You are currently browsing the category archive for the 'Christian/Catholic-Veggie' category.
Oleh Chindy Tan
“Hidup bagi saya sungguh berarti. Demikian pula kehidupan di sekeliling saya. Jika saya mengharapkan hidup saya dihormati, maka saya juga harus menghormati hidup makhluk lainnya. Namun etika di dunia Barat hanya menghormati hubungan di antara sesama manusia. Karena itu saya katakana etika Barat adalah etika yang terbatas. Yang kita perlukan adalah etika tak terbatas yang juga mencakup hubungan kita dengan binatang” (Albert Schweitzer, 1875-1965)
Siang ini, saat akan pulang ke Yogyakarta ketika keluar dari halaman puskesmas, di sebelah barat halaman ada 2 orang pria sedang menembaki burung. Saya bertanya pada bu Narsih, “Mengapa burung-burung itu ditembaki Bu?” “Nggo senang-senang tur Nggo pakan ikan,”jawab bu Narsih. Ingin sekali saya mendekati dua orang itu, tapi bu Narsih udah keburu bablas, saya nebeng dia sampai Pakis. Rasa tak enak masih mengganjal hati saya. Sesampai di rumah, saya melihat majalah yang ditinggalkan oleh teman saya Chaiyen. Iseng saya buka bagian yang dibacanya semalam. Ya ampun, ada cuplikan kisah masa kecil Albert Schweitzer, paaas banget dengan ganjalan rasa di hati saya saat itu.
‘Thou shalt not kill’
Albert Schweitzer(1875-1965) adalah filsuf penganjur’Reverence for Life’, sebuah panggilan untuk menghormati, memuliakan semua makhluk tanpa terbatas. Beliau juga seorang dokter dan ahli teologi kelahiran Jerman.
Suatu hari di saat usianya masih delapan tahun, temannya Heinrich mengajak Albert keluar untuk menembak burung dengan katapel. Albert kecil meski merasa ide ini mengerikan tetapi tidak berani menolaknya karena takut ditertawakan.
Albert menuturkan,”Kami mendekati sebatang pohon yang sudah tidak berdaun. Burung-burung yg bertengger disana terus bernyanyi dengan manisnya di pagi hari itu. Mereka tampaknya tak takut terhadap kami. Berjongkok seperti pemburu Indian, temanku mengambil sebuah kerikil dan menarik karet katapel. Tatapannya penuh perintah membuatku mengikuti gerakannya.Tetapi pada saat itu hati nuraniku merasa tertusuk dan aku bersumpah untuk tak mengarahkan kerikilku kepada mereka. Pada momen yang kritis inilah lonceng gereja berdentang memenuhi hamparan cahaya matahari, bersama-sama dengan suara burung-burung yang sedang bernyanyi.’Albert terkejut ketika lonceng berdentang dari kejauhan. Baginya itu adalah’a voice from heaven’ suara surga. Albert pun segera meletakkan katapelnya dan berteriak mengusir burung-burung itu pergi agar tak menjadi sasaran katapel temannya. Setelah itu Albert sendiri berlari pulang.
Mengenang kejadian di masa kecilnya, Albert menulis,”Sejak itulah ketika lonceng Paskah berbunyi di dalam hamparan cahaya matahari dan pohon-pohon yang tak lagi berdaun, aku akan ingat,dengan hati yang sangat tersentuh dan berterima kasih, sebab sejak hari itulah berbunyi dalam hatiku perintah ‘Thou shalt not kill’, janganlah membunuh.’ Albert Schweitzer menyampaikan di Auditorium Universitas Oslo setahun setelah beliau memperoleh penghargaan Nobel perdamaian 1954. “Semua manusia..mampu berbelas kasih..spirit itu ada dalam diri manusia seperti terang yang siap menyala, menunggu hanya setitik percikan api”
Adanya jiwa belas kasih yang asali dalam setiap diri manusia, universal,tak terkecuali, tak terbatas.
Saya berharap dua pria yang saya temui siang tadi, suatu ketika, setitik api belas kasih itu memercik dalam ruang hatinya. Mendengarkan keberatan suara nuraninya, bahwa hidup sungguh punya harga, meski hanya seekor burung kecil, siapakah kita hingga layak merampas hidup mereka. Hidup yang mengalir dalam diri tiap makhluk membawa visi kemuliaan-Nya, hingga hanya Sang Pemberi hiduplah yang layak mengambil hidup itu kembali. Bahagia yang di damba tidak datang gratis tanpa memberi bahagia itu sendiri pada makhluk lain.
“Semua binatang adalah pahatan sakral yang hidup. Kelebat lari anjing, dan hati-hati langkah kucing, elang, kerbau dan segala yang menghembuskan nafas sungguh memiliki makna. Bagi mata yang melihat lebih dari panggung bentuk; kita bersama dicipta dalam cinta dan dicintai, demikianlah dia yang memikirkan hingga makhluk dunia dibawahnya adalah dia yang memenangkan dunia dengan cintanya” (Philip Bailey, 1816-1902)
My special thanks to Augustinus Madyana Putra, who has recorded and uploaded Father’s preaching to youtube-Chindy Tan
Kiriman dari Yakobus Obie
Teman-teman yang baik…
Berikut saya postingkan rekaman homili yang disampaikan oleh Romo Y Dwi Harsanto, Pr beberapa waktu lalu di Gereja Pugeran.
Homili ini kemudian dirangkai dengan data-data visual yang menunjukkan keadaan bumi kita tercinta, sehingga pemirsa dengan sangat mudah mencerap pesan yang sangat berharga ini.
Satu hal sekarang yang mengancam dunia kita bersama adalah pemanasan global. Zaman sekarang, kalau Yohanes Pembaptis harus berseru-seru, Ia pasti akan berseru mengenai kiamat kita bersama yang diakibatkan oleh keserakahan kita, yang membuat dunia makin panas. Kalau kita menantikan kedatangan Kristus, sebenarnya bukan kedatangan kiamat 2012 itu, tapi kedatangan Yesus yang ingin kita bertindak nyata untuk menghentikan pemanasan global itu. Untuk menghentikan dunia yang tidak damai ini. Untuk menghentikan diri kita yang sering tidak bisa menguasai nafsu kita. Salah satu yang membuat kita ngawur, manja, yaitu kita menikmati kenikmatan-kenikmatan duniawi. Itu yang membuat pemanasan global. Apa itu? Makan daging. Daging dan ideologi dagingisme itu sudah menguasai seluruh kehidupan. Dan itu membuat dunia makin panas.
Menurut para ilmuwan, pemanasan global, 60% lebih, diakibatkan oleh peternakan. Ternak. Dan lagi, kotorannya itu bikin panas. Gas metan. Ini luar biasa.. Ini pengetahuan yang membuka, menurut Santo Paulus, yang membuat kita punya pengertian, pengetahuan yang benar, sehingga kita bisa memilih mana yang paling baik. Saya sendiri terbuka ketika mengetahui kenyataan ini. Membuka mata, itu benar. Dan itu sungguh-sungguh membuat kita semua, yang sudah kena ideologi dagingisme itu, merasa bahwa makan itu harus enak. Dan itu membuat dunia makin panas. Gas metan yang dikeluarkan itu dari peternakan, paling banyak, lalu membuat rumah kaca, efek rumah kaca. Lalu es di kutub utara mencair. Sekarang baru 17 cm pertambahan air laut, tapi nanti kalau diteruskan sampai es di kutub utara hilang, itu bisa 7 meter lebih. Pertambahan 17 cm ini sudah membuat gempa bumi di mana-mana. Mengapa? Karena bumi di bawah sana itu kan geser-geser, yang terdiri dari lapisan-lapisan. Kalau ditambah volume airnya, volume massa airnya, pasti akan makin tertekan. Pasti akan ambles, ambles. Maka sering gempa bumi. Sangat masuk akal. Dan menurut perhitungan, memang, hitungan tahun-tahun ke depan ini, es di kutub utara makin habis, dan lalu mau jadi apa? Dan itu pasti akan menaikkan suhu bumi. Dan pasti laut juga akan bertambah. Itu korelasinya sangat nyata, sangat scientific. Sangat ilmiah. Dan justru itu karena perilaku kita.
Kalau Yohanes berseru-seru “Bertobatlah..” Dan ingin Yesus supaya… Yesus yang tinggal di dunia bersama dia, ingin supaya dunia ini lestari, maka tidak ada kata lain, selain kita menghentikan gaya hidup yang hedonis, yang penuh kenikmatan, salah satu yang terpenting adalah kebiasaan makan daging. Yang serba nikmat itu, beralih ke, menurut Kejadian 1, ayat 29, “Aku telah menciptakan tumbuhan berbiji, Aku telah menciptakan semua itu… buah-buahan yang berbiji, dan itulah yang akan menjadi makananmu.” Menjadi sehat, menjadi tidak panas, menjadi adem, bertobat, mulai dari cara makan kita. Bertobat, mulai dari menghayati Yesus yang mau tinggal bersama kita semua, yang mencintai segala makhluk. Ia nanti lahir di kandang hewan… Ia mencintai hewan-hewan itu Ia sungguh tidak ingin terjadi kekerasan di antara kita, mulai dari makanan kita.
Kalau saya, saya tidak makan daging. Saya vegetarian untuk alasan kesehatan saya sendiri, maupun untuk alasan global warming. Untuk bertobat supaya kita berpengetahuan yang benar…”
Khotbah ini disampaikan oleh Romo Yohanes Dwi Harsanto, Pr. (Rohaniwan Gereja Katholik Keuskupan Agung Semarang ) dalam sebuah misa di Gereja Pugeran, Yogyakarta.
Videonya dapat diunduh di : http://www.youtube.com/watch?v=tUJkrbig3SU
Video ini hanya berdurasi 5 menit.
Tips untuk menonton video di Youtube :
1. Klik tombol play dan biarkan berjalan hingga video selesai meskipun koneksi internet terputus-putus.
2. Setelah selesai, geser tombol berbentuk bulat kembali ke posisi awal, lalu tekan tombol play. Video dapat ditonton lancar tanpa terputus-putus.
sumber:Be Veg, Go Green, Save The Planet~
http://www.SupremeMasterTV.com/ina
http://www.infopemanasanglobal.wordpress.com
Yohanes Dwi Harsanto
Sekretaris Eksekutif Komisi Kepemudaan
Konferensi Waligereja Indonesia (KWI)
(Executive Secretary of Youth Commission
Bishop’s Conference of Indonesia)
June 7 at 11:13pm

sumber gambar
Sharing. Tadi siang saya ada di sebuah acara di kawasan Pegangsaan Jakarta. Ketika saat santap siang tiba, banyak hidangan menu daging. Saya dengan jelas namun wajar, memilih makan nasi, sayur-sayuran dan buah belaka. Seorang ibu mendekati saya, “Apakah Romo Vegetarian?” Dengan mantap saya jawab “Benar, Bu, saya vegetarian”. Ibu itu dengan positif menanggapi bahwa vegetarian bagus untuk membina kehidupan. Dan para lelaki dewasa gendut-gendut nyeletuk: “Ah, apa enaknya”… Setelah santap siang selesai, tampak para lelaki gendut-gendut itu merasa kepanasan, buka kancing baju, tidak tenang. Mereka kekenyangan. Saya katakan: “Itulah beda vegetarian dan pemakan daging dan segala lemak. Anda semua kegerahan, sementara saya tetep enjoy haha..” Mereka tertawa tanpa bisa menyangkal kenyataan itu. Salam
YDHpr
Romo Santo adalah salah seorang pembina Jejaring Muda Katolik, aktif memberi pendidikan politik pada Kaum Muda Katolik Indonesia
sharing ini, atas seijin Romo juga akan dipublikasikan di Majalah Info Vege edisi 4
Oleh Chindy Tan
Satu-satunya doa yang diajarkan langsung oleh Yesus Kristus adalah doa Bapa Kami dan satu petikan yang memuat harapan Yesus adalah,” jadilah kehendakMu di Bumi seperti di Surga….”
Kehendak dari langit turun membumi, menjadikan apa yang berlaku di surga juga berlaku di muka bumi. Saya jadi ingat lagu pengamen yang kerap dilantunkan di bus jurusan Jogja-Solo…neng akheerat ora ono londo lewat, neng akheerat ora ono soto babat….lalu kira-kira apa yang ada/ berlaku di akherat atau surga? Jika penjagalan binatang wajar ada di bumi apakah berarti juga wajar ada di surga? Atau sebaliknya, mungkinkah lirik lagu…neng akherat ora ono soto babat… lebih mewakili imajinasi kita bagaimana selayaknya wajah surga?
Injil Perdamaian Essene (The Essene Gospel of Peace) yang diterbitkan oleh Lembaga Internasional Biogenik. Teks-teks ini diterjemahkan oleh Edmond Bordeaux Szekely dari naskah kuno berbahasa Yahudi dan Aramaik di dalam Arsip Rahasia Vatikan dan dari tulisan bahasa Slavia kuno di dalam Perpustakaan Kerajaan Hapsburgs (sekarang milik pemerintah Austria). Versi ringkasan buku-buku ini dapat diakses di: http://www.thenazareneway.com/index_essene_gospels_of_peace.htm
Salah satu terjemahan Injil perdamaian… Yesus sendiri berkata,” Dan daging hewan yang dibunuh dalam tubuh manusia akan menjadi kuburan manusia itu sendiri. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, manusia yang membunuh adalah membunuh dirinya sendiri, dan mereka yang memakan daging hewan yang dibunuh, memakan kematian.” (For I tell you truly, he who kills, kills himself, and whoso eats the flesh of slain beasts, eats of the body of death. )
Menarik untuk ditelusuri perjalanan sejarah kekristenan, Sebuah tulisan dari Steven Rose dalam bukunya Food for the Spirit menuliskan bagaimana dan mengapa kekristenan meninggalkan akar vegetarian
“The early Christian fathers adhered to a meatless regime…many early Christian groups supported the meatless way of life. In fact, the writings of the early Church indicate that meat eating was not officially allowed until the 4th century, when the Emperor Constantine decided that his version of Christianity would be the version for everyone. A meat eating interpretation of the Bible became the official creed of the Roman Empire, and vegetarian Christians had to practice in secret or risk being put to death for heresy. It is said that Constantine used to pour molten lead down the their throats if they were captured.”
Kisah mukjizat roti dan ikan. Ada beberapa hal yang perlu dicermati untuk kisah ini. Pertama, Yesus berbicara dalam bahsa Aramaic, sedangkan Alkitab ditulis beberapa generasi sejak peristiwa kebangkitan dalam bahasa Yahudi, dan versi Alkitab paling awal yang dimiliki adalah terjemahan dalam bahasa Yunani dari abad ke-4, lebih dari 300 tahun, dua terjemahan dan banyak lagi transkrip setelah kebangkitan.
Kembali pada kisah roti dan ikan, bila ditelusuri dapat dicerrmati mulai dari ketika murid-muridnya bertanya kepada Yesus tentang di mana mereka bisa memperoleh cukup banyak roti untuk memberi makan kepada orang banyak, tetapi sama sekali tidak berpikir membeli ikan atau produk binatang lainnya dan tidak pernah menganjurkan penangkapan ikan, padahal mereka berada di tepi laut. Juga, bukti menunjukkan bahwa kisah tentang roti dan ikan pada mulanya tidak mencakupkan ikan. Sebagai contoh, pada cerita awalnya (sebelum masa Alkitab), kemukjizatan ini tidak termasuk ikan, dan Yesus, ketika dia memberi petunjuk, dia hanya menunjuk kepada roti (lihat Matius 16:9-10, Markus 8:19-20, Yohanes 6:26)
Ikan ditambahkan pada kisah ini oleh penulis Yunani, barangkali karena istilah ikan dari bahasa Yunani adalah ixous, yaitu akronim dari frase Jesus Christ Son of God Savior. Ikan merupakan simbol Kristen pada masa sekarang. Dalam hal interpretasi yang sangat mungkin terjadi, peristiwa perbanyakan mewakili ramalan akan berkembangnya gereja dan tidak ada hubungannya dengan memakan binatang. Pakar lain berpendapat bahwa istilah Yunani untuk fishweed (semacam rumput laut kering) telah salah diterjemahkan dalam kisah ini sebagai ‘ikan’ (Rosen, Scholarly Works).
Apakah Yesus vegetarian atau tidak, biarlah menjadi tanda tanya dalam hati kita semua, baru saja umat Kristiani merayakan perayaan 40 hari setelah hari raya Paskah dan dalam Perjamuan Paskah, Yesus makan dua kali. Pertama, seperti yang tertulis dalam Yohanes bab 6 Paskah sudah dekat dan murid-murid bertanya kepada Yesus,”Dimanakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?” Roti merupakan makanan Paskah bagi Yahudi vegetarian pada masa Yesus. Kedua menurut Injil Matius, Markus, dan Lukas,”Perjamuan Terakhir” merupakan makanan Paskah. Sekali lagi, Yesus dan murid-muridnya merayakannya dengan roti.
Dalam buku Is God A Vegetarian (Open Court, 1998), Dr. Richard Alan Young. guru besar Seminari Temple Baptist di Tennesse, dan Pdt. Andrew Linzey, penulis banyak buku tentang hakl-hak binatang dan Kristen, berargumen bahwa umat Kristen seharusnya hidup menurut kehendak Tuhan, yang menghendaki tidak adanya kekejaman di muka Bumi, yang mencakup cinta kasih kepada binatang. Seluruh kepribadian Yesus adalah cinta kasih dan belas kasihan,”Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu murah hati”. Pdt Linzey menambahkan: “Dunia sekarang adalah tempat yang kejam. Sebagai umat Kristen, setiap dari kta bisa memilih menambahkan lagi kekerasan, penderitaan dan kesakitan, atau menarik diri kita dengan tidak mendukung kekejaman dan penderitaan seperti ini. Kita tahu bahwa semua binatang bisa merasakan kasih sayang, kesepian, ketakutan dan berbagai perasaan emosi lainnya. Tetapi yang lebih penting kita tahu bahwa mereka bisa merasa sakit dan memiliki kemampuan untuk menderita.”
“Binatang adalah makhluk Tuhan, bukan properti manusia, bukan untuk digunakan manusia, bukan sumber daya, bukan komoditi, tetapi adalah makhluk yang berharga di depan Tuhan… Umat Kristen yang matanya terpaku pada penyaliban yang dahsyat berada dalam posisi yang khusus untuk memahami kengerian penderitaan makhluk tak berdosa. Salib Kristus adalah identifikasi absolut Tuhan dengan mereka yang lemah, tak berdaya dan yang rentan, tetapi di atas ini semua adalah dengan penderitaan tak berdosa mereka yang tak terlindungi, tak bisa mempertahankan dirinya.”
Pendeta Andrew Linzey
ps. Semoga data-data ini dapat memperkaya sudut pandang siapa pun mengenai iman kristen kaitannya dengan vegetarian. Sebagai tambahan informasi Gereja Alfa Omega di Semarang telah mencanangkan gerakan seminar vegetarian sebulan sekali untuk forum intern. Gerakan vegetarian makin mengglobal, telah menjadi kebutuhan global (baca berita terbaru kota Belgia memberlakukan aturan seluruh warganya untuk bervegetarian satu hari dalam seminggu ). Bumi butuh manusia merevolusi pilihan makanannya adalah fakta, adalah kebenaran. Agama juga diyakini sebagai kebenaran, satu kebenaran tentu sejalan dengan kebenaran lainnya, tidak berseberangan
Sumber: selain dari situs-situs yang telah dikoneksikan jalur aksesnya, beberapa tulisan juga disalin dari buku terjemahan Yesus Vegetarian? (www.jesusveg.com) terbitan Kebun Sayur
Oleh Chindy Tan
Sebuah kampanye untuk membuat Paskah menjadi perayaan sejati menuju hidup baru. Setiap tahun ada 900 ribu anak domba, kambing dan biri-biri yang disembelih untuk perayaan Paskah. Tahun lalu 80.000 selebaran disebarkan di seluruh Itali. Kegiatan ini dipelopori oleh organisasi pecinta hewan-Agireora. Keunikan kampanye ini dapat dilakukan oleh siapa saja dari tingkat individu hingga organisasi maupun kelompok. Agireora dalam situs mereka www.agireora.org, memberikan ragam pilihan untuk berpartisipasi. Mulai dari selebaran, poster hingga iklan untuk baliho, desainnya tinggal di unduh gratis di http://www.agireora.org/info/news_dett.php?id=446.

Jika Anda bergerak seorang diri, berikut terobosan-terobosan yang dapat dilakukan:
Sebarkan Poster dan Selebaran
Unduh (download) selebaran dan poster berikut, lalu tempelkan di tempat-tempat umum yang dijinkan.
Suarakan Lewat Radio-Radio Lokal, “Happy Easter!”
Bingung bagaimana caranya? Telah tersedia seruan iklan suara untuk diteruskan ke radio-radio lokal dengan tema “Happy Easter!” dapat diperoleh dari http://www.agireora.org/download/spot/buona_pasqua.mp3
Teruskan video-video lewat imel, yahoogroup atau blog Anda
Tentu cuplikan pendek yang berisi informasi urgensi membebaskan piring makan kita dari daging, seperti:
- cuplikan video pendek Meat The Truth
- cuplikan video Earthlings
- cuplikan liputan ABC News-The Power of Two
- cuplikan liputan CNN News tentang Oprah Goes Vegan
Caranya mudah masuk saja ke situs youtube.com lalu ketik kata kunci misalnya Oprah spasi vegan
Mari turut serta, kegiatan serupa dapat dilakukan oleh siapa saja, untuk perayaan apa saja: 22 April-Hari Bumi, 1 Oktober-Hari Vegetarian Sedunia, 25 November-Hari Tanpa Daging Sedunia. Sajikan dan sebarkan fakta dengan cara yang kita mampu, dengan demikian barulah berlaku “The truth will speak for itself” mengutip kata-kata Dr. Rajendra K Pachauri
“ I’m not there to change the world
I can only its level of knowledge”


Salam kenal bagi siapa saja yang mau mampir di beranda bersahaja ini. Bertukar isi hati dan isi otak adalah salah satu proses manusia memanusiakan dirinya. Ada dialog di sana. Dialog yang dituntun oleh tanya demi tanya, karena manusia sepanjang hayat peradabannya adalah makhluk yang belum selesai dengan dirinya. Poin senjang yang banyak diusung berkisar pada kata kunci: MANUSIA, CINTA DAN TUHAN, VEGETARIAN, GLOBAL WARMING. Mengajak siapa saja belajar jujur pada dirinya, ketika hati dan fakta berada dalam satu garis lurus(jujur), maka kejujuran pada dirinya inilah yang akan memaksa manusia berubah. Mungkin inilah hidup yang bertanggung jawab, hidup yang fair. Berusaha memahami cara hidup saat itu juga manusia memahami cara mati





Dari penulis buku terlaris di dunia, Earth Above, hadir kembali dengan karya baru yang cemerlang. Home, film dengan judul buku yang sama, menghadirkan gambar-gambar yang menakjubkan. Sebuah ekplorasi wajah Bumi lengkap dengan foto-foto terkenal karya Arthus-Bertrand dilengkapi teks informatif oleh tim Good Planet, sebuah organisasi non-profit yang mempromosikan pemeliharaan lingkungan hidup. Home menghadirkan keindahan Bumi dan mengajak seluruh umat manusia untuk menjaganya dari kehancuran.
Film ini ditayangkan secara serentak mulai tanggal 5 Juni-14 Juni 2009 3 benua, lebih dari 50 negara, termasuk Indonesia, ditayangkan gratis lewat televisi, bioskop,
Injil Perdamaian Essene
Jelang Sang Buddha Parinirvana, Makan Babi atau Jamur?
Pro dan Kontra apakah Sang Buddha vegetarian dapat dibaca argumentasi dan dasar telaahnya yang diulas oleh Master Roshi Philip Kapleau (pendiri Budhisme Zen di Amerika) dalam buku
(





Berbalas Cuap