You are currently browsing the category archive for the 'Manusia Cinta & Tuhan' category.
Oleh Chindy Tan
“Ce, saya bingung waktu ditanya teman, mengapa pastor, bikhu, bikhuni dan suster tidak menikah, lalu apa gunanya Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan?”
Pertanyaan ini sontak mengingatkan saya akan kata-kata Mahatma Gandhi,”Manusia bukan sekedar daging.” Seminggu yang lalu seorang rekan bercerita pada saya, tepatnya curhat ding . Dia mengamati dua pola kehidupan yang dijalani oleh tantenya dan karyawannya. Tantenya tiap hari dengan rutinitas yang sama, bangun pagi, buka toko, jelang petang tutup toko, istirahat, kadang-kadang menikmati waktu dengan berkaraoke, lalu naik ke peraduan, tidur. Begituuuu terus setiap hari. Lalu karyawannya, meski sudah hampir 25 tahun bekerja, keadaan ekonomi tetap saja pas-pasan bahkan memiliki tanggungan kredit demi menutupi celah-celah kebutuhan yang lain. Juga memiliki ritme hidup yang sama. Kedua pola ini, relatif jamak dilakoni oleh sekian milyar manusia di muka Bumi ini. Lalu apakah hidup tidak punya pilihan lain selain lahir, studi, bekerja, nikah, punya anak, menikahkan anak, tua dan meninggal? Apakah skenario ini merupakan keniscayaan?
Apa yang dipilih hampir seluruh manusia di bumi ini jika dirangkum dalam sebuah data survey, kita mungkin akan mendapati seumur hidup kita seluruh keringat dipersembahkan untuk memenuhi kebutuhan daging. Makan, minum, mencicil rumah, mencicil mobil, membayar sekolah, wisata, bahkan ada yang meski sudah uzur, masih tetap aktif mencari uang untuk menyiapkan ’sangu’ bukan hanya anak tapi juga cucu. Benarkah kita tidak ada pilihan lain?
Kembali kepada pertanyaan apa gunanya Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan? Saya tidak akan membahas guna laki-laki maupun guna perempuan. Namun saya ingin mengajak siapa saja melihat potensi-potensi apa yang dimiliki oleh entitas-manusia. Manusia, seperti makhluk lainnya memiliki potensi berkembang biak, ini adalah kodrat. Berkembang biak adalah potensi badaniah. Namun ada potensi lain yang juga dimiliki adalah potensi melampaui kodrat badaniah, ini juga kodrat. Apa gunanya Tuhan membekali manusia kesadaran? Dengan kesadaran yang dimiliki, memungkinkan manusia terus berevolusi keluar dari kodrat badaniah, menapak kodratnya yang lain.Manusia juga memiliki kodrat berdiri di atas kebergantungan badan kasar kita akan nikmat sensasi jasmani dan mental. Manusia memiliki potensi tidak didikte oleh kebergantungan badan kasar kita akan nikmat seks, nikmat kekuasaan, nikmat nama besar. Sang Bhagavan dengan sempurna menapak jalan ini, melangkah menuju adikodrati. Inilah mungkin yang dimaksud oleh Mahatma Gandhi, “Manusia bukan sekedar daging”. Oleh karenanya pilihan selibat (tentu tidak semua selibat, selibat yang berkiblat pada pencarian diri), juga sejalan dengan kodrat manusia itu sendiri. Selibat menuju diri adalah sebuah upaya sebuah hati menyelami kebutuhan badan dan psikisnya hingga ke level hakiki, level yang mendasar, menyadari segala bentuk kebergantungan dan akhirnya meniti jalan keluar dari kebergantungan badan dari segala yang berkondisi, menuju kodrat adikodrati. Kodrat untuk pulang ke keabadian, aku yang bukan aku. Aku yang wajar, aku yang sederhana.Aku yang sederhana dengan indah diuraikan oleh J. Krishnamurti
“Ketika kita sadar akan diri kita, bukankah seluruh gerak hidup ini merupakan cara untuk mengungkap si ‘aku’, ego, diri? Diri ini adalah proses yang amat rumit, yang hanya bisa terungkap dalam hubungan (relationship), dalam kegiatan kita sehari-hari, dalam cara kita bicara, cara kita menghakimi, menghitung-hitung, cara kita mengutuk orang lain dan diri sendiri. Semua itu mengungkap cara berpikir kita yang terkondisi, dan bukankah penting untuk menyadari seluruh proses ini? Hanya melalui kesadaran tentang apa yang benar dari saat ke saat, terdapat penemuan akan apa yang tanpa-waktu, yang abadi. Tanpa pengenalan-diri, yang abadi tidak bisa muncul. Bila kita tidak mengenal diri sendiri, yang abadi menjadi sekadar kata, sebuah simbol, sebuah spekulasi, sebuah dogma, sebuah iman, sebuah ilusi yang ke dalamnya pikiran bisa melarikan diri. Tetapi, jika orang mulai memahami si ‘aku’ dalam seluruh kegiatannya yang beraneka ragam dari hari ke hari, maka di dalam pemahaman itu, tanpa usaha apa pun, apa yang tanpa-nama, tanpa-waktu, muncul. Tetapi yang tanpa-waktu ini bukanlah ganjaran bagi pengenalan-diri. Apa yang abadi tidak bisa dikejar, batin tidak bisa memilikinya. Ia muncul bila batin hening, dan batin hanya bisa hening bila ia sederhana, bila ia tidak lagi menimbun, mengutuk, menghakimi, menimbang-nimbang. Hanya batin yang sederhana yang bisa memahami apa yang nyata, bukan batin yang dijejali kata-kata, pengetahuan, informasi. Batin yang menganalisis, menghitung-hitung, bukanlah batin yang sederhana.”
ps. Terima kasih Lista untuk tulisannya H?dup- http://listanita.blogspot.com/, dan terima kasih Pak Hudoyo telah berbagi inspirasi dari Krishnamurti-menguak si-Aku)
Victor Alexander Liem: Mula2 manusia memangsa binatang yang dianggap rendah. Lalu, manusia mulai memangsa manusia lain, tentu dengan anggapan ada “manusia rendah”.
Saya teringat ungkapan yang sering dikutip alm. Romo Mangun, “hommo homini lupus”
Manusia adalah pemangsa manusia lainnya, seperti serigala ![]()
(Respon dari artikel: Keenan dan Ocha, tak ada kata SULIT bagi mereka)
Hai Victor, terima kasih sudah mampir. Ego seperti apakah yang membuat manusia menggurat sejarah kekerasan perbudakan-rasisme, Holocaust-rasisme, heteroseksisme yang menyuburkan perdagangan manusia untuk kepentingan prostitusi, lalu yang sedang marak disoroti saat ini adalah kekerasan yang dilatari oleh spesiesme. Mungkin sudah saatnya bagi manusia menjernihkan spesiesme. Spesies manusia merasa lebih unggul dari spesies hewan hingga hewan ‘boleh’ diperlakukan sebagai ‘milik-properti’ . Hewan diperlakukan tak beda dengan benda. perasaan takut, marah, sakit saat disiksa hingga meregang nyawa ‘tak terlihat’ oleh ego manusia. Manusia sedang dan terus memelihara spesiesme ini, pertanyaannya, akan sampai kapan? Manusia butuh kejernihan hati dan akal, menimbang kembali apakah spesiesme layak dipelihara. Jika saja ada spesies yang lebih unggul dari manusia, penguasaan teknologi lebih tinggi dari manusia, manusia bisa saja dieksploitasi, dijadikan objek penelitian, bahkan dijadikan makanan. Saya jadi ingat film The Island, sebuah film futuristik yang mengisahkan tentang komodifikasi manusia kloning untuk kepentingan asuransi kesehatan.
Jaminan kesehatan diberikan dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan adanya manusia kloning. Semua potensi penyakit dapat diatasi. Jika secara genetik Anda memilki potensi penyakit ginjal, diabetes atau jantung, Anda tidak perlu khawatir asal punya DUIT membayar asuransi, organ manusia kloning siap mengganti semua ‘onderdil’ yang bermasalah dalam tubuh Anda. Manusia kloning dengan rekayasa genetik sedemikian rupa diprogram agar tumbuh menjadi manusia yang super sehat untuk menjaga kualitas organnya. Namun rasa dan emosi mereka telah disetel, diprogram sedemikian rupa agar tidak ‘hidup’. Manusia kloning hidup tanpa rasa dan emosi meski dalam akhir cerita ada manusia kloning yang menyimpang , ada manusia kloning yang tetap punya emosi, hingga memberontak. Mereka tak ubahnya ‘benda’. Di sini manusia satu tidak melihat kelayakan yang sama dengan manusia lainnya, hingga Homo Homini Lupus, dominasi sesama spesies subur dan ’sah-sah’ saja. Spesies manusia yang berduit ‘boleh-boleh’ saja memperlakukan manusia kloning sesuai kebutuhan mereka, karena mereka dianggap spesies manusia-benda.
Dalam dunia nyata wajah homo homini lupus sebenarnya tak asing dalam kasus perdagangan manusia entah untuk kepentingan sebagai buruh pabrik, pekerja di dunia prostitusi dengan berbagai modus. Di China modus terbanyak adalah penculikan, mulai dari anak kecil (biasanya untuk dijadikan pekerja seks untuk pedofilia) dan di Indonesia modusnya memanfaatkan keterjepitan keadaan ekonomi. Sebuah kasus di tempat saya dinas dulu terungkap, modus yang digunakan adalah meminta langsung ke orang tua korban dengan memberi segepok uang ke orang tua korban hingga rela melepas anaknya untuk dipekerjakan di Jepang sebagai duta budaya. Kenyataannya, setelah korban sampai di tujuan, korban disodorkan nota utang berisi rincian biaya perjalanan dan biaya pengurusan imigrasi dll. Kondisi terjepit seperti ini, korban tidak memiliki pilihan, hingga terpaksa bekerja di ‘panti’ jauh berbeda dari yang dijanjikan sebelumnya. Sampai pada titik ini, manusia juga telah melihat manusia lain tak ubahnya benda tak berhak punya rasa, yang bisa dieksploitasi. Mungkinkah bakat homo homini lupus ini lahir dan tumbuh bermuasal, berakar dari sikap spesiesme kita terhadap hewan. Sadar tak sadar kita membiasakan diri ‘membenarkan’ mengabaikan rasa mereka. Kita terbiasa memperlakukan mereka seolah tak berhak punya rasa takut, rasa sakit dan rasa cinta akan hidup mereka sendiri. Sebuah ungkapan dari George Angell (1823-1909) sejalan dengan permenungan di atas. Saya kadang ditanya,”Mengapa engkau menghabiskan begitu banyak waktu dan uang berbicara tentang kebaikan kepada binatang padahal begitu banyak kekejaman atas manusia?” Saya menjawab,”Saya bekerja dari akarnya.”
“I hold flesh-food to be unsuited to our species. We err in copying the lower animal world if we are superior to it.” Mohandas K.Gandhikeke
Oleh. Chindy Tan
Berbicara tentang aspek spiritual, sentra poin yang ingin saya ulik adalah transformasi pengetahuan intelektual ke pengetahuan intuitif. Kemampuan transformatif ini saya yakin banyak kita temui pada anak-anak kecil yang sedari janin atau usia dini memilih menolak daging. Tanpa perlu argumen yang mengandalkan rasio mereka dengan kemampuan intuitifnya menetapkan pilihannya. Mungkin ini yang disebut dalam buku The Little Prince “You can only see things clearly with your heart. What essential is invisible to the eye”. Ocha (4th) anak asisten saya, sejak mengenal makanan padat memilih menolak makan daging,”kasihan” itu alasan yang berulang dikatakannya. Suatu ketika saat cukuran di salon, kapsternya menangkap seekor serangga, dimasukkan ke dalam kantong plastik dan diberikan kepada Ocha. Menerima ini, Ocha bertanya pada Bapaknya,”Pa, iki piye nek arep maem, ta’ lepas aja ya ben iso nyari maem”. Kepekaan terhadap makhluk lain (mungkin ini adalah pengetahuan intuitif) yang membuat Ocha dalam keadaan bagaimana pun tetap keukeuh menolak makan daging. Meski itu daging nabati. Saya pernah memberikan Mama Ocha daging nabati dan ketika ditawarkan kepada Ocha, Ocha menolak meski sudah diberi penjelasan oleh ibunya,”iki dudu daging, iki dari tante Dindi”. Ocha juga tidak segan memilih makan ketupat dengan kecap tok, saat dijamu makan sate oleh pamannya. Ayah Ocha, karena sungkan mencoba menyuapkan Ocha beberapa potong daging, namun Ocha bersikeras menolak,”oya geyem ya oya geyem, aku ojo dipokso” (nggak mau ya nggak mau, aku jangan dipaksa). Mereka tidak mengenal kata sulit dalam menolak daging, meski harus makan dengan menu terbatas. Bagi Ocha lebih ‘mudah’ makan ketupat dengan kecap daripada harus mengabaikan rasa kasihannya. Mereka mampu melihat HIDUP MAKHLUK LAIN JUGA BERHARGA dan selayaknya dihargai.
Ternyata sikap serupa ditunjukkan oleh Keenan, putra Reza-Dee dan Marcell-Rima. Seminggu yang lalu pasien saya bercerita tentang sikap keukeuh Keenan menolak daging, tiruan sekalipun. Ketika makan bersama ayahnya Marcell, Rima Melati Siahaan-Adams, di sebuah restoran vegetarian, Keenan menolak makan daging-dagingan. “Saya cuma mau makan tahu sama tempe” tegas Keenan. Meski telah dijelaskan Marcell bahwa ‘daging’ tersebut juga vegetarian, Keenan tetap keukeuh minta tahu sama tempe. Akhirnya Rima meminta kepada pelayan untuk membuatkan masakan baru,”tolong buatkan lagi masakan yang masih kelihatan tahu dan tempenya ya”. Saya tidak tahu pasti mengapa anak-anak ini menolak daging tiruan sekalipun. Seorang rekan saya pernah bercelutuk tidak seharusnya kita memberi nama “bebek vegetarian, ayam vegetarian, babi merah vegetarian, karena pemakaian nama hewan pada makanan-makanan tersebut tidak membantu menjernihkan posisi hewan bukan makanan”.
Kisah-kisah serupa mungkin semakin banyak, dan kita tidak pernah tahu pasti mengapa. Mungkin ‘pengetahuan’ mereka ini analog dengan kisah Negeri Mata Satu.
Suatu waktu di Negeri Mata Satu lahirlah seorang bayi dengan dua mata. Anak itu, anak bahagia. Orang tuanya mencintainya dan senang mengemongnya. Tetapi mereka cemas karena anak itu aneh, matanya dua. Dokter-dokter yang mereka panggil geleng-geleng kepala dan heran. Tetapi mereka berkata,”Apa boleh buat? Tidak mungkin disembuhkan.” Pada suatu hari yang menggemparkan, ia melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat orang -orang lain. Ia tidak melihat seperti orang-orang lain yang hanya hitam dan putih. Ia melihat warna-warna. Orang tuanya dan sahabat-sahabatnya terheran-heran karena ia pandai bercerita tentang temuan-temuan yang menggetarkan hati, yang tidak dapat dilihat mereka. Ia berbicara dengan kata-kata yang belum pernah mereka dengar seperti ‘merah,’ ‘kuning’ dan ‘hijau’
(Manusia Pascamodern, Semesta dan Tuhan-Romo Mangun)
Dapatkah kita persepsikan ‘makan daging adalah hal yang alami’ sebagai pengetahuan hitam putih yang kadung berakar dan menjadi budaya manusia dalam memilih makanannya. Ketika anak-anak ini datang dengan penglihatan warna yang berbeda, manusia mampu hidup tanpa daging, adalah warna lain yang masih sulit diterima dan dipahami.
Gulir zaman menunjukkan pilihan sikap anak-anak ini untuk meat out, diakui secara ilmiah sebagai kebutuhan global. Manusia perlu menjernihkan kembali pilihan makannya. Dan pengetahuan intuitif anak-anak ini menyentil rasio siapa saja. Menantang kita untuk mendefenisikan arti cukup bermula dari isi piring jika peradaban manusia ingin bertahan. Gerakan perubahan kini bukan skala individu melainkan sudah tingkat negara-Belgia yang kini dikenal sebagai negara vegetarian pertama di dunia, Kelompok negara-Eropa: mengharuskan tiap negara Eropa membuat laporan kontribusi gas rumah kaca dari pola makan daging, tingkat kebijakan-semua rumah sakit UK akan berlakukan menu TANPA DAGING untuk pasien. Tidakkah arus perubahan ini semakin jelas menegaskan, kita butuh berubah.
ps.artikel ini dipubilkasi atas sepengetahuan dan seijin Dee dan Marcell, artikel ini akan dipublikasikan juga di majalah Info Vegetarian edisi 4
“Ketika bias paham kita akan budaya domestifikasi dan komodifikasi hewan telah terpapar jelas, angin perubahan telah sampai di ambang pintu. Modal selanjutnya yang paling mendasar untuk membuka gerbang perubahan dan menjadi bagian dari perubahan itu adalah kejujuran pada diri sendiri untuk mengakui bias tersebut. Karena ternyata tidak banyak yang mau dan mampu jujur pada dirinya bahwa hidup kita tidak selayaknya berdiri di atas kesakitan, penyiksaan, kematian makhluk lain, kemampuan mereka untuk merasakan sakit bukanlah omong kosong hingga bisa diabaikan begitu saja. Ketika berada dalam kondisi terbatas sehingga kadang harus menahan lapar, inspirasi anak-anak kecil Ocha dan Keenan mungkin bisa membantu menepis rasa ’sulit’ dengan sikap mereka,”lebih mudah makan terbatas daripada harus mengabaikan rasa kasihan karena kecintaan akan hidup bukan hanya milik manusia”. Rasa belas kasih inilah yang mempertautkan persaudaraan manusia dengan laksa ciptaan lain layaknya darah yang mempertautkan sebuah keluarga-Chief seattle. Buah budaya memperlakukan hewan tidak lebih dari benda/produk telah memukul balik dari segala arah, kerusakan lingkungan, ketimpangan akses pangan, epidemi penyakit sistemik dan mutasi penyakit-penyakit baru (seperti virus H1N1-Huffington Post” Swine Flu Outbreak-Nature Biting Back at Industrial Animal Production?” May 2, 2009). Arus fakta-fakta bahwa pilihan makan manusia mengancam peradaban manusia itu sendiri, benang merahnya semakin tebal. Mari miliki kepala dingin dan kejujuran mengakui fakta ini jika kita sadar bumi kita tidak dalam keadaan baik-baik saja. Kejujuran ini jualah yang akan menjaga sikap setia dan konsisten pada pilihan tersebut” Chindy Tan-Jogja 10 Agustus 2009 00:25 dini hari
Oleh Chindy Tan
Embun menyapa daun memberi kesejukan tanpa melekat, sang daun sadar kesejukan bukanlah miliknya hingga tak cukup alasan baginya untuk menahan embun untuk tetap tinggal, hukum jatah tempo membatasi perjumpaan embun dan daun, hingga mereka memilih belajar ‘tau diri’ menikmati sinergi sesuai jatah tanpa ada sesal melainkan ikhlas mengiring ketika nikmat sinergi harus berlalu. Ikhlaslah yang kan menggenapi persembahan embun kepada sang daun, membasahi tiap detil pori daun, memberinya hidup, embun mengantar daun bertumbuh Demikianlah cinta yang telah berjumpa, bermuara pada kedalamannya, cinta yang beriringan dalam jalan tumbuh
Karya ini dipublikasikan juga di Komunitas Sastra Air Putih
Sumber gambar: sedang dicari lagi
Love one another, but make not a bond of love Let it rather be a moving sea between the shores of your souls. Fill each other’s cup, but drink not from one cup. Give one another of your bread, but eat not from the same loaf. Sing and dance together and be joyous, but let each one of you be alone, Even as the strings of a lute are alone though they quiver with the same music. Give your hearts, but not into each other’s keeping; For only the hand of Life can contain your hearts. And stand together yet not too near together; For the pillars of the temple stand apart, And the oak tree and the cypress grow not in each other’s shadow. Poem by Khalil Gibran (aka Kahlil Jubran)
oleh Chindy Tan
Belakangan saya gemar mengamati timbul tenggelamnya gerak pikiran dan perasaan yang ada. Saya juga gemar mengamati pilihan-pilihan hidup yang dijalani orang lain. Lalu tanpa jeda bertanya pada diri sendiri mengapa? Darimana datangnya pikiran dan perasaan tersebut ? Saya tidak tahu apakah pergumulan rasa ingin tahu ini akhirnya mengantar saya sampai pada titik pemahaman atau tidak. Namun yang bisa saya rasakan, celah pandang yang saya intip seolah dengan sendirinya bergeser, melihat dengan cara yang tak lazim saya lihat sebelumnya.

Penasaran dengan bagaimana kerja suatu ketertarikan, iseng saya bertanya kepada seorang teman,
”Pernahkah kamu merasa ‘kecanduan’ dengan seseorang atau tergila-gila pada sesuatu, semisal hp keluaran terbaru atau apalah itu ?”
“Tentu. Saya pernah sangat tertarik dengan seseorang. Benar-benar bikin gelisah. Senang sekali kalau bisa bertemu, meski hanya sekedar saling bertukar senyum dan pandang. Apalagi jika sempat bertukar canda, whuiiiih, di hati ini, senaaaang sekali.” Serasa ada yang menjemput, menggandeng dan menenangkan gejolak ‘rasa’ dihati. Ada yang bilang itu namanya rindu, ada yang memahaminya sebagai sinyal cinta, ada pula yang menyebutnya ‘chemistry’. Setrum jiwa.
Rasa tertarik, siapa pun mungkin pernah merasakannya, tak terkecuali saya. Saya pernah sangat demen dengan seseorang. Wibawanya kuat, seolah tak ada pesona yang bisa membuatnya gugup, mau orang itu super cantik atau jenis super lainnya. Dia selalu bisa terlihat kalem, di depan siapa pun. Keseimbangan sikap yang jarang saya temui. Semenjak menyadari pesonanya ini, perhatian saya semata tertuju padanya. Apa yang dia lakukan mendadak menjadi begitu penting. Ada keinginan mencari-cari alasan untuk bisa berinteraksi dengannya. Hati senang bukan kepalang ketika bisa sekedar bercanda dengannya. Senyumnya, selera humornya, semua begitu sempurna. Semakin memperbesar keinginan untuk terus bersama dan selalu ada rasa yang hilang saat dia pamit. Darimana datangnya keinginan ini? Apakah rasa senang bersamanya dapat juga disebut dengan bahagia? Apakah ini yang disebut dengan kemelekatan? Atau penjara dualitas? Mengapa hanya saat jumpa rasanya demikian membuai namun saat berpisah harus sakit yang tersisa? Kemana perginya imaji cita yang penuh kembang setaman? Suka tak suka, senang atau sedih, adalah ilusi kata sahabat baru saya Lista. Mengutip permenungannya yang indah akan dualitas, dari sebuah perjalanannya mengalami sendiri dan membaca sebuah pesan hasil konspirasi dari alam, di hari ulang tahunnya .
Memandangi angkasa sebelah barat laut yang belum begitu terang, terdapat sekelompok titik air halus, yang barangkali, hendak menyiratkan suatu pesan dengan mengimpitkan gas serupa bentuk yang amat familiar, oh, angka dua..
Ya, dua.
Demikian kata awan di langit fajar..
Mendadak, aku terkesima. Lantas aku mulai membatin. Barangkali, ini fenomena langka ya.. Lalu, mengapa harus angka dua?
Barangkali, dua berarti aku dan kamu. Tapi apalah arti aku kalau tidak ada kamu? Apa juga artinya kamu tanpa aku? Mungkin, kita memang mendua. Karena ‘wujud’ kita terlihat beda. Yakni dualitas yang mewarnai hari demi hari. Baik buruk. Besar kecil. Hitam putih. Kiri kanan. Hidup mati. Dan sebagainya. Sayangnya, kita hanya ilusi. Pelan-pelan angka dua itu tergeser angin. Tebaran serabut putihnya kian melebar horizontal. Pemandangan barusan tak lagi terukir jelas. Lengkungnya semakin samar, tercerai berai, dan pada akhirnya menjadi berantakan seperti teman-temannya yang lain. Tak lagi ‘dua’.
Yah mudah-mudahan, dengan usaha tertentu kita juga demikian pada akhirnya. Melampaui dualitas, lewat celah kesadaran.( http://listanita.blogspot.com/)
Indah sekali. Terimakasih adik Lista untuk tulisannya yang maha inspiratif bagi saya.
Kapan momen lengkung dua dalam hidup kita bersalin bentuk, samar buyar tak lagi ‘dua’? Selama ini, kita membiarkan diri berlari seperti berlari di atas tread mill, tidak ke mana-mana, melainkan lari di tempat. Menghabiskan sekian-sekian kesempatan meniti jalan ketersibakan dualitas. Betah terjebak dalam kemelekatan. Memilih setia (dipermainkan) dalam permainan dualitas, karena keliru mengira ‘diri’ adalah rasa suka itu sendiri namun lupa akan rasa sedih yang tidak lain adalah bayangan suka itu sendiri. Sang Jalan mengajarkan kepada kita, ketika rasa suka datang jangan perlakukan dia lebih dari seorang tamu. Layani sewajarnya. Meski tidak mudah. Bayangkan saja, harus tetap bersikap cool (bukan sok cool) jika berhadapan dengan seseorang yang menurut mata dan rasa dia sangatlah menarik. Dan mari perluas kesadaran, dia di sini bukan hanya ketertarikan pada seseorang, tetapi juga ‘cinta’ kita yang dahsyat pada uang, segala bentuk apresiasi, segala rekaman nikmat yang bisa dirasakan badan kasar ini. Hidup yang ‘lengkap’ bergantung pada kehadiran segala kemelekatan ini, dan ketika mereka tak lagi digenggaman, masa bertamu mereka habis, kecewa, rasa tak puas dan rasa kehilangan hadir. Mari berlatih jika kesempatan bersamanya berlalu tidak ada yang perlu disesali, juga terus belajar melatih diri tidak membuat diri merasa-ada sesuatu yang hilang. Inilah hukum keseimbangan. Tak ada riak bukan karena mati rasa, namun karena mau merangkak berdiri di atas dualitas
Beberapa indikator bahwa diri keluar dari hukum keseimbangan ini adalah, adanya rasa haus untuk terus memiliki rasa suka ini, ketika harus melepas terasa ada yang hilang. Haus timbul dari keinginan untuk mengawetkan kesenangan yang sempat dicicip, dan perasaan kehilangan karena merasa diri adalah bagian dari kesenangan tersebut, mungkin ini yang disebut dengan aku palsu. Kita mengindentikkan ‘diri’ dengan rasa suka sebagai bahagia, dan mengiranya sebagai aku sejati. Rasa berbunga ini adalah saya, senang ini adalah saya, yang selanjutnya kita kira inilah kebahagiaan. Berhati-hatilah berhadapan dengan keinginan, Dr. Michael Newton dalam Journey of the Souls, menuliskan mereka yang mengalami depresi berat, setelah dihipnoterapi ternyata berkejaran dengan keinginan sejak kehidupan-kehidupan sebelumnya. Sampai kapan kita mau terus berputar, berlari dalam kesalahpahaman kita akan keinginan? Mengira terpenuhinya keinginan sebagai kebahagiaan.

Kapan Berhenti?
Saya tak tahu kapan bisa memastikan bahwa saya telah melampaui dualitas. Mungkin saya tak perlu tahu saya telah melampaui dualitas atau tidak. Satu hal yang saya alami, berusaha menjaga keterjagaan dalam setiap aktivitas pikiran dan rasa, detik itu kita memiliki peluang untuk memberi jarak terhadap dualitas. Punya ruang untuk mempertanyakan, dari mana asal segala ‘rasa’ bagaimana dia terbit dan akhirnya bagaimana dia terbenam, lalu berlalu. Jeli yang berkesadaran akan menjernihkan pandangan atas sebuah realita, hakikat realita dalam setiap perjumpaan dengan hidup.
Sebuah kisah titik balik berhentinya sebuah keinginan mungkin dapat jadi permenungan kita bersama
Suatu pagi ketika Sang Bhagavan memasuki Savatthi, kota itu bagaikan kota hantu. Seorang pembunuh terkenal bernama Angulimala terus mencari korban untuk mengambil jarinya dan menambahkannya di untaian kalungnya. Ketika melangkah dengan perlahan dan penuh kesadaran di jalan, Sang Bhagavan mendengar langkah kaki dari kejauhan yang sedang berlari menghampirinya dari belakang. Bhagavan tahu itu adalah Angulimala, namun Bhagavan sama sekali tidak merasa takut.
Angulimala berteriak,”Berhenti!”
Bhagavan melanjutkan langkah-langkah yang perlahan dan stabil. Sewaktu Angulimala berhasil menyusul, dia berdampingan dengan Bhagavan dan berkata,”Aku suruh engkau berhenti. Mengapa tidak berhenti?”
Bhagavan terus berjalan dan berkata,” Sudah sejak lama aku berhenti, Angulimala. Engkaulah yang belum berhenti” Sudah sejak lama sekali aku berhenti melakukan tindakan-tindakan yang menimbulkan penderitaan bagi makhluk lain”
Berefleksi dari kisah Angulimala ini perkenankan saya berkata pada diri sendiri,”saya ingin belajar berhenti dipermainkan oleh kekeliruan, bias persepsi saya akan kebahagiaan, akan hidup, akan siapa diri saya. Ini adalah dasar penyebab penderitaan. Penyebab penderitaan bagi diri sendiri dan bagi penderitaan makhluk lain. Saya bukanlah segala yang berkondisi, saya bukanlah segala yang memiliki bayangan saya bukanlah segala rasa suka yang bergantung pada ada dan tiada. Saya bukanlah rasa puas dan tak puas. Saya bukanlah rasa kecewa, saya bukanlah rasa bangga, ketika tulisan ini diapresiasi dan kecewa ketika kurang diapresiasi. Apa yang menjadi jatah saya adalah menulis dan menulis, perkara diapresiasi atau tidak adalah jatah realita. Membiarkan diri membumbung, terbuai oleh apresiasi hanya akan menggiring saya melewati jatah yang kodratnya saya miliki, oleh karenanya harus siap oleh kecewa ketika apresiasi yang datang tak sesuai ekspektasi. Saya adalah sang wajar, saya adalah sang biasa, saya adalah sang netral, saya adalah yang tak beriak nan jernih bebas prasangka dan penilaian.
Ezra,
“sahaya lebih besar daripada itu” bagian ini sangat menggigit;)
berapa banyak tantangan dalam hidup kita yang mampu kita labeli”sahaya lebih besar daripada itu”
seorang sahabat yang telah 10 tahun berpacaran, jelang pernikahan, tiba-tiba sang pria mengurungkan niat. Pernikahan pun batal. sang wanita terpukul oleh kecewa yang sangat, tak tau harus berkata apa. untuk beberapa waktu hanya memilih berdiam diri dalam kamar. Dalam situasi hati seperti ini, saya yakin hidup ingin kita berkata,”saya lebih besar dari kecewa ini”
Terimakasih atas inspirasinya Ezra;)
btw cerita di atas cuplikan dari Ramayana ya?
eh keliru ding Mahabharata ya?
01 June 2009 08:46
Jacob Behmen (1575-1624) seorang filsuf besar dari Jerman, dalam bukunya The Great Mystery menjelaskan bahwa persaudaraan manusia dengan seisi semesta merupakan dasar dari penyatuan mistis dengan Tuhan. Membunuh binatang untuk makanan akan membangun penghalang antara roh manusia dan Tuhan. Keberatan moral menggunakan hewan sebagai makanan dan berbagai bentuk eksploitasi merupakan tanda kemurnian, kesungguhan dan kejujuran moral. Leo Tolstoy (1828-1910) dengan indah mengekspresikan dasar moral dari vegetarian,” Gerakan vegetarian akan mengisi jiwa yang hatinya menyadari kehadiran kerajaan Allah di bumi dengan kegembiraan…karena itulah kriteria yang kita ketahui tentang bagian dalam diri seorang manusia yang mencari kesempurnaan moral adalah sejati dan jujur.”
“This is dreadful! Not the suffering and death of the animals, but that people suppress in themselves, unnecessarily, the highest spiritual capacity – that of sympathy and pity towards living creatures like themselves – and by violating their own feelings, become cruel. And how deeply seated in the human heart is the injunction not to take life.”
– Leo Tolstoy, translated from “The First Step,”
Mencintai makhluk lain karena Aku adalah Dia,Dia adalah Aku, Engkau adalah Aku dan Aku adalah Engkau. Adalah didikan yang telah ditanamkan dalam diri Bung Karno kecil. Suatu hari tanpa sengaja Karno menjatuhkan sarang burung dari atas pohon. Kejadian itu membuat Ayah Karno marah.
“Bukankah aku sudah mengajarkanmu untuk mengasihi binatang?”
“Ya, Pak,”sahut Karno ketakutan
“Kau bisa menerangkan arti ungkapan Tat Twan Asi, Tat Twan Asi’ yang kuajarkan?”
“Ya, Pak. Artinya, Dia adalah Aku; Aku adalah Dia, Engkau adalah Aku, Aku adalah Engkau.”
“Lalu, mengapa masih kaulakukan? Bukankah kau harus melindungi semua makhluk Tuhan?”
(Bung Karno Mencari Tuhan, 2005)
Seorang Bapak Bangsa yang lain di negeri ini, Romo Mangun sejak masih kecil telah memperlihatkan kehalusan budinya terhadap makhluk lain. Bil (nama kecil Romo Mangun) kerap pergi ke sawah melihat burung-burung manyar. Suatu ketika Bil dan teman-temannya menghalau kawanan burung manyar,”Hurrrsahhh!” akibatnya burung-burung itu segera beterbangan. Mereka senang melihat kawanan burung manyar terbang di udara. Benar-benar pemandangan yang sangat indah sebab burung-burung itu terbang meliuk-liuk seperti ular.
“Kita ketapel, yuk?” ajak salah satu teman Bil.
“Jangan,” kata Bil mencegah. “Kita tidak boleh menyakiti burung. Mereka juga seperti kita, tidak ingin disakiti.”
(Romo Mangun Sahabat Kaum Duafa, 2005)
Hakikatnya hati kita sepakat binatang memiliki bagian yang sama dalam diri setiap kita, naluri mencintai hidup, naluri mempertahankan hidup. Ketika Prof Prasasto mempresentasikan klip-klip detil bagaimana hewan disembelih, suara-suara berseru ngeri, jerit takut terdengar dari kiri-kanan dan deretan kursi di belakang saya. Sebuah presentasi dalam forum Pre. Conference …. MEMBERSHIP AS AN ASSET OF ROTARY CLUB Rotary Club (Sheraton Mustika Yogyakarta Resort & Spa. 27-28 Februari 2009). Melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana sebuah kehidupan terenggut, jerit sakit, amarah hingga mereka meregang nyawa, menyentak hati siapapun, kita terhubung dengan segala rasa yang mereka alami. Hati (hakikatnya) akan menolak melihat, menolak memandang ketakutan, kesakitan, menolak mendengar tangisan sebagai ekspresi naluri untuk mempertahankan meski itu keluar dari mulut seekor kambing, ayam, sapi atau babi. Semua naluri mempertahankan hidup ini kode pesannya sama persis dengan yang manusia miliki. Inilah dasar hubungan sebuah hati dengan laksa entitas, hubungan yang dikandung oleh belas kasih. Hubungan yang mempertautkan semua entitas, sedarah dan sekandung dalam belas kasih mengalir dalam diri laksa entitas, serupa dengan sang Bunda Semesta. Terus berproses untuk mengenal belas kasih, hingga sampai pada titik belas kasih tanpa titik adalah perjalanan hati menguak misteri dan mengenal wajah sang Pencipta, Sang Bunda Maha Belas Kasih. Dalam tautan persaudaraan ini jualah kita akan kembali ke pangkuan Sang Bunda.
Oleh Chindy Tan
“Saya belum pernah merasakan diberi perhatian oleh seseorang seperti yang dia lakukan” Ungkapan seorang rekan saya yang saya yakin modus yang sama dialami oleh sekian miliar hati yang merindu cinta, babak awal episode cinta pun bermula.
Rasa nyaman, rasa dihargai, diperhatikan adalah kecambah dari sesuatu yang coba kita tebak sebagai cinta. Kebutuhan emosi, celetuk pasien saya. Semua ‘kebutuhan’ ini lalu melahirkan keinginan untuk memiliki.
“Mengapa kamu begitu baik kepada saya?”
“Tinggallah bersama saya malam ini, saya mohon”
“Kamu perlakukan saya dengan begitu baik, mengapa semua ini tidak dapat saya nikmati lebih lama?”
“Saya ingin meminjam hidupmu malam ini”
Dialog Gong Li dan Tony Leung dalam film 2046, mengingatkan kita akan epik standar misteri cinta, nikmat, teduh namun tak dapat dimiliki, terlalu sakit untuk diakui ketika harus melepas. Siapapun mungkin pernah mengalami. Mendadak lagu…uuusah kau kenang lagiiii sayaaaang menggantung di bibir, berulang dilantunkan tanpa bosan. Ika sahabat saya pernah ngancam,”Cing lu ganti lagu lain ato panci ini melayang…” gara-garanya beberapa hari setelah putus, bibir ini seolah disetel melo, pengennya nyanyi lagu melooo aj;)
Sadar tak sadar ‘cinta’ yang berlaku kebanyakan adalah cinta bersyarat, ketika syarat2nya satu persatu tidak terpenuhi lagi, ‘kepekatan’ cinta pun berkurang, lama kelamaan tawar, tidak berasa apa-apa lagi…
so where did the feeling go?
tidak kemana-mana, ‘cinta’ hanya mengikuti hukum kodrat dari segala yang berkondisi…. akan berlalu.
Cinta seperti ini hanya akan numpang lewat, kadang dia mampir, ingat sekedar mampir, tidak ada yang bisa dilakukan ketika temponya tiba untuk berlalu…
that’s why at the time you’re falling in love, that exact moment u got to learn to let him/her go…
Namun ada skenario lain yang mungkin, siapa pun memiliki potensi untuk melampaui ketergantungan kita pada cinta yang memiliki syarat. Setiap detak hidup kita adalah kesempatan menafaskan cinta. Mencinta untuk hidup hingga hidup adalah cinta itu sendiri.
Kapan terakhir Anda mendengar, kata-kata yang menyentak relung hati Anda, seolah menyibak sekat ketidaktahuan, ada jendela lain yang terbuka, terinspirasi olehnya? Bukan hanya oleh kata, lebih hidup lagi adalah inspirasi dari lakon.
Inspirasi, lahir dari upaya yang tak putus untuk memahami gerak hati sendiri, setiap fenomena hidup yang diamati mungkin akan mampu dibahasakan dengan hati, ketika itu ruh ditiupkan pada setiap huruf. Sebuah hati barulah dapat terhubung dengan zat yang sama dengan hati itu sendiri, sesama hati. Inspirasi adalah getaran elektrik yang mengantar nafas terhubung dengan jiwa, hidup sungguh hidup. Hidup yang penuh. Setiap denyut nadi adalah peluang berjumpa dengan pemahaman baru, benih penyibakan selalu berkecambah dan bermekaran dalam menjejak ruang hidup. Bagi saya, ini salah satu dari sekian jalan cinta yang tak berbatas yang dapat ditempuh, terus dan terus belajar membaca hidup, menginspirasi diri, memerdekakan diri dari segala batasan, berdiri di atas batasan (baca: kerangkeng) yang telah diformat, disepakati bersama sebagai ‘hidup normal’.
Bagaimana ‘hidup normal’ (baca:kebanyakan) mendefenisikan cinta.
Cinta tidak (seharusnya) selalu identik dengan berpasangan.
Cinta yang seolah tunggal jangan terburu menilainya sunyi.
Cinta melampaui ganjil maupun genap.
Cinta adalah kekuatan untuk hidup dalam irama yang tak berpihak, netral.
Cinta adalah kekuatan untuk menginspirasi, karena inspirasi adalah bahan baku dasar dari hidup yang penuh,
bahan baku dasar dari cinta yang utuh
Jogja, Medio May 2009
Oleh Chindy Tan
Dikutip dari Surat Kartini kepada Ny.R.M. Abendanon-Mandri dan suaminya (Brieven aan mevrouw R.M. Abendanon-Mandri en haar echtngenoot met andere documenten)

sumber gambar: indotoplist.com
Dokumen 75: 27 Oktober 1902
“Sekarang kami masih harus menceritakan sesuatu mengenai diri kami, kami tidak tahu pendapat Nyonya, kami sekarang pantang makan daging. Sudah lama kami merencanakan itu dan bahkan beberapa tahun saya hanya makan tanaman saja tetapi tidak punya cukup keberanian susila untuk bertahan. Saya masih muda sekali, masih berusia 14, 15 tahun. Dengan pantangan itu dikatakan saya mempunyai berbagai tujuan, dan sebagai anak saya masih terlalu muda untuk membela kata hati, membiarkan diri dibuat bingung menyerah, tetapi merencanakan memulai lagi, segera sesudah saya berkuasa atas diri sendiri. Kemudian kami putuskan melaksanakan rencana kami kalau kami sudah tidak di sini lagi. Tetapi ini terlalu lama dan kami sudah melaksanakannya sekarang. Kami sehat dan secara batiniah itu baik bagi kami.
Seperti yang sudah kami katakan kepada Nyonya, diperlukan keberanian susila, yang lebih lanjut daripada keberanian pribadi untuk melaksanakan dan mempertahankannya.
“Vegetarisme itu doa tanpa kata kepada Yang Mahatinggi” Ya betul kata orang itu doa tanpa kata, doa dalam perbuatan, doa untuk mohon tenaga dan kekuatan
Kami mohon izin kepada Ibunda pantang makan daging, dan Ibunda mengizinkan dengan senang hati, dengan ikhlas. Annie akan sangat marah, kalau dia mendengar tentang pantangan itu, dia selalu marah kalau kami membicarakan rencana kami untuk pantang makan daging. “Kamu mau mati?” tanyanya. Seolah-olah orang yang makan daging tidak mati.
Bagi saya, Kartini adalah sosok wanita-manusia. Wanita yang rindu mengantar semua hati melihat wanita sebagai manusia. Peka terhadap kesenjangan apa pun. Alur berpikir yang provokatif, mengajak kita untuk tidak menelan mentah-mentah segala sesuatu melainkan uji dengan hati dan otak. Dia tak lelah membawa hati untuk bertanya.
Adalah Kartini yang menggugat arti beradab ketika kejujuran tak lagi bertahta, dalam surat yang sama 27 Oktober 1902
“Tuhanku, apakah sebenarnya peradaban itu? Apakah…apakah peradaban itu merupakan kelihaian berbuat…pura-pura?
Menggugat niat tulus dari setiap bentuk ambiguitas,” kami sendiri mengetahui sungguh-sungguh jumlah orang yang dengan tulus ikhlas hendak menolong kami, dapat kami hitung dengan jari. Dan kami tidak sampai menggunakan dua belah tangan untuk menghitung jari itu.
Nyonya kira kami tidak tahu, apa yang menyebabkan ‘de Echo’ suka sekali memuat karangan kami…Sebab karangan itu merupakan iklan yang bagus bagi surat kabar tersebut. Majalah ‘De Hollandse Lelie’ menyediakan ruangannya bagi saya..untuk apa? untuk iklan! Surat-surat seorang gadis dari Timur, seorang gadis Jawa sejati”
Kartini keras menyoroti niat ‘kedua’ dari topeng seolah-olah tulus dari sebuah ambiguitas. Niat harus lurus dan tulus tanpa embel-embel.
Kartini juga tak segan mendobrak budaya tanpa isi. Dalam dokumen 118: 25 Agustus 1903 “Sudah saya katakan, saya tidak suka kaki saya dicium. Tidak pernah saya izinkan orang berbuat demikian pada saya. Yang saya kehendaki kasih sayang dalam hati sanubari mereka, bukan tata cara lahiriah!
Sahabat, bagi saya Kartini adalah suluh yang menerangi cermin pemantul jati diri setiap hati, agar setiap hati memandang jelas hakikat manusia dalam diri seorang wanita, hakikat hidup yang setara.
Salam Kebaya;)
Oleh Chindy Tan
Don bolak-balik bertanya,”kok siklusnya harus berulang lagi, kenapa tidak kiamat ya habis cerita?” Kenapa mesti ada manusia baru lagi, kehidupan baru lagi
ahemm….jawabannya mungkin ada pada pertanyaan,”kenapa kamu eksis, Don” engkoh buntut2nya aku adalah isi, isi adalah kosong… ajian brand ala Sun Go Kong sambat Don, hehe…
ckckck, film ini uaapik tenin! acung tujuh jempol deh.
Fakta-fakta anak indigo yang mulai banyak lahir dengan ciri-ciri yang khas adalah satu sisi yang coba disajikan dalam film sain fiksi ini. Anak indigo memiliki strain DNA level yang lebih tinggi hingga kecerdasan dan kepekaan di atas rata-rata serta indera keenam yang tajam. Caleb dan Abby adalah tokoh anak indigo dalam film ini, digambarkan sebagai anak-anak yang terobsesi pada dunia fauna, penyayang binatang dan dengan pilihannya sendiri (Caleb) memutuskan untuk bervegetarian.Tek! saya kaget pas Caleb menolak tawaran ayahnya-John Koestler untuk bersosis ria bersama. Lantang dia menyuarakan bahwa dia telah memutuskan untuk menjadi vegetarian. Bravo! Temen-temen tidak cerita kalo film ini ada tersentil pesan veggie di dalamnya, mereka cuma bilang isu doomsday karena ledakan matahari. Apa akunya yang kelewat sensi ama segala yang berbau veggie kali ya;)
(Ide vegetarian sebagai salah satu syarat di Zaman Baru kalo memang ada peradaban baru yang tersisa kelak, dapat dijelaskan dengan argumen2 yang kuat…)
John Koestler, Prof MIT dan Astrofisika seorang yang skeptis terhadap agama, keukeuh memilih percaya pada teori acak bukan determine. Segala sesuatu yang terjadi di semesta ini, tanpa tujuan, semua terjadi begitu saja, oleh kecelakaan dan acak. Sampai pada suatu ketika tanpa sengaja mengungkap makna dari angka-angka yang tertulis dikertas yang dibawa putranya Caleb. Memberinya perspektif baru akan semesta. Surat ini, adalah surat yang berisi gambar anak-anak SD dari sekolah yang sama tentang masa depan menurut imajinasi mereka masing-masing. Lucinda Embry, pencetus ide acara ini, satu-satunya anak yang tidak menggambar melainkan menuliskan angka-angka yang menurutnya terus dibisikkan kepadanya. Pada perayaan 50 tahun berikutnya, tahun 2009, surat yang disimpan dalam kapsul waktu dan telah dikubur selama 50 tahun dibuka untuk dibagikan pada anak-anak SD tersebut. Caleb Koestler, kebagian surat yang ditulis oleh Lucinda Embry.
Misteri angka-angka dalam surat itu mulai terkuak ketika John tanpa sengaja meletakkan gelas minumnya di atas kertas tersebut yang bleber kepenuhan, ketika di angkat kembali bekas airnya memberi batas pada angka 911012996. Merasa familiar dengan angka ini, John mencoba memasukkan angka tersebut ke mesin google dan ajaib! Angka tersebut persis sama dengan tragedi 11 september 2001 dengan korban jiwa 2996. Penasaran, John lalu mencoba memasukkan angka-angka lainnya. Semua ternyata adalah waktu bencana-bencana besar yang terjadi di Bumi. Beberapa tanggal, waktu yang belum terjadi, dipercaya oleh John sebagai ramalan yang pasti akan terjadi. John seolah dipaksa berkejaran dengan takdir, bocoran takdir telah terpapar jelas, segala upaya dia lakukan untuk membelokkan garis takdir tersebut, namun nihil. Akhirnya John memilih percaya mutlak pada angka-angka tersebut sebagai satu-satunya petunjuk bagaimana dia harus mengalir dalam skenario takdir. Kepercayaannya ini, menuntunnya memahami dan menerima takdir kalau anaknya Caleb dan Abby (cucu dari Lucinda) dipilih oleh para pembisik untuk meneruskan peradaban baru, dengan membawa sepasang kelinci peliharaan mereka, Caleb dan Abby diantar ke sebuah tempat, mereka berdua berlari menuju pohon yang dipercaya sebagai pohon kehidupan… wuuiiiih, keren abis! Buruan tonton deh!



Salam kenal bagi siapa saja yang mau mampir di beranda bersahaja ini. Bertukar isi hati dan isi otak adalah salah satu proses manusia memanusiakan dirinya. Ada dialog di sana. Dialog yang dituntun oleh tanya demi tanya, karena manusia sepanjang hayat peradabannya adalah makhluk yang belum selesai dengan dirinya. Poin senjang yang banyak diusung berkisar pada kata kunci: MANUSIA, CINTA DAN TUHAN, VEGETARIAN, GLOBAL WARMING. Mengajak siapa saja belajar jujur pada dirinya, ketika hati dan fakta berada dalam satu garis lurus(jujur), maka kejujuran pada dirinya inilah yang akan memaksa manusia berubah. Mungkin inilah hidup yang bertanggung jawab, hidup yang fair. Berusaha memahami cara hidup saat itu juga manusia memahami cara mati





Dari penulis buku terlaris di dunia, Earth Above, hadir kembali dengan karya baru yang cemerlang. Home, film dengan judul buku yang sama, menghadirkan gambar-gambar yang menakjubkan. Sebuah ekplorasi wajah Bumi lengkap dengan foto-foto terkenal karya Arthus-Bertrand dilengkapi teks informatif oleh tim Good Planet, sebuah organisasi non-profit yang mempromosikan pemeliharaan lingkungan hidup. Home menghadirkan keindahan Bumi dan mengajak seluruh umat manusia untuk menjaganya dari kehancuran.
Film ini ditayangkan secara serentak mulai tanggal 5 Juni-14 Juni 2009 3 benua, lebih dari 50 negara, termasuk Indonesia, ditayangkan gratis lewat televisi, bioskop,
Injil Perdamaian Essene
Jelang Sang Buddha Parinirvana, Makan Babi atau Jamur?
Pro dan Kontra apakah Sang Buddha vegetarian dapat dibaca argumentasi dan dasar telaahnya yang diulas oleh Master Roshi Philip Kapleau (pendiri Budhisme Zen di Amerika) dalam buku
(





Berbalas Cuap