Sebuah refleksi oleh Chindy Tan

 

                         

            Sebuah kitab China kuno menuliskan: perjalanan terpenting dalam hidup manusia adalah perjalanan ke dalam diri. Mengapa? Dikatakan lebih lanjut bahwa  dengan memahami diri akan mengantar diri untuk memahami Bumi. Diri adalah refleksi Bumi, Bumi adalah refleksi diri. Enam benua yang membentuk Bumi, refleksi dari enam organ utama tubuh manusia. Alur-alur sungai, kanal, adalah cermin dari pembuluh darah dan saraf. Dahsyatnya lagi, Bumi terdiri dari 70% air yang ternyata identik sama dengan total jumlah kandungan air dalam tubuh kita, juga 70%.  Satu lagi, thermoregulator. Bumi memiliki selubung gas rumah kaca yang berfungsi persis sebagai thermoregulator tubuh, sistem yang mengatur suhu Bumi. Sama seperti tubuh manusia, yang memiliki ambang batas suhu 41 derajat celcius, suhu kritis untuk diadaptasi oleh tubuh. Napas menjadi dangkal dan cepat, berpeluh, denyut nadi semakin cepat, tubuh diantar pada keadaan koma. Bila tidak ada tindakan segera untuk mengurangi suhu tubuh secara drastis, otak akan kehabisan pasokan oksigen dan kegagalan fungsi multi organ  mulai terjadi. Kematian akan datang hanya dalam hitungan menit. Bumi juga demikian, hanya mampu menolerir kenaikan suhu Bumi hingga dua derajat celcius, lebih dari titik ini bencana katastrofik berlipat-lipat lebih ekstrem dan Bumi akan kehilangan daya untuk mengendalikan dan memulihkan kerja mesin iklim.

Asher Minns, Manajer Komunikasi Tyndall Centre for Climate Change Research menyebutkan salah satu dampak terlampauinya ambang kendali mesin iklim akan mengantar kita pada keadaan run away global warming, percepatan laju global warming. Salah satu pemicunya adalah berbaliknya pola sumbangan tanaman di hutan, pada kenaikan suhu Bumi sebesar 3 derajat Celcius, hutan bukannya melepaskan oksigen melainkan akan melepaskan karbondioksida ke atmosfer. Pola ini serupa dengan pola konsumsi sel kanker, menurut salah satu teori, kanker tumbuh dalam keadaan tanpa oksigen sehingga merubah pola konsumsi sel, bukannya mengonsumsi oksigen melainkan karbondioksida. Bumi sedang menuju keganasan. Para ahli memperkirakan ada sekitar 1600 milyar ton karbon dari materi organik yang terpendam di tanah, naiknya suhu akan meningkatkan aktivitas bakteri pengurai sehingga memicu terlepasnya karbondioksida. Kenaikan suhu akan melesat ekstrim, normalnya kenaikan 2 derajat terjadi dalam kurun ribuan tahun namun apa yang terjadi sekarang, ahli memprediksi hanya dalam 50 tahun suhu Bumi naik 2 derajat. Prediksi ini pun terus bergeser berdasarkan pola pencairan es di Arktika. Prediksi ahli, es di Greenland pada kenaikan suhu Bumi lebih dari 2,7 derajat celcius akan melampaui titik baliknya, artinya pencairan es akan lebih dominan sehingga menaikkan level air laut hingga enam meter ( Mark Lynas, 2008). Berapa banyak flora dan fauna serta mikroorganisme yang terancam punah oleh kenaikan air laut ini?

Detik ini saja  kepunahan keragaman hayati terus melesat, tidak tanggung-tanggung melaju dalam faktor kelipatan 50-500 kali  dibandingkan dengan pola kepunahan dari data rekaman fosil (Livestock’s Long Shadow,2006). Menurut WWF, jumlah burung, binatang lain, hewan di laut dan air tawar kini telah merosot  hampir sepertiga (Telegraph news, Mei 2008)

            Saudara-saudaraku sekandung Bumi, setiap makhluk dan entitas yang ada di Bumi demikian berharganya. Berita terbaru dari NASA pada tanggal 13 Juni 2008 lalu, melaporkan bahwa ditemukan bongkahan yang diduga garam atau es di Mars. Nampaknya tak putus harapan kita mencari jejak-jejak kehidupan di planet lain, bila satu bulu burung Dodo ditemukan di planet Mars, seantero Bumi pasti akan heboh. Namun mengapa sulit bagi kita untuk menghargai apa yang ada digenggaman kita detik ini, garam dan es yang jelas-jelas masih eksis di depan mata kita. Mengapa melihat garam dan es di Bumi tidak membakar rasa antusias kita untuk sungguh menghargainya, melihatnya dengan kaca pembesar bahwa mereka nyata ada dan sedang menyantuni hidup kita?

Sejarah mengajak kita berkaca, burung Dodo pernah eksis dan hanya dalam hitungan kurang dari satu abad sejak pertama kali ditemukan oleh orang Eropa pada awal abad ke-16 di Mauritius, burung Dodo dikejar, dipukul, dibunuh dan dimakan sampai punah, hingga tak bersisa satu pun.

Mungkin tidak terpikir oleh kita, melalui makanan yang dipilih, hanya dalam hitungan jam  kita sedang dan terus memusnahkan keragaman flora dan fauna di muka Bumi ini. Pemusnahan oleh tangan kita sendiri, sedang kita lakukan. Setiap pilihan  memasukkan satu potong daging ke dalam mulut,  seketika itu juga kita sedang menggigit, melukai dan mengancam keberlangsungan hidup sekian keanekaragaman hayati. Tombol kendali penentu dibuka atau tidaknya hutan tropis bergantung dari order daging di meja makan kita. Order per potong daging yang datang dari saya, Anda atau dia, turut ambil andil terhadap hilangnya sekian meter persegi hutan tropis dalam hitungan detik. Di Brazil, laju penggundulan hutan tahun 2008 ini berjalan dua kali lipat dari tahun lalu. Penyebab deforestasi hutan Amazon dari tahun 2000-2005, enam puluh persen adalah untuk peternakan, belum termasuk pertanian kedelai dalam skala besar untuk pakan ternak (BBC, 13 Mei 2008).

   Ahli biologi Universitas State Pennsylvania Christopher Uhl dan pakar Taman Botani New York Geoffrey Parker mengonversikan setiap produksi satu potong hamburger akan memakan 5 meter persegi hutan tropis dan tanah seluas ini terdiri dari satu pohon dengan 50 macam biji ari 20-30 spesies, ribuan serangga dari ratusan spesies, kelimpahan lumut, jamur dan mikroorganisme yang luar biasa.  Menurut Ahmed Djoghlaf, kepala Konvensi UN Keanekaragaman Hayati, kita sungguh berada pada gelombang kepunahan terbesar sejak masa Dinosaurus. Setiap harinya hingga 150 spesies punah. Sumber lain menyebutkan 150.000 spesies per tahun atau 17 spesies setiap jam. 

Alam melimpahkan segala makhluk dengan segala maksud. Sebuah  karunia dari Bumi, tanaman Rosy periwinkle, dengan vincristin dan vinblastinnya yang hanya ditemui di hutan tropis, ternyata dapat meningkatkan kesembuhan leukemia pada anak-anak hingga 80%. Tanpa hutan tropis, tidak akan pernah ditemukan Thermus aquaticus dengan tag polymerase yang terkandung di dalamnya, membantu kita untuk identifikasi DNA. Bukankah mendorong pembukaan lahan hutan tropis untuk sepotong daging di piring kita berarti memusnahkan keanekaragaman hayati yang juga berarti memotong uluran pertolongan tangan alam kepada manusia itu sendiri? Bisa jadi peluang untuk menemukan obat penyakit AIDS menjadi nihil karena gundulnya hutan tropis yang tiap 5 detik hutan seluas lapangan sepak bola dibuka untuk peternakan. Kesejahteraan dan keberlangsungan hidup siapa yang sedang dipertaruhkan dengan terus memperluas lahan ternak yang mengorbankan hutan tropis?

Duhai saudara-saudaraku, bersama kita dikandung oleh Bumi. Laksa ciptaan, laksa entitas adalah ari-ari kita. Ari-ari, jalan yang menghubungkan sang orok dengan sumber santunan hidup. Bersama dalam hening kita duduk tanpa suara, sejauh mungkin mata hati ini memandang satu persatu ranah yang membentuk wajah Bumi. Berendahhatilah melihat semua luka-luka di wajah Bumi, jujur hati akan memampukan mendengar dengan mata dan melihat dengan telinga, betapa jejaring sumber hidup: air, kesuburan tanah, udara bersih, keanekaragaman hayati, mesin iklim sungguh berada di bibir jurang kematian. Bila tidak memalingkan mata dari fakta-fakta ini, mungkin jeritan suara jejaring yang membentuk ari-ari kehidupan akan sampai ke telinga  memberi tahu diri,” terus memilih menggigit sepotong daging, sebenarnya saat itu juga sedang menggigit ari-ari sendiri. Jika tak kunjung sadar untuk berhenti, gigitan demi gigitan akan terus melukai, mengoyak, merobek ari-ari sendiri,  sampai putus”. Sadarlah, saat itu kita sedang membunuh Bumi, juga sedang membunuh diri sendiri.

 

 

 

 

About these ads