Oleh Chindy Tan
Embun menyapa daun memberi kesejukan tanpa melekat, sang daun sadar kesejukan bukanlah miliknya hingga tak cukup alasan baginya untuk menahan embun untuk tetap tinggal, hukum jatah tempo membatasi perjumpaan embun dan daun, hingga mereka memilih belajar ‘tau diri’ menikmati sinergi sesuai jatah tanpa ada sesal melainkan ikhlas mengiring ketika nikmat sinergi harus berlalu. Ikhlaslah yang kan menggenapi persembahan embun kepada sang daun, membasahi tiap detil pori daun, memberinya hidup, embun mengantar daun bertumbuh Demikianlah cinta yang telah berjumpa, bermuara pada kedalamannya, cinta yang beriringan dalam jalan tumbuh
Karya ini dipublikasikan juga di Komunitas Sastra Air Putih
Sumber gambar: sedang dicari lagi
Love one another, but make not a bond of love Let it rather be a moving sea between the shores of your souls. Fill each other’s cup, but drink not from one cup. Give one another of your bread, but eat not from the same loaf. Sing and dance together and be joyous, but let each one of you be alone, Even as the strings of a lute are alone though they quiver with the same music. Give your hearts, but not into each other’s keeping; For only the hand of Life can contain your hearts. And stand together yet not too near together; For the pillars of the temple stand apart, And the oak tree and the cypress grow not in each other’s shadow. Poem by Khalil Gibran (aka Kahlil Jubran)


Salam kenal bagi siapa saja yang mau mampir di beranda bersahaja ini. Bertukar isi hati dan isi otak adalah salah satu proses manusia memanusiakan dirinya. Ada dialog di sana. Dialog yang dituntun oleh tanya demi tanya, karena manusia sepanjang hayat peradabannya adalah makhluk yang belum selesai dengan dirinya. Poin senjang yang banyak diusung berkisar pada kata kunci: MANUSIA, CINTA DAN TUHAN, VEGETARIAN, GLOBAL WARMING. Mengajak siapa saja belajar jujur pada dirinya, ketika hati dan fakta berada dalam satu garis lurus(jujur), maka kejujuran pada dirinya inilah yang akan memaksa manusia berubah. Mungkin inilah hidup yang bertanggung jawab, hidup yang fair. Berusaha memahami cara hidup saat itu juga manusia memahami cara mati





Dari penulis buku terlaris di dunia, Earth Above, hadir kembali dengan karya baru yang cemerlang. Home, film dengan judul buku yang sama, menghadirkan gambar-gambar yang menakjubkan. Sebuah ekplorasi wajah Bumi lengkap dengan foto-foto terkenal karya Arthus-Bertrand dilengkapi teks informatif oleh tim Good Planet, sebuah organisasi non-profit yang mempromosikan pemeliharaan lingkungan hidup. Home menghadirkan keindahan Bumi dan mengajak seluruh umat manusia untuk menjaganya dari kehancuran.
Film ini ditayangkan secara serentak mulai tanggal 5 Juni-14 Juni 2009 3 benua, lebih dari 50 negara, termasuk Indonesia, ditayangkan gratis lewat televisi, bioskop,
Injil Perdamaian Essene
Jelang Sang Buddha Parinirvana, Makan Babi atau Jamur?
Pro dan Kontra apakah Sang Buddha vegetarian dapat dibaca argumentasi dan dasar telaahnya yang diulas oleh Master Roshi Philip Kapleau (pendiri Budhisme Zen di Amerika) dalam buku
(





No comments yet
Comments feed for this article