Oleh Chindy Tan
Dikutip dari Surat Kartini kepada Ny.R.M. Abendanon-Mandri dan suaminya (Brieven aan mevrouw R.M. Abendanon-Mandri en haar echtngenoot met andere documenten)

sumber gambar: indotoplist.com
Dokumen 75: 27 Oktober 1902
“Sekarang kami masih harus menceritakan sesuatu mengenai diri kami, kami tidak tahu pendapat Nyonya, kami sekarang pantang makan daging. Sudah lama kami merencanakan itu dan bahkan beberapa tahun saya hanya makan tanaman saja tetapi tidak punya cukup keberanian susila untuk bertahan. Saya masih muda sekali, masih berusia 14, 15 tahun. Dengan pantangan itu dikatakan saya mempunyai berbagai tujuan, dan sebagai anak saya masih terlalu muda untuk membela kata hati, membiarkan diri dibuat bingung menyerah, tetapi merencanakan memulai lagi, segera sesudah saya berkuasa atas diri sendiri. Kemudian kami putuskan melaksanakan rencana kami kalau kami sudah tidak di sini lagi. Tetapi ini terlalu lama dan kami sudah melaksanakannya sekarang. Kami sehat dan secara batiniah itu baik bagi kami.
Seperti yang sudah kami katakan kepada Nyonya, diperlukan keberanian susila, yang lebih lanjut daripada keberanian pribadi untuk melaksanakan dan mempertahankannya.
“Vegetarisme itu doa tanpa kata kepada Yang Mahatinggi” Ya betul kata orang itu doa tanpa kata, doa dalam perbuatan, doa untuk mohon tenaga dan kekuatan
Kami mohon izin kepada Ibunda pantang makan daging, dan Ibunda mengizinkan dengan senang hati, dengan ikhlas. Annie akan sangat marah, kalau dia mendengar tentang pantangan itu, dia selalu marah kalau kami membicarakan rencana kami untuk pantang makan daging. “Kamu mau mati?” tanyanya. Seolah-olah orang yang makan daging tidak mati.
Bagi saya, Kartini adalah sosok wanita-manusia. Wanita yang rindu mengantar semua hati melihat wanita sebagai manusia. Peka terhadap kesenjangan apa pun. Alur berpikir yang provokatif, mengajak kita untuk tidak menelan mentah-mentah segala sesuatu melainkan uji dengan hati dan otak. Dia tak lelah membawa hati untuk bertanya.
Adalah Kartini yang menggugat arti beradab ketika kejujuran tak lagi bertahta, dalam surat yang sama 27 Oktober 1902
“Tuhanku, apakah sebenarnya peradaban itu? Apakah…apakah peradaban itu merupakan kelihaian berbuat…pura-pura?
Menggugat niat tulus dari setiap bentuk ambiguitas,” kami sendiri mengetahui sungguh-sungguh jumlah orang yang dengan tulus ikhlas hendak menolong kami, dapat kami hitung dengan jari. Dan kami tidak sampai menggunakan dua belah tangan untuk menghitung jari itu.
Nyonya kira kami tidak tahu, apa yang menyebabkan ‘de Echo’ suka sekali memuat karangan kami…Sebab karangan itu merupakan iklan yang bagus bagi surat kabar tersebut. Majalah ‘De Hollandse Lelie’ menyediakan ruangannya bagi saya..untuk apa? untuk iklan! Surat-surat seorang gadis dari Timur, seorang gadis Jawa sejati”
Kartini keras menyoroti niat ‘kedua’ dari topeng seolah-olah tulus dari sebuah ambiguitas. Niat harus lurus dan tulus tanpa embel-embel.
Kartini juga tak segan mendobrak budaya tanpa isi. Dalam dokumen 118: 25 Agustus 1903 “Sudah saya katakan, saya tidak suka kaki saya dicium. Tidak pernah saya izinkan orang berbuat demikian pada saya. Yang saya kehendaki kasih sayang dalam hati sanubari mereka, bukan tata cara lahiriah!
Sahabat, bagi saya Kartini adalah suluh yang menerangi cermin pemantul jati diri setiap hati, agar setiap hati memandang jelas hakikat manusia dalam diri seorang wanita, hakikat hidup yang setara.
Salam Kebaya;)

Salam kenal bagi siapa saja yang mau mampir di beranda bersahaja ini. Bertukar isi hati dan isi otak adalah salah satu proses manusia memanusiakan dirinya. Ada dialog di sana. Dialog yang dituntun oleh tanya demi tanya, karena manusia sepanjang hayat peradabannya adalah makhluk yang belum selesai dengan dirinya. Poin senjang yang banyak diusung berkisar pada kata kunci: MANUSIA, CINTA DAN TUHAN, VEGETARIAN, GLOBAL WARMING. Mengajak siapa saja belajar jujur pada dirinya, ketika hati dan fakta berada dalam satu garis lurus(jujur), maka kejujuran pada dirinya inilah yang akan memaksa manusia berubah. Mungkin inilah hidup yang bertanggung jawab, hidup yang fair. Berusaha memahami cara hidup saat itu juga manusia memahami cara mati





Dari penulis buku terlaris di dunia, Earth Above, hadir kembali dengan karya baru yang cemerlang. Home, film dengan judul buku yang sama, menghadirkan gambar-gambar yang menakjubkan. Sebuah ekplorasi wajah Bumi lengkap dengan foto-foto terkenal karya Arthus-Bertrand dilengkapi teks informatif oleh tim Good Planet, sebuah organisasi non-profit yang mempromosikan pemeliharaan lingkungan hidup. Home menghadirkan keindahan Bumi dan mengajak seluruh umat manusia untuk menjaganya dari kehancuran.
Film ini ditayangkan secara serentak mulai tanggal 5 Juni-14 Juni 2009 3 benua, lebih dari 50 negara, termasuk Indonesia, ditayangkan gratis lewat televisi, bioskop,
Injil Perdamaian Essene
Jelang Sang Buddha Parinirvana, Makan Babi atau Jamur?
Pro dan Kontra apakah Sang Buddha vegetarian dapat dibaca argumentasi dan dasar telaahnya yang diulas oleh Master Roshi Philip Kapleau (pendiri Budhisme Zen di Amerika) dalam buku
(





4 comments
Comments feed for this article
April 21, 2009 at 2:55 pm
JJ
Nice writing, Mbak. Saya tidak pernah tahu tentang tulisan Kartini yang ini. Thanks for sharing!
April 21, 2009 at 11:40 pm
ezra
kartini tidak pernah memaksa, ia selalu menginspirasi
April 22, 2009 at 12:06 am
onlyoneearth
saya juga barusan nemu detailnya Jen, padahal bukunya ud satu repelita nangkring di rak bukuku. tadi pagi kepikir untuk buka setelah ada sms berbau kartini;)
April 22, 2009 at 12:27 am
onlyoneearth
@ezra
Kartini tidak pernah memaksa mungkin karena dia tau bagaimana untuk memilih dan memberdayakan tiap hati agar mampu untuk memilih. mungkin potensi ini lahir dari geliat yang tidak mengenal titik statis dalam upayanya membaca hidup, mempertanyakan segala sesuatu yang patut dipertanyakan