You are currently browsing the category archive for the 'globWarming-globVeg' category.
Oleh Chindy Tan
Gebrakan terbaru datang dari Ibu Negara Michelle Obama, pada tanggal 20 Maret 2009 lalu bersama 26 anak-anak Sekolah Dasar Bancroft di barat laut Washington, menanam benih sayur dan buah-buahan di Gedung Putih(The New York Times 20/03/09).
Sebagai seorang ibu dari dua putri Sasha(10thn) dan Malia(7thn), melalui aktivitas berkebun ini Michelle Obama berharap dapat menumbuhkan kecintaan anak-anaknya khususnya dan anak-anak di Amerika umumnya pada makanan yang sehat, buah segar dan sayuran organik lokal yang datang dari Bumi, bukan dari makanan kemasan, makanan kotak atau makanan kaleng. Gerakan mempromosikan makanan sehat juga merupakan salah satu agenda Michelle Obama berkaitan dengan epidemik obesitas dan diabetes yang melanda Amerika. Seperti yang disampaikan Obama di Sekolah Menengah Atas Gibbs, Saint Petersburg, Florida (01/08/08): “Jika kita dapat mengurangi kasus obesitas sampai pada angka di bawah jumlah kasus tahun 1980, maka kita akan dapat menghemat biaya perawatan medis sebesar 1 triliun dolar. Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah memastikan menu program makan siang yang dikonsumsi anak-anak di sekolah banyak sayur dan buah. Dengan demikian kita akan mendapatkan generasi penerus yang lebih sehat” tutur Obama
Keberadaan kebun sayur dan buah di Gedung Putih ini diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi untuk lahirnya kesadaran dalam masyarakat Amerika. Lalu mengapa anak-anak diajak terlibat? Michelle Obama berkata,” Harapan saya, melalui anak-anak mereka akan mendidik anggota keluarga yang lain dengan demikian gerakan ini akan bergulir mendidik masyarakat.”

Sebuah perubahan akan mengantar kita pada perubahan lainnya, bahkan bila satu orang memutuskan untuk menanam tomat setelah melihat Michelle Obama dan anak-anak sekolah menanam sebuah benih, pesan ini telah bekerja. Mengembalikan rasa keterhubungan kita dengan makanan yang kita makan, semua bermula dari tanah. Semua ini pelajaran terbesar menuju revolusi makanan, paham perjalanan makanan dari benih sebelum akhirnya sampai ke piring.
Oleh Chindy Tan
Kesadaran masyarakat global akan urgensi perubahan gaya hidup untuk mengatasi multi krisis kini mulai menyentuh kebijakan-kebijakan pemerintah. Guardian.co.uk, Minggu 26/1/2009 melaporkan Pelayanan Kesehatan Nasional di United Kingdom, akan memberlakukan peraturan menu tanpa daging di seluruh rumah sakit UK. Doktor David Pencheon, direktur Pelayanan Kesehatan Nasional mengatakan bahwa, “ini bukan hanya untuk efisiensi melainkan untuk perubahan yang berarti, karena efisiensi tidak banyak membawa perubahan. Menu tanpa daging di rumah sakit akan menghemat pengeluaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan pelayanan pada pasien. Tentunya, tidak kalah penting adalah pengurangan emisi karbon bisa mencapai tingkat yang ditargetkan. Sementara itu, di Irlandia seperti yang dilaporkan oleh The Irish Times, Menteri Lingkungan Negara, untuk memotong dan menekan sumbangan karbon masyarakat pemerintah akan memberlakukan pajak pada daging sejumlah 7 dan 13 euros ($9-16) untuk sapi dan 1 euro ($1.25) untuk biri-biri.
Tahun depan, Pemerintah Swedia akan mengawali dengan pemberian label jumlah emisi tiap produk makanan dengan tujuan merangsang rasa tanggung jawab konsumen terhadap makanan yang mereka pilih. Berikut rujukan sumbangan karbon tiap makanan
1kg beef = 24 kg CO2
1kg beef dari industri susu = 15Kg CO2
1kg babi = 5.5kg CO2
1kg telur = 5.5kg CO2
1kg ayam = 4.6kg CO2
1kg susu = 1.2kg CO2
Kebun Sayur di Gedung Putih: Sebuah Embrio Revolusi Makanan
Gebrakan terbaru datang dari Ibu Negara Michelle Obama, pada tanggal 20 Maret 2009 lalu bersama 26 anak-anak Sekolah Dasar Bancroft di Baratlaut Washington menanam benih sayur dan buah-buahan di Gedung Putih. Sebagai seorang ibu dari dua putri Sasha(10thn) dan Malia(7thn), melalui aktivitas berkebun ini Michelle Obama berharap dapat menumbuhkan kecintaan anak-anak pada umumnya pada makanan yang sehat, buah segar dan sayuran organik lokal yang datang dari Bumi, bukan dari makanan kemasan, makanan kotak atau makanan kaleng. Gerakan mempromosikan makanan sehat juga merupakan salah satu agenda Michelle Obama berkaitan dengan epidemik obesitas dan diabetes yang melanda Amerika.
Keberadaan kebun sayur dan buah di Gedung Putih ini diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi untuk lahirnya kesadaran dalam masyarakat Amerika. Lalu mengapa anak-anak diajak terlibat? Michelle Obama berkata,” Harapan saya, melalui anak-anak mereka akan mendidik anggota keluarga yang lain dengan demikian gerakan ini akan bergulir mendidik masyarakat.”.Sebuah perubahan akan mengantar kita pada perubahan lainnya, bahkan bila satu orang memutuskan untuk menanam tomat setelah melihat Michelle Obama dan anak-anak sekolah menanam sebuah benih, pesan ini telah bekerja. Mengembalikan rasa keterhubungan kita dengan makanan yang kita makan, semua bermula dari tanah. Semua ini pelajaran terbesar menuju revolusi makanan, paham perjalanan makanan dari benih sebelum akhirnya sampai ke piring.
“I think what I really learned in all of this,
Was to be true to myself
To be true to my inner voice
And I began to see,
That we really do have the power,
Our own lives really do make a difference,
Just by being more conscious of the food that we eat.
We can heal ourselves; we can heal the environment,
We can heal this planet”
John Robbins dibesarkan di jantung Mega Bisnis Perusahaan Makanan di Amerika. Dari kecil diharapkan kelak dapat mengambil alih dan menjalankan apa yang telah menjadi perusahaan es krim terbesar di dunia – Baskin-Robbins. Tahun demi tahun John Robbins dibesarkan dan dipersiapkan untuk tugas ini, mendapat kesempatan untuk hidup dalam skenario yang paling diidamkan oleh semua orang Amerika. Bahkan mimpi yang hanya dapat dicapai oleh segelintir orang. Kolam renang berbentuk kerucut es krim di halaman belakang rumah tinggalnya, merupakan simbol kesuksesan yang sedang menunggunya.
Tetapi ketika waktunya tiba untuk memutuskan John Robbins berkata: “ terima kasih, saya sangat menghargai tawaran baik ini, tetapi ‘Tidak!’ Saya harus berkata tidak. Nurani menarik saya ke arah yang berbeda, sesuatu yang lain memanggil saya, dan bagaimanapun kerasnya saya berusaha, saya tetap tidak bisa mengabaikannya.”
Ada mimpi yang lebih menyentak dan menarik langkah saya . Sebuah mimpi di mana semua makhluk hidup berbagi karena dibangun atas rasa hormat pada semua bentuk kehidupan. Mimpi dimana masyarakat berdamai dengan hati nurani karena mereka menghormati dan tinggal berdampingan dengan semua bentuk kehidupan. Mimpi bahwa manusia hidup selaras dengan hukum Sang Pencipta, menghargai dan merawat lingkungan alami, mengkonservasi alam, bukan justru menghancurkan alam. Mimpi tentang masyarakat yang benar-benar sehat, mempraktekkan pengayoman yang bijaksana dan berbelas kasih pada keseimbangan ekosistem.
Ini bukan mimpi saya seorang. Sesungguhnya adalah mimpi semua umat manusia yang sama-sama bisa melihat keadaan Bumi yang menyedihkan, dan merasakan luka Bumi sebagai bagian dari dirinya. Juga mimpi mereka yang merasa bahwa panggilan menghormati dan melindungi dunia di mana kita hidup adalah kewajiban. Pada tingkat tertentu, kita semua berbagi dalam mimpi ini.
Saya memilih membangun integritas dan mimpi saya. Bersama istri kami pindah ke pulau kecil di Kolumbia, hidup dari apa yang kami tanam sendiri. Merajut hidup kami dalam jejaring alam, Mencoba menemukan akar hidup kami bersama Bumi. Mendefenisikan ‘cukup’ akan materi dengan pengeluaran 600 dolar /tahun selama tujuh tahun.
Hampir tak seorang pun dari kita menyadari betapa besarnya kebiasaan makan kita berpengaruh terhadap kemungkinan mimpi ini menjadi kenyataan. Kita tidak menyadarinya dalam berbagai cara, bagaimana apa yang kita makan bisa mempunyai dampak begitu luar biasa. Adalah John Robbins melalui bukunya Diet For A New America, buku pertama yang menunjukkan dalam detail penuh dasar dari dampak ini, tidak hanya terhadap kesehatan kita, tetapi sebagai tambahan atas kekuatan masyarakat kita, kesehatan dunia kita, dan kesejahteraan semua makhluk. “Ternyata yang terjadi, kita mempunyai sebab untuk berterima kasih, karena apa yang terbaik bagi diri kita secara pribadi adalah juga terbaik untuk semua bentuk kehidupan dan semua sistem pendukung kehidupan dimana kita semua bergantung kepadanya.
kepada Anda tentang bagaimana Anda bisa menikmati makanan dengan benak dan hati bersih dan tak terpolusi.”
Buku Diet For A New America telah mengguncang dan mengetuk kesadaran orang untuk sungguh terhubung dengan setiap detil konsekuensi atas pilihan makanan yang akan dimasukkan ke dalam mulut . Sejak pertama kali terbit tahun 1987, John Robbins mendapat respon sejumlah 75.000 surat. Lima tahun setelah buku Diet For A New America terbit, terjadi perubahan besar-besaran dalam pola konsumsi beef di Amerika, sungguh di luar dugaan dapat menurun hingga 20%.
Joanna Macy penulis buku-Despair and Personal Power in the Nuclear Age- bertutur tentang salah satu buku terbaik John Robbins ‘Diet For A New America’
“Saya berterima kasih bahwa buku ini bukan kotbah. Terlalu penting untuk sebuah kotbah – terlalu penting untuk kesehatan kita sebagai individu, sebagai keluarga, sebagai masyarakat dan sebagai planet. John Robbins tidak mencaci atau berkotbah; dia membawa kita dalam perjalanan besertanya, membagi cintanya bagi kehidupan dan hormatnya bagi semua bentuk kehidupan, termasuk diri kita. Sementara dia membagi juga keterkejutannya dan kesakitan atas apa yang ditemukannya dalam Mega Bisnis Perusahaan Makanan di Amerika, dia dengan arif membiarkan kita menarik kesimpulan kita sendiri tentang bagaimana kita ingin hidup. Ketika saya menapaki serpihan dan kayu apung, saya berpikir sendiri ‘Skenario ini utopis yang liar, absurd. Juga jelas tentang cara tujuan hidup kita, membangun hidup’.
Ditulis ulang dari buku dan video Diet For A New America, The Food Revolution oleh Chindy Tan
ps.
tulisan ini akan dipublikasikan di majalah info vege edisi 3
tayangan perjalanan John Robbins tinggal klik kolom koleksi video dengan judul Diet For A New America part 1 (tengok ke kolom kiri ya;)
Berikut jalur bebas unduh (link free download) yang diberikan oleh Sdr Andy (many thanks before bro;)
http://untukbumi.co.cc/download/Meat%20The%20Truth%20London%202008/
Film ini diproduksi oleh Nicolaas G. Pierson Foundation,
narator utama: Marianne Thieme, Ketua Partai yang memperjuangkan Hak-Hak Binatang dan berhasil mendapat kursi di jajaran anggota dewan di Belanda (satu-satunya dan yang pertama di Eropa, Partai Hak-Hak Binatang mendapat tempat di pemerintahan). Film ini menvisualisasikan kompilasi data-data penelitian dari FAO, dan beberapa Universitas keterkaitan konsumsi daging dengan kontribusi gas rumah kaca.
simak cuplikan berikut ini
sumber: http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/03/07/02405619/pikiran.lebih.jernih.dengan.vegetarian
Sabtu, 7 Maret 2009 | 02:40 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Lukas Adi Prasetyo

YOGYAKARTA, JUMAT – Menjadi seorang vegetarian, pikiran manusia lebih jernih dan gembira, sebab ikut mengambil peran dalam pelestarian alam, kasih sayang terhadap binatang, dan menghargai kehidupan.
Hal itu disampaikan Kamalanathan Sappani, dokter, penggiat vegetarian, yang juga Medical Director Metronik iCares SDN BHD Malaysia, ketika berbicara dalam seminar vegetarian yang diselenggarakan Indonesia Vegetarian Society (IVS), Jumat (6/3) malam.
“Kita harus mengambil satu langkah untuk menyelamatkan bumi, dengan melihat menu makan kita,” ujarnya.
Vegetarian tidak lagi berada pada koridor (sekedar) pilihan, melainkan
k e b u t u h a n. Suka atau tidak suka konsumsi daging dan produk turunannya memiliki benang merah yang sangat tebal dengan miskelola lahan, pemborosan air, gurunisasi, ketimpangan akses pangan, punahnya keanekaragaman hayati. Fakta-fakta yang sebenarnya sejak tahun 1993 telah digugat dan dianalisa oleh Jeremy Rifkin (President of the Foundation on Economic Trends and the author of seventeen bestselling books) dalam bukunya the raise dan fall of the cattle culture Namun sayangnya teriakan Jeremy Rifkin gemanya tidak ke mana-mana. Banyak pihak yang memilih mengabaikan prediksi Jeremy Rifkin. Kini akhirnya, beberapa prediksinya tertuang sebagai fakta dalam laporan PBB-FAO livestock’s long shadow (2006) dan laporan terbaru PBB Kick the Carbon Habit (2008) yang dirilis oleh UNEP.
Berdasarkan fakta dan data-data inilah, mata dunia makin terbuka dan mengakui ada yang tidak beres dengan pola makan kita, liputan CNN 6 November 2008 lalu melaporkan lebih dari 10 juta orang di Amerika putar haluan menjadi Vegan, termasuk Oprah(simak liputannya…)
Modal bagi sebuah perubahan hanyalah berani jujur pada diri sendiri, berani jujur atas fakta-fakta yang telah teruji kebenarannya. Seorang Oprah Winfrey mencoba jujur pada dirinya setelah membaca buku,”A New Earth” kemudian tergerak untuk memilih mengeluarkan daging dari piring makannya. , Oprah juga dalam blognya mengetuk dan mengajak siapa saja untuk ikut berpartisipasi menukar isi piring dengan diet “bebas daging” entah itu sehari, dua hari, tiga hari atau bahkan total bebas daging dalam seminggu (liputan CNN oleh Alina Cho, 6 November 2008)
http://www.youtube.com/watch?v=rYX18NGTwls
“Saya baru saja membaca sebuah artikel di New York Times yang ditulis oleh Michael Pollen mengenai pangan dan fakta bahwa seluruh sistem peternakan kita bergantung pada minyak yang harganya murah. Sebagai akibatnya, sektor peternakan kita sebenarnya menyumbang lebih banyak gas rumah kaca daripada sektor transportasi kita. Dan sementara itu juga, peternakan menciptakan monokultur yang rentan terhadap ancaman ketahanan nasional, rentan terhadap harga pangan yang meroket ataupun anjlok, naik turunnya harga komoditas, dan sebagian bertanggung jawab atas ledakan biaya medis karena peternakan menyebabkan diabetes tipe 2, stroke, dan penyakit jantung, obesitas, semua hal yang mendorong pengeluaran besar-besaran dalam biaya medis kita. Itu hanya satu sektor ekonomi. Hal yang sama juga berlaku di sektor transportasi. Hal yang sama juga berlaku dalam konstruksi bangunan. Di seluruh bidang sama. Bagi kami boleh dibilang kami akan memperbarui total bagaimana kita menggunakan energi untuk menangani perubahan iklim, menangani ketahanan nasional, dan mendorong ekonomi kita, itu akan menjadi prioritas nomor satu saya ketika saya masuk bekerja, dengan asumsi, sudah jelas, bahwa kita sudah cukup berbuat sesuatu untuk menstabilkan situasi ekonomi saat ini.” Akhirnya, Barack Obama mengakui secara terbuka bahwa peternakan menyumbang lebih banyak gas rumah kaca daripada seluruh transportasi.
Sumber : http://www.ecorazzi.com/2008/11/17/barack-obama-discusses-the-dangers-of-modern-factory-agriculture/ http://gristmill.grist.org/story/2008/10/27/62034/896
http://www.kafedaun.com/content/view/136/40/
Sri Sultan Hamengku Buwono X di Vegetarian Bazaar 2008, Batam: 4 Sehat Baru.Selasa, 25 November 2008 | 21:09 WIB
YOGYAKARTA, SELASA – Hari Tanpa Daging Internasional atau International Meatless Day, Selasa (25/11) ini, diimplementasikan Indonesia Vegetarian Society lewat ajakan agar masyarakat tidak menyantap daging selama sehari.
Dengan mengurangi konsumsi daging, selain tubuh lebih sehat, manusia ikut peduli lingkungan. Hal tersebut disampaikan Chindy Tanjung, Koordinator Indonesia Vegetarian Society (IVS) Cabang Jawa Tengah dan Yogyakarta , Selasa (25/11).
“Manusia mestinya bisa semakin adil dan memandang jernih setiap inchi kontribusi kerusakan di muka bumi yang disebabkan ulahnya sendiri,” ujarnya.
Konsumsi daging yang berlebih, menurut dokter gigi ini, secara tidak langsung menjadikan manusia tidak adil dengan lingkungan. Bahaya daging sudah terpapar, misalnya menyebabkan tekanan darah tinggi hingga kolesterol. Namun , banyak yang terus menutupinya seakan fakta itu tiada.
Banyak bukti kerusakan lingkungan berujung pada urusan daging. Prasasto Satwiko, profesor yang juga Koordinator Bidang Teknologi Pusat Studi Energi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) menyebut, peternakan dan industri daging terbukti menyebabkan pemborosan energi yang berujung pada kerusakan lingkungan.
Pemakaian energi untuk menghasilkan daging, terang dia, dimulai dari menanam tanaman untuk pakan ternak. Selanjutnya adalah urusan transportasi, pengolahan, aktivitas peternakan, penjagalan, hingga pendinginan. Setiap tahap menyebabkan polusi dan gas rumah kaca. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah melaporkan, industri peternakan menyumbang 18 persen gas rumah kaca.
Penelitian oleh ahli pertanian David Pimental dan Robert Goodland juga menunjukkan bahwa untuk setiap kg daging sapi yang kita makan, dibutuhkan 100.000 liter air, ujar Prasasto.
Chindy menambahkan, kekeliruan yang masih ada adalah pandangan bahwa sumber hewani memberi protein, gizi, dan tenaga yang lebih hebat ketimbang sumber nabati. Itu anggapan keliru. Tumbuhan sudah memberi kita segala yang diperlukan sel tubuh, namun kita belum menyadari, ujar Chindy yang adalah dokter gigi ini.
Secara terpisah, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) DIY Adam Suyadi mengatakan, sangat bagus bagi tubuh kalau konsumsi daging bisa dikurangi sebanyak mungkin. Daginglah yang selama ini menyumbang masalah kesehatan, sedangkan tumbuhan tidak.
Dalam rangkaian hari tanpa daging internasional, IVS Jawa Tengah dan DIY telah menggalang aksi tanda tangan sejak dua minggu lalu. Menurut Chindy, total tanda tangan dilakukan 3. 545 orang. Sedangkan untuk seluruh Indonesia 5.855 orang. Di Malaysia, terkumpul 7.5 00 tanda tangan.
Lukas Adi Prasetyo
http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/25/21091252/Hari.Tanpa.Daging.Internasional..Tubuh.Sehat.Lingkungan.Terjaga
Hari Minggu (21/9) sejak pukul 15.00 sampai 21.00 WITA, para warga Kota Makassar berkumpul di Tamalate Room, Hotel Kenari, Jalan Yosef Latumahina. Mereka berkumpul untuk mendengarkan seminar mengenai pola hidup sehat melalui bervegetarian. Tema seminar dan talkshow kali ini adalah “Cerdas Untukmu, Sehat Bagi Bumi”.
Dalam kesempatan ini hadir DR. Dra. Ratu Ayu Dewi Sartika, Apt, Msc dan Drs. Susianto, MKM dari Jakarta, sedangkan dari Makarios hadir pula Prof. Dr. J. S. Lisal, Spa(K), Sp.GK. Para ahli gizi ini di undang sebagai pembicara dalam seminar tersebut, dengan keyakinan mereka yang berbeda-beda, karena warga yang melakukan vegetarian tidak hanya bagi satu keyakinan/agama saja melainkan dianjurkan kepada semua orang dengan keyakinan apapun.
Seminar ini diadakan oleh para pengurus Indonesia Vegetarian Society (IVS) cabang Makassar, yang diketuai oleh Fanny Hosana (Lu Chuan Ing). Seminar yang dihadiri oleh kurang lebih 320 peserta ini dibuat dengan tujuan memperkenalkan pola makan yang sehat dan ramah lingkungan melalui vegetarian kepada masyarakat Makassar. Karena selama ini orang selalu berpikir pola makan yang sehat adalah 4 sehat 5 sempurna, yaitu nasi, lauk-pauk (daging), sayur-mayur, buah-buahan, dan susu. Sedangkan pada menu vegetarian, kandungan gizi yang terkandung pada daging juga terdapat juga pada kacang-kacangan, buah-buahan, dan telur.
Selain itu, diajarkan pula agar setiap orang lebih menghargai bumi dengan tiga cara yang telah diperkenalkan oleh Dr. Rajendra K. Pachauri, Ketua IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), berasal dari India. Ketiga cara tersebut adalah, pertama, jangan makan daging (bervegetarian), karena daging merupakan komoditas penghasil emisi karbon paling intensif (18%). Kedua, kendarai sepeda, sebab kontribusi emisi karbon gabungan seluruh kendaraan bermotor di dunia adalah 13,5%. Terakhir, jadilah konsumen yang hemat dengan membeli barang yang dibutuhkan, bukan yang diinginkan. Seminar yang terbagi ke dalam 3 sesi ini juga menghadirkan hiburan, seperti tarian dan juga pembagian doorprize.
Adapun seminar ini merupakan rangkaian kegiatan dari peringatan Hari Tanpa Daging Sedunia (World Meatless Day) yang akan dilakukan pada tanggal 23 November 2008 nanti, bertempat di Main Hall GTC Tanjung Bunga dalam bentuk seminar dan talkshow bersamaan dengan bazaar vegetarian yang bekerja sama dengan beberapa rumah makan/depot vegetarian di Makassar, serta berbagai macam lomba. Dalam kesempatan tersebut, hadir pula Chindy Tan, Koordinator Cabang IVS Jawa Tengah dan Yogyakarta, sebagai pembicara.(Paolina)
sumber: Majalah Pecinan Terkini edisi November





Salam kenal bagi siapa saja yang mau mampir di beranda bersahaja ini. Bertukar isi hati dan isi otak adalah salah satu proses manusia memanusiakan dirinya. Ada dialog di sana. Dialog yang dituntun oleh tanya demi tanya, karena manusia sepanjang hayat peradabannya adalah makhluk yang belum selesai dengan dirinya. Poin senjang yang banyak diusung berkisar pada kata kunci: MANUSIA, CINTA DAN TUHAN, VEGETARIAN, GLOBAL WARMING. Mengajak siapa saja belajar jujur pada dirinya, ketika hati dan fakta berada dalam satu garis lurus(jujur), maka kejujuran pada dirinya inilah yang akan memaksa manusia berubah. Mungkin inilah hidup yang bertanggung jawab, hidup yang fair. Berusaha memahami cara hidup saat itu juga manusia memahami cara mati





Dari penulis buku terlaris di dunia, Earth Above, hadir kembali dengan karya baru yang cemerlang. Home, film dengan judul buku yang sama, menghadirkan gambar-gambar yang menakjubkan. Sebuah ekplorasi wajah Bumi lengkap dengan foto-foto terkenal karya Arthus-Bertrand dilengkapi teks informatif oleh tim Good Planet, sebuah organisasi non-profit yang mempromosikan pemeliharaan lingkungan hidup. Home menghadirkan keindahan Bumi dan mengajak seluruh umat manusia untuk menjaganya dari kehancuran.
Film ini ditayangkan secara serentak mulai tanggal 5 Juni-14 Juni 2009 3 benua, lebih dari 50 negara, termasuk Indonesia, ditayangkan gratis lewat televisi, bioskop,
Injil Perdamaian Essene
Jelang Sang Buddha Parinirvana, Makan Babi atau Jamur?
Pro dan Kontra apakah Sang Buddha vegetarian dapat dibaca argumentasi dan dasar telaahnya yang diulas oleh Master Roshi Philip Kapleau (pendiri Budhisme Zen di Amerika) dalam buku
(





Berbalas Cuap