You are currently browsing the category archive for the 'Berbalas Cuap' category.
Victor Alexander Liem: Mula2 manusia memangsa binatang yang dianggap rendah. Lalu, manusia mulai memangsa manusia lain, tentu dengan anggapan ada “manusia rendah”.
Saya teringat ungkapan yang sering dikutip alm. Romo Mangun, “hommo homini lupus”
Manusia adalah pemangsa manusia lainnya, seperti serigala ![]()
(Respon dari artikel: Keenan dan Ocha, tak ada kata SULIT bagi mereka)
Hai Victor, terima kasih sudah mampir. Ego seperti apakah yang membuat manusia menggurat sejarah kekerasan perbudakan-rasisme, Holocaust-rasisme, heteroseksisme yang menyuburkan perdagangan manusia untuk kepentingan prostitusi, lalu yang sedang marak disoroti saat ini adalah kekerasan yang dilatari oleh spesiesme. Mungkin sudah saatnya bagi manusia menjernihkan spesiesme. Spesies manusia merasa lebih unggul dari spesies hewan hingga hewan ‘boleh’ diperlakukan sebagai ‘milik-properti’ . Hewan diperlakukan tak beda dengan benda. perasaan takut, marah, sakit saat disiksa hingga meregang nyawa ‘tak terlihat’ oleh ego manusia. Manusia sedang dan terus memelihara spesiesme ini, pertanyaannya, akan sampai kapan? Manusia butuh kejernihan hati dan akal, menimbang kembali apakah spesiesme layak dipelihara. Jika saja ada spesies yang lebih unggul dari manusia, penguasaan teknologi lebih tinggi dari manusia, manusia bisa saja dieksploitasi, dijadikan objek penelitian, bahkan dijadikan makanan. Saya jadi ingat film The Island, sebuah film futuristik yang mengisahkan tentang komodifikasi manusia kloning untuk kepentingan asuransi kesehatan.
Jaminan kesehatan diberikan dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan adanya manusia kloning. Semua potensi penyakit dapat diatasi. Jika secara genetik Anda memilki potensi penyakit ginjal, diabetes atau jantung, Anda tidak perlu khawatir asal punya DUIT membayar asuransi, organ manusia kloning siap mengganti semua ‘onderdil’ yang bermasalah dalam tubuh Anda. Manusia kloning dengan rekayasa genetik sedemikian rupa diprogram agar tumbuh menjadi manusia yang super sehat untuk menjaga kualitas organnya. Namun rasa dan emosi mereka telah disetel, diprogram sedemikian rupa agar tidak ‘hidup’. Manusia kloning hidup tanpa rasa dan emosi meski dalam akhir cerita ada manusia kloning yang menyimpang , ada manusia kloning yang tetap punya emosi, hingga memberontak. Mereka tak ubahnya ‘benda’. Di sini manusia satu tidak melihat kelayakan yang sama dengan manusia lainnya, hingga Homo Homini Lupus, dominasi sesama spesies subur dan ’sah-sah’ saja. Spesies manusia yang berduit ‘boleh-boleh’ saja memperlakukan manusia kloning sesuai kebutuhan mereka, karena mereka dianggap spesies manusia-benda.
Dalam dunia nyata wajah homo homini lupus sebenarnya tak asing dalam kasus perdagangan manusia entah untuk kepentingan sebagai buruh pabrik, pekerja di dunia prostitusi dengan berbagai modus. Di China modus terbanyak adalah penculikan, mulai dari anak kecil (biasanya untuk dijadikan pekerja seks untuk pedofilia) dan di Indonesia modusnya memanfaatkan keterjepitan keadaan ekonomi. Sebuah kasus di tempat saya dinas dulu terungkap, modus yang digunakan adalah meminta langsung ke orang tua korban dengan memberi segepok uang ke orang tua korban hingga rela melepas anaknya untuk dipekerjakan di Jepang sebagai duta budaya. Kenyataannya, setelah korban sampai di tujuan, korban disodorkan nota utang berisi rincian biaya perjalanan dan biaya pengurusan imigrasi dll. Kondisi terjepit seperti ini, korban tidak memiliki pilihan, hingga terpaksa bekerja di ‘panti’ jauh berbeda dari yang dijanjikan sebelumnya. Sampai pada titik ini, manusia juga telah melihat manusia lain tak ubahnya benda tak berhak punya rasa, yang bisa dieksploitasi. Mungkinkah bakat homo homini lupus ini lahir dan tumbuh bermuasal, berakar dari sikap spesiesme kita terhadap hewan. Sadar tak sadar kita membiasakan diri ‘membenarkan’ mengabaikan rasa mereka. Kita terbiasa memperlakukan mereka seolah tak berhak punya rasa takut, rasa sakit dan rasa cinta akan hidup mereka sendiri. Sebuah ungkapan dari George Angell (1823-1909) sejalan dengan permenungan di atas. Saya kadang ditanya,”Mengapa engkau menghabiskan begitu banyak waktu dan uang berbicara tentang kebaikan kepada binatang padahal begitu banyak kekejaman atas manusia?” Saya menjawab,”Saya bekerja dari akarnya.”
“I hold flesh-food to be unsuited to our species. We err in copying the lower animal world if we are superior to it.” Mohandas K.Gandhikeke
Lista bertanya:
“c chin, mau tny pndpat cchin soal bahan2 tepung/jamur/dsb yg diolah menyerupai daging, seolah jadi makanan spt kari ‘kambing’, ‘daging ayam’ dsb, bagaimana thu? apa bisa membuat nafsu makan-daging di dlm pikiran tetep ada ya?
tks yaaaa
“
Hai Lista,
Tidak membunuh adalah sila pertama Pancasila Buddhis, dan sila adalah fondasi perilaku umat Buddhis. Sila pertama seperti yang dijabarkan Master Roshi Philip Kapleau, bahwa sila-sila lainnya merupakan ‘turunan’ dari sila tidak membunuh, hingga dapat dikatakan sila tidak membunuh adalah akar dari sila lainnya. Apa saja cakupan tidak membunuh itu sendiri? Tidak saja berbentuk kesengajaan melakukan pembunuhan SECARA LANGSUNG, seperti menyembelih, memanah, membakar, menyetrum, menembak, tetapi juga MENYEBABKAN ORANG LAIN melakukan pembunuhan baik kepada manusia maupun binatang, memilih ambil bagian sebagai konsumen yang notabene menekan tombol permintaan akan daging itu sendiri termasuk dalam konteks ini.
Nah, kembali pada pertanyaan Lista, daging palsu tidakkah membuat nafsu-daging dalam pikiran tetap ada? Jawabnya bisa ya, bisa tidak. Kalau iya, hukumnya tetap beda dengan makan daging sungguhan. Karma pikiran dan karma perbuatan sangat berbeda kan? Katakan dalam pikiran ada niat membunuh (Mano kamma), dibandingkan dengan niat tsb direalisasikan-perbuatan (Kaya kamma) karmanya beda kan? Daging palsu bisa menjembatani ‘angan’ atau rasa ‘kangen’ umumnya pada para pemula vegetarian thd pada daging. Meski mungkin dalam pikiran masih ada keinginan untuk makan ayam, tapi jika yang digigit adalah sepotong gluten, satu ekor ayam tak perlu dipotong untuk ‘keinginan’ ini kan? Berkat gluten. Satu ekor ayam masih bisa mengepakkan sayapnya.kalikan saja berapa kali niat makan daging yang bisa di’suap’ oleh gluten, jamur yang disulap serupa daging. Ini ekivalen dengan jumlah hewan yang ‘tak jadi’ disembelih.
Tidak. Tidak ada nafsu makan daging dalam pikiran bila pola pandang terhadap daging palsu itu sendiri sama sekali tidak melihatnya sebagai daging. Saya jadi teringat video seminar Dee di Medan, ‘pernah suatu ketika saat pulang ke rumah, dia heran aroma daging kok menyengat sekali, siapa gerangan yang masak daging? Oaaalaa, ternyata Mba’e lagi masak menu rendang yang memang aroma bumbunya kuat sekali. Sejak itu Dee berkesimpulan, yang kita makan itu sebenarnya bumbu…yang kita persepsikan ‘enak’ itu adalah bumbu. Jadi jamur yang dibumbu balado, sebenarnya bukan rasa sapi tapi rasa rempah dan sambal baladonya. Daging sapi sendiri tidak bercitarasa kan?Ketika saya pulang ke sulawesi dan masak sate dari proteina dengan bumbu khas sulawesi, ponakan saya Sui Ing (4th)bolak-balik nggak berhenti makan sate tsb. Olahan Cece saya lebih topcer lagi, sepupu saya-Koko Heng sampe makan 15 tusuk sekali duduk! Udah itu besoknya masih nelpon masih ada sisa nggak? Whueleeeh-weeeleh bablaaas abisabiiis satene;)
Saya sendiri, tiap melihat olahan apa pun, yang tergelitik di benak saya, apaaa aja ya bumbunya;)
Richard bertanya: yang diriku maksud itu terkait pengaruh makanan pada pertumbuhan spiritual, fisik, mental, dan sosial dari individu atau komunitas
Pengaruh pola vegetarian terhadap berbagai aspek sebenarnya sudah tercermin dari asal kata vegetarian itu sendiri yakni vegetus yang artinya lincah, segar, penuh daya semangat hidup (lively, fresh, vigorous). Meminjam frase Vegetus Libertas yang dipopulerkan Dewi ‘Dee’ Lestari, lebih utuh memberikan gambaran apa vegetarian itu sebenarnya. Hidup yang menguatkan budi. Vegetarian adalah makanan yang menguatkan budi. Makanan yang memerdekakan. Pilihan makan yang mengantar manusia untuk terus berevolusi menuju ke jati dirinya.
Mari kita simak satu persatu pengaruh makanan terhadap:
FISIK
Dalam tes daya tahan tubuh yang dilakukan Universitas Yale oleh Dr. Irving Fisher, terhadap para atlet di Yale,para instruktur, para dokter dan perawat ditemukan bahwa kelompok VEGETARIAN memiliki stamina DUA KALI LEBIH KUAT dibanding kelompok PEMAKAN DAGING. Tes yang sama dilakukan oleh J.H. Kellog di BAttle Creek sanitarium di Michigan dan hasilnya mengukuhkan Dr. Fisher
MENTAL DAN SOSIAL
–Kelompok vegetarian lebih stabil emosinya daripada kelompoknon vegetarian (Armina, Wismanto, Y.B & Yudiati, E.A. 2000-Kestabilan emosi antara vegetarian dan non vegetarian. Psikodimensia. 1:66-70
–Mahasiswa yang berkomitmen sebagai vegetarian memiliki kendali emosi yang lebih tinggi daripada yang tidak berkomitmen sebagai vegetarian (Cahyana, V.A. 2003. Perbedaan Kendali Emosi Pada Mahasiswa Vegetarian dan Non Vegetarian. Skripsi. Tidak diterbitkan. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM)
–Penelitian Stein dan Nemeroft (Rozin, Markwith & Stoess, 1997) menunjukkan bahwa murid-murid dengan pola makan vegetarian digambarkan lebih baik hati dan menyenangkan daripada yang mempunyai pola makan yang tidak sehat dan berkadar lemak tinggi.
–Pola makan vegetarian meningkatkan jumlah Sex Hormone Binding Globulin (SHBG) dalam darah. SHBG adalah molekul protein yang berperan sebagai ‘pesawat pengangkut’ yang menahan hormon-hormon seks sampai mereka dibutuhkan. SHBG ini menjaga hormon seks tetap terkontrol (Izotop, 2001) Hasilnya adalah intensitas agresi yang rendah, lebih baik hati dan juga menajdi lebih sabar (dapat mengontrol dirinya lebih baik)
–Individu yang menjalani pola makan vegetarian secara tidak langsung telah dapat mengendalikan haw nafsu atau emosinya untuk tidak mencicipi makanan yang beraroma merangsang. Seseorang yang dapat mengekang diri dalam soal makanan, maka dengan sendirinya individu tersebut memiliki kapasitas untuk dapat mengekang hal-hal lain temasuk mengekang emosi dan kemarahannya (Armina, Psikodimensia-2000)
Masalah apakah apa yang dimakan dapat mempengaruhi perilaku atau tidak, menurut Rozin, P, Markwith, M&Stoess, C 1997. dalam Moralization and Becoming a Vegetarian: The Transformation of Preferences Into Values and the Recruitment of Disgust. Pshycological sciences. 8, menjelaskan bahwa dalam masyarakat moderen maupun tradisional pandangan “you are what you eat” telah menjadi manifestasi berlakunya Sympathetic magical law of contangion,”yaitu manusia ingin membedakan dirinya dengan binatang, namun dengan tetap mengonsumsi, manusia akan memiliki sifat-sifat binatang tersebut. Penelitian Stein dan Nemeroft tahun 1995 (Rozin, 1997) dengan menggunakan teknik impresi Asch pada murid-murid sekolah di Amerika, menunjukkan bahwa murid-murid yang mempunyai pola makan vegetarian digambarkan lebih baik hati dan menyenangkan dibandingkan yang menganut pola makan yang tidak sehat dan berkadar lemak tinggi. (skripsi: Kontrol Diri Antara Pola Makan Vegetarian dan Non Vegetarian pada Mahasiswa di DIY, Uyun Racmawati, 2008, Universitas Ahmad Dahlan)
—Kaitan makanan dengan perilaku juga dibuktikan korelasinya di Central Alternative High School yaitu sekolah tinggi anak-anak yang memiliki perilaku bermasalah. “Kami menyajikan sayur-sayuran dan buah-buahan tanpa bahan pengawet. Semua makanan kami buat tanpa proses pemanggangan dan penggorengan. Di sini kami juga TIDAK MENGENAL DAGING. “Greg Bretthauer-Dekan Applleton Wiscosin-Central High School. “Kami meniadakan mesin soft drink dan junk food. Kami melihat, hal ini MEMBUAT PERUBAHAN YANG BESAR PADA SISWA.” Debra Larson-School Social Worker (Film Dokumenter Supersize Me, 2004)

Bang untuk pengaruh makanan terhadap aspek spiritual sedang menunggu ijin dari Dee ya, akan saya poskan segera setelah ijin turun;)
Demikian Richard, semoga informasi ini dapat memberi masukan ya..
terima kasih
Respon untuk artikel-Surat Untuk Romo Santo: Bekal Bertahan Hidup, Apa yang Tersisa?
ezra: mungkin ide tentang mengajak orang2 ke rumah penyembelihan hewan akan bagus untuk memberi sedikit pencerahan. sebagian besar kita tdk menyadari dari mana makanan yg terhidang di atas piring kita berasal. jadi, saya pikir bila kita mengetahui proses makanan itu berjalan sampai menjadi sesuatu yg siap kita konsumsi akan membuat kita lebih menghargai pengorbanan yg harus diberikan hanya supaya kita dapat terus makan dan terus hidup.
saya pernah membaca tentang orang2 yg hidup ribuan tahun yg lalu yg menggunakan seluruh bagian dari hasil buruan mereka. selain daging utk dimakan, tulangnya utk pisau, lemaknya utk minyak lampu, kulit utk pakaian, dll. mereka amat menghargai alam krn mereka merasa bahwa mereka tdk dpt hidup tanpa alam. namun mereka pun hanya mengambil sebanyak yg mreka perlukan. tdk pernah berlebihan.
saya lebih cenderung setuju kpd argumen kuasa manusia utk penjagaan. bukankah krn mausia makhluk paling sempurna maka ialah yg seharusnya memelihara makhluk2 yg lain dan juga alam?
saya juga teringat tentang doa para biksu budha sebelum mereka makan, yg kurang lebih berbunyi “kami makan bukan untuk kenikmatan, kami makan untuk memelihara hidup”.
chindy:Hai Ezra,
suwun nggeeh udah mau nimbrung ngobrol di ruang ini…
saya paling suka bila musim mangga tiba, melihat buah menggantung, ada yang satu-satu, ada yang bergerombol. Indah sekali;) Rasa takjub juga kerap mengalir bila melihat setandan pisang menggantung di pohonnya menuju masak. Terakhir, saya takjub melihat gambar domba pemberian seorang teman, rambutnya kriwil-kriwil. Cantik. Mungkin refleks respon terhadap keunikan, keindahan Saudara sepenciptaan merupakan naluri yang lahir dari kodrat asali kita yang konon adalah makhluk pemelihara;)
Pilihan untuk memakan binatang atau tidak, bagi manusia mungkin memang masih dalam proses pembelajaran bagaimana manusia akan menempatkan binatang dalam perjalanan evolusinya. Krisis iklim, krisis pangan, krisis ekonomi, krisis keanekaragaman hayati banyak membuka mata kita dan mempertanyakan kembali bagaimana seharusnya kita memperlakukan bumi dan segala isinya

Saya setuju dengan Ezra, bahwa mungkin dengan mengetahui bagaimana proses bagaimana makanan tersebut sebelum sampai ke meja makan kita akan menumbuhkan apresiasi atas apa yang kita makan. Apresiasi yang lahir dari pemahaman hulu ke hilir bagaimana makanan bisa sampai ke piring makan kita, mungkin juga akan melahirkan rasa tanggung jawab akan konsekuensi dari apa yang dipilih untuk di makan.
Jika kita bertanya apakah tubuh kita bisa hidup tanpa mengonsumsi mereka, jawabnya bisa.
Apakah cukup gizi? jawabnya cukup.
Saya sendiri telah bervegetarian selama 14 tahun, dengan hasil pemeriksaan lab terakhir (13-10-2008),asam urat 3,4mg/dL(normal) nilai rujukan <6mg/dL Hb: 12,1g/dL (normal) jadi bila ada isu yang mengatakan tanpa konsumsi daging tubuh beresiko tinggi anemia. Fakta membalikkan isu tersebut, tidak benar.
Manusia terbukti bisa survive tanpa daging, bahkan dengan kualitas hidup yang lebih baik karena angka harapan hidup lebih tinggi bila dibandingkan dengan pemakan daging. “Manusia bisa hidup tanpa daging tapi tidak akan mungkin bisa hidup tanpa tumbuhan” ajian diplomatis Prof Prasasto yang sangat menggigit hati saya, mungkin ajian ini bisa jadi satu dalil penegasan bahwa sejatinya tumbuhan adalah makanan manusia. Secara empiris dapat dihitung dan dapat dibuktikan kelangsungan hidup Bumi berlipat lebih lama jika saja manusia mau memilih makanan yang efisien, yang mata rantainya pendek. Berbicara dari sudut etika, seperti yang diulas Ezra. Melihat sendiri bagaimana proses penyembelihan, pada kenyataannya umumnya lebih mendapat tempat di hati anak kecil mungkin karena kepolosan mereka, tanpa dalih ini itu seorang anak kecil dapat melihat kekerasan adalah kekerasan. Sedangkan pada orang dewasa banyak berbenturan dengan tradisi dan budaya bahkan nilai agama(menurut persepsi masing-masing)yang mewarnai nilai-nilai hidup yang dianut. Hingga aspek etika sering dimentahkan lagi dengan dalih tradisi, budaya bahkan agama. Contoh sederhana adalah pencitraan yang dibentuk oleh lagu potong bebek angsa. Repetisi pesan yang termuat dalam lagu tersebut ‘menanamkan dan meyakinkan’ diri kita bahwa mereka memang dicipta untuk dipotong. Perjalanan peradaban manusia memahami bagaimana menempatkan posisi binatang memang masih berhadapan dengan lapis-lapis persepsi yang menyertai perjalanan manusia.
Berpegang pada bukti ilmiah akan beban ekologis dari sepotong daging sejauh ini merupakan dasar argumen yang tak terbantahkan untuk mencairkan tembok-tembok bias akan persepsi manusia terhadap posisi binatang.
Terima kasih Ezra;)
Respon untuk artikel-Kompas:Tujuh Alasan Menjadi Vegetarian
surya:saya mau curhat nih…
sampai sekarang untungnya masih vegetarian…
kemarin2 saya sering makan nasi capcay GM…
sebelum pesan, saya uda bilang gak pake ayam dan daging lainnya…tapi mereka bilang ga bisa…ya uda mau gimana lagi…tapi tetap, dagingnya saya singkirin….
nah, salah satu tujuan vege saya khan mereduksi daging…kalo gitu, tujuan saya sia2 dong ya….??
chindy:Surya, saya juga kadang mengalami hal yang sama, namun dalam konteks makanan kecampur telur. Telurnya saya sisihkan. Kadang terbersit pikiran, udah terlanjur tersaji kenapa tidak dimakan saja, daripada dibuang dan toh tetap ‘terhitung’ andilnya. Mungkin situasinya ini agak mirip dengan sikap menolak cipratan uang pungli. Uang ‘tambahan kesejahteraan’ yang dikumpul dari hasil keterampilan menyerempet dana setoran dari berbagai pos, konon ‘aturan mainnya’ telah disepakati bersama. (tempat dinas saya dulu telah turun-temurun melestarikan sistem seperti ini). Uang telah terlanjur dipungli, apa ngga rugi kalo uang tsb ditolak, karena toh uang TELAH kadung ditilep, ditolak juga uang tersebut hanya akan jatuh ke tangan orang lain dan tidak mengurangi punglinya itu sendiri. Sia-siakah penolakan ini?
Menolak pada saat itu adalah peluang menyentil kebiasaan/ budaya pungli tersebut meski belum bisa mencabut akarnya. Namun upaya untuk mengkonfrontir harus ada awal, untuk itu harus ada yang berani memulai. Ada pesan lain yang sampai di ruang hati yang sudah berkarat dengan budaya pungli tersebut. Saya yakin, ini akan menjadi embrio perubahan itu sendiri. Harus ada yang mau memulai menyemai benih perubahan itu. Pikirkan jika kebiasaan tetap menolak daging meski kadung kecampur seperti ini tetap Surya lakukan, ketika makan bersama orang lain, mereka akan bertanya, saat itu Surya punya kesempatan meneruskan alasan mengapa Surya memilih menolak daging. saat itu upaya menyisihkan daging tsb tidaklah sia-sia. Api efek getok tular ‘upaya mendefenisikan cukup’ di piring makan Anda tetap Anda jaga. Dan yang lebih penting mungkin, Surya belajar konsisten satu kata antara hati dan lakon, kesadaran kita sudah mengajarkan apa yang cukup di atas piring makan kita dan kita belajar setia terhadap kesadaran dan komitmen itu.
suwuun Surya;)
baca juga Dialog yang (mungkin) Berdaya Gigit di Hati-1
ps. beberapa komentar saya ada penambahan dari komentar sebelumnya.
Respon untuk artikel-Michelle Obama: Anak-anak dapat Mendidik Keluarga
ezra:semoga ibu negara dapat menginspirasi semua.
btw, iya bener, anak2 memang penyampai pesan yg baik. saya ingat teman saya prna bercerita kalau dia punya adik kelas 1 sd. dia berhasil membuat kedua orangtuanya lebih memperhatikan lingkungan karena di sekolahnya diajarkan tentang materi lingkungan hidup
chindy: saya jadi ingat Ocha, mgkn sekarang ud berumur 5thn. Ibunya suka negur kalo dia pas asal buang sampah,”eiiit, jangan dibuang di situ Cha, engkoh dipriit polisi lo”
suatu ketika Ocha melihat Papanya mau membuang puntung rokok ke halaman, Ocha spontan jerit,”Priiiit! trus lari ke dalam rumah mengambil asbak lalu diberikan ke Papanya, “buang di sini aj Pa” (aduuh manisnya si Ocha)
Ocha selepas parade baju tradisional: aduuh gagahnya
(maaf saya tidak punya foto Ocha, ini satu2nya yang ada di tempat saya, pemberian mama Ocha, cuma bisa saya repro)

abis didandanin Ocha nyeletuk:”Saya kok kaya’ gayeng Mah” (gareng maksudnya, heehe…polah’e gemesin ra ukur2)
Ocha juga punya banyak binatang peliharaan lo,
berikut kisah yang sempat terekam:
Bu Supo kewalahan…Ocha ud terlalu banyak piaraan, minggu lalu ngotot minta dibeliin kura-kura. wis dikandani, ra gelem, tetep ngotot. Akhirnya dibelilah sepasang kura-kura dan oleh Ocha diberi nama Mimi karo Momo. Kalo sudah pulang sekolah Ocha mesti minta mampir di warung untuk beli kangkung (kalo ini untuk makanan kelincinya;) dan sampai di rumah mesti riuh oleh celotehannya. “Klinciku durung dipakani Buu, rajuknya. Abis itu lanjut sambat,”Mimi karo Momoku blum makan Bu” caah, cah…bu Supo(eyang Ocha) pening ra ukur-ukur;)
Paman2 Ocha pernah menggoda untuk peliharaan ikan lele Ocha,”Lele digoreng aj untuk lauk, sambelke korek enaaak..goda Pa’ To dan Le’ Dayat
Kali ini jawaban Ocha,” ikan kok dipakan to, biar idup to, nanti punya anak” sa omah GeerGeeran dengar jawaban Ocha…adaaa aj. (pengamatan Ocha tumbuh, biasanya dia hanya akan menjawab ‘jangan… kasihaan’
(btw Ocha sejak mulai kenal makanan padat udah nolak daging lo, sampe sekarang masih keukeuh sumekeuh nolak daging, pernah dipaksa Papanya di rumah makan karena sungkan sama yang menjamu , Ocha malah bilang,”oya geyem ya oya geyem, aku ojo dipekso” ampun deh tu anak;)
tercatat di hp ku 30-07-07 (10:49:38)
tks ya Ezra ud mampir…
tambah dikit lagi ya, ponakan saya Sui Ing pernah nyeletuk gini pada kakak saya yang sedang bersihin ikan,” Ai (bibi)itu ikan binatang to…binatang itu temanku, sa tidak makan temanku Ai” Ceceku crita sama saya sambil geleng2 kepala, sumpey bukan saya yang ajarin lo, cuma pernah bilang “Ai juga tidak suka makan daging seperti Sui ing, kasihan ayamnya, kasihan ikannya, kasihan babinya. kalo kena pisau Sui Ing sakit tidak?” sakit jawabnya. Sui Ing memang g doyan makan daging,meski kadang masih makan tapi itu pun pake acara eyel2an sama ceceku; sayang dia tidak sekeukeuh Ocha…btw, saya boleh sempilin foto2 mereka ya…

Jovita, Li Ing dan Sui Ing (laskar2 cilikku nan kentir)
Jovi dan Sui Ing membantu saya nyiapin masakan Rica2 vege, daun tebel, serai dan daun pandan ambil dari kebun belakang rumah Jovi lo, saben sore diopeni Jovi dan Papanya;)

daun pandan dan daun tebel di kebun-mini Jovi. konon daun tebel ini rahasia dahsyatnya rasa Rica-rica versi mama Jovi


Salam kenal bagi siapa saja yang mau mampir di beranda bersahaja ini. Bertukar isi hati dan isi otak adalah salah satu proses manusia memanusiakan dirinya. Ada dialog di sana. Dialog yang dituntun oleh tanya demi tanya, karena manusia sepanjang hayat peradabannya adalah makhluk yang belum selesai dengan dirinya. Poin senjang yang banyak diusung berkisar pada kata kunci: MANUSIA, CINTA DAN TUHAN, VEGETARIAN, GLOBAL WARMING. Mengajak siapa saja belajar jujur pada dirinya, ketika hati dan fakta berada dalam satu garis lurus(jujur), maka kejujuran pada dirinya inilah yang akan memaksa manusia berubah. Mungkin inilah hidup yang bertanggung jawab, hidup yang fair. Berusaha memahami cara hidup saat itu juga manusia memahami cara mati





Dari penulis buku terlaris di dunia, Earth Above, hadir kembali dengan karya baru yang cemerlang. Home, film dengan judul buku yang sama, menghadirkan gambar-gambar yang menakjubkan. Sebuah ekplorasi wajah Bumi lengkap dengan foto-foto terkenal karya Arthus-Bertrand dilengkapi teks informatif oleh tim Good Planet, sebuah organisasi non-profit yang mempromosikan pemeliharaan lingkungan hidup. Home menghadirkan keindahan Bumi dan mengajak seluruh umat manusia untuk menjaganya dari kehancuran.
Film ini ditayangkan secara serentak mulai tanggal 5 Juni-14 Juni 2009 3 benua, lebih dari 50 negara, termasuk Indonesia, ditayangkan gratis lewat televisi, bioskop,
Injil Perdamaian Essene
Jelang Sang Buddha Parinirvana, Makan Babi atau Jamur?
Pro dan Kontra apakah Sang Buddha vegetarian dapat dibaca argumentasi dan dasar telaahnya yang diulas oleh Master Roshi Philip Kapleau (pendiri Budhisme Zen di Amerika) dalam buku






Berbalas Cuap