitu ribetnya” lanjut bu Tuti berkeluh kesah kepada saya.

Hmm, memang tidak mudah membiasakan dan membentuk perilaku. Saya jadi ingat cerita bu Suyanto dari wilayah percontohan swakelola sampah. Tak putus mereka mendekati warga, dalam tiap pertemuan selalu mengangkat pentingnya dan betapa simpelnya nambah kantong sampah di rumah untuk mulai memilah. Demi nasib TPA Piyungan di Jogja yang dlm hitungan dua tahun lagi tak bisa lagi tampung sampah. Terus dan urun rembuk terus digelar. Tapi, tetap masih saja ada yang nyeletuk,”buang sampah aj kok ndada’ mikir” Read the rest of this entry »

 

 

Siapa saja kalau ke Jogja, coba sempatkan tengok satu pohon besar di depan Museum Affandi. Kalau dari arah Timur, letaknya di sisi kanan poros jalan Solo.. Entitas dengan kepekaan yang punya nyawa membaca hati alam, satu bahasa dengan alam. Pohon yang unik dan antik, kala  akan memasuki musim hujan, hijau semarak mewarna, DEDAUNAN tumbuh di setiap rantingnya. Ketika mulai berbunga, daunnya akan rontok, hingga hanya BUNGA yang tampak mata. Indah! Gumam siapa pun yang melihatnya. Tatkala musim hujan akan berlalu, satu persatu bunga akan gugur, tak terkecuali, meninggalkan tulang ranting, gundul, bersih..tak ada DAUN, tak ada BUNGA. Sungguh bahasa alam yang unik, pohon ini mampu satu hati dengan alam, gejala alam dipahami dengan tepat, tak pernah meleset sedikitpun.  

Berbahasa alam, kemampuan yang terfosil lama dalam diri manusia. Sel-sel penginderaan mati, raib kepekaan, hingga rabun untuk membaca bahasa alam, getar jerit alam pun mental, tak mampu kita dengar lagi. Eksistensi pohon ini, sebuah pengamatan yang intim dari seorang sahabat, Anton. Dengan sarat dan limpahan cinta, Anton menamakan pohon itu sebagai pohon Anton. Hari ini, kamis, 2 November 2006, pukul 9.40BBWI. Kembali saya menyapanya dengan mata saya, benar seperti kata Anton. “Sekarang daunnya sudah sangat lebat, itu pertanda hujan sebentar lagi akan mengguyur Jogja”  

 

 

 

 

 

Sepanjang jalan, Maria dan Bang Reynold menertawai saya. Pasalnya, Maria cerita pada suaminya kalau saya tidak bisa diam melihat orang-orang buang puntung rokok atau tisu di jalan raya. Aih, aih..siapa yang tidak gemas, geram plus greget! Setiap hari, hampir setiaaap hari saya berpapasan dengan satu orang yang dengan santainya menjentikkan puntung rokoknya ke jalan raya, Astaghfirullah! Geram, geram, geram nian hati ini, tiada daya, cuma bisa menggurat, merekam dengan detil semua pemandangan ini. Menandainya satu demi satu. Tanpa sadar, dalam hati sudah tercentang sekian kejadian. Hari ini satu, kemarin satu, esoknya satu lagi. Sabtu kemarin sempat 3 yang ketangkap mata. Prihatin, cuma bisa prihatin, berat sekali rasa hati ini. Netralin, kudu segera di netralin, sebelum hati bengkak jadi hepatitis. Defense mekanis segera diaktifin, setel sudut pandang. Pandang fenomena ini sebagai tantangan untuk mengetuk siapa saja dengan satu pesan, apa yang dilakukan tak ubah dengan ngupil lalu menebar dan menempelkan upil  ke setiap sudut wajah sendiri. tak ada indah-indahnya sama sekali.  analoginya mungkin bisa dipapar demikian, saat berkendara, pandangan pasti fokus ke jalan dan apa yang ada dijalan akan tertampak nyolok. entah itu daun kering, plastik cemilan, puntung rokok atau apapun yang ada diatasnya. Demikian juga dengan wajah, saat berbicara dengan siapa pun, pandangan kita fokus di wajah. apa yang ada diwajah akan terlihat jelas. entah tahi lalat, jerawat, komedo atau apalah. Nah, kalau membuang sampah sembarang di jalan raya, ibarat membuang upil di wajah sendiri kan! aduuh, analoginya kedengaran maksa g ya,hehehe….biasolah, bisa-bisanya ae…

Apa sih arti perbuatan kita kalau kita hanya seorang diri memisah sampah, membuat kompos, hemat listrik, hemat air, mengurangi makan daging, mengurangi konsumerisme, sementara jutaan orang di luar sana tidak peduli dan terus menjalankan hidupnya seperti biasa?”   A Thank U note(dee-idea.blogspot.com)

Sahabat, sewaktu kecil saya selalu mengamati cara Erl-Cie keramas. Unik. Air bilasan pertama sebelum rambut berbuih sampo, air tsb selalu ditampung, lalu dipakai lagi untuk membilas rambut ketika sudah berbuih. Pemandangan ini masig detil terekam dalam ingatanku. Dan ini sangat mempengaruhi caraku memperlakukan air. Kalo cuci buah, sayang rasanya bila air bilasan terbuang begitu saja. sebisa mungkin saya berusaha mencari baskom atau wadah apa saja untuk menampung. Untuk kemudian dipakai bilas gelas kek, bilas sendok kek atau siram tanaman.

Sekecil apa pun sesuatu hal yang dilakukan, membawa suatu pesan yang HIDUP. Pesan yang hidup mudah menghidupkan bagian yang sama dalam diri. Tiap kita punya peduli, melihat peduli itu begitu Hidup dan berapi2 dalam diri orang lain, pasti ada pengaruhnya pada benih peduli dalam diri kita. Respek yang HIDUP dalam diri orang lain akan menyentil bakat respek dalam diri kita. Getok tular kata orang Jawa.
Menurut saya, apa yang kita lakukan adalah memncoba memperbaiki cara kita memandang Bumi. Bumi dan segala isinya selama ini kita perlakukan tak lebih dari sebuah produk. Kacung pemuas kebutuhan kita. Tafsir kata ‘Kuasai’ mengantar kita pada wajah Bumi kita detik ini. Segala bentuk kehidupan yang ada di muka Bumi adalah komoditi yang punya nilai jual. Habis2an alam dikeruk. Rasa2nya kita jadi sangat kreatif, hampir tak ada yang tak bisa dijadikan duit. Sepuluh tahun lalu tidak pernah terpikir air harus dibeli. tiga tahun lalu sepupu saya menawarkan satu paket Ozon alias O3, 500rb. Udara kualitas terbaik katanya. Sekujur tubuh Bumi dikapling pemilik modal. Jaman imperalis yang dikapling tanah. Lepas Revolusi Industri mata kita berlipat2 lebih jeli melihat apa saja yang bisa dikapling. Perut Bumi dikuras, Hutan dibotakin, air di’aman’kan oleh perusahaan. Sekarang yang lagi marak adalah kaplingan atmosfer….
Kalo di klaten ada komoditi lain yang mungkin sulit dipercaya..tuyul. ada pasar tuyul. kalo minat datang saja sendiri dan bisa milih lo…wueleeh,wueeleh jadi ngelantur
Namun demikianlah sepak terjang keserakahan yang telah dipilih untuk dipertuhankan manusia sekarang.
Kembali ke pada setiap upaya yang mungkin terkesan remeh, sepele. Memulihkan hati bukanlah remeh. memperbaiki hubungan kita kembali dengan Alam tidaklah sepele.

Beberapa minggu yang lalu saya bertanya pada pak Daliman, “Mengapa sih kita bisa begitu merusak Alam? mungkin karena kita memang sudah sangat jauh dan asing terhadap Alam ya?”
“Pagi sekarang tidak seceria dulu “kata pak Daliman, laboran di pusk kami. Dulu, menjelang pagi saat masih gelap saya suka sekali ke sungai hanya untuk mendengarkan gemericik aliran air, daun-daun seolah mantuk-mantuk menyapa. Burung-burung berlomba bernyanyi. ceria sekali! Sekarang…saya tidak bisa merasakannya lagi. Pagi tidak seramah dulu. Bangun pagi, dimana2 saya ketemu manusia, terlalu banyak manusia. suasana rasanya dingin. rasanya alam menarik diri, mungkin marah sama ulah kita. entahlah…sambat pak Daliman

 
Jurnalis Kontributor: Latifah

Jurnalperempuan.com-Jakarta. Sambil melihat sampah-sampah yang bertebaran di sekelilingnya, Chindy Tanjung membeberkan contoh cara memanfaatkan kembali sampah sesuai dengan jenisnya.

Aktivis International Natural Loving Association itu merasa miris melihat sampah- sampah bekas gelas air mineral dan kotak makanan berserakan seusai acara diskusi yang digelar dalam rangkaian Festifval Seni Pertunjukan Kontemporer Perfurbance #3 Pembaharuan Spiritual. Festival ini bisa dibilang unik karena berlangsung secara bersahaja di tengah-tengah perkampungan Gemblangan, Bantul pada 25-29 April 2007.

Sayangnya, tidak banyak masyarakat setempat yang mengikuti acara diskusi yang penuh informasi penting mengenai kesehatan makanan dan lingkungan itu. Mungkin hal ini bisa dimaklumi karena perhatian mereka tercurah untuk melayat seorang penduduk kampung yang meninggal hari itu.

Mengomentari sampah plastik, perempuan asal Kendari itu menerangkan, plastik bukanlah jenis bahan yang dapat terurai dengan mudah karena membutuhkan waktu sekitar 100 tahun. Sampah plastik yang ditimbun dalam tanah akan menyebabkan tanah menjadi jenuh, seperti yang terjadi di daerah Sukunan, Yogyakarta. Jalan pintas memusnahkan sampah dengan cara pembakaran pun akan menimbulkan masalah lingkungan yang tak kalah bahayanya. Karenanya, dokter gigi yang membuka praktek di Yogyakarta itu menekankan pentingnya pemilahan sampah antara sampah kering dan basah dan mendaur ulangnya.

Sampah basah dapat dimanfaatkan menjadi pupuk kompos, sementara sampah kering dapat dipilah-pilah dan dijual kembali untuk kemudian didaur ulang. “Plastik bekas juga dapat diberikan ke pedagang di pasar agar dapat digunakan kembali,” ujar Chindy menanggapi pertanyaan mengenai menumpuknya plastik di rumah-rumah kos antara lain karena hampir setiap hari membeli makanan di luar rumah.

Menurut Chindy, pengorganisasian masyarakat untuk mengelola sampah dapat berjalan dengan efektif bila dikoordinasi oleh RW. Sebagai contoh, sejak 1992, masyarakat Gondolayu Lor sudah menjalankan sistem pengelolaan sampah yang ramah lingkungan. Bahkan, sepasang suami-istri yang mengelola program itu membuat eksperimentasi kompos sehubungan dengan latar belakang pendidikan mereka dari pertanian. Hasilnya, daerah Gondolayu Lor yang tak seberapa luas itu dipenuhi oleh rerimbunan pohon yang berwarna cerah dan segar karena menggunakan sistem organik. Hasil penjualan sampah pun dapat menambah kas RW.

Cara lainnya adalah berkoordinasi dengan pemulung. Mereka dapat membantu menyalurkan sampah, sementara ia sendiri pun mendapat penjualan dari hasil penjualan sampah itu. Bila di wilayah perkotaan RW tidak berjalan, koordinasi dapat dilakukan melalui komunitas agama, seperti yang dilakukan umat Budha di Vihara Bodhicitta Maitreya. “Umat dimotivasi agar memilah sampah yang kemudian ditampung, diangkut, lalu dijual,” cerita Ketua Korcab Indonesia Vegetarian Society wilayah Jawa Tengah-Yogyakarta ini. Dengan pembinaan seorang biarawati yang khusus menangani masalah ini, mahasiswa Budha yang menjadi relawan terutama berperan menangani proses pengangkutan itu.

Bagi Chindy, inilah cara membumikan nilai-nilai spiritual alam kehidupan sehari-hari, “Melihat tanah sebagai wajah penciptanya. Kalau asing dengan tanah, bumi, dan air, kita merasa asing dengan penciptanya, sang Ilahi.” Hal mendasar agar sistem itu dapat berjalan adalah kesadaran masyarakat untuk hidup sehat. Dalam hal ini, di samping mengorganisasi pengelolaan sampah secara intens di rumahnya, perempuan berperan besar dalam membentuk karakter anak, misalnya mengajarkan anak membuang sampah yang benar. Perempuan juga mempunyai andil yang tidak sedikit dalam memotivasi kesadaran kritis akan pentingnya makanan yang sehat.

“Saya dulu diceritai ibu saya bagaimana proses membuat bakso yang kurang sehat.” Contoh lain yang disampaikan Chindy adalah proses pembuatan sirop yang sehat, tanpa pewarna.*

Something is out of whack in China’s lakes and rivers. Algae blooms are making fresh water undrinkable. This is what report on Newsweek magazine, sept 24, 2007. Emil Salim  ever jabed his finger angrily to the forest (gambut land) on Riau. In China, for the water sake! The Earth definetely jabs it finger to the lake. The lake is profoundly sick, coz if you go in, your skin will turn red immediately,”says a disgusted Zhang. Zhang yanks up his trouser leg to showthe rash left on his ankles from a recent wade into the once pristine waters.

Again, the record of human careless trigger by their greedy, rapid economy growth, the name of new god that human adore

Mother Earth Salam kenal bagi siapa saja yang mau mampir di beranda bersahaja ini. Bertukar isi hati dan isi otak adalah salah satu proses manusia memanusiakan dirinya. Ada dialog di sana. Dialog yang dituntun oleh tanya demi tanya, karena manusia sepanjang hayat peradabannya adalah makhluk yang belum selesai dengan dirinya. Poin senjang yang banyak diusung berkisar pada kata kunci: MANUSIA, CINTA DAN TUHAN, VEGETARIAN, GLOBAL WARMING. Mengajak siapa saja belajar jujur pada dirinya, ketika hati dan fakta berada dalam satu garis lurus(jujur), maka kejujuran pada dirinya inilah yang akan memaksa manusia berubah. Mungkin inilah hidup yang bertanggung jawab, hidup yang fair. Berusaha memahami cara hidup saat itu juga manusia memahami cara mati

---Chindy Tan---

EATING UP THE WORLD

DOWNLOAD PDF FILE EATING UP THE WORLD eating up the planet If we want to preserve and restore our environment in Australia, we must make changes to our diet. The food we eat has a major effect on our waterways, the quality of the air we breathe and on the environment around us. Eating fish and other sea life is killing our oceans, agricultural industries are polluting our waterways, and vast areas of land are wasted with the grazing of animals. These practices are unsustainable and the global impacts are being felt more than ever before. By adopting a vegetarian diet you can make a significant contribution towards improving your health as well as that of the planet. Animal industries are eating up the world. It is up to us to save it!

Film Dokumenter Processed People

processed people Free Download Trailer film Processed People. "Sebenarnya kita sedang mengonsumsi sesuatu yang tidak layak disebut makanan” Jay Gordon, MD, FAAP, FABM,IBCLC Asisten Prof Kesehatan Anak UCLA Medical School Film ini merupakan finalis USA Film & MAUI Film Festival di dukung oleh dokter-dokter ahli dari UCLA, John Robbins, Jeffrey Moussaief Masson, dan pakar-pakar lainnya.

sinopsis film Processed People

The statistics are terrifying. Two hundred million Americans are overweight and 100 million are obese. More than 75 million Americans have high blood pressure. 24 million people are diabetic. Heart disease remains the No. 1 cause of death for men and women, followed by stroke and obesity-related cancers. Obesity has overtaken tobacco as the No. 1 cause of preventable deaths in the United States. Over 50% of bankruptcies are caused by what has become known as “medical debt.” Fast food, fast medicine, fast news and fast lives have turned many Americans into a sick, uninformed, indebted, “processed” people.

Film Dokumenter H O M E

Free Download Full Version H O M E Dari penulis buku terlaris di dunia, Earth Above, hadir kembali dengan karya baru yang cemerlang. Home, film dengan judul buku yang sama, menghadirkan gambar-gambar yang menakjubkan. Sebuah ekplorasi wajah Bumi lengkap dengan foto-foto terkenal karya Arthus-Bertrand dilengkapi teks informatif oleh tim Good Planet, sebuah organisasi non-profit yang mempromosikan pemeliharaan lingkungan hidup. Home menghadirkan keindahan Bumi dan mengajak seluruh umat manusia untuk menjaganya dari kehancuran. Film ini ditayangkan secara serentak mulai tanggal 5 Juni-14 Juni 2009 3 benua, lebih dari 50 negara, termasuk Indonesia, ditayangkan gratis lewat televisi, bioskop, internet klik disini . Berkisah tentang Bumi dan evolusi semua makhluk hidup, dan bagaimana manusia yang paling muda umur eksisnya justru merupakan oknum yang paling bertanggung jawab atas kerusakan bahkan kehancuran Bumi. Film ini juga mengupas tentang inefisiensi hasil pertanian untuk memproduksi daging. Arthus-Bertrand berkata, “50 persen hutan yang telah hilang, bukanlah hal yang paling penting, melainkan 50 persen yang masih tersisa”

Yesus Vegetarian?

Injil Perdamaian Essene (The Essene Gospel of Peace) yang diterbitkan oleh Lembaga Internasional Biogenik. Teks-teks ini diterjemahkan oleh Edmond Bordeaux Szekely dari naskah kuno berbahasa Yahudi dan Aramaik di dalam Arsip Rahasia Vatikan dan dari tulisan bahasa Slavia kuno di dalam Perpustakaan Kerajaan Hapsburgs (sekarang milik pemerintah Austria). Versi ringkasan buku-buku ini dapat diakses di: http://www.thenazareneway.com/index_essene_gospels_of_peace.htm Salah satu terjemahan Injil perdamaian... Yesus sendiri berkata," Dan daging hewan yang dibunuh dalam tubuh manusia akan menjadi kuburan manusia itu sendiri. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, manusia yang membunuh adalah membunuh dirinya sendiri, dan mereka yang memakan daging hewan yang dibunuh, memakan kematian."

Sang Buddha Vegetarian?

Jelang Sang Buddha Parinirvana, Makan Babi atau Jamur? Pro dan Kontra apakah Sang Buddha vegetarian dapat dibaca argumentasi dan dasar telaahnya yang diulas oleh Master Roshi Philip Kapleau (pendiri Budhisme Zen di Amerika) dalam buku To Cherish All Life (DOWNLOAD FULL VERSION

Video: Diet For A New America-John Robbins

Free Download: Video(part1-8): Diet For A New America “I think what I really learned in all of this, Was to be true to myself To be true to my inner voice And I began to see, That we really do have the power, Our own lives really do make a difference, Just by being more conscious of the food that we eat. We can heal ourselves; we can heal the environment, We can heal this planet"<a

Free Download Film Dokumenter Super Size Me

(Film Dokumenter Supersize Me, 2004)-Free Download Self Experience dari Morgan Spurlock, 30 hari bersama daging. Juga memaparkan fakta pengaruh makanan terhadap perilaku. Kaitan makanan dengan perilaku juga dibuktikan korelasinya di Central Alternative High School yaitu sekolah tinggi anak-anak yang memiliki perilaku bermasalah. “Kami menyajikan sayur-sayuran dan buah-buahan tanpa bahan pengawet. Semua makanan kami buat tanpa proses pemanggangan dan penggorengan. Di sini kami juga TIDAK MENGENAL DAGING. “Greg Bretthauer-Dekan Applleton Wiscosin-Central High School. “Kami meniadakan mesin soft drink dan junk food. Kami melihat, hal ini MEMBUAT PERUBAHAN YANG BESAR PADA SISWA.” Debra Larson-School Social Worker (Film Dokumenter Supersize Me, 2004)

Slide Show Buku Terbaru Lester Brown: Plan B.3

Watch videos at Vodpod and other videos from this collection.

RSS Gary Francione’s thoughts

  • Resolution #2 for 2010: Stop Vegan Bashing December 27, 2009
    Dear Colleagues: Speciesism occurs when we accord a different weight to a similar interest on the basis of species. An example of speciesism is vegan bashing. We all agree that human slavery—however “humane”—is morally unjustifiable. But animal slavery—if “humane”—is defended by some so-called animal advocates who characterize veganis […]
    Gary L. Francione
  • Resolution #1 for 2010: Promote Veganism as the Moral Baseline December 27, 2009
    Dear Colleagues: Let’s start out 2010 the right way-promoting veganism as a moral baseline. Veganism is not, as some welfarists suggest, the “most” that we can do; it’s the least that we can do if we take animal interests seriously. If we regard nonhumans as moral persons, then we cannot justify eating, wearing, or using them. [...] R […]
    Gary L. Francione
  • Commentary: The Virtual Billboard Campaign: THE WORLD IS VEGAN! If you want it. December 22, 2009
    Dear Colleagues: In this commentary, I discuss the virtual billboard campaign, which focuses on empowering advocates with a positive message that change is possible and that we have the responsibility to effect that change. It is time to reject the vegan bashing that has become the central focus of the welfarist movement. And I introduce Christine, the [...] […]
    Gary L. Francione
  • BBC World Service to Do 2-Part Program on Animals and Animal Movement December 19, 2009
    Dear Colleagues: On December 31, 2009 and January 7, 2010, the BBC World Service will do a 2-part documentary program entitled One Planet: Animals and Us. Victor Schonfeld, who did The Animals Film (narrated by Julie Christie) in 1982, hosts the program. Schonfeld will question whether we have made any progress in this area and will ask [...] Related posts: […]
    Gary L. Francione
  • A Note About Our Virtual Billboard December 18, 2009
    Dear Colleagues: Earlier this week, I posted two entries (1,2) about creating a virtual billboard spreading the slogan: THE WORLD IS VEGAN! If you want it. The point of this project is to reinforce a simple idea: that a vegan world is something that humans have the ability to bring into existence. We only have to want it. [...] Related posts:Commentary: The […]
    Gary L. Francione

RSS Ecorazzi News

  • Bollywood Star Neha Dhupia Shoots Stunning ‘Go Green’ Calendar December 29, 2009
    Bollywood actress Neha Dhupia has become the latest Indian star to promote the green scene — this time in a new calendar shot by ace photographer Jatin Kampani. Each scene shows Neha as different avatars of the elements of nature. “I grabbed this opportunity of making people aware of today’s need to protect the environment,” the [...]
    Michael d'Estries
  • Russell Crowe Gives Coat To Homeless Fan December 29, 2009
    Out of the news for a little while, Russell Crowe has been filming his new movie “The Next Three Days” in Pittsburgh.  This past week he heard that a homeless fan of his, nicknamed “Radio Man”, had ridden his bike from New York just to see the actor on set. I can imagine that it’s a [...]
    Luke Warner
  • Go Green This New Year With PCRM’s 21-Day Vegan Kickstart Program December 29, 2009
    The new year is just days away and it’s time to sit down and seriously think about those resolutions. Want to lose a few pounds? Maybe incorporate some more green practices into your life? Then keep on reading! The Physicians Committee for Responsible Medicine is launching a 21-day Kickstart program based on research by Neal Barnard, M.D [...]
    Michael Parrish DuDell
  • Top 10 Eco-Documentaries Of The Decade December 28, 2009
    Another ten years of excellence in documentary filmmaking is coming to a close — and perhaps more than any other genre, the environmental scene witnessed an explosion of movies covering all manner of subjects. It was rough work, but we boiled down the films made under the green banner during the ’00s down to 10. While [...]
    Michael d'Estries
  • Kim Kardashian Pimps Herself Out For Fast Food – We Roll Our Eyes December 24, 2009
    Kim Kardashian is the latest celebrity to sign a deal with the devil (aka Carl’s Jr.) and pimp herself out for fast food. Gross me out, why don’t you? In the ad, Kim eats a Cranberry Apple Walnut Chicken Salad in a low-cut robe and confesses: “I am such a neat freak. Everything has to be [...]
    Michael Parrish DuDell
  • Artist Shepard Fairey Creates Sea Shepherd Print December 23, 2009
    Artist Shepard Fairey, who rose to fame with his Barack Obama “HOPE” posters, has created a new poster to support the Sea Shepherd and honoring Captain Paul Watson. “I am opposed to injustice in any form and I am an environmental advocate,” said Fairey. “The delicate balance of eco-systems needs to be maintained to protect all [...] […]
    Michael d'Estries
  • Jennifer Aniston And Jamie Oliver Team Up To Write “Healthy” Cookbook December 23, 2009
    Secrets, secrets are no fun, unless you share with everyone. Rumor on the internet is that Jennifer Aniston and Jamie Oliver are teaming up to write a healthy cookbook. “Jen and Jamie have been bashing around ideas for ages,” a source tells UK’s Daily Star. “They like the idea of combining healthy eating with traditional family dinner […]
    Michael Parrish DuDell
  • The Green Quote: PETA Asks Pope Benedict XVI To Go Vegan On World Day Of Peace December 23, 2009
    “On behalf of People for the Ethical Treatment of Animals (PETA) and our more than 2 million members and supporters worldwide, we applaud your strong exhortations for environmental protection, and we urge you to consider the fact that the most effective action an individual can take to fight climate change is to go vegan (which [...]
    Michael Parrish DuDell

RSS Vegetarian Star

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Enviro News

  • Food Inc. Review December 10, 2009
    Companies use false imagery in the marketing of their products such as farm houses next to green pastures that resemble the old school farming mentality. In reality, today it is more of a factory system that has been standardized and controlled by a few businesses that have monopolized the industry for their own financial gain. The expense is often of the ha […]
    noreply@blogger.com (JT)
  • Chromium 6 Emissions from ESCO in Portland November 13, 2009
    This story comes the NW Examiner in the Northwest Neighborhood of Portland, Oregon. http://www.nwexaminer.com/issues/11November2009.pdfHexavalent chromium accumulates in organisms and does not break down in the environment. No level of human exposure is considered safe.The EPA says that the respiratory tract is the major target organ for chromium 6 toxicity, […]
    noreply@blogger.com (JT)
  • Urban Rooftop Wind Turbines November 5, 2009
    The Indigo Building or 12 West building recently installed Portland's first wind turbines on the top of a high rise. The wind energy generated from the four small-scale turbines (45 feet tall compared to the massive 400-foot turbines in the Columbia River Gorge) will only produce about one percent of the building’s total energy usage, but serves as a be […]
    noreply@blogger.com (JT)

RSS Scientific News

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS KOMPAS

RSS Catatan Pinggir-Goenawan Mohamad

  • Macbeth December 21, 2009
    Politik, seperti halnya tragedi, tak akan punya arti tanpa kesangsian. Mungkin itulah sebabnya Macbeth, tragedi Shakespeare, tak mudah dilupakan, juga oleh seorang presiden. Pada suatu malam sastra di Gedung Putih, Presiden Clinton bercerita bahwa perkenalan pertamanya dengan puisi berlangsung di SMP, ketika gurunya memintanya menghafal baris-baris solilokui […]
    anick
  • Recehan December 14, 2009
    Di Jakarta yang macet, jalan menampik alasannya sendiri. Sejak Daendels membentangkan 1400 km “La Grande Route” di Jawa di abad ke-18, sampai dengan ketika dinas pekerjaan umum Republik Indonesia membuka jalur-jalur baru di abad ke-21, jalan diasumsikan sebagai ruang untuk mobilitas, peringkas waktu tempuh. Ia bagian dari arah dan gerak, dari dunia modern ya […]
    anick

RSS Ruang Hati

  • Berbagi Ketidaksempurnaan December 10, 2009
    Kita mungkin tidak akan pernah melupakan satu kisah nyata yang mirip dongeng; tragedi cinta Puteri Diana dan Pangeran Charles. Kematian Sang Puteri begitu mengharu biru dunia. Tercatat dua milyar lebih pasang mata menitikkan air mata pemakaman Sang Puteri. Larut dalam sedih dan kehilangan. Dunia tidak akan melupakan pernikahan megah Putera Mahkota Inggris da […]
    ruanghatikita

RSS Guardian News

RSS The New York Times

  • Climate Talks, Protests and Danish Police December 29, 2009
    Protesters say Danish police used unnecessarily heavy-handed tactics during two weeks of demonstrations earlier this month. The police say they successfully kept the peace.
    By LARS KROLDRUP and TOM ZELLER JR.
  • Hong Kong's Water Security December 29, 2009
    A series of droughts in China has raised concerns about Hong Kong's water supply.
    By REENITA MALHOTRA HORA
  • Should Europe Intervene to Support the Price of Carbon? December 28, 2009
    Despite tumbling prices, creating a so-called floor price for carbon could discredit the market for emissions trading in Europe.
    By JAMES KANTER
  • Harnessing the Sun to Store the Wind December 28, 2009
    A Phoenix company, Solar Southwest Technology, wants to marry solar energy and a wind farm.
    By MATTHEW L. WALD
  • Generating Solar Power After Dark December 26, 2009
    Two solar farms planned in the West would use technology that allow utilities to generate electricity after the sun goes down.
    By TODD WOODY

RSS Newsweek

Archives

Top Clicks

  • None

Blog Stats

  • 16,765 hits

 

December 2009
M T W T F S S
« Nov    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031