“O Lord of love and kindness, who created the beautiful earth and all creatures walking and flying in it, so that they may proclaim your glory, I thank you to my dying day that you have place me amongst them”
(St. Fransiscus Asisi)
Ytk
Romo Santo
Terima kasih atas apresiasinya,
Semoga kita semua, mau belajar hidup yang mengenal asal usul tiap berkah Bumi yang sampai kepada kita dan menghargainya. Manusia tidak berhak mengklaim ‘kepemilikan’ atas apa pun di muka Bumi ini. Namun sayangnya peradaban kita sedang bergulir menuju serba komoditi. Setiap inci entitas sebisa mungkin dijadikan komoditas. air, tanah, tetumbuhan, bahkan atmosfer pun kini telah dikapling, udara—sepupu saya pernah menawarkan Ozon (O3). udara dengan kualitas terbaik dengan harga 500rb/Liter. Semua berkah Bumi (kalau bisa) diberi label rupiah.
Mengutip kata-kata Romo Inugraha, (dalam seminar Go Green and Healthy Lifestyle 6 Maret 2009, Atmajaya-Yogyakarta)
“Kita telah menjadi makhluk yang selalu lapar, tak sadar menumpuk materi, memakan sumber hidup Bumi, mulut satu orang dengan perut yang berkantong-kantong, memasukkan apa saja tak kenal kata cukup.” Pedas memang tapi itulah kenyataan apa adanya. Manusia telah menjadi makhluk mutan, kehilangan kemuliaan yang telah ditiupkan Allah dalam hati nuraninya.
Romo yang baik,
masalah makanan yang dipilih manusia kini bersinggungan dengan masa depan bahkan masa hidup Bumi ini. Masalah agama, kita semua yakin Firman Allah tidak mungkin salah. Firman Allah adalah kebenaran. Namun fakta yang ada di depan mata juga kebenaran, fakta bahwa daya dukung Bumi makin merosot. Riset FAO yang dituangkan dalam Livestock’s Long Shadow (2006) dan UNEP: Kick The Carbon Habit (2008) membuka mata kita bahwa salah satu faktor terbesar penyebab merosotnya daya dukung bumi adalah pola makan. Kebenaran yang satu tidak mungkin berseberangan dengan kebenaran lain. Firman Allah dan fakta kondisi Bumi, keduanya objek, keduanya kebenaran. Maka bila keduanya (seolah-olah) berseberangan, ada apa diantara keduanya? Manusia berada di antara keduanya. Tidak tertutup kemungkinan manusia sebagai subjek, keliru mempersepsikan salah satu objek yang ada, entah itu Firman Allah, atau fakta kondisi Bumi.
Kitab Kejadian 1:26 mengatakan bahwa manusia memiliki kuasa atas bumi. Para Ahli Kitab Suci memiliki pandangan yang berbeda-beda bagaimana kuasa itu harus diartikan. Gerhard Von Rad percaya bahwa kuasa di dalam Kitab Kejadian mempunyai nada dominasi (dikutip dalam Carol Adams, “Feeding on Grace“, dalam Good News for Animals: Christian Approaches to Animal Well Being), sebalknya James Barr percaya bahwa kuasa yang dimiliki manusia atas bumi analog dengan penjagaan (Man and Nature: The Ecological Controversy and The Old Testament). Mempersepsikan kuasa dalam konteks dominasi atau penjagaan adalah pilihan, dan melihat cara bagaimana manusia memperlakukan alam dan segala isinya, fakta berbicara kepada kita persepsi mana yang dominan. Mungkin salah satu gambaran mana persepsi yang mengakar dapat tercermin dari pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang mahasiswa dalam seminar Go Green tersebut,”bukankah hewan telah diciptakan dengan fungsinya masing-masing, harimau hidup di alam liar, anjing sebagai peliharaan, dan hewan ternak untuk dimakan?”
Dulu manusia bahkan memiliki kemampuan intuitif untuk bertahan. Mengutip tulisan Dewi Lestari-Biyukukung:Saat Alam Menghamili Padi, mengungkapkan bahwa orang Indian, bila hendak mencari jenis tumbuhan yang mereka butuhkan sebagai obat, mereka akan mencari ke hutan2 dan memiliki cara yang unik untuk berkomunikasi dengan tumbuhan, untuk memastikan jenis tsb yang mereka butuhkan. Mereka akan menunggu tumbuhan ‘berbicara’ dengan mereka. Kemampuan intuitif ini saya yakin sama persis dengan kemampuan yang saya lihat pada anjing teman saya, si Kace. Suatu ketika dia mengendus-endus rumput dan saya kaget bukan main, si Kace memakan rumput tersebut. Kata Liana (ibu asuh Kace), kala sedang sakit perut Kace akan mencari rumput tertentu untuk mengatasi masalahnya tersebut. Ternyata kucing juga memiliki kemampuan yang sama, anjing dan kucing tidak pernah salah mengenali rumput yang dapat mengatasi masalah perut mereka.
Jika dulu manusia masih bisa mengandalkan kemampuan intuitifnya untuk bertahan hidup, sekarang kita akui, satu2nya modal bertahan hidup yang tersisa adalah rasio, objektivitas. Jika ada bukti, tak ada pilihan selain jujur pada bukti tersebut dan percaya, namun realitanya sekarang, meski bukti sudah bejibun, belum tentu mampu mengakui.
Jika sudah demikian adanya, bekal apa yang tersisa agar peradaban manusia itu bisa bertahan?
Salam,
Mari Kenali Berkat Alam
-Chindy Tan-
“Nothing will benefit human health and increase CHANCES FOR SURVIVAL OF LIFE ON EARTH as much as the EVOLUTION TO A VEGETARIAN DIET” (Albert Einstein)
“I have no doubt that it is part of the destiny of human race in its GRADUAL DEVELOPMENT TO LEAVE OFF THE EATING OF ANIMALS, as surely as the savage tribes have left off eating each other when they came into contact with the more civilized” (Goerge Bernard Shaw)
“The time will come when men such as I will look on the MURDER OF ANIMALS AS THEY NOW LOOK ON THE MURDER OF MEN” (Leonardo Da Vinci)

Salam kenal bagi siapa saja yang mau mampir di beranda bersahaja ini. Bertukar isi hati dan isi otak adalah salah satu proses manusia memanusiakan dirinya. Ada dialog di sana. Dialog yang dituntun oleh tanya demi tanya, karena manusia sepanjang hayat peradabannya adalah makhluk yang belum selesai dengan dirinya. Poin senjang yang banyak diusung berkisar pada kata kunci: MANUSIA, CINTA DAN TUHAN, VEGETARIAN, GLOBAL WARMING. Mengajak siapa saja belajar jujur pada dirinya, ketika hati dan fakta berada dalam satu garis lurus(jujur), maka kejujuran pada dirinya inilah yang akan memaksa manusia berubah. Mungkin inilah hidup yang bertanggung jawab, hidup yang fair. Berusaha memahami cara hidup saat itu juga manusia memahami cara mati





Dari penulis buku terlaris di dunia, Earth Above, hadir kembali dengan karya baru yang cemerlang. Home, film dengan judul buku yang sama, menghadirkan gambar-gambar yang menakjubkan. Sebuah ekplorasi wajah Bumi lengkap dengan foto-foto terkenal karya Arthus-Bertrand dilengkapi teks informatif oleh tim Good Planet, sebuah organisasi non-profit yang mempromosikan pemeliharaan lingkungan hidup. Home menghadirkan keindahan Bumi dan mengajak seluruh umat manusia untuk menjaganya dari kehancuran.
Film ini ditayangkan secara serentak mulai tanggal 5 Juni-14 Juni 2009 3 benua, lebih dari 50 negara, termasuk Indonesia, ditayangkan gratis lewat televisi, bioskop,
Injil Perdamaian Essene
Jelang Sang Buddha Parinirvana, Makan Babi atau Jamur?
Pro dan Kontra apakah Sang Buddha vegetarian dapat dibaca argumentasi dan dasar telaahnya yang diulas oleh Master Roshi Philip Kapleau (pendiri Budhisme Zen di Amerika) dalam buku
(





4 comments
Comments feed for this article
March 27, 2009 at 12:24 pm
Rudy Gunawan
Hi!
Salam kenal!
saya kesini lewat blog Dee, trus baca tulisan diatas.
Kesimpulan singkatnya, dulu manusia pake intuisi buat menjawab masalah sehari-hari, trus rasio mengambil peran sehingga muncul masalah global warming sekarang.
Jadi manusia seharusnya kembali ke intuisi lagi, menurut pendapat saya.
March 27, 2009 at 12:41 pm
onlyoneearth
Hai,
salam kenal balik Rudi;)
mengembalikan kemampuan intuitif mungkin tidak mudah ya,
mungkin belajar mendengar dengan mata, melihat dengan telinga membantu kita objektif secara hati dan otak terhadap apa yang ada di depan mata
terima kasih ud mampir ya..
March 28, 2009 at 1:12 am
ezra
mungkin ide tentang mengajak orang2 ke rumah penyembelihan hewan akan bagus untuk memberi sedikit pencerahan. sebagian besar kita tdk menyadari dari mana makanan yg terhidang di atas piring kita berasal. jadi, saya pikir bila kita mengetahui proses makanan itu berjalan sampai menjadi sesuatu yg siap kita konsumsi akan membuat kita lebih menghargai pengorbanan yg harus diberikan hanya supaya kita dapat terus makan dan terus hidup.
saya pernah membaca tentang orang2 yg hidup ribuan tahun yg lalu yg menggunakan seluruh bagian dari hasil buruan mereka. selain daging utk dimakan, tulangnya utk pisau, lemaknya utk minyak lampu, kulit utk pakaian, dll. mereka amat menghargai alam krn mereka merasa bahwa mereka tdk dpt hidup tanpa alam. namun mereka pun hanya mengambil sebanyak yg mreka perlukan. tdk pernah berlebihan.
saya lebih cenderung setuju kpd argumen kuasa manusia utk penjagaan. bukankah krn mausia makhluk paling sempurna maka ialah yg seharusnya memelihara makhluk2 yg lain dan juga alam?
saya juga teringat tentang doa para biksu budha sebelum mereka makan, yg kurang lebih berbunyi “kami makan bukan untuk kenikmatan, kami makan untuk memelihara hidup”.
eh, saya blm bisa jadi vegetarian. tp saya sdh mulai ngurangin konsumsi daging kok. hehe..
btw, matur nuwun nggih sdh pasang blog saya di etalasenya mbak. salam kenal. saya pasang blog mbak juga nggih
March 30, 2009 at 6:18 pm
chindy tan
Hai Ezra,
suwun nggeeh udah mau nimbrung ngobrol di ruang ini…
saya paling suka bila musim mangga tiba, melihat buah menggantung, ada yang satu-satu, ada yang bergerombol. Indah sekali;) Rasa takjub juga kerap mengalir hangat bila melihat setandan pisang menggantung di pohonnya menuju masak. Terakhir, saya takjub melihat gambar domba pemberian seorang teman, rambutnya kriwil-kriwil. Cantik. Mungkin refleks respon terhadap keunikan, keindahan Saudara sepenciptaan merupakan naluri yang lahir dari kodrat asali kita, konon adalah makhluk pemelihara;)
Namun Sahabat,
Jika kita bertanya apakah tubuh kita bisa hidup tanpa mengonsumsi mereka, jawabnya bisa.
Apakah cukup gizi? jawabnya cukup.
Saya sendiri telah bervegetarian selama 14 tahun, dengan hasil pemeriksaan lab terakhir (13-10-2008),asam urat 3,4mg/dL(normal) nilai rujukan <6mg/dL Hb: 12,1g/dL (normal) jadi bila ada isu yang mengatakan tanpa konsumsi daging tubuh beresiko tinggi anemia. Fakta membalikkan isu tersebut, tidak benar.
Manusia terbukti bisa survive tanpa daging, bahkan dengan kualitas hidup yan lebih baik karena angka harapan hidup lebih tinggi bila dibandingkan dengan pemakan daging. Secara empiris dapat dihitung dan dapat dibuktikan kelangsungan hidup Bumi berlipat lebih lama jika saja manusia mau memilih makanan yang efisien, yang mata rantainya pendek. Berbicara dari sudut etika, seperti yang diulas Ezra. Melihat sendiri bagaimana proses penyembelihan, pada kenyataannya umumnya lebih mendapat tempat di hati anak kecil mungkin karena kepolosan mereka, tanpa dalih ini itu seorang anak kecil dapat melihat kekerasan adalah kekerasan. Sedangkan pada orang dewasa banyak berbenturan dengan tradisi dan budaya bahkan nilai agama(menurut persepsi masing-masing)yang mewarnai nilai-nilai hidup yang dianut. Hingga aspek etika sering dimentahkan lagi dengan dalih tradisi, budaya bahkan agama. Contoh sederhana adalah pencitraan yang dibentuk oleh lagu potong bebek angsa. Repetisi pesan yang termuat dalam lagu tersebut ‘menanamkan dan meyakinkan’ diri kita bahwa mereka memang dicipta untuk dipotong. Perjalanan peradaban manusia memahami bagaimana menempatkan posisi binatang memang masih dalam proses pembelajaran. Apresiasi yang lahir dari pemahaman hulu ke hilir bagaimana makanan bisa sampai ke piring makan kita, mungkin juga akan melahirkan rasa tanggung jawab akan konsekuensi dari apa yang dipilih untuk di makan. Berpegang pada bukti ilmiah akan beban ekologis dari sepotong daging sejauh ini merupakan dasar argumen yang tak terbantahkan untuk mencairkan tembok-tembok bias akan persepsi manusia terhadap posisi binatang.
Terima kasih Ezra;)